Esok harinya tampak sebuah desa yang berantakan, ibu masih membersihkan rumah dan pekarangan tanah kami yang lumayan lebar, ada pohon kopi yang siap panen, tuhan memang tak pernah salah, ketika ibu di zalimi orang, maka akan datang pertolongan tuhan dari tempat yang tak disangka-sangka.
Adik laki-laki ku lahir dengan selamat, keluarga ku sangat bahagia dengan kehadiran adik kecilku
"Sekarang kamu punya teman ras." kata mas Bejo
"He'eh" jawabku
Bapak pagi-pagi sekali bekerja upahan mengangkat kayu dari hutan ke kampung
Hari ini meskipun kampung kami di acak-acak gajah tetapi kami tetap sekolah, aku berlari senang, memikirkan dan membayangkan wajah adik kecilku saja aku sangat tidak sabar untuk cepat pulang
Laras sangat suka melukis, lukisan pertamanya adalah mbak Mayang. Sosok wanita yang sangat cantik
Lalu apapun yang di lihat akan Laras lukis, hanya bermodal kan pensil Laras bisa memenangkan banyak perlombaan, buk Eka guru walinya yang sangat baik, dia memberiku jalan untuk ikut lomba, dan dari lomba itu lah Laras mulai memiliki buku tulis, pensil warna dan alat sekolah lainnya.
Aku memang tidak pintar dalam pelajaran tapi setidaknya aku masuk lima besar. Rupanya prestasi yang ku miliki tak di sukai teman-teman, dari semua kelas, baik kelas satu sampai kelas enam tak menyukai ku, mereka selalu menusukku dari belakang menghantuiku bahkan selalu merampas milikku, tapi aku tak pernah mempermasalahkan yang terpenting bagiku adalah aku memiliki teman.
Hari itu, tugas kelompok di kerjakan di rumah, aku memiliki lima orang anggota. Aku, Supri, Linda war, dan Suntoro, kami mengerjakan tugas sekolah matematika. Alasan yang di ambil oleh mereka merekrut aku sebagai anggota kelompok mereka karena aku pintar dan mudah di gunakan
Pukul satu sepulang sekolah kami berkumpul di rumah Supri, sebenarnya aku sadar mereka tak menerimaku, tapi dengan alasan aku yang diam dan mudah di perintah oleh mereka, akhirnya mereka mau satu kelompok denganku.
Bukan masalah buatku di terima atau tidak yang penting aku dapat kelompok, karena kenyataannya memang tak ada yang menerima aku untuk jadi anggota kelompok mereka.
Aku sudah besar umurku sudah sepuluh tahun aku duduk di kelas lima dan peringkat lima besar. Linda selalu mendapat peringkat pertama, war yang ke dua, suntoro yang ke tiga, mbak Supri yang ke empat dan aku di urutan ke lima.
Setiap harinya aku yang mengerjakan tugas dan mereka tinggal mencontek lalu ketika tugas di kumpulkan nilai mereka selalu lebih besar
''Mengapa begitu?''
Karena mereka hanya mencontek yang mereka tidak tau, dan tidak pernah berbagi yang aku tak tau.
Aku hanya diam tak apa yang penting aku punya teman. Tragis sekali nasibku, di kelompok yang miskin saja aku tidak di terima, apa lagi kalangan siswa yang kaya. Aku masuk di kelompok sekarang pun aku tau posisiku hanya sebagai budak mereka.
Tak hanya di sekolah, di kampung ku pun di bagi menjadi beberapa kelompok, kelompok orang kaya, orang yang sedang saja dan orang miskin, sedangkan kami, keluargaku tak masuk dalam golongan manapun, di tempat orang miskin kami tidak di terima apa lagi di kelompok yang lainya.
Tapi aku sudah terbiasa seperti itu, sering mengerjakan tugas mereka, membuatku menjadi lebih pintar, ketika mereka meninggalkan aku, aku terbiasa sendiri.
"Ini ras bukunya halaman tiga belas ya, jangan lupa."
Supri memberikan buku cetak matematika padaku, lalu mereka pergi main. Aku akan duduk di rumah Supri berjam-jam mengerjakan tugas itu
"Mbak sudah selesai"
Teriak ku memanggil jika tugas itu selesai
Dan mereka akan menghampiriku untuk menulis ulang di buku tugas mereka
Pukul lima sore kami sudah selesai mengerjakan tugas sekolah.
