...🌵🌵 HAPPY READING 🌵🌵...
..." Hapuslah memori buruk dihari kemarin, awali pagi ini dengan SENYUMAN "...
Raras sudah bersolek didepan cermin sambil berlatih memberikan senyum terindahnya untuk staf HRD nanti, pagi ini tiga serangkai itu kembali akan melamar pekerjaan baru sesuai rekomendasi wanita kemarin, ternyata setelah dia mencari informasi lebih lanjut, perusahaan itu memang besar bahkan lebih besar dari yang kemarin.
" Semoga diperusahaan itu, kagak ada salah satu dari mantan gue, SEMANGAT RA..!"
Dia memberi semangat kepada diri sendiri.
Saat Raras menunggu dua temannya di teras, tiba - tiba tetangga tampannya datang menyapa.
" Hai dek Raras? pagi - pagi udah cantik aja mau kemana?"
" Hai kang somay, iya nie.. mau nglamar kerja!"
Jawab Raras tersenyum kembali menyapa.
" Dari pada nglamar mending abang lamar aja mau kagak?"
" Huuu.. dasar kang somay ganjen!"
" Aku udah jadi juragan Ra, masih saja dipanggil kang somay, noh lihat mobilku saja pintunya yang ngeser buka nya!"
Ucap si Udin tidak terima.
" Pintu ngeser aja bangganya selangit kang, noh almari aku juga buka nya ngeser aku biasa aja tuh!"
Ucap Raras meledek.
" Haii Ra, ayo berangkat ntar kita telat lagi!"
Teriak dua sahabatnya dari mobil, kali ini mereka menggunakan mobil Mala.
" Bye.. kang somay, doain aku biar diterima kerja ya, ntar aku traktir somay deh, hehe.."
ucap Raras sambil berlari ke depan.
" Tukang somay kok ditraktir somay, ngeselin deh, untung cantik lu."
Pekik si Udin salah satu fans dadi Raras yang selalu terabaikan.
Akhirnya mereka bertiga sudah sampai diperusahaan raksasa Anderson group.
" Gilakk.. kalau ini mah emang perusahaan bonafit, yakin kita diterima disini nie?"
ucap Shanum kagum melihat bangunan tinggi menjulang itu.
" Kagak yakin gue."
Ucap Mala ikut ragu.
" Udahlah kita coba aja dulu, mana kartu nama wanita yang kemarin."
Ucap Raras.
" Telpon aja Ra, daripada kita tersesat di dalam gedung kan kagak lucu!"
Ucap Shanum.
Tulilut..
" Hallo selamat pagi nyonya, saya Raras dan teman - teman yang kemarin ketemu di tempat jualan es kelapa muda."
Ucap Raras ramah.
" Owh iya, apa kalian sudah sampai?"
Tanya Mirna.
Wanita kemarin adalah Mirna, ibu dari Simon, dia memang sengaja menyuruhnya kerja disana, walau sebenarnya tidak ada lowongan disana, tapi demi mendapatkan jodoh buat anaknya, Mirna tetep kekeh membuka lowongan dadakan.
" Sudah nyonya, tapi kami bingung, harus pergi kemana dulu?"
" Naiklah ke lantai lima belas ya, gunakan lift sebelah kanan, saya tunggu disana ya?"
ucap Mirna yang sudah stand by menjadi juri untuk calon mantu.
" Baik nyonya, terima kasih."
" Kita ke lantai lima belas gaes, kita sudah ditunggu."
Ucap Raras.
" Berasa kayak artis ya, kita yang ditunggu, haha."
Celetuk Mala.
" Dasar Pe a lu!"
Dua toyoran mendarat dikepala Mala.
Saat lift akan tertutup serentak mereka bertiga berteriak dengan kencangnya.
" TUNGGU..!"
Seorang pria berbadan tinggi besar berkulit sawo matang dengan mata yang berwarna kebiruan menyembul keluar.
" Siapa kalian?"
Tanya Mark asisten Simon.
" Aku? siapa aku tidaklah penting, lantai lima belas mas! buruan gaes ntar kita terlambat berabe tauk!"
Ucap Raras acuh.
" Gue heran deh, disini liftnya masih kosong, kenapa orang pada ngantri di lift sebelah ya?"
Celetuk Shanum keheranan.
" Jangan - jangan lift yang ini rusak lagi, aduuuh.. ngeri gue, mana belum nikah lagi?"
Ucap Raras memasang wajah panik.
" Yaaah.. gimana dong, mana cowok gue mau beliin tas branded lagi?"
Ucap Mala tak kalah heboh.
" Pfffttt.. seorang pria tampan memakai kaca mata hitam disudut lift menahan tawanya sambil bersandar di dinding lift.
Siapa dia?
Ini dia pria tertampan di Anderson Group yang tidak pernah tertarik dengan wanita manapun.
Raras melirik ke arahnya merasa tidak terima.
" Apa senyum - senyum, dasar kang pijit!"
