...Happy Reading...
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
...♡ Kunci hidup bahagia adalah Jalani, Nikmati, dan Syukuri ♡...
Didalam sebuah Aula besar yang sudah didekor dengan indah dan mewah itu semua orang sudah berkumpul untuk menyaksikan acara pertunangan dadakan, yang awalnya adalah acara ijab qabul tapi dibatalkan.
Suara gemuruh tepuk tangan terdengar setelah pemasangan cincin di jari manis Raras dan Simon, terlihat mereka berdua tersenyum dengan ceria didepan kamera.
Senyum palsu kah itu?
" Selamat ya nak, semoga hubungan kalian makin erat dan semua lancar sampai Akad nikah tiba nanti."
Ucap Ayah Raras memeluk Raras dengan erat.
" Terima kasih yah, ayah sehat - sehat ya? jangan terlalu memikirkan Raras, anakmu ini sudah besar sekarang yah, Raras pastikan nantinya bisa jaga diri sendiri dengan baik."
Ucap Raras membalas pelukan hangat ayahnya.
" Lalu ayah harus memikirkan siapa? anak ayah cuma kamu seorang nak? masak ayah mikirin anak tetangga?"
Ledek ayah Raras.
" Ahh.. ayah ini harus memikirkan kesehatan ayah lah!"
" Baiklah.. ayah mengerti, jangan bawel - bawel sama calonmu nanti ya? bisa kurus kering nanti dia!"
Senyum mengembang terbit dari wajah tampan Simon disamping Raras.
" Satu lagi.. jangan suka ngerjain orang lagi, apalagi menjahili calon suamimu sendiri, kalau tidak mau panci presto kesayangan ibuk melayang sampai dikepalamu itu!"
Ucap Melati sambil tersenyum.
" Aah ibuk mah, jangan ngomong itu disini, nanti ketahuan kalau aku keturunan dari tukang KDRT."
Bisik Raras yang masih terdengar ditelinga Simon.
" Baiklah.. acara sudah selesai, mari kita istirahat, kalian semua pasti sangat lelah, besok kita sudah harus pulang ke Rumah."
Ucap Mirna membubarkan obrolan keluarga barunya.
Saat hampir tengah malam, seperti biasa Raras tidak pernah bisa tidur nyenyak setelah dia berurusan dengan keluarga Simon.
Raras membawa secangkir coklat panas ke balkon depan Villa sambil melihat ombak pantai dimalam hari."
" Kenapa kamu masih disini? kenapa tidak istirahat? besok kita berangkat pagi - pagi lho!"
Terdengar suara berat dari arah belakang.
" Kamu juga ngapain disini?"
Tanya Raras balik.
" Semenjak kamu datang dikantorku, sejak itulah aku jadi insomnia dadakan!"
Simon ikut duduk disamping Raras.
" Apa kamu begitu mengagumiku?"
Raras menaikturunkan kedua alisnya.
" Ciiih.. kagum? yahh.. sangat kagum sekali, sehingga mamah selalu saja membuat ulah denganku, bahkan karena kagumku yang terlalu berlebihan jadi sakit kepalaku karena rencana mamah denganmu yang gila itu!"
Umpat Simon dengan jujurnya.
" Haiiisss.. kamu pikir aku menari - nari indah diatas penderitaanmu? aku sampai ngesot - ngesot tauk karena mamahmu itu! ciiih.. walau sebenarnya bukan sepenuhnya salah mamahmu sih!"
Ucap Raras sambil menyibakkan rambutnya dari terpaan angin malam yang berhembus.
Sesaat Simon terpana dengan wajah ayu tanpa polesan itu.
" Jadi salah siapa?"
Simon tersadar dari lamunannya.
" Siapa lagi kalau bukan kamu!"
Ucap Raras santai.
" Aku? memangnya kenapa aku? salah apa aku? selama ini aku tidak pernah membuat kesalahan fatal apalagi di perusahaan, selama aku pegang, omset perusahaan meningkat bahkan sampai dua ratus persen!"
Jelas Simon dengan mantap.
Prok.. prok.. prok..
Tiba - tiba Raras bertepuk tangan dengan kerasnya, bukan karena bangga tapi karena kesal dengan kesombongannya menilai diri sendiri.
" Luarrr biasa?"
Ucap Raras semangat.
" Of Coures!"
Simon membusungkan dada.
" Lalu? kenapa mamahmu harus susah payah mencarikan jodoh untukmu? bahkan memaksaku?"
" Itu diluar masalah perusahaan!"
" Dan itu mungkin yang bisa membuat mamahmu bahagia, bukan harta dan tahtamu itu!"
Ucap Raras membalikkan keadaan.
" Kamu mau memujiku atau menghinaku?"
" Dua - duanya!"
" Haaah.. masuk dan tidurlah! malas berdebat denganmu malam - malam begini!"
Ucap Simon sambil melangkahkan kakinya ke dalam Villa.
✈✈✈
Pagi - pagi sekali mereka sudah berada dibandara dan akan segera terbang kembali ke kediaman rumah mereka.
Siang harinya pun Simon yang gila kerja sudah datang kembali ke Kantor.
Tok.. tok..
" Masuk."
Ucap Simon.
Terlihat Nila sekertaris asli Simon, masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa dokumen ditangannya.
" Permisi tuan muda, ada beberapa file yang harus anda tanda tangani."
Ucap Nila menyerahkan dokumen itu.
" Baiklah, kamu bisa mengambilnya nanti, saya akan pelajari dulu!"
Jawab Simon.
" E.. owh ya tuan muda, anda mendapatkan udangan pernikahan siang ini."