"Besok kita bertemu di rumahku ya berangkat bareng" itu kata Supri kepada kami
"Okhe" Kami menjawab itu bersama,
Tapi aku tau, pasti aku ditinggalkan, itu sudah biasa terjadi padaku.
Selepas mengerjakan tugas kerja kelompok, aku bergegas pulang rasanya sudah tak sabar ingin melihat adik bayiku.
Mengerjakan tugas sendiri, sangat melelahkan.
aku bergegas mandi dan istirahat sambil bermain dengan Wahyu kecilku.
******
Hari ini hari minggu kami pergi ke rumah yang di pegunungan untuk membereskan kan sisa-sisa barang yang masih bisa di pakai. Saat kami sampai, rumah kami sudah rata dengan tanah dan ada bekas kaki Gajah.
"Pas ya pak, kita punya rumah eh gubuk kita di Ancurin gajah" Bejo berbicara pada bapaknya
"Iya mas" timpal Laras menangapi obrolan.
Panas teriknya matahari membuat Laras istirahat duduk santai di Bawah pohon pisang yang rimbun, sejuk udara segar membelai rambut Laras lembut.
Tiba-tiba seekor ular berbisa kecil muncul dari balik reruntuhan rumah, mata Laras yang bulat bening memperhatikan ular yang siap mengigit Bapaknya yang lengah karena berbicara dengan Bejo. Dengan berlahan laras menyeret tubuhnya menjangkau kayu di sebelahnya
"Debuk...!!!!!!"
"Apa ras !!! " mas Bejo dan bapak berteriak kaget
" Debuk debuk debuk debuk debuk...!!!!"
Laras memukul ular itu dengan kekuatan penuh tanpa ampun, Kepuasan mengembang di bibirnya
" Jahat mas di bunuh aja! "
Mas Bejo hanya mengelus rambutku sayang.
Bapak kembali membereskan barang-barang kami memasukkan ke dalam dua karung yang akan di bawa oleh bapak dan Bejo, untuk Laras bapak hanya tersenyum.
Tak mau kalah Laras membawa beberapa di ikatnya dengan terampil lalu di gantungkan tali dan di ikatnya pada kayu yang bisa di letakkan di pundaknya.
Selepas zhuhur kira-kira pukul dua siang, kami sudah menuruni bukit rumah menuju rumah kami yang di kampung.
Meninggalkan kenangan dan sisa-sisa air mata ibu. Tampak Laras yang berlari-lari kecil tak dapat bersembunyi dari kebahagianya.
*******
Ibu menyambut kami dengan makan enak, ayam ungkep, nasi tiwul sambal terasi dan Lalap daun singkong rebus
" Waaaah ... mamak ku hebat"
Laras langsung menyerbu tanpa perduli dengan kotornya badan dan tangannya
"Cuci tangan dulu Ras"
Mas Bejo menyeret kerah baju Laras bagian belakang mengajaknya sambil bercanda untuk mencuci Tangannya.
Sembari menyantap masakan ibu mereka berbincang-bincang
"Mak rumahnya di Hancurkan, di acak-acak Gajah" Bejo memberi kabar
"Lo ini barang-barang kita masih utuh pak"
"Iya" jawab bapak
"Ajaib Mak, semua barang kita selamat" Bejo menyahut
"Iya Mak... Gajahnya baik, masak semua peralatan emak terkumpul jadi satu, di tutupin daun pisang mak, sendok yang kecil aja gak ketinggalan, baiknya si Mbah gajah, Yo Mak?"
