...Happy Reading...
🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍
..." Jalani Hidup seperti air mengalir, Tuhan tau kapan kita akan BAHAGIA "...
Simon kembali memasuki ruang rawat mamahnya setelah dari ruang administrasi hanya untuk dimintai tanda tangan saja karena rumah sakit itu miliknya, seharusnya dia juga tidak perlu kesana, ini cuma akal bulus mamahnya saja.
Tapi Simon tetap saja menurut dengan perintah mamahnya, sebisa mungkin Simon tidak pernah membantah keinginan mamahnya, karena dia menyadari dari dia masih kecil, hanya mamahnya lah yang membesarkannya sendirian, padahal banyak yang ingin mempersunting mamahnya, namun Mirna selalu saja menolaknya dengan berbagai alasan.
" Mah.. tadi kata dokter mamah udah boleh pulang, obatnya nanti akan dianter ke Rumah."
Ucap Simon sambil duduk disamping Raras.
" Nak.. besok kalian akan menikah di Villa baru mamah yang ada di Bali."
Ucap Mirna dengan senyum mengembang.
" Haaah besok? apa mamah bercanda? apa itu tidak terlalu buru - buru, apa dia.. dia sudah setuju?"
Simon menunjuk Raras dengan wajah paniknya.
" Tentu, Raras sudah setuju, malam ini kita berangkat ke Bali."
Ucap Mirna.
Raras hanya menunduk dengan lemas, dia sudah memutuskan akan menjalankan tugas mulia ini, lagian juga kalau dia impoten beneran kan tidak akan ada masalah baginya, Mirna akan dengan mudah menyelesaikan nantinya, karena kekayaan dan kekuasaannya semua yang tidak mungkin pun bisa menjadi nyata.
Malam harinya Mirna benar - benar menepati ucapannya untuk meminta izin membawa Raras dalam perjalanan bisnisnya sambil liburan.
Dan orang tua Raras memberikan izin sepenuhnya bahkan menyambut Mirna dengan suka cita.
Mereka tidak tahu saja, anaknya tertekan batin dinikahkan paksa, kalau tahu, mungkin bisa semua perabot dapur melayang di wajah Mirna yang masih ayu di usia senjanya.
" Kamu hati - hati ya nak, jangan merepotkan Bu Mirna, jaga kondisi kesehatan, jangan lupa makan dan tidur yang cukup ya sayang."
Ucap Sang Ibu memberikan wejangan.
" Ibuk ini, kayak Raras anak SD aja?"
Sungut Raras sambil menggeret kopernya.
" Emang kamu masih kayak anak SD, tidur aja kalau nggak disuruh masih mainan Handphone mulu, minum Susu juga harus dibuatin!"
Omel ibu Raras.
Bu Mirna hanya tersenyum melihat perdebatan ank dan ibu itu.
" Kalau begitu saya pamit membawa Raras bersama saya ya bu, Doain kami semoga semua lancar, dan tolong restui Raras juga, ya kan nak?"
Ucap Bu Mirna sengaja.
" Restui?"
Melati sedikit heran mendengar kata restu.
" E.. maksudnya restui perjalanan kita mah, dan restuin semuanya, restu ibu kan selalu bersama anaknya?"
Ucap Raras ketar ketir.
" Owh pasti.. kirain restu untuk menikah, hehe.."
Melati tersenyum lega.
" Kalau begitu permisi Bu Melati."
Pamit Mirna.
" Pamit ya Buk."
Ucap Raras sambil mencium tangan ayah dan ibunya.
Di dalam mobil ternyata sudah ada Simon yang menunggu, mereka langsung akan berangkat ke bandara dan terbang ke Pulau Bali.
" Mamah duduk depan, takut mabok!"
Ucap Mirna mencari alasan.
" Sejak kapan mamah mabok?"
Ucap Simon heran.
" Sejak hari ini! jalan pak!"
Ucap Mirna santai.
Raras duduk dengan perasaan campur aduk, apa dia tegang dan canggung karena duduk dengan cowok?
Jawabannya pasti bukan itu, karena baginya duduk dengan cowok bahkan bermesraan dengan cowok yang lebih tampan dari Simon sering dia lakukan, tapi kali ini menikah cuy, tanpa sepengetahuan siapapun dari keluarganya, dan ini yang membuatnya resah dan gelisah.
Benar - benar di luar ekspetasi dari angan - angan dan harapan seorang gadis ketika akan menikah.
✈✈✈
Pukul sembilan malam, mereka sudah sampai di Villa mewah keluarga Anderson.
Raras memasuki kamar indah seperti di hotel berbintang lima, saat dia membuka jendela, view nya benar - benar indah dipandang mata, suasana pantai dibawah terangnya cahaya bulan menambah kesan romantis bagi setiap pasangan yang melihatnya, tapi tidak dengan Raras, pikirannya kalut, entah apa yang akan terjadi kedepan dalam hidupnya.
