...🌸🌸 HAPPY READING 🌸🌸...
" Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik TUHAN semata "
Malam harinya Raras melihat group chat di smartphonenya.
Group Calon Menantu Elit 💋 yang terdiri tiga cewek somplak itu saja.
Shanum :
Hay gaes.. dapet chat dari bu Mirna kagak lo pada?
Mala :
Dapet cuy.. gile aje kita disuruh pake pakaian seksiihh🤣
Raras:
Dia kira kita artis kali coy🙃
Shanum:
Gue kagak pakeklah malas, ntar si mata biru itu ngeces lagi liat postur tubuh gue yang semlohay inih😄
Raras :
Mau dipecat sebelum bekerja lu?
Mala:
Iya tuh, lagian juga apa susahnya, tiap hari kita juga seksih?
Shanum:
Yeee.. itu mah elu!
Raras:
Penyakit elo mah kagak sembuh - sembuh La!
Mala:
Loh.. seksi itu anugrah, kita harus bersyukur, dengan cara bangga dengan body sendiri 🤪
Raras:
Serah lu dah pe a!
Shanum:
Umbar aja tuh semua, biar pada di lalerin!
Mala:
Yeee.. syirik aja kalian, bilang aja kalian semua kalah seksi dari gue!
Raras:
In your dream😝( dalam mimpimu)
Shanum:
Neng impenmu 😜 ( dalam mimpimu )
Mala:
Lihat aja besok, siapa paling Seksih ditraktir makan selama seminggu ya?
Raras:
Deal 🤝
Shanum :
Masuk pak Eko 🤝
Chat mereka pun berakhir, selimut dan bantal sudah menari - nari mengajaknya mereka semua ke alam mimpi.
◇◇◇
Klunting
Chat dari Group Calon Menantu Elit 💋
Raras:
Pake mobil siapa ini cuy?
Shanum:
Ngikut aja dah?
Mala:
Mobil gue aja, baru dicuci nie, masih kinclong - kinclongnya.
Raras:
Entar juga loe kepotin lagi, kotor lagi😄
Mala: Siap meluncur ke TKP ya, inget perjanjian kita lho ya?
Tak selang berapa lama Mobil elit Mala sudah sampai dipelataran Raras.
Mala memakai kemeja putih yang pres body dengan skirt pendek dua jengkal tangannya, kulitnya yang putih membuat mata silau memandang.
" Ra... Rara?"
Teriak Mala didepan pintu.
" Dasar tu bocah sableng, teriak - teriak diluar kayak dihutan aja deh, pintu kagak di kunci juga!"
Gerutu Raras.
" Raaaa?"
Teriak Mala lagi.
" Nggak usah berisik deh, sakit telinga gue!"
jawab Raras membuka pintu.
Raras menggunakan kemeja ketat berwarna putih, dengan rok pres selutut tapi dengan belahan setengahnya didepan memperlihatkan paha jenjang dan mulusnya sebelah.
" Eh.. kang somay bodynya kekar juga ya? lihat tuh ototnya, beuhhh.. seksih bingit!"
Ucap Mala yang hampir ngeces.
" Gue bilangin pacar Loe ni ya?"
" Dih.. dasar tukang ngadu! gagal pula nanti tas brandednya!"
" Mana Shanum?"
Tanya Raras yang clingak - clinguk mencari keberadaan teman satunya.
" Tadi katanya suruh tunggu di basecamp aja, yawda gue langsung kesini."
Basecamp mereka adalah rumahnya Raras.
" Aku rasa dia kesulitan berjalan pake rok mini deh?"
Ucap Raras menebak.
" Aku rasa rok mininya sobek waktu dia turun tangga deh?"
" Hahahaha.."
Mereka berdua tertawa mengingat teman tomboynya yang satu itu.
Dari ujung terlihat seorang wanita berjalan dengan anggun menggunakan high hils lima centi serta rok mini selutut tapi belahannya dibelakang, tetep seksi dimata semua orang.
" Shanum?"
Ucap Mala terkejut.
" Piwwitttt.. bisa juga lu pake high hils lima centi, haha?"
Raras malah tertawa.
" Aku udah nggak sabar nie jalan diantara cowok - cowok di kantor, haha."
Si centil mulai beraksi.
" Ladies.. lets go, kita beraksi, sebelum ibuk gue pulang dari pasar nie, ketahuan ibu kita pake baju kurang bahan gini bisa digiling kita jadi bumbu rendang!"
Ucap Raras buru - buru masuk ke mobil Mala.
Sesampainya di kantor, semua mata tertuju pada ketiga trio ghibah itu.
Mereka berjalan melenggak - lengok beriringan dengan menenteng tas kerja mereka ditangan kiri, dan tangan kanannya memegang kaca mata hitam yang baru saja mereka pakai.
" Wauuu.. gila tu cewek - cewek?"
" Wuiihh.. mulus bener paha mereka?"
" Gila aja mereka, ini kantor bukan cat walk?"
