Besok hari Minggu sekolah libur, sedangkan pada hari Seninnya Laras akan menghadapi ujian sekolah,
Laras menyusuri jalan menuju kota
"Bude mau beli jambu air? manis Lo bude," tawar Laras pada seorang wanita paruh baya yang melintasinya
Laras mulai menawarkan jambu yang di bawanya dari rumah ke rumah di temani mayang, satu persatu dagangan Laras habis
Pukul 12 siang dagangan Laras ludes terjual habis
"Ndok besok dagang nggak?, Bulik mau lagi jambulnya,"
Laras menatap Mayang sebentar lalu mengangguk
"Siang tapi bude, aku sekolah dulu"
"Iya, tak tunggu ya ndok"
"Ya bude"
Hari yang bersejarah bagi Laras untuk pertama kalinya ia menghasilkan uang sendiri
"Ras kamu tahu nggak?"
"Apa mbak Mayang?"
Laras menanggapi ucapan Mayang dengan berlari-lari kecil mempermainkan uang sepuluh ribu yang di bawanya, sesekali uang itu dia cium dengan rasa sayang dan bangga
"Sebenarnya hanya Laras yang bisa melihat mbak, orang lain tidak bisa"
"Kenapa mbak ?"
"Karena mbak hanya bayangan Laras"
"Gitu?, pantesan Bapak bingung. Nggak papa, yang penting Kita bisa sama-sama"
Laras mengandeng tangan Mayang berlari pulang
"Ke rumahku yok"
Mayang ikut saja ajakan Laras
"Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam"
suara ibu dari dalam menyambut
"Kok sore pulangnya Ndok"
"Aku tadi jual jambu air Bu, nih duitnya buat ibu"
Laras menyerahkan uang sepuluh ribu pada ibunya yang tampak bengong tidak percaya
Ibu menatap wajah laras lekat-lekat, wajah anak gadisnya yang begitu pendiam dan menerima apapun tanpa komentar, menahan apapun tanpa mengeluh
Di elusnya rambut anaknya
"Ya Allah Ndok nasibmu kok jelek"
Laras hanya diam saat tangan ibunya menyentuh kepalanya, tak ada tanggapan yang berarti dari Laras, Rasa lelahnya membawa Laras segera pergi membersihkan diri dan ke kamarnya untuk istirahat.
Malam hari Wagiyem melangkah meninggalkan anak-anak yang tidur untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Pada sing hari adik sangat rewel, jadi ibu terbiasa mengerjakan nya pada malam harinya
*******
"Ras, bangun Ras"
Suara Bejo membangunkan adiknya, hari ini adalah hari ujian untuk Laras, takut jika Laras akan kesiangan dan terburu-buru. Ia tau dan sangat memahami adiknya. Laras termasuk anak yang bandel dan tidak teliti. Takut akan ada peralatan sekolah Laras yang ketinggalan atau hal-hal lain yang tertinggal. Bejo sangat tau Laras sangat susah untuk bangun pagi
"Nanti mas!"
"Nanti telat kamu, hari ini kamu ujian."
Laras melompat bangun mengangetkan Bejo
"Laras pelan-pelan!"
Laras menyambar kain dan mengalungkan dilehernya bergegas lari untuk segera mandi
"Ras ini masih pagi Lo, nggak dingin apa ?"
"Nggak aku mau berangkat pagi-pagi"
Bejo tersenyum saja melihat Laras dengan semangatnya
*****
Ujian sekolah di mulai, anak-anak duduk rapi Laras asik dengan hidungnya sambil menunggu soal di bagikan
Terkadang ia sibuk dengan antingnya, ada saja yang di lakukan Laras untuk mengisi jenuhnya saat menunggu waktu.
"Pagi anak-anak?"
Suara buk Eka mengucapkan salam
"Pagiii bukkk!"
Suara Laras kencang bersemangat membuat temen-temennya melihat ke arahnya
"Pagi buk" ia mengulang kalimatnya dengan pelan. matanya bermain-main acuh
Buk Eka tersenyum melihat Laras. "Heeemmm sudah nampak sifaat nakalnya Laras."
Buk guru yang memang Wali kelas enam itu menggumam pelan, sambil Berjalan membagikan soal ujian
*****
Empat hari ujian kelas enam di lewati Laras dengan semangatnya, tak lupa juga sepulang sekolah menjual Jambu air, sayuran dan lainnya
Laras menginjak umur yang ke dua belas tahun, memasuki usia remajanya. Laras memulai bekerja dengan berdagang, menjual hasil hutan milik Mayang
Dengan matanya yang jeli Laras memiliki ide membuat keripik dari singkong dan talas memanfaatkan tanaman yang ada di kebunnya, lalu merambah ke membuat kopi bubuk, memanfaatkan kebun kopi yang ada di sekitarnya.
