...HAPPY READING...
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
☆ Lebih baik ditertawakan karena belum menikah, dari pada tidak bisa tertawa setelah menikah ☆
Sebuah ungkapan kata lelucon yang sedari tadi Raras pikirkan sambil rebahan di kasur empuk itu.
Bahkan Raras sudah sangat pusing memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.
Berbagai bayangan - banyangan yang seharusnya tidak dia fikirkan selalu saja mengganggu malam - malam tenang dihidupnya.
" Aah.. bagaimana nasib karierku, cita - citaku kalau aku sudah menikah ya? apa bisa aku hang out bareng Trio Ghibah lagi? apa bisa aku main - main bareng mereka lagi? kebebasan? apa aku bisa mendapatkanmu lagi? aaaargghh.. kenapa nasibku jadi menyedihkan seperti ini."
Umpat Raras seorang diri di kamar.
" Ah.. bomatlah, lagian ini kan pernikahan setingan aja!"
Raras memejamkan matanya perlahan, dan tanpa terasa dia sudah mengarungi mimpi di alam nirwana.
" Nak bagaimana keadaan Raras sekarang?"
Tanya Mirna melihat Simon sudah berada di lantai bawah.
" Dia sudah baikan mah, tadi sudah mau makan."
Ucap Simon tersenyum.
" Jadi apa Akad Nikahnya bisa tetap kita laksanakan hari ini?"
Mirna sudah khawatir dari tadi, takut semua rencananya gagal total.
" Mamah maunya gimana?"
Tanya Simon santai.
" Yaa.. kalau mamah sih maunya lanjuuttt..!"
Ucap Mirna semangat.
" Yaudah."
" Yaudah apa?"
Tanya Mirna tidak puas.
" Yaa kita lanjutlah!"
Ucap Simon seperti tidak ada beban.
" Benarkah? sungguh?"
Mirna tersenyum bahagia mendengarnya.
" Hemm.."
" Terima kasih sayang, kamu memang putra mamah yang paling mamah banggakan, sejagad raya deh!"
Mirna memeluk putranya dengan erat.
" Udaah peluknya dong mah, dilihatin orang itu? nanti aku di kira anak mamah lagi!"
Ucap Simon malu semua mata tertuju padanya.
" Emang kamu anak mamah, emang anaknya siapa lagi..!"
Ucap Mirna kesal.
" Maksudnya nanti mereka kira Simon anak manja mamah!"
Ucap Simon menjelaskan.
" Kirain kamu nggak mau ngakuin jadi anak mamah!"
" Astaga..!"
Aimon menepuk jidatnya.
" Jadi kapan Akad nikahnya bisa di mulai kembali?"
Tanya Mirna antusias.
" Nanti malam, habis Isya' saja, biar Raras bisa istirahat yang cukup dulu."
Ucap Simon.
" Okey.. mamah seneng banget kamu udah mulai perhatian sama Raras!"
Mirna tersenyum bahagia.
" Simon cuma nggak mau aja masuk media, menikahi wanita dengan paksa sampai dia pingsan! nggak lucu kan mah, hilang nanti reputasiku sebagai CEO terhormat yang disegani banyak orang."
Ucap Simon bangga pada diri sendiri.
" Ciiihh.. kamu ini, mamah kira kamu udah sadar? ternyata masih sama saja!"
Umpat Mirna sambil memutar bola matanya.
" Memangnya aku yang pingsan? tuh.. calon mantu mamah yang harusnya sadar!"
" Cieeee.. yang udah ngaku, kalau dia calon mantu mamah! haha.."
Mirna berlalu pergi sambil tersenyum meledek putranya.
Tring..
Hp Simon berbunyi, segera dia geser tombol hijau dilayar smartphonenya.
" Hallo.. apa kalian sudah sampai?"
Ucap Simon dibalik genggaman telponnya.
" Sudah pak, kami sudah dalam perjalanan ke Villa."
