...HAPPY READING...
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
...♡ Hidup itu tidak perlu banyak drama, karena bukan didalam drama saja, hidup kita sudah rumit ♡...
Raras membuka matanya, ketika merasakan deru nafas yang terasa hangat diarea ceruk lehernya, saat dia membalikkan badannya, dia terkejut bukan kepalang melihat senyum termanis dari wajah Simon yang bercahaya.
Tiba - tiba dengan gerakan lembut Simon mendekat ke arah wajah ayu Raras, membelai rambutnya yang menutupi wajah cantiknya yang sudah bersemu merah itu.
" Raras.. kamu cantik sekali malam ini."
Simon memandang lekat kedua bola mata Raras dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Benarkah?"
Tanya Raras tersipu malu.
Aroma parfum maskulin menyeruak kedalam indra penciuman Raras, membuatnya melayang seperti di awang - awang.
Saat jarak wajah mereka semakin terkikis habis dan semakin dekat tanpa batas, Simon menyentuh bibir ranum Raras.
" Bolehkah?"
Tanya Simon memamerkan tampang cute, hingga membuat naluri seorang play girl Raras menggelora tidak terkira.
Dengan senyum yang menawan Raras hanya bisa menggangukkan kepalanya dan pasrah menerima semua kenikmatan yang Simon berikan.
" Pak Simon? bolehkah aku bertanya?"
Tanya Raras dengan suara berat.
" Tentu sayang, apapun itu? untuk kamu semua akan ku jawab, bahkan ketika kamu meminta gunung sekalipun pasti akan aku daki."
Jawab Simon menempelkan keningnya ke kening Raras dengan mesra.
" Apa kamu menyukaiku?"
" Tentu.. aku sangat menyukaimu sejak pertama kali melihatmu, aku sudah terpikat oleh senyuman manismu itu."
" Tapi.. apa kamu tertarik denganku?"
" Jelas.. aku sangat tertarik padamu, kenapa mesti bertanya? apa kamu tidak percaya?"
" Tapi kamu bukannya...?"
" Apa sayang? lanjutkan?"
" Emm.. maaf, bukan maksud aku menyinggung tapi mama kamu bilang kamu seorang yang...?"
" Impoten maksudmu?"
" Hehe.. maaf, maafkan aku, aku hanya ..."
Ucapan Raras terhenti, ketika bibirnya sudah dilahap habis oleh Simon, dan dalam seperskian detik Simon menarik kemeja Raras dengan sekali tarikan, dia lemparkan baju Raras kesembarang tempat, Simon pun segera menanggalkan seluruh pakaian yang dia dan Raras gunakan.
Sampai akhirnya mereka sudah polos tanpa sehelai benang sedikitpun yang menempel.
" Aku akan membuktikannya, apa kamu siap?"
Tanya Simon yang sudah mengebu - gebu.
" Ta.. tapi kita belum menikah?"
Jawab Raras ketakutan.
" Besok kita menikah? sekarang kita cicil buat dedek bayi dulu, biar kamu percaya kalau aku bukan pria impoten."
Jelas Simon yang langsung tidak memberikan jeda iklan untuk Raras menjawab.
Saat suasana sudah memanas dan memuncak, Simon segera mengarahkan senjatanya tepat di depan sasarannya.
" Kamu tahan ya? mungkin akan sedikit sakit, tapi setelah itu, nikmat yang akan kamu rasa."
" Ta.. tapi?"
Raras merasakan gemetaran disekujur tubuhnya.
" Tenanglah.. dan nikmati permainanku."
" Aku takut nanti.."
" Satu.."
" Tunggu.."
Teriak Raras.
" Dua.."
" Stop.."
Raras kembali berteriak.
" Tiga.."
" Aaaaaaaaaaaaaaaawwwwwwww..."
Gubraaaakkkkk...
Raras terjatuh dari ranjang kasur empuk itu dengan memeluk guling dengan erat.
" Heeii bocah? kamu ngapain guling - guling dilantai?"
Tanya Simon mendekat, dan membantu Raras duduk, terlihat dahinya sedikit benjol karena terhantuk sudut meja samping tempat tidur.
" Haaaahhhh.. apakah aku sedang bermimpi?"
Ucap Raras tersadar.