Laras iku menjawab obrolan mereka dengan mulut penuh makanan
"Ya pak, hewan aja baik" Kata ibu
"Tapi kok malah yang manusia jahat ya Mak" Kata laras
"Nggak semua Ras" bapak menimpali ucapan anaknya dengan elusan pelan di kepala putrinya
"Memang ada orang baik pak ?" tanya Laras heran
"Banyak'' mas Bejo tersenyum tangannya mengelap mulut adiknya pelan
"Apa orang baik itu kayak mas Bejo?, atau mbak Mayang ?" kata Laras kemudian
"Iya " ibu sambil mengendong adik, menjawab celoteh putrinya
"Jo bantu bapak cari bambu untuk nambal dinding rumah sama atap" perintah bapak yang sudah menyelesaikan makannya
"Iya pak, lagian aku juga mau cari bambu yg panjang untuk bikin talang ( aliran air) biar kalau hujan kita bisa nampung airnya, kasian ibu kalau mau pergi ke sungai terus buat nyuci"
"Aku ikut mas"
"Nggak usah Ras"
"Ikut si mas" Laras memaksa
"Se karepmu"
Bejo tidak bisa berargumen apapun sama Laras karena memang Laras tak pernah minta apapun dan selalu menurut
"Ada gajah kok masuk hutan pak" kata ibu
"Gajah itu ngerti Mak"
"Iyo, aku di selamatkan mbak Mayang waktu malem itu Mak, di samber, wuuush" cerita Laras semangat
"Mbak Mayang itu siapa to ?"
"Temen ku pak, cantiknya poool " Laras mengacungkan jempolnya tinggi tinggi
Dengan kagum Laras membanggakan Mayang, membuat Bapaknya mulai penasaran.
"Jo kamu jadi ikut karate to ?"
"Iyo pak untuk jaga-jaga"
"Aku juga mau ikut mas, biar aku bisa jaga diri"
"Nanti kalau sudah besar" Jawab bejo
Laras merengut tapi mengerti.
Selepas makan siang menjelang sore, kami bersiap pergi ke hutan mencari bambu, satu arah dengan menuju arah di mana mbak mayang berada.
Dengan bahagia Laras berlari-lari mulai memasuki hutan, angin yang kencang menerjang Laras berdesir, suara yang tak asing melarangnya masuk hutan, ia tau itu suara mbak Mayang
Laras menghentikan langkahnya
"Pak ... mas...jangan di teruskan ayo kita pulang saja" kata Laras kemudian
Bapak dan Bejo menatap Laras heran tapi kemudian tanpa perlawanan merekapun pulang tak melanjutkan mencari bambu.
"Lo Ra sido pak?"
"Ora buk, Wes sore" jawab bapak
"Kata mbak Mayang suruh pulang buk" Laras menimpali obrolan ringan bapaknya,
Bapak, ibu dan Bejo memperhatikan Laras yang asik dengan mainannya, ada rasa penasaran di hati mereka
"Kata mbak Mayang sudah sore pulang saja"
Laras yang polos, berbicara sambil bermain. Laras tak menyadari bahwa yang ia katakan mengundang rasa penasaran keluarga nya.
******
Waktu merambat berlahan suara adzan magrib berkumandang, di susul suara Kentungan tanda warga berkumpul di rumah pak RW
Tak lama kembali di susul suara bedug di tabuh tiga kali tanda orang meninggal, bapak langsung pergi meninggalkan kami. Mas Bejo mengajakku belajar tak boleh tau urusan orang tua
Bapak pulang sudah larut aku dan mas Bejo sudah tidur
" Bersyukur mak tadi nggak jadi cari bambu"
"Ngopo pak ?"
"Pak Salman meningal di amuk gajah, badannya remuk di injak, yang lainnya pada luka-luka, untung tadi aku ikut kata Laras"
"Iya pak, aku Yo curiga sama Laras, jane Mayang Ki sopo? opo jangan-jangan demit pak.'' (nama mahluk halus)
"Koyone Mak, seng penting anak kita gak kenapa-napa"
"Apa ya gak papa pak?" ibu khawatir
" Ora Mak, ntar kan kita tau sendiri "
Selepas pembicaraan dengan istrinya, Paiman beristirahat, karena banyak pekerjaan yang sudah menantinya esok hari
(JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR 😊🙏)
Jika ada yang tidak tau beberapa bahasa Jawa silakan tanyakan di kolom komentar
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Halimah Aja
aku suka cerita nya. sederhana bahasanya. alur nya mudah di mengerti
2024-01-02
0
Ririt Rustya Ningsih
ceritanya baguuss
2023-12-27
0
Ika Reno
Aku tau karena aku jg orang jawa
2022-06-07
0