Sesampainya di rumah, Paiman bertanya pada laras
"Dari mana ndok?"
"Dari hutan."
"Ngopo? kamu ke hutan."
"Main pak ketemu mbak Mayang"
"Lah kamu lewat mana?"
"Lewat sawah."
"Oalah, syukur lah "
Paiman memeluk tubuh putrinya khawatir
"Ngopo to pak?"
Dengan lugunya Laras menjawab pertanyaan Bapaknya yang ketakutan karena khawatir
*****
Esok harinya Laras melakukan hal yang sama menemui mbak Mayang. Seminggu hari libur ia habiskan bersama mbak Mayang. Lempar batu sangat menyenangkan.
Laras yang mulai berhasil melakukan lemparan dengan target yang jauh membuatnya bersemangat.
Terus terus dan terus melakukan, sampai Laras memiliki hobi melempar. Ia akan melempar kan apapun yang ia temukan terkadang ia membidik mahluk hidup, seperti membidik seekor Burung, Lalat, Ikan saat berenang, dan ia mulai menikmati indahnya kepuasan saat berhasil melakukannya.
"Jangan berhenti sebelum kamu berhasil" pesan mbk Mayang
Laras mengikuti apa yang di ajarkan Mayang dengan baik dan terus berusaha.
*****
Senin pagi, sekolah sudah di mulai, Semua Murid berkumpul di halaman sekolah.
Laras yang tidak memiliki temen hanya berdiri diam memperhatikan mereka yang memiliki masa kanak-kanak menyenangkan
"Kamu juara 1"
"Aku ke 2"
"Aku 3 "
"Aku 4"
Terdengar anak-anak pintar menentukan nasib mereka masing-masing
"Ih kenapa sih dia yang peringkat 5, males tau"
tatapan sinis Supri mengarah pada Laras
"Iya, males banget."
" Anak-anak tak berguna itu, ngomongin sesuatu yang nggak penting sama dengan orang tua mereka" Cibir Laras dalam hati
Senyumnya sinis mengembang di bibirnya, membalas tatapan mereka. Hal itu membuat mereka tambah membenci Laras
Buk Eka berdiri di depan barisan kami seperti biasanya akan memanggil kami satu persatu membagikan raport dan mengumumkan juara kelas.
Aku yang pemalas dan kumuh berdiri di belakang seolah tak ada
"Laras!" Buk Eka memanggilku
"Iya buk" mata Ku hanya melihat sekilas dan asik lagi dengan isi kepala ku
"Laras...! sini,''
Untuk yang kedua kalinya ibu Eka memanggilku, aku menghampiri dengan pelan
"Apa buk, aku nggak nakal kok, cuma duduk," Laras bingung dengan panggilan buk Eka yang berkali-kali
"Siniii,..." tangan buk Eka menarik ku dan aku menuruti saja
"Anak-anak untuk tahun ini Laras ambil juara 1"
"Haaaah..!!!!?"
Aku terkejut, apalagi mereka. kok bisa? dan aku menang. Dengan sedikit tidak percaya dan masih bingung.
Dari kejauhan tampak ku lihat mbak Mayang melambaikan tangannya bertepuk tangan senang.
"Mbak aku menang!" rasanya tidak sabar buat mengabari mbak Mayang secara langsung
Laras, benar-benar menang, untuk yang pertama kalinya ia merasa setara dengan mereka anak-anak yang bodoh
"Laras...kamu pasti nyogok kan"
"Iya mana bisa anak bodoh kayak kamu peringkat kelas" sinis Linda
"Atau kamu pasti nyontek"
"Pasti!, mana bisa orang miskin bodoh kayak kamu juara kelas!"
Dalam hal ini Supri sangat berperan ia benar-benar terdidik untuk menghakimi atau menjadi pecundang alami " ha ha ha ...!" aku tertawa keras melihat wajah anak-anak bodoh itu yang tidak terima. Teman-temannya yang tak terima dengan pencapaian Laras saling mengunjungi di sana-sini tebar fitnah. Dasar!
Rasa tak terima akan kekalahan membuat mereka semakin mem bully Laras. Dengan percaya diri Laras si miskin melangkah pergi meninggalkan orang-orang tidak berguna yang selalu mengerjakan hal-hal yang tidak berguna
"Laras si miskin" itu adalah julukan barunya."Hahahaha" aku suka dengan julukan itu
Menginjak Kelas 6, aku mulai merasa hidupku memiliki banyak warna, mbak Mayang mengajariku banyak hal, hariku ku habiskan bersama mbak mayang sajq
sedang asik menikmati buah jambu yang sangat manis...
"Haaa, seger mbak"
"Laras ayo ikut aku"
"Ke mana mbak?"
"Ikut saja"
Kaki telanjang ku dengan riang mengikuti MBK Mayang, menaiki bukit curam mencoba melompat dari batu satu ke batu yang lainnya, dari satu lompatan ke lompatan yang lain, jatuh tersungkur, terluka, dan aku tertawa.
"Mbak kita kemana ?"