Laras membantu ibu mencari uang, bapak yang mulai sakit-sakit an memaksa mereka membanting tulang untuk membantu perekonomian keluarga
Sedangkan Bejo sangat sibuk dengan sekolahnya, keinginannya masuk universitas membuatnya belajar keras
"Mengejar beasiswanya" katanya,
Laras hanya mengangguk pelan mendukung Bejo
****
Waktu terus berjalan menyusuri takdir setiap umat, begitupun dengan takdir seorang gadis kecil lusuh bernama Laras, rambutnya panjang sepinggang badannya kurus dengan mata cekungnya. kaki yang hanya beralaskan sendal jepit usang melangkah menyusuri jalanan yang baru ia kenal
"Heeemmm, kali ini aku masuk SMP, seperti apa rasanya"batin Laras
"Laras!"
Seseorang yang begitu berarti menghampiri Laras Dengan terengah-engah.
"Apa Lo mas kok lari!"
"Maaf telat, sudah daftar belum?"
Bejo mengambil map yang berisi berkas lamaran masuk sekolah, Laras hanya menggeleng pelan, yang di teruskan oleh Bejo, ia mendaftarkan adik kesayangannya itu.
Maklum ini baru yang pertama Laras keluar dari kampung, kebanyakan para anak-anak di dampingi orang tua masing-masing termasuk teman-teman sekampungnya
Bejo mengelus rambut adiknya dan mengambil alih
"Ras kamu harus tau kita bukan orang kaya, sekolahlah yang benar cari nilai yang baik"
Nasihat Bejo yang di tanggapi datar oleh adiknya, mereka berjalan seiring menembus keramaian, orang-orang tersenyum menaiki mikrolet tapi Laras tersenyum dengan berjalan kaki
"Bahagia tidak harus sempurna"
"Dengan berjalan kaki aku bisa melihat banyak rahasia Tuhan yang bisa ku manfaatkan untuk bertahan hidup"
Mencoba menawarkan keripik dan kopi yang ku buat bersama ibu ke warung-warung, lumayan untuk membantu penghasilan Bapakku yang sering Batuk, sedih jika di ingat kejadian itu
******
Segar pagi hari, mengantarkan ku menuju suasana baru di bangku sekolah, berangkat bersama mas Bejo, heeemmm ini adalah kebersamaan kami yang sempat terpisahkan oleh keadaan, sekolah ku tak jauh dari tempat mas Bejo sekolah jadi kami selalu berangkat bersama, untuk pulang sekolah kami tak bisa bersama, perbedaan jam saat pulang sekolah. Terlebih lagi Bejo langsung bekerja tidak langsung pulang.
"Selamat pagi anak-anak?"
Sapa buk guru mengawali hari baruku
"Pagii buuuuk!" sambut kami antusias
Wali kelas ku bernama buk Yusnaini guru matematika, dia cantik modis dan suka tersenyum, seumur hidupku baru buk yus yang menyapaku ramah
Aku duduk di bangku ke dua di depanku ada war teman saat aku SD satu kelas di SMP, di samping kanan ku ada Peni, samping kiri ada Rerry sedangkan di belakang ada Wanda
"Anak-anak coba kalian perkenalkan diri kalian satu persatu maju ke depan"
Kami pun berganti maju memperkenalkan diri masing-masing. Dan mereka terlihat keren
"Aku Laras dan aku tidak memiliki apapun untuk ku sampaikan"
Itu kesan pertama yang ku perlihatkan di tempat baru itu
"Aaah, bodok amat"
Laras mengacak-acak rambutnya bingung, yang membuat kelas riuh menertawakannya.
Dengan nyengir kuda Laras duduk mata war sinis seperti tak mau kenal.
Tiba-tiba Rerry menyambar tanganku dan memaksaku berdiri mengikuti mereka, War berjalan di belakangku keluar kelas menghampiri Supri dan Linda teman satu SD nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Resti Restiani Nasa
disini aku mulai bisa tersenyum😊
2021-07-02
2
Nitizen
Bu Eka guru SD juga baik kan sama Laras,,,??
cuma guru ngajinya yg songgong nga mau ngajarin Laras ngaji
2021-06-15
2
Ayesha
makin seruu
2021-06-12
1