Ucap Nila.
" Siang ini? memang siapa yang menikah?"
Tanya Simon heran.
" Anak dari pemilik perusahaan Jaya group!"
" Aaah.. ya.. kamu kirim saja kado pernikahan atas nama perusahaan kita, aku sedang malas pergi ke pesta!"
Ucap Simon yang tubuhnya masih lelah usai pestanya semalam, bahkan dia belum istirahat dengan benar.
" Tapi tuan muda, banyak relasi dari perusahaan besar yang akan menghadirinya, apa tuan muda tidak mau berbincang dengan mereka, acara ini sangat membatu perusahaan kita untuk promo hotel kita yang baru, saya yakin mereka banyak yang tertarik untuk investasi di sana."
Jelas Nila memberikan ide cemerlangnya.
" Aaah.. begitu ya? kamu panggilkan Mark keruanganku sekarang!"
Perintah Simon.
" Maaf tuan muda, tuan Mark sudah berangkat ke Singapore tadi pagi, untuk menghandel anak cabang perusahaan kita yang disana!"
" Haaah.. jadi aku harus pergi dengan siapa?"
Ucap Simon menyandarkan kepalanya mencari solusi.
" Apa tidak sebaiknya anda pergi dengan nona Raras? dia kan sekertaris anda juga? dia pasti sangat membatu nantinya."
Usul Nila.
" Kenapa harus dia?"
" Hehe.. takkan mungkin saya tuan muda, saya sudah punya anak dua, untuk memakai gaun seksi ke acara sepenting itu sudah tidak mungkin lagi buat saya tuan."
Nila tersenyum sendiri membayangkan lipatan lemak diperutnya menonjol beberapa tingkat saat menggunakan gaun seksi.
" Haiiiss.. kamu panggil dia keruanganku!"
" Tapi hari ini, Raras tidak masuk pak?"
" Apa..! jam se..."
Ucapan Simon terputus ketika mengingat peristiwa semalam yang memang sangat melelahkan, kalau bukan karena banyak kerjaan yang menumpuk Simon pun enggan berangkat kerja hari ini, kasur empuknya melambai - lambai memanggilnya.
" Baiklah.. aku akan mengurusnya, selesaikan pekerjaanmu!"
" Baik tuan muda."
Simon segera menelpon tunangannya.
Tulilut..
" Hallo.. ini siapa?"
Terdengar suara serak khas orang bangun tidur.
" Apa kamu belum menyimpan nomorku!"
Teriak Simon kesal.
" Emang Loe siapa nyuruh - nyuruh gue!"
Ucap Raras sambil menggulingkan badannya kembali di kasur.
" TUNANGANMU..!"
" Astaga.. eh.. hehe.. maaf pak, saya lupa!"
Raras langsung terduduk karena terlalu terkejut, bahkan rasa kantuk yang mendera dari tadipun sudah menghilang entah kemana.
" Bersiaplah untuk pergi ke Pesta, aku akan menjemputmu, SEKARANG JUGA..!"
Ucap Simon langsung memutuskan sambungan telponnya.
Tut.. tut..
" Astaga.. hallo..? kenapa sudah diputus, seenaknya saja dia menyuruh tanpa mendengar jawabanku, aaah.. aku malas sekali bertemu dengannya hari ini, baru mau tenang sehari saja, kenapa sulit sekali."
Raras terpaksa bangun mandi dan segera merias wajahnya yang sebenarnya sudah cantik walau alami tanpa polesan.
Setengah jam kemudian Simon sudah sampai dirumah Raras, terlalu mudah bagi Simon mengetahui alamat karyawan kantornya.
Tok.. tok..
Simon mengetuk pintu rumah Raras dan disambut oleh Melati sendiri.
" E.. Calon mantu ibuk? mau cari tunanganmu ya? dia ada didalam, masuklah kekamarnya di lantai atas, ibuk sedang memasak dengan simbok, takut gosong! naiklah.."
Ucap Melati berlalu ke dapur.
" E.. tapi buk?"
" Tak apa, masuk saja, sebulan lagi juga itu kamarmu!"
Teriak Melati tanpa menoleh kebelakang.
Simon yang sudah didepan pintu ragu - ragu untuk masuk ke kamar Raras.
Tok.. tok..
Simon memberanikan diri mengetuk pintu kamar Raras.
" Masuk buk, cepetan.. sekalian bantuin aku naikkan resleting ini."
Teriak Raras dari dalam kamar.
Simon masuk kamar Raras tanpa bersuara.
" Buruan bantuin, keburu Singa kulkas itu datang menjemput buk!"
Ucap Raras yang dari tadi kesulitan menggapai resleting dibelakang pundaknya.
Sambil menggeratkan giginya karena kesal, menganti nama dirinya Singa kulkas, Simon berjalan mendekati punggung Raras yang terbuka, terlihat punggung mulus, putih dan berseri.
Gleeekkk...
Susah payah Simon menelan salivanya sendiri saat melihatnya, tanpa bersuara dia meraih resleting gaun Raras dan menariknya dengan kasar.
" Aaww.. pelan buk..! kalau copot bagaimana, gaun mahal ini buk!"
Gerutu Raras sambil membalikkan badanya.
" Kamuuu..?"
Jeng.. jeng.. jeng..
Lanjutkan apa gimana ini ya?
Jempol mana nempol cantik kalian?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
🌹Fina Soe🌹
belum tau rasanya diterkam sama singa kulkas kamu ras...🤣
2023-03-10
1
Bundanya Naz
wkwkwk..singa kulkas denger tuh 😂
2022-02-05
0
Bundanya Naz
🤦😂
2022-02-05
0