Satu jam telah berlalu, Raras tak kunjung bisa tidur, dia hanya miring kanan dan miring kiri tanpa bisa memejamkan matanya.
Akhirnya dia memutuskan keluar kamar untuk mencari udara dinginnya malam.
Raras duduk di ayunan depan villa dengan membawa secangkir kopi yang dia buat tadi di dapur villa.
Ternyata Simon pun sama, dia tidak bisa tidur, dan saat turun dia melihat pergerakan Raras keluar Villa dan dia mengekor dibelakangnya.
" Kenapa belum tidur?"
Ucap Simon dan duduk di ayunan sebelah Raras.
" Aku tidak bisa tidur."
" Gimana mau bisa tidur kalau jam segini minum kopi?"
" Ahh.. aku minum kopi atau pun tidak kalau ngantuk ya tetep tidur, hehe.."
" Oh iya, aku lupa kalau kamu gadis ajaib."
" Hehe.. itu tau..!"
Ucap Raras tersenyum.
" Kenapa kamu menerimanya? kenapa tidak kau tolak saja permintaan mamah?"
Ucap Simon tiba - tiba serius.
Raras menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara.
" Aku ingin menolaknya, ingin sekali, tapi terlambat, kita sudah sampai disini, atau kita kabur saja malam ini? bagaimana?"
Ucap Raras sok serius dan malah dijawab dengan senyuman manis yang tak pernah dia lihat sebelumnya dari seorang Simon.
" Ciih.. mau kabur kemana jam segini? udah pada tidur semua."
Ucap Simon menggelengkan kepalanya heran dengan makhluk cantik disampingnya.
" Gimana kalau kita kabur ke Bulan?"
Ucapan Raras makin ngaco.
" Hahaha.. mau ngapain kita ke Bulan? mau jadi apa kita disana?"
Ucap Simon yang tidak tahan untuk tidak tertawa.
" Jadi kuli bangunan."
" Hah?"
" Ckkk.. kita bangun perusahaan disana, dan kita kasih pekerjaan buat alien - alien yang nganggur disana, biar pada punya pekerjaan!"
" Hahaha.. kamu gila ya?"
Ucap Simon memegang perutnya sakit terlalu banyak tertawa.
" Aaarrgghhh.. aku memang sudah hampir gila! aku tak tahu lagi harus berbuat apa!"
Raras memyandarkan kepalanya di bahu kursi sambil menutup muka dengan kedua tangannya.
" Terima kasih."
" Hah? untuk?"
Seketika Raras menoleh ke arah Simon.
" Membahagiakan mamahku dan tidak melukai perasaannya."
Ucap Simon tulus dari hati.
Simon meraih jari jemari Raras didalam genggamannya, membuat jiwa play girl Raras tersentuh dengan mudahnya.
" Aku tahu ini sangat berat untukmu, tapi cobalah untuk menerima semuanya, perlahan - lahan kita pasti akan terbiasa."
Ucap Simon kembali.
Raras menatap wajah Simon, mencari tahu kejujuran dari sorot matanya yang indah, dia benar - benar menemukan sosok baru dari diri Simon, sosok yang mempunyai jiwa yang lembut dan penyabar.
" Tidurlah, ini sudah malam, besok kamu harus dirias pagi - pagi, nanti wajahmu jelek dalam kamera kalau kurang tidur!"
Simon berdiri dan mengacak rambut Raras kemudian berlalu masuk ke Villa dengan meninggalkan senyuman yang menyihir setiap wanita.
Raras masih terbengong dengan perlakuan Simon yang dia rasa sangat sweet itu.
" Astaga, aku sembuh, jiwa play girl ku sudah kembali..!"
Raras memejamkan matanya, ini semua seperti mimpi baginya.
Dia sudah bertekad akan menjalankan misi ibadah ini dengan sebaik - baiknya, kalau pun nantinya dia akan berpisah dengan Simon, dia akan tetap berteman baik dengannya, karena menurutnya Simon tidak terlalu buruk untuk dijadikan teman ngobrol, bahkan tampan dan juga mapan, walau umur mereka terpaut lumayan jauh, Raras dua puluh tiga tahun dan Simon tiga puluh tahun.
Jodoh tampan pantang ditolak ya kan gaes, apalagi mapan? sikat borrrr..🤣
Jangan lupa jempol nya ya..
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Asngadah Baruharjo
sikkaaaattttt boorrr😀😀😀
2024-03-09
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
lha kok iso ibu nya simon, ngambil anak orang tampa izin, maksud nya apa coba, kenapa hal sesakral itu gak di omong kan dengan orang tua saras
2023-12-23
1
Liana Rismawati
nikah hrs ada wali nya gaes dlm islam, meski diwakilkan wali hakim ttp ada peesetujuan pihak ayah atau saudara laki" atau paman dr pihak ayah, kl tdk ada ya gak sah, meski ini novel dunia hallu harus nya ttp ada aturannya, kecuali non islam ya
2022-02-11
2