" Manalah ku tahu? tiba - tiba kamu sudah terjatuh dari ranjang sambil teriak - teriak kagak jelas!"
Ucap Simon terheran.
" Cubit dulu pipiku, apa benar aku tadi hanya bermimpi?"
Ucap Raras masih belum percaya kalau tadi hanya mimpi, karena semua itu seperti nyata baginya.
" Dasar gadis bodoh! mau aku hantamkan sekalian kepalamu ini dari tangga atas biar kamu sadar?"
Ucap Simon kesal.
" Aaaaaaawwwww... ternyata ini benar - benar mimpi, astaga..! hampir saja aku.. aku.. tidak perawan lagi."
Ucap Raras heboh.
" Maksudmu apa? kamu ngomong apa? nggak jelas banget, cepat cuci mukamu sana..! kita pulang, gara - gara kamu kelamaan molor jam segini aku masih dikantor!"
Simon langsung mengomel sambil membereskan barangnya untuk dibawa pulang.
" Hehe.. baik pak, maaf sudah membuat bapak menunggu, harusnya bapak bangunkan saja tadi, hehe.."
Raras merasa tidak enak hati.
" Kamu tidur udah kayak kebo gitu, aku teriak pun kamu nggak bakalan bangun, entah nyidam apaan ibu dulu saat mengandungmu!"
" Hehe.. maaf sekali lagi pak."
" Cepat pergi kekamar mandi sana, aku bahkan sudah kelaparan karenamu, masih saja ngoceh nggak jelas disini."
" Baik pak.."
Raras segera berlari ke kamar mandi dan merutuki kebodohannya dan segala mimpi - mimpi gilanya.
Setelah kurang lebih dari lima belas menit berlalu, Raras keluar dari kamar mandi dengan wajah segar setelah mencuci mukanya, saat ini dia sadar betul bahwa kejadian terdahsyat tadi hanya dalam mimpinya saja, hatinya terasa lega namun perasaannya kembali khawatir, sebab rumor Simon masih belum terungkap dengan jelas.
" Loh.. bapak kok masih disini? kenapa tidak pulang duluan?"
Tanya Raras heran.
" Kamu mau aku kunci diruanganku sendirian?"
" Hehe.. maaf membuat anda menunggu, saya kira bapak langsung pulang saat saya terbangun tadi?"
Raras cengar - cengir nggak jelas.
" Lagian ngapain kamu berlama - lama di kamar mandi? bertapa kamu..! ayok pulang..!"
Ajak Simon dengan ketus.
Saat mereka keluar ruangan semua karyawan sudah pulang, semua ruangan terlihat gelap dan sepi.
" Bapak duluan aja nggak papa, biar saya naek taksi."
Ucap Raras tidak enak hati.
" Naiklah.. nggak usah pake basa - basi deh!"
Ucap Simon saat menaiki mobilnya yang sudah disiapkan oleh sopir pribadinya didepan perusahaan.
" Baiklah.. kalau bapak maksa, hehe.."
Raras dengan anggunnya menaiki mobil mewah Simon dikursi belakang.
" Ciihh.. siapa juga yang maksa."
Ucap Simon sambil menutup pintu mobil.
" Mang kita mampir di Restoran biasa ya!"
Ucap Simon kepada sopirnya.
" Siap pak."
Jawab Sopir itu dengan sigap.
" Kita nggak langsung pulang?"
Tanya Raras.
" Aku lapar, kamu harus tanggung jawab!"
Ucap Simon asal.
" Kalau lapar gimana tanggung jawabnya? kalau hamil aku baru tahu!"
Ucap Raras ceplas - ceplos.
" Traktir aku makan!"
Ucap Simon tersenyum licik.
" Haaah? emm.. baiklah, tidak masalah!"
Ucap Raras sedikit terkejut, seorang big bos minta ditraktir?
Ciiihh.. kalau kamu salah satu dari kandidat cowok yang mengagumiku, sudah pasti aku eliminasi duluan, kagak modal banget! iuuuuwww...
" Kalau gitu aku yang nentuin tempat ya?"
Ucap Raras mencari aman.
" Enak saja, kamu tidak tahu kan standar makananku itu tinggi, kalau kamu yang pilih bisa saja kamu cari tempat yang murah dan tidak higienis? NO...!