" Beuuuhhh.. gimana rasanya tuh ya?"
" Diihh gemes deh.. jadi pengen gue pacarin?"
Banyak komen terdengar saat mereka melintas didepan mereka, tapi bukan trio ghibah namanya kalau down dengan cibiran mereka.
Senyuman mereka makin mengembang dengan sempurna, mereka tetap berjalan bahkan menggunakan lift kanan milik pejabat perusahaan.
" Keras - keras deh celana mereka, haha!"
ucap Mala.
" Habis entar sabun di toilet kantor, haha!"
Raras ikut nimbrung.
" Dosa kagak sih kita nie ya?"
Shanum ikut menimpali.
" Dosa biar di tanggung bu Mirna lah, dia kan yang nyuruh, biarlah ngeces - ngeces dah mereka, haha"
Raras tidak ambil pusing.
" Okey.. kita berpencar, sampai jumpa jam istirahat ya say?"
Ucap Mala meninggalkan mereka duluan, karena dia dibagian divisi.
" Okey."
Ucap Raras.
" Jadi kita langsung masuk apa nunggu di luar nie?"
Tanya Shanum.
" Kita nunggu diruangan Simonyong aja yuk, pasti mereka juga datang berdua."
" Okey deh yuk."
Mereka masuk ruangan Simon.
Setelah lima belas menit berlalu saat mereka masih asyik mengibah terlihat pintu terbuka, dengan cekatan mereka langsung berdiri dan berjalan mendekati Big bos dan asistennya itu.
Glekk..
Mark dengan susah payah menelan salivanya yang menyangkut di tenggorokan melihat dua wanita yang berjalan mendekat.
Sedangkan Simon?
Biasa saja, hanya memandang mereka seperti tidak suka saja, bukan tergoda ataupun seperti Mark yang hampir meneteskan air liurnya.
" Kursi kamu disana!"
Ucap Simon menunjuk meja kerja Raras.
" Baik pak."
" Dan kamu ikut Mark ke ruangannya."
perintah Simon pada Shanum.
" Siap pak."
" Satu lagi mana?"
Tanya Simon kembali.
" Sudah ke ruangan Divisi pak."
jawab Raras.
" Good, mulailah bekerja."
Mark pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan deg - degan, jantungnya masih memacu dengan kencang, bahkan juniornya mulai menendang - nendang ingin diluruskan.
Diruangan Simon.
Raras yang kebingungan tidak tahu harus mengerjakan apa, dia kemudian memberanikan diri bertanya pada sang pemilik ruangan, karena diatas meja nya cuma ada selembar kertas dan pulpen saja.
" Maaf pak, ada yang saya bisa bantu? saya harus mengerjakan apa ya?"
Tanya Raras sopan sambil membungkukkan kepalanya, sehingga belahan bukit Raras sedikit terekspose.
" Kamu duduk saja sudah banyak membantuku, cukup diam saja agar kau tidak merepotkanku!"
Ucap ketus seorang presiden direktur itu.
Buset dah.. masak iya gue jadi kek pajangan gini sih, mana matanya memandangku terus.
" Ta.. tapi pak?"
Raras pura - pura menolak padahal dalam hatinya riang bener, kerja gaji gede cuma duduk manis saja ya kan.
" Apa ruanganmu perlu aku pindahkan keluar saja?"
Tanya Simon bermaksud mengancam.
Karena selama ini, semua sekertarisnya kalau dia bilang gitu langsung menolak, karena mereka hanya bertujuan untuk menggodanya, dan semua itu setingan dari mamahnya, jadi sudah hampir puluhan bahkan ratusan Simon gonta ganti sekertaris baru, cuma satu sekertaris utama yang tidak pernah ganti, dia ada di luar, tapi udah emak - emak, dan dialah yang menghandle semua pekerjaan sebagai sekertaris, yang lain mah cuma akal - akalan mamahnya, namun Simon tidak berani menolak kalau mamah sudah berbicara.
" Benarkah? baiklah.. apa perlu saya membawa meja ini ke luar? sepertinya nyaman di luar, bareng tante yang di depan."
Raras riang bukan kepalang, mending di luar dia bisa bebas ngapain aja, daripada didalam dia hanya jadi pajangan drakula.
" Haah?"
Simon malah terkejut sendiri.
" Kalau begitu saya permisi pak, terima kasih."
Raras pamit sambil berjalan santai didepan bosnya sebelum berubah pikiran pikirnya.
" Tumben? biasanya nggak gini ceritanya?"
Simon malah jadi kepikiran sama sekertaris sableng nya itu.
Pikirin juga author ya gaes?
Jempolll mana jempoll kalian?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Wawa Ucung
ada hawa hawa jodoh ni
2022-12-22
0
Wawa Ucung
num num kayanya suka simata biru
2022-12-22
0
Ekasari
yg sableng kan othor nya ..dia yang ngarang betul g thor😁😁😁
2022-08-12
0