Jawab seorang pria disebrang sana.
" Baiklah, berikan pengertian, hati - hati di jalan!"
Ucap Simon langsung mematikan telponnya.
Simon kembali menaiki tangga menuju kamar Raras.
Dilihatnya Raras tertidur pulas dengan genangan air mata yang tersisa disusut matanya.
" Apa dia sesedih itu menikah denganku? apa dia akan tertekan hati dan perasaannya kelak? apa aku harus melanjutkannya? atau aku hentikan saja sampai disini!"
Ucap Simon lirih sambil mengusap sisa air mata Raras.
Tanpa terasa Simon pun memejamkan kedua matanya, tertidur sambil duduk disamping Raras.
Sore pun berlalu, terdengar suara berisik orang teriak - teriak dari bawah.
Raras pun terbangun duluan, dilihatnya Simon tertidur sambil duduk disampingnya, kedua sudut bibir Raras tertarik ke atas dengan sempurna.
Namun suara teriakan itu semakin jelas terdengar di telinga Raras.
" Mana dia..!"
Teriak wanita itu kencang sekali.
" Sabar Bu.. mereka sedang istirahat!"
" Aku tidak perduli, mana bocah sialan itu..!"
Teriaknya makin kencang.
Braaaakkkk..
Dibukanya dengan kekuatan super pintu kamar Raras dan dihempaskan dengan kuat menghantam dinding sampai terdengar seperti ledakam bom atom.
Simon yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, kaget dan terkejut bangun dari tidurnya, malah memeluk Raras dengan erat.
" Owh.. jadi begini ya kelakuanmu diluar, kalau ibuk tidak melihatnya!"
Teriak melati mendekat dengan wajah memerah dan mata menyala.
" IBUUKKK..!"
Teriak Raras terkejut bukan main.
" Malah peluk - pelukan lagi kalian didepan ibuk! nggak sopan sekali kalian ya!"
Makin kencang saja suara Melati, kalau gendang telinga mereka buatan manusia pasti sudah pecah dan jebol dari tadi.
Simon yang tersadar segera bangkit dan menjauhkan diri dari Raras.
" Buk.. sudahlah, bicarakan semua baik - baik, jangan teriak - teriak begini, malu didengar orang.
Ucap Ayah Raras menenangkan istrinya.
" Tapi yah.. mereka sudah keterlaluan, masak mau nikah diam - diam tanpa sepengetahuan kita! untung saja dia tadi pingsan! kalau tidak, kita benar - benar tidak bisa menyaksikan pernikahan mereka yah!"
Jelas Melati berapi - api.
" Ibuk tau dari mana kalau aku pingsan?"
Tanya Raras penasaran.
" Dasar bocah nakal..! apa begini caramu membalas ibu yang telah melahirkanmu kedunia ini!"
Melati sudah mendekat dan menarik telinga Raras sekuat tenaganya.
" Aw.. aw.. sakit buk, ampun buk!"
Raras mengaduh kesakitan, ibunya tidak pernah bercanda kalau sedang menghukum putrinya ketika salah, walau cuma jeweran ditelinganya tapi rasanya sudah seperti digigit kalajengking hitam.
" Maafkan saya Bu, saya yang salah, seharusnya saya jujur tadi waktu berpamitan dengan ibu!"
Ucap Mirna yang ikut terkejut dengan kedatangan orang tua Raras.
Ternyata Simonlah pelakunya.
Flashback.
Tadi malam setelah dia berbincang dengan Raras, dia tetap tidak bisa tidur, akhirnya dia duduk sendirian di taman belakang, ternyata mang Udin si tukang kebon sedang membakar singkong sambil berjaga di area ujung Villa.
" Tuan.. kenapa tuan belom tidur?"
Tanya Udin sambil tersenyum.
" Belum ngantuk mang, nggak bisa tidur!"
Ucap Simon ikut duduk didepan kobaran api.