Sahut Simon tanpa bantahan.
Astaga.. pria seperti ini yang akan menjadi suamiku kelak? Demi KOLOR mimi peri aku sungguh tidak rela..
Mobil mewah Simon berhenti dipelataran Restoran berbintang, berhiaskan lampu kelap kelip yang indah dipandang mata, dengan view lampu kota dibawah sana yang berjajar seperti bintang - bintang bertaburan.
" Aku mau pesan Udang galah masak asam manis, cumi crispy juga Sup iga, minumnya jus alpukat, kamu mau pesan apa?"
Tanya Simon saat membaca buku menu yang diberikan seorang pelayan restoran.
Duit gue cukup kagak ya?
Raras membuka dompetnya dibawah meja sambil komat - kamit seperti mbah dukun.
" Pesen kagak?"
Tanya Simon balik sambil senyam - senyum sendiri melihat tingkah Raras.
" E... aku, aku sedang diet, jadi malam kagak makan, hehe.."
" Minum?"
Tanya Simon menahan tawanya.
" E.. Air putih saja, hehe.."
" Baiklah kalau begitu, dia air putih saja mbak, dan pesananku tambah daging sapi lada hitam ya?"
Ucap Simon tersenyum jahil.
Mampus.. gadein apa gue nanti ya? KTP gue laku kagak ya? arrrgghh.. Simonyong awas kau ya..!
Saat semua makanan sudah terhidang diatas meja, Simon langsung menikmati setiap pesanannya dengan ekspresi wajah yang sumringah.
" Heeemm.. enak banget udangnya, manis gurih beuuuhhh... dagingnya mantap, cuminya kriuk - kriuk.. sup iganya empuk dan seger.. endol surendol ini mah."
Ucap Simon memamerkan pesanan makanannya.
Gleeekkk...
Raras hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan susah payah dan menjilat bibirnya sendiri tanpa dia sadari saat melihat makanan itu yang harumnya menusuk sanubari.
" Mau coba?"
Tawar Simon menahan tawanya.
" Enggak aku diet..!"
Ucap Raras memejamkan matanya, menahan segala godaan.
" Baiklah.. aku udah selesai makan, ayok kita pulang!"
Simon sudah berdiri meninggalkan meja yang masih meninggalkan banyak makanan.
" Tapi ini masih banyak pak? sayang tauk? mubazir buang - buang makanan?"
Ucap Raras kesal.
" Tapi aku sudah kenyang, biarkan saja, cepat bayar sana, aku tunggu di mobil."
Ucap Simon dan berlalu keluar restoran itu dengan senyum sejuta watt.
Dasar Simonyong, kalau nggak habis ngapain pesan banyak - banyak, bikin gue bangkrut aja.
Raras menggerutu sepanjang perjalanannya menuju tempat kasir.
" Mbak.. emm.. mau bayar makanan meja nomor satu, berapa ya totalnya?"
Tanya Raras ketar - ketir, sambil berpikir kalau kurang apa yang harus dia gadaikan.
" Owh meja tuan Simon, anda tidak perlu membayarnya nona, restoran ini milik bapak Simon."
Jedaaaaaarrrrrrrr....
" Aaarrrgggghh... dasar Simonyong titisan dari mak lampir..! tau gitu aku pesen makan yang enak - enak tadi, aaaarggghhh.. sial, aku dikerjain!
Gerutu si Raras sambil keluar restoran dengan menghentak - hentakkan kakinya.
Terdengar samar - samar suara tawa renyah dari dalam mobil mewah yang sangat Raras hafal itu.
Tunggu pembalasanku..!
Hayo..siap tadi yang mikirnya udah kebablasan ngaku hayoo?🤣
Author nungguin juga Vote dan dukungan kalian ya sayang2ku..😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
ˢ⍣⃟ₛ🇸𝗘𝗧𝗜𝗔𝗡𝗔ᴰᴱᵂᴵ🌀🖌
wkwkwk ngakak aku ternyata mimpi 🤣🤣🤣
2024-01-03
0
ulala ❤️❤️
sudah ku duga😝
2022-09-26
0
❤️iam julia💕
wooooiiiii....bangun kagak
ngimpi ini mah yakin🤣🤣🤣😂
2022-05-08
1