Esok harinya Laras sengaja tidak masuk sekolah dia sudah sejak pagi berada di polres menunggu jam waktu besuk.
Mas Bejo hidup dalam bui sudah satu Minggu.
Tepat pukul 12 aku bisa bertemu Mama's ku, mas bejo. Bahagia rasanya melihat masnya yang masih tersenyum
"Tenang Ras Mama's masih bisa belajar di sini"
Bejo tersenyum melihat Laras yang terlihat sangat khawatir, tapi Laras tau saat mendapatkan beban yang begitu berat Mama's pasti bilang begitu
"Mas tolong mas cerita bagaimana kejadian yang sebenarnya sama Laras biar Laras tak salah jalan mas"
Bejo memperhatikan adiknya teduh tanpa menutupi apapun dia menceritakan awal mula dan kronologis kejadian. Laras hanya mengangguk pelan mencernanya dan menghubungkannya
"Mas ini fitnah!, mas di jebak!"
"Iya, tapi kita tidak punya bukti, dan kita hanya orang kecil, selama mas masih bisa belajar dan sekolah ini masih baik Ras, kamu tidak boleh membuat masalah" kata Bejo pada adiknya. Laras hanya mengangguk pelan
Seorang polisi menghampiri mas Bejo membawanya masuk, jam besuk sudah berakhir.
Dengan langkah pelan Laras menuju jalan raya sebuah motor king menghampirinya Heri teman satu geng nya yang berada di luar sekolah menghampiri Laras mengantarnya pulang sampai rumah
"Bagaimana ada perkembangan dalam kasus kakak mu?"
"Heeem,"
Laras mengangguk pelan tapi tak ingin berbagi, Kali ini ia tau siapa yang harus ia kejar. Bambang Sudarmono, Eko dan kawan-kawan.
Mereka pasti ada di balik semua ini, mereka adik satu tingkat Bejo di SMA, dan berasal dari kampung yang sama, mereka punya ikatan dalam sebuah perguruan pencak silat yang besar, dan koloni mereka memang besar, Laras tak ingin melibatkan teman-temannya. Tapi tetap dia tak akan tinggal diam saja melihat mereka tertawa.
Dulu Moko yang memasukkan racun dalam minuman bapak yang membuat Bapak harus memiliki penyakit batuk yang tak kunjung sembuh hingga kini. Sekarang dia dan kawan-kawan membuat mas Bejo masuk dalam penjara.
"Oke" ini adalah perang pertamaku. "Makasih her sudah mengantarku"
Laras menepuk pundak Heri dan melangkah masuk.
Matahari masih dengan gagahnya melintasi ujung kepala Laras. Engan untuk pulang Laras melanjutkan langkahnya menuju hutan, baju sekolah dan tas masih di bawanya, terus melangkah.
Kali ini Laras tak memilih duduk di tepi sungai melainkan menuju air terjun yang letaknya lebih jauh dan curam, konon cerita orang di kampung ini. Tidak ada yang bisa kembali, jika sudah masuk hutan itu. Tapi bohong, aku sudah bulak balik masuk, bisa pulang tuh.
"Kata siapa?"
Laras duduk di batu yang menjulang di tengah aliran sungai yang deras menghadap air terjun, Menikmati segarnya suasana, Tempat itu sudah mengenal Laras...
"Mbak Mayang aku datang? aku sudah besar! aku sudah pandai! sebentar lagi aku kelas dua!, aku akan jadi pemenang!"
Laras terus berteriak-berteriak melawan derasnya suara air terjun, hatinya hancur menahan rasa rindu pada sosok Mayang.
Entah mengapa Laras tak bisa menangis. Air mata nya seolah tak ada. Sekali lagi ia fokus pada kalungnya, memeluk ingin menangisi kehampaan yang panjang
"Mbak Mayang mas Bejo di penjara!" ratapnya pilu
Membayangkan orang-orang yang begitu banyak dan kuat yang telah menghakimi keluarganya, ada rasa minder. Membayangkan Moko dan kawan-kawan nya, mereka kuat di kampung nya juga di sekolah nya.
Membayangkan dia yang sendiri tanpa mas Bejo tanpa mbak Mayang tanpa orang-orang. Laras merasa hancur sendiri.
Angin berhembus kencang menerjang wajah Laras, terasa perut yang keroncongan, ia lapar. Tetapi malasnya, membuat ia membiarkan saja perutnya yang berteriak-teriak memohon pertolongan.
