Ujian sekolah mas Bejo berlangsung, dengan setia Laras menunggu di depan teras kelas dengan sabar, Bejo akan langsung menghampiri Laras jika sudah selesai.
Lulus tahun ini akan menjadi hari baru buat Laras dia mulai berusia genap enam tahun dan masuk sekolah, ada khawatir di wajah Bejo meninggalkan adiknya itu.
Menurutnya Laras terlalu polos untuk di tinggalkan sendiri olehnya. Suatu malam Bejo teringat bapak pernah berkata,
"Le, kamu sekolah SMP ikut pak Poh ya di Bengkulu"
Itu yang pernah di ucapkan bapak waktu itu,
"Yo, pak. Laras bagaimana?"sanggah bejo
"Laras sekolah di sini,.."
"Yo bapak" Bejo patuh saja
Selepas pembicaraan Malam itu Bejo sering memperhatikan Laras, tak tega rasanya meninggalkan adiknya.
******
Hari pertama Laras masuk sekolah, wajah sumringah bahagia tergambar jelas di wajah Laras, membayangkan bisa sekolah bareng kakaknya Bejo adalah sebuah harapan terbesar Laras.
Dengan riang Laras melangkah mencari-cari di mana gerangan kakaknya berada. Bell sekolah berbunyi Laras lekas pergi ke kelas, di urungkan niatnya mencari kakaknya, dengan antusias laras mengikuti pelajaran pertamanya, hingga jam mata pelajaran selesai.
Laras dengan segera mengemasi bukunya dan merapikan dalam tas bekas yang lusuh pemberian kakaknya. Dengan manis tas itu melekat di punggung mungil Laras.
Sepulang sekolah Laras tidak langsung pulang dia heran untuk pertama kalinya mas Bejo tidak menjemputnya, dengan langkah kecilnya Laras menyusuri lobi sekolahnya mencari-cari
"Mas, mas Bejo, Mama's di mana ?"
Laras terus memanggil-manggil, entah yang ke berapa kalinya Laras memutari gedung sekolah itu untuk mencari kakaknya yang diakhiri pecah tangisnya.
Seorang guru menghampirinya, bermaksud membawanya pulang, tapi Laras menolak
"Aku nungguin mas Bejo!!!"
"Mas mu sudah nggak di sini" ibu Eka berkata lembut
Untuk pertama kalinya tangis Laras pecah, tidak terima di tinggalkan kakaknya Laras menangis, meraung-raung.
Buk Eka gurunya tak bisa menenangkan Laras, seorang murid yang berinisiatif memberi tau ibu Laras, hingga ibunya datang menghampirinya. Tidak juga berhenti menangis, Laras terus menangis sambil memangil Bejo, ibunya teringat sesuatu yang selalu Bejo lakukan saat Laras marah,
"Sssssuuuttttt" ibu menempelkan jarinya ke mulut Laras
Seketika Laras menghentikan tangisannya, berdiri lalu pergi begitu saja meninggalkan ibunya di sekolah. Lalu ibunya berpamitan dengan Bu guru dan mengikuti langkah kecil putrinya pulang
******
Laras berdiri di depan tungku masak ibu, yang dia ingat kemarin mas Bejo berkata
"Laras jangan nakal, bantu ibu, jangan buat ibu nangis, kamu sekolah yang pinter, ngaji dan kembali mas Bejo menutup bibirnya dengan telunjuknya.
Laras tak menyadari, hari itu terakhir Bejo memberi nasehat padanya sebelum pergi melanjutkan sekolah SMP di tempat pak Poh di kota Bengkulu
Kalimat itu seolah menjadi jimat bagi Laras, apa yang di katakan kakaknya waktu itu di simpannya di hati, selalu di ingat, dan di turuti
Dengan cepat Laras mandi dan Mengganti bajunya untuk pergi mengaji, seperti pesan masnya.
Di ambilnya buku iqro di laci berpamitan dengan ibunya.
Ibu Laras heran tapi tersenyum melihat anaknya yang sudah besar dan mandiri.
Keluarga kecilku masih menumpang di rumah bude Minah. Ibu masih seperti seorang babu di sana.
*******
Laras duduk sendiri di sudut ruangan tak menghiraukan teman-temannya yang berlarian
"Kata mas Bejo dia harus diam"
Terekam semua yang di ajarkan mama'snya itu, dan Laras selalu menerapkan di mana saja.
Dengan sabar ia menunggu guru ngajinya. dengan baju dan jilbab lusuhnya duduk diam menuggu giliran mengaji, tapi sampai akhir namanya tak di sebut.
Mereka berhamburan keluar kelas mengaji, mata Laras lurus menatap guru ngajinya yang tampan itu, diam tak bereaksi.
Mungkin belum waktunya dia di panggil, hatinya berbicara
"Iiih....orang miskin'' suara tri mengejeknya
Salah satu teman ngaji Laras berbisik mengolok olok Laras, namun pupil mata Laras hanya melirik dia hanya terduduk diam.
Hingga guru ngaji keluar dan selesai, Laras mengikuti keluar kelas mengaji dan pulang.
*******
Esok hari Laras kembali ke sekolah dasar, di seret kakinya dengan malas tidak ada mas Bejo Laras merasa kehidupannya sudah berakhir.
Teman-temannya selalu membawa uang jajan, buku baru, pensil warna baru, tapi Laras hanya memakai baju lusuh pemberian seseorang yang baik hati. Kehidupan yang miskin membuat Laras terasingkan di sekolah dan tempat mengaji.
Tak ada yang penting dalam hidup Laras kecuali mas Bejo
"Mama's di mana?"
Laras duduk menyendiri dengan matanya yang imut mengerjab-ngerjap, bibirnya terkunci. Sesekali air matanya menetes, menahan rindu dengan kakaknya.
Laras terbiasa menerima perlakuan yang tidak baik dari teman-temannya, dia hanya diam saja. Hanya pesan Bejo yang membuat Laras terus sekolah dan belajar.
Mengerjakan tugas dari buk guru adalah perintah mas bejo.
Laras mendengarkan ibu Eka gurunya menyampaikan beberapa pelajaran.
*******
Sepulang sekolah Laras berpamitan mengaji dengan ibunya. Laras menyusuri tepian masjid, dia sudah tak lagi mengaji, guru ngajinya tak menyukainya dan tak mau mengajarinya.
Teman-teman pun tak ingin ada yang bermain dengannya, tapi Laras slalu mengingat pesan mas Bejo untuk rajin belajar, dan mengaji, membantu ibu dan bapak.
******
Tak terasa Laras sudah kelas 3 SD, mulai memahami banyak hal, duduk di tepian musholla mendengarkan teman-temannya mengaji menjadi rutinitasnya agar dia bisa membaca Al-Qur'an, jika nanti mas Bejo pulang, masnya tak akan kecewa dengannya.
Dia selalu berpamitan pada ibunya berbohong agar ibu tak sedih, Laras terus mendengarkan pak ustad mengajar, dan slalu pergi saat anak-anak sudah berhamburan keluar.
Pernah sekali Laras ingin sekali bermain tapi mereka memasukan Laras ke selokan, dia pulang badannya kotor dan bau ibu jadi marah dan bude minah memaki ibunya,
Keinginan kecil Laras selalu berakhir dengan masalah dan membuat ibunya mendapat hinaan, hal itu membuat gadis kecil itu semakin tak berani melakukan apapun.
Laras selalu ingat kata mas Bejo tidak boleh membuat ibu sedih. Laras meraba bibirnya mengingat kebiasaan mama'snya
"Mama's di mana?"
Mata Laras berkaca-kaca, satu-satunya orang yang selalu di samping nya, selalu menggenggam tangannya, pergi tak kunjung pulang, membuat Laras terus menanti dan berharap masnya pulang.
Laras selalu mengingat pelajaran di tempat mengaji dengan pelan, karena dia bukan termasuk orang yang pintar. Tapi di bangku SD di ajarkan menghafal Al-fatihah, dari satu surat itu Laras terus berusaha membacanya hingga fasih.
Dia menghubungkan antara apa yang ia dapat di sekolah dengan apa yang ia dengar saat dia mendengar kan guru ngaji menjelaskan dengan samar-samar, tentu saja karena Laras hanya mendengar nya di balik dinding mushola. Laras terus berusaha keras, tak ingin membuat Bejo kecewa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sisil Azzahrah
hem...tambah kesini nya tambah sediiiih😭😭😭
2021-12-06
2
Mega Chai
guru ngaji kok kayak gtu milih2 murid,seharus seorang guru ngaji tidak membeda-bedakan murid yg mw belajar ngaji tp seorang guru ngaji harus nya dgn senang hati ngajarin anak2 ngaji walaupun anak2 dri keluarga tidak mampu,mengajari ajaran agama ke anak2 itu kan baik supaya anak2 bisa menperdalam ilmu agama nya n anak2 bisa tumbuh menjadi anak2 yg kuat ilmu agama nya,
2021-11-26
7
nath_e
iiish ada guru gt ya...cb Deket ma saya dah kupoles tu guru pake cabe sekilo😤
2021-11-14
1