...Happy Reading...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
...● Kepercayaan seperti selembar KERTAS, sekali saja dia teremas dan kusut, dia tidak bisa kembali sempurna lagi ●...
Didalam kamar Raras, masih terjadi perdebatan yang cukup alot antara dia dan ibuknya.
Mirna sendiri merasa sangat bersalah, karena tidak berani jujur, karena dia beranggapan ini semua hanya setingan, ternyata Tuhan berkehendak lain, karena memang seharusnya sebuah pernikahan itu tidak boleh dijadikan sebagai ajang uji coba, pernikahan itu sesuatu yang sakral.
" Maafkan saya sekali lagi Bu Melati, saya tidak jujur saat pamit kemarin."
Mirna tertunduk lemas dihadapan Melati.
" Anda sebagai orang tua seharusnya lebih paham dan mengerti, jika anda berada pada posisi saya, bagaimana perasaan anda?"
Ucap Melati ketus.
" Maaf bu, saya memang salah, saya..."
Ucapan Mirna terputus.
" Buk.. jangan salahkan mamah Mirna, beliau tidak bersalah, ini semua permintaan saya pribadi."
Ucap Raras tidak enak hati.
" Kamu memang keterlaluan ya Ra, siapa yang mengajarimu berbohong ha? ibuk nyekolahin kamu tinggi - tinggi bukan untuk membodohi ibuk ya!"
Melati masih tersulut emosi.
" Buk.. tapi.."
" Ngink.. ngink.. ngink..
Terdengar suara sesak dari mulut seorang pria paruh baya itu.
" Ayaaaaahh..!"
Teriak Raras melihat ayahnya memegang dadanya yang sesak dan terlihat kesulitan bernafas.
" Biar saya bawa om ke rumah sakit terdekat."
Jawab Simon langsung mengangkat ayah Raras segera ke mobil.
" Ayo nak, bu Melati, kalian bareng saya saja."
Ucap Mirna.
" Inilah buk alasan Raras tidak memberi tahu ayah dan ibuk dadakan, aku takut asma ayah langsung kambuh!"
Ucap Raras saat didalam mobil.
" Jadi kamu pikir kalau kamu memberitahu sesudah menikah akan lebih baik? haah.. astaga bocah satu ini, bisa - bisa ayahmu anfal langsung, bukan bengek lagi."
Melati masih saja emosi melihat Raras.
" Maaf buk, Raras tidak kepikiran sejauh itu."
" Lalu bagaimana jalan pikiranmu itu, nggak berfikiran sejauh itu kenapa tiba - tiba menikah?"
" Ya.. aku pengen aja!"
Ucap Raras berbohong.
" Pengen apa? pengen rujak setan buatan ibuk kah? buat cuci kepala kamu ini biar sehat cemerlang ya!"
Melati makin emosi mendengar jawaban Raras yang tidak masuk akal.
" Jadi gimana? udah terlanjur ini?"
" Terlanjur bagaimana maksudmu? apa jangan - jangan kamu sudah hamil ya, makannya kamu nikah sembunyi - sembunyi."
Melati menarik kedua telinga Raras sampai merah.
" Awww buk.. sakit, putus nanti telinga Raras!"
Raras mengaduh kesakitan.
" Biar.. biar putus sekalian, punya telinga tidak dipakai dengan benar!"
" Bu.. tolong maafkan kami, kami sangat menyesal, belum terjadi apa - apa diantara mereka."
Ucap Mirna tidak tega melihat calon mantunya terus - terusan diomeli ibunya.
" Memangnya anda tahu, kalau mereka belum ngapa - ngapain? emang anda selalu membuntuti putramu itu!"
" Saya tahu persis siapa putra saya, itu kenapa saya ingin menjodohkan mereka!"
ucap Mirna perlahan.
" Astaga.. Gustiii.. jadi dia bukan pacarmu? kamu cuma dijodohkan? karena kamu sekertarisnya? trus kamu mau aja gituh?"
Ucap Melati kembali mengomeli Raras.
" Bukan begitu bu?"
Raras pun bingung harus menjelaskan apa dan bagaimana.
" Nak.. pernikahan itu bukan ajang main - main lho? ibu nggak pernah nglarang kamu gonta - ganti pacar selama ini, tapi kalau sampai kