...Happy Reading...
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
..." Ketika sebuah kenyamanan itu sudah ada, tidak usah mencari kenyamanan yang lain yang belum tentu ada "...
Saat dalam perjalanan pulang cuaca tiba - tiba memburuk, suara petir dan guntur bersautan, hujan turun dengan derasnya ditambah angin yang sangat kencang sekali.
" Maaf tuan muda, cuacanya buruk sekali, bagaimana kalau kita pulang dulu kerumah anda, nanti kalau cuaca sudah membaik biar saya antar nona muda kembali."
Ucap Sopir Simon mencari aman demi keselamatan mereka semua.
" Benar juga? ini sudah deket dengan rumahku? baik pak, kita pulang aja dulu."
Ucap Simon mengambil keputusan tanpa menanyakan langsung kepada orang disampingnya.
" Ciih.. kamu nggak minta persetujuanku dulu gitu? aku ada disini woy?"
Ucap Raras kesal.
" Nggak butuh tuh..!"
Ucap Simon cuek.
" Cihh dasar pria..."
Raras mengurungkan niatnya meledek Simon yang menatap tajam kearahnya.
Saat mereka memasuki ruang utama, Mirna terkejut bukan main melihat sosok wanita yang dibawa Simon pulang, seumur - umur baru kali ini Simon bawa pulang perempuan tanpa ada paksaan dan suruhan mamahnya.
" Sayang.. kamu datang? waah.. mamah senang sekali, kita makan bareng yuk, kebetulan mamah belom makan?"
Ucap Mirna langsung merangkul Raras dengan hangat dan mengajaknya ke meja makan.
" Maaah..? anak mamah itu aku apa dia sih? kenapa aku malah dianggurin ini?"
Ucap Simon protes.
" Diihh.. kamu mah udah terbiasa, mandi sonoh buruan, kita makan bareng sekalian."
Ucap Mirna tersenyum bahagia.
" Aku udah kenyang!"
Jawab Simon berlalu meninggalkan dua wanita itu.
" Heiii.. setidaknya minum susu hangat ya, mamah sudah buatin tadi."
Teriak Mamah.
" Yaa.."
Sahut Simon.
" Sayang kita makan yuk?"
Ajak Mirna.
Raras tersenyum sambil mengangguk kecil.
Yess.. akhirnya aku makan enak juga, laper banget aku sekarang mah, gara - gara putra mamah simonyong itu tuh.
Raras menikmati makanan yang tersaji dengan lahap dan nikmat sambil diselingi tawa renyah dari calon mertuanya.
" Nggak jadi diet mbaknya..?"
Ucap Simon tersenyum licik saat melihat piring Raras yang tinggal sedikit lagi isinya.
" Kamu ini ngomong apa? Badan Raras udah pas ini, kagak perlu dikecilin lagi, entar kebaya pesanan mamah kelonggaran nggak cantik lagi."
Ucap Mirna.
Raras tersenyum sambil menjulurkan lidahnya saat melihat mamah Simon membela dirinya.
" Habiskan makananmu nak, dan ini mamah buatkan susu hangat juga untukmu, biar rasa capek dibadanmu hilang saat bangun tidur nanti."
Ucap Mirna sangat perhatian dengan calon mantunya.
" Makasih mah, mamah udah cantik baik banget pula itu!"
Ucap Raras memuji mertuanya dengan tulus.
" Tentu.. kamu kan juga anak mamah, owh iya.. hujannya masih deres banget, petirnya juga ngeri banget tuh, kamu nginep aja yah dirumah mamah, lagian besok juga liburkan? jadi kalian santai aja."
Ucap Mirna yang punya seribu ide agar putranya semakin dekat dengan calon belahan jiwanya.
" Tapi mah, aku belom ijin sama...."
" Tenang saja, mamah akan menghubungi orang tuamu sekarang, jadi kalian ngobrol dulu aja ya? mamah mau istirahat dulu."
Ucap Mirna menyentuh pipi mulus Raras.
" Makasih mah."
Jawab Raras terpaksa menyetujui, menolak pun tidak ada gunanya, tidak akan berhasil bernegosiasi dengan sosok wanita bernama Mirna itu.
Simon bangkit dari duduknya dan membawa segelas air susu hangat ditangannya.
" Eeh.. mau kemana? aku sama siapa dong disini?"
Raras bingung sendiri, mau tidur juga dimana, Mirna tidak menunjukkan kamar yang harus dia tempati.
Akhirnya dia ikut bangkit membawa air susunya juga mengikuti kemana arah Simon pergi.
Ternyata Simon pergi ke balkon atas yang terhalang kaca besar, sambil melihat derasnya hujan turun diantara kerlap - kerlip lampu kota dari atas.
" Wuaaah..cantik juga pemandangannya dari sini, coba nggak hujan, pasti tambah cantik kalau ada bintang - bintang dilangit."
Ucap Raras sambil menyeruput susu hangat buatan mamah Simon.
" Kamu udah siap untuk menikah denganku? waktunya tinggal sebentar lagi lho!"
Tanya Simon tiba - tiba.
Raras menghela nafas panjang sebelum menjawab.
" Siap nggak siap bukannya harus tetap siap? mau nggak mau juga harus tetap mau, semua sudah dipersiapkan, jadi mau apa lagi, jalanin sajalah, apa yang sudah digariskan."
Ucap Raras pasrah dengan keadaan.
" Kalau kamu benar - benar ingin menolak, aku akan membujuk mamah apapun caranya untuk membatalkan pernikahan ini."
Ucap Simon memandang jauh keluar.
" Tidak perlu, ibuk juga udah setuju, tidak akan ada baiknya walaupun kita tidak jadi menikah, hanya menambah beban orang tua dan beban pikiran orang tua kita, kalau mereka bisa bahagia, kenapa kita tidak mencoba untuk bahagia juga? toh.. yang menurut kita sendiri baik belum tentu juga baik dimata Tuhan, pasrah aja, rejeki, jodoh dan maut Tuhan sudah mengaturnya, kalau ini memang takdirnya, kita bisa apa?"
Ucap Raras panjang lebar, entah dapat wangsit darimana dia malam ini.
Simon terkesima dengan ucapan Raras, gadis ini terkadang terlihat seperti bocah, kekanak - kanakan, kadang resek, jahil terkadang dia juga bisa dewasa melebihi orang tua yang sudah berpengalaman dalam hidup.
Ada rasa bangga didiri Simon, akhirnya dia akan menikah dengan seorang gadis yang bijak dan tidak melulu hanya memandang harta semata.
" Apa kamu yakin tidak akan menyesal akhirnya?"
Tanya Simon lagi.
" Penyesalan itu selalu datang diakhir, kalau didepan namanya pendaftaran dong, hehe.."
Raras masih sempat bercanda diantara omongan serius diantara mereka.
Dan Simon hanya bisa senyum - senyum sendiri, baru kali ini dia bisa tersenyum lepas berbicara dengan seorang wanita, Raras benar - benar membawa dunia baru di kehidupan Simon saat ini.
" Kalau begitu kamu tidurlah, ini sudah malam, kamarmu ada diujung sana!"
Ucap Simon menunjuk kamar disebelah kamarnya.
Kelaaaappp... jedeeeeerrrrr... jedeeerrrr...
Suara kilat menyambar dibarengi suara guntur yang menggelegar, sampai pintu kaca balkon rumah Simon pun ikut bergetar.
" Astaga.. ngerii banget petirnya."
Saat Raras melihat langsung cahaya kilat dari pintu kaca.
" Ayo.. aku antar kamu ke kamarmu!"
Ucap Simon segera berjalan.
" E.. tunggu! a.. aku belum ngantuk! bisa kita lanjut ngobrol dulu aja?"
Ucap Raras yang sebenarnya masih takut dengan petir yang menyambar, padahal badannya sudah capek banget dan ngantuk berat.
" Tapi aku masih ada sedikit kerjaan yang harus aku selesaikan malam ini juga."
Ucap Simon.
" Kalau begitu aku temani saja, hehe.. ayok.. mana ruangan kerjamu?"
Ucap Raras tersenyum sejuta watt.
" Ada dikamarku."
Ucap Simon segera berlalu masuk kedalam kamarnya.
Kamar yang sangat mewah dan cantik, sudah seperti kamar suite room dihotel berbintang, siapapun pasti merasa betah tidur ditempat senyaman ini.
Raras mendudukkan tubuhnya dikasur lembut nan empuk itu dengan senyum riang.
Astaga.. apa besok aku akan tidur disini setiap hari sambil memeluk tubuh atletis itu? aawww... senangnya.. astaga, ngomong apa sih aku ini! sadar Ra.. sadar..!
" Mandilah, kamu belom mandi kan dari tadi, wajahmu sudah mengkilap tuh kayak kecoak!"
Ucap Simon melempar sebuah handuk ke wajah Raras.
" Enak ajah..! ini tuh glowing bahasa gaulnya tauk!"
Ucap Raras tidak terima.
" Glowing kok bau comberan.. mandi buruan, hilang nanti bau wangi dikamarku, terkontaminasi dengan bau busukmu itu!"
Ucap Simon tersenyum jahil.
" Wuuu.. dasar pria....! Haiiissss..."
Raras berlalu pergi kekamar mandi dikamar Simon.
Didalam kamar mandi Raras tidak kalah takjub melihat interior kamar mandinya, bathup yang besar dengan berjajar segala jenis sabun aromaterhapi disampingnya.
Raras mulai berendam menghilangkan segala penat ditubuhnya.
Setelah sekitar satu jam Raras keluar dari kamar mandi dengan wajah segar alami namun tetap cantik mempesona walau tanpa make up sedikitpun.
" Mandi apa tidur tadi!"
Tanya Simon tanpa menoleh, dan masih setia memandang tap tipis ditangannya sambil duduk disofa.
" Hehe.. ketiduran sebentar!"
Ucap Raras jujur.
" Ciihh.. dasar bocah!"
Umpat Simon tersenyum manis.
Owh.. manisnya kalau tersenyum, So cute? Astaga.. Tuhan, sembuhkanlah jiwa play girl di diri hambamu yang lemah ini.
Raras berjalan mendekati ranjang Simon yang sudah menggodanya dari tadi, dia mulai duduk bersandar dibahu ranjang dan meluruskan kembali kaki jenjangnya masih menggunakan kimono mandi yang bersih.
Saat setengah jam berlalu, dan Simon sudah menyelesaikan pekerjaannya, dia kembali tersadar.
" Aaahhh.. pegel semua badanku, kemana perginya itu burung beo, kenapa tidak terdengar lagi suaranya."
Saat Simon menoleh, terlihat Raras tertidur dengan posisi bersandar diranjang kasur kingsizenya.
Simon lagi - lagi dibuat tersenyum melihat sosok wanita itu.
Simon berjalan mendekat, dan merebahkan laras agar tidurnya terasa nyaman.
Saat melihat wajah imut Raras saat tidur, tanpa sadar Simon sudah mendaratkan bibir seksinya dikening Raras.
Dua kali sudah ya Mon Si?
Dengan senyum mengembang Simon membawa Raras ke dalam pelukannya, tanpa sadarpun Raras mengeratkan pelukannya, mencari kehangatan dalam dingin AC didalam kamar Simon.
Akhirnya Simon ikut terlelap dalam keheningan malam dengan memeluk bantal baru didalam hidupnya sekarang dan nanti.
Bagaimana reaksi Raras saat terbangun nanti?
Jangan lupa setangkai mawar atau secangkir kopi buat otor kalian ya☺
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
MustikaDyahSukmawati[BundaIke]
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
2022-02-10
0
Bundanya Naz
😂
2022-02-05
0
Bundanya Naz
Raras cantik doang tp gk ada anggun2nya 😂🤣
2022-02-05
0