"Kita jalan-jalan, malas hanya duduk di pohon jambu"
"Mbak ada air terjunnya ya?"
Mataku takjub melihat hamparan sungai yang lebar membentang, air nya berwarna keemasan di timpa matahari, terlihat sangat indah
"Mandilah"
Tanpa pikir ke dua kali aku langsung melepas bajuku dan menceburkan diri
Air sejuk menghampiri kulitku yang dekil, kusam dan kotor, terdengar deru suara air terjun.
"Mbak suara apa itu ?"
Tiba-tiba segerombolan anak seusiaku datang menceburkan diri mereka ke sungai, Laras merasa senang, berenang bersama anak-anak dengan riang. untuk pertama kalinya Laras memiliki banyak teman sebaya, yang entah dari mana asalnya
"Ada air terjunnya di sana ras, itu suara air terjun" Mayang menunjuk arah yang jauh
Itu adalah tempat kedua yang menjadi tempat singgah Laras sejak saat itu, tempat yang jauh curam dan bahaya, namun menyimpan keindahan dan kesejukan alam yang indah dan menenangkan
Setiap kali pulang sekolah Laras akan pergi ke sana bersama Mayang.
Suatu waktu Sepulang dari bermain Laras langsung menuju rumah dan mayang akan mengantarkannya melewati hutan kecil memastikan laras benar-benar sampai rumahnya.
" Mbak ayo main, ketemu ibu"
" Iya besok"
Laras mengangguk dan berlari menuju rumahnya
Suara sangat keras terdengar dari dalam rumah di susul suara tangis adik kecilku, waktu itu hampir magrib bapak dan mas Bejo belum pulang, Laras mempercepat langkah kakinya berlari menghampiri
" Aku kalo tega ku bunuh semua kalian!"
Seorang laki-laki membawa parang ada di depan ibu dengan gagah
" Brakkk..!!!!"
Dia memukul meja mengagetkan aku dan ibu adik kembali menangis kencang, aku geram dengan tanganku, aku ambil sebatang kayu Kopi, berdiri di depan ibu
"Ngapa kamu anak kecil? tau apa kamu?"
Tangan kekar itu menyibakkan tubuhku, dengan sigap aku tangkap tangan itu dan ku hentakan Kebelakang, ku dorong dengan keras, kayu kopi siap memukul,
"Laras!!!"
bapak datang menangkap kayu itu dan menggendong aku
" Ada apa pak?" bapak bertanya pada pak Basuki
"Katanya Bapak punya hutang, tanah kita mau di jual!, piye to pak?"
Ibu menjawab dengan lantang
" Utang apa pak?"
Dengan heran bapak bertanya tapi pak Basuki malah pergi meninggalkan kami begitu saja
Mas Bejo pulang terkejut melihat ibu menangis, bapak menggendong Laras erat.
"Ada apa pak?" Bejo bertanya dengan heran
" Ora Kono mangan ( tidak apa, sudah sana pergi makan) dan bersih-bersih dulu."
Malam itu terasa mencekam, dinginnya malam membuat suasana menjadi sangat hening
Adik bayiku yang sedari tadi menangis tak henti-henti, berlahan mulai tenang dan tidur
Ibu dan bapak berbincang di kamar
"Pak Ono opo to?, kok pak Basuki kesini marah- marah, mau jual rumah kita, bapak punya utang apa?"
"Hutang apa to mak, aku ini gak punya hutang."
" La terus sampean punya urusan apa sama pak Basuki?"
"O alah gini Lo Mak ceritanya, Kitakan ada bantuan pemerintah lima juta dan di bagi tiga, nanti bulan dua tahun depan di bayar. inikan masih lama, kita baru jalan empat bulan,"
"Itu Lo KUD (Koperasi Unit Desa) yang bapak pinjam pas Bejo mau masuk sekolah."
" La kan sek sui to pak ( masih lama) ?"
" Yo pak Basuki dan pak Daman, sudah punya uang buat bayar, kan kita belum, jadi mereka maksa pelunasan cepat buk."
" Oalah pak, piye tadi kalo Sampek di gebuk Ndok."
"Ojo Yo Ndok"
"Laras sini " Bejo memanggil Laras pelan. "Ngak boleh main gebuk ya, nanti kita di usir lagi"
"iya mas "
Laras tidur telungkup membelakangi Bejo, ingin menangis tapi tidak ada air matanya
"Seorang pemenang pantang menangis"
Itu nasehat bejo dan mbak Mayang padanya, Ingat mbak Mayang jadi tak sabar menunggu besok, ingin segera menumpahkan semua kesedihnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Sahril Banon
pinginya sih orang2 yg sok2 ngebuly or miskin gtu bgusnya di musnahin si mayang sja biar jls nga ada lgi yg sok2 an di kmpong
2022-09-04
1
Ayatie Treni
bikin perasaan larut,seolah olah masuk dalam keluarga laras 😊
i like
2022-03-24
1
Arjuna Bayu
abisin dulu air mata
2021-06-09
2