" Kenapa? apa tempat tidurnya kurang nyaman? apa perlu mamang ganti? atau ada yang kurang?"
Tanya Mang Udin khawatir, karena selama ini Villa itu adalah tanggung jawabnya.
" Tidak mang.. nyaman kok, cuma emang belom bisa tidur ajah!"
Ucap Simon menepuk bahu mang Udin.
" Pasti Tuan muda sedang memikirkan pernikahan besok ya? grogi ya? ahehe.. wajar Tuan, saya dulu juga begitu, jantung ini rasanya hampir saja mau copot saat menanti hari esok! mata sulit terpejam, pikiran melayang entah kemana - mana."
Mang Udin mulai bercerita kisah klasik pada saat muda dulu.
" Benarkah? sampai segitunya mang?"
Tanya Simon penasaran.
" Iya.. bahkan saya cuma tertidur satu jam saja, dan saat mengucapkan Lafazd Akad nikah, hampir saja gagal nikah, karena saya mengulang sampai tiga kali, untung saja yang terakhir bisa benar dan lancar, kalau tidak sudah habis saya ditangan mertua saya, tatapan matanya dan jabatan tangannya seakan mengancam saya kalau gagal lagi, tamatlah riwayat mamang."
Ucap Mang Udin tersenyum mengingat kisah sejarah dalam hidupnya.
Mertua? apa sampai seperti itu besok? apakah mertuaku juga seperti itu? Mertua.. aah astaga, tapi kan kata mamah, orang tua Raras sengaja tidak diberi tahu?
Simon jadi teringat sesuatu, dan dia iseng saja bertanya - tanya kepada Mang Udin yang sudah berpengalaman tentang asam manis kehidupan menikah.
" Mang.. kalau misalnya nih, orang tua pihak perempuan tidak diberi tahu, sah nggak pernikahannya?"
Tanya Simon yang sama sekali tidak berpengalaman tenang hal ini, karena selama ini tidak terlintas dipikirannya untuk menikah.
" Maksudnya tanpa ijin dan restu orang tua gituh?"
Tanya Mang Udin memperjelas.
" Iya.. karena satu dan lain hal."
Jelas Simon.
" Setahu mamang sih tidak sah Tuan!"
Ucap Mang Udin jujur.
" Benarkah? tapi kalau alasannya tepat bagaimana?"
" Apapun alasannya, kalau perempuan itu, jika ayah kandungnya masih hidup, tetap dia wali sahnya, tapi jika berhalangan hadir, dia bisa mewakilkan kepada saudaranya tapi tetap atas ijin darinya."
" Kalau tidak? bagaimana?"
" Ya tidak sah! kalau ayah kandungnya sudah meninggal dan tidak ada saudara laki - laki lainnya baru bisa diganti dengan wali hakim."
" Kalau misalnya tetap terjadi seperti itu, bagaimana mang?"
" Kalau sepengetahuan mamang ini ya, kalau tidak sah, yaa.. jadi zina, kalau sampai mereka melakukan hubungan suami istri!"
Astaga.. mamah benar - benar keterlaluan, apa mamah juga tidak tahu ya? aah.. aku harus cepat bertindak ini.
Simon langsung menghubungi anak buahnya, untuk memberitahukan berita ini dan menjemput mereka besok pagi - pagi sekali terbang ke Bali.
Flashback off.
Asyikkkk.. bisa sah ya nanti kalau mau enak - enak 🤣🤣
Jangan lupa dukung author dong, bagi VOTE dan jangan lupa LIKE.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Juragan Jengqol
wah othor harus trimakasih sama simon tuh... 🤭🤣
2024-01-17
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
nah seperti, hidup itu aturan negara dan aturan agama, di abaikan pasti di laknat,
ini mode mamah dedeh lagi on🤭😜
2023-12-23
1
Ekasari
thoooor di otak mu cuma enak2 x..g da yg lain kah🤦♀️🤦♀️🤦♀️ini othor nya yg somplak
2022-08-13
0