"Ah aku tak kan mati hanya karena kelaparan, itu sudah biasa"
Laras mencoba memejamkan matanya meletakkan lelahnya sebentar
Suara ramai anak-anak membuat Laras membuka mata melihat ke sumber suara, tampak anak-anak kecil bermain air dengan riang, di lihat sekeliling nya ia masih di atas batu air terjun yang menjulang tinggi dengan angkuhnya
"heeeiii"
Seorang anak memanggilnya memintanya bergabung, tapi Laras menolak dengan melambaikan tangannya. Ada di antara mereka yang ia kenal teman nya bermain air semasa mbak Mayang masih ada
"Laras!"
Suara lembut yang sangat di kenal Laras, membuat nya sepintas memalingkan wajah
"Tek"
Tanpa basa Basi ia berhambur memeluk
"Mbak!, Mbak ke mana?, mbak...!"
Dan. Laras masuk dalam aliran air yang deras, itu hanya bayangan Mayang dan ternyata Laras hanya bermimpi
"Haaaah...!!!"
Jerit Laras kaget badannya basah kuyup memandang sekeliling sepi suara alam mencekam, matahari sudah condong ke barat, melangkah menyusuri sungai melewati alur sungai, perutnya yang lapar kembali memanggil ingin makan
"Jika malam tiba pasti susah mencari makan"
Laras bergegas mencari makanan mengejar cahaya yang masih semburat. Pohon jambu air yang tampak lebat terlihat, dengan rakus Laras mengisi perutnya.
Merasa cukup kenyang Laras kembali menyusuri tepian sungai, mengikuti alur sungai bisa membawanya sampai ke kampung.
Sayub-sayub terdengar suara adzan berkumandang mengingatkan magrib sudah datang, juga memberi taukan bahwa ada perkampungan di sekitar situ
Benar ada lampu menyala menandakan kehidupan ada di sana, Laras melangkah menghampiri cahaya itu, melihat banyak lampu bersinar, rumah-rumah terang, kegiatan malam penduduk
"Ndok, cari siapa?" sebuah suara tua menyapanya
"Nggak bapak aku kesasar (tersesat) kayaknya "
Jawab Laras tenang, bapak tua membawaku menemui kepala kampung menyerahkan Laras
"Masuk"
Laras mengikuti empunya rumah yang ramah, menyodorkan segelas air
"Heeeiii, kamu Laras Kan teman mbak Mayang"
Malam itu Laras tidur di rumah sari, anak dari kepala kampung setempat
Terkejut aku mendengar nama Mayang di sebut, aku mengangguk berharap
"Kamu kenal mbak Mayang?"
"Iya dia tuan putri di kerajaan Menyan"
"Apa aku bisa bertemu?" Harapku, anak yang memperkenalkan diri bernama sari itu mengangguk membuatku sangat senang
*****
Pagi sekali sari membawaku berjalan menghampiri sebuah bangunan yang megah menurut sari itu adalah kerjaan yang di pimpin oleh mbak Mayang.
Seorang prajurit ala film kolosal mengantarkan kami, benar itu mbak Mayang, Sari bersujud memberikan hormat, tapi aku tidak bisa bergerak, kerinduan ku membuat seluruh tubuhku membeku ingin memeluknya tapi aku mati rasa
Mata yang ku rindu itu begitu indah, wajah yang cantik itu begitu dingin, angin berhembus memelukku erat, erat sekali aku serasa membeku
"Mbak aku kangen"
Wanita yang bertahta mahkota indah di kepalanya itu berjalan membekukan ruangan menghampiriku, tangannya mengeluarkan dua benang jahit berwarna merah putih melingkarkan ke pergelangan tanganku, dengan tiga kali pukul ia membuat aku terjatuh tertelungkup ke semak belukar, meraba kepalaku yang seolah terbentur benda keras, ku lihat sekeliling masih gelap aku berada di tengah hutan di tepi jurang yang curam
"Hoooooouu!!!"
Bukan main aku terkejut, melihat diriku yang kuyu berada di tepi jurang di tengah hutan, hamparan sungai kali menyan mengingatkanku jalan pulang.
Rupanya aku tersesat ke negri seberang, aku menyadari ternyata Mbak mayang adalah mahluk kasat mata, dan barusan menyelamatkan aku dari jurang yang curam memperlihatkan aku jalan pulang, aku tersenyum.
"Mbak Mayang tidak melupakan aku"
Di tengah gelapnya malam aku melangkah menyusuri hutan untuk pulang.
Bapak memeluk erat
"Aku tersesat pak"
kataku dan baru ku sadari aku menghilang hampir satu Minggu membuat ibu sakit memikirkan aku. Dengan rasa bersalah, ku hampiri ibu, ku peluk tubuh ibu menenangkannya bahwa tak terjadi apapun padaku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
👑✧ಡkumaqiಡ✧
makin seru nih ceritanya
2021-11-26
1
Alikayus
dukung juga cerita ku kak di. "tolong cintai aku"
2021-06-27
4