Ucap Raras menatap kesal pada Simon.
" Jaga omongan anda nona!"
Teriak Mark marah, yang disindir kalem aja orangnya mah.
" Jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini."
Raras malah menyanyikan lagu tanpa peduli pria yang menatapnya kesal.
Mark menekan tombol terbuka saat mereka sampai di lantai lima.
" Keluar..!"
Ucap Mark tegas.
" Hey.. ini masih lantai lima, aku mau ke lantai lima belas tauk!"
Ucap Raras kesal.
" Tutup nggak, kita buru - buru nih!"
Teriak Mala melihat Mark menahan pintu lift terbuka.
" Pindah saja di lift samping!"
Ucap Mark ketus.
" Heh.. emang ini lift punya bapak lue apa? sekate - kate aja kalau ngomong, mau gue kasih bogem nie?"
Shanum sudah kepancing emosi.
" Pfffttt.."
Lagi - lagi Simon malah menahan tawanya, dia tidak marah, tapi malah merasa mendapat hiburan dipagi hari.
" Keluar atau saya seret kalian sekarang juga!"
Teriak Mark.
" Udahlah kita keluar aja gaes, dari pada kita telat ntar."
Ucap Mala.
" Dasar cowok gilak!"
Shanum mengepalkan tangannya.
Raras tidak berkata apapun, tapi saat dia akan beranjak keluar diinjaknya kaki Simon sekuat tenaganya.
" Awww.."
Simon mengaduh kesakitan.
" Haha.. rasain, siapa suruh ngetawain kita mulu dari tadi!"
Ucap Raras yang sudah berlari keluar.
" Anda tidak apa - apa tuan muda? biar saya priksa."
Tanya Mark.
" Sudahlah.. aku baik - baik saja, sebenarnya siapa mereka?"
Tanya Simon heran.
" Saya akan selidiki nanti tuan muda, mungkin mereka anak baru, jadi tidak tahu kalau lift ini khusus untuk petinggi perusahaan?"
jawab Mark.
" Memangnya perusahaan kita membuka lowongan?"
" Kemarin sore tuan muda, tapi baru saja saya mendengar kabar kalau lowongan itu sudah ditutup kembali."
jelas Mark.
" Aneh? Siapa yang berani membuat keputusan tanpa seijinku?"
" Saya rasa itu ulah Nyonya besar tuan."
Dugaan Mark tidak pernah meleset memang.
" Apalagi rencana Nyai Loreng itu sih?"
Simon sudah kesal terlebih dahulu.
" Paling mentok juga nyariin tuan muda jodoh!"
Mark langsung berubah ekspresi kalau sudah berdua dengan Bosnya.
" Haaaisssh.. nggak ada capek - capeknya itu orang tua, kagak bosan apa melalang buana mencari wanita, mau model apapun aku nggak tertarik!"
Ucap Simon ber api - api.
" Tapi tiga gadis tadi boleh juga tuan muda, tinggal pilih aja mana yang layak!"
Ucap Mark meledek.
" Kau kira mereka barang layak pakai apa? mau ku potong gajimu?"
Ucap Simon mengancam.
" Hahaha.. aku hanya bercanda Bos!"
Mark cari aman saja.
Saat memasuki ruangannya ternyata wanita yang dia panggil Nyai Loreng sudah duduk santai di kursi kebesarannya mengotak - atik smartphonenya.
" Mama? kenapa udah ada disini?"
Tanya Simon terkejut.
" Kenapa? memang tidak boleh? emang kamu nyembunyiin cewek disini? sampai kamu terkejut gitu, oopss.. mami lupa kamu JOMBLO abadi, haisshhh..!"
Umpat Mirna yang semua pembahasan dengan anaknya ujung - ujung nya hanya perempuan yang dibicarakan.
" Ma.. sudahlah, aku banyak pekerjaan nie?"
Simon malas berdebat.
" Mami juga ada kerjaan kok, emang kamu aja?"
" Tapi itu kan kursiku?"
" Sebelum jadi kursimu, ini dulu kursiku, apa kamu lupa?"
Mirna tidak mau kalah berdebat.
" Haaah.. jadi aku duduk dimana ini?"
" Noh.. sofa panjang kali lebar gitu kok, mau kamu pake guling - guling juga bisa, gitu aja kok rempong!"
" Mami tuh yang rempong!"
Simon segera beranjak ke sofa dengan membawa setumpuk berkas yang harus dia baca.
" Mana sih tiga gadis itu, kenapa lama sekali? aku kan sudah menyuruhnya pake lift sebelah kanan, kenapa belum sampai."
Mirna ngedumel sendiri.
Apa yang terjadi dengan tiga gadis itu gaess?
Jempoll mana jempolnya dulu 😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
💜 OT7 💜
wkwkwk
2024-07-06
0
Lia Yulia
anak durhakim nih ngatain mamanya nyai loreng😂😂😂
2024-02-04
0
Umi Adja
kocak niihhhh suka
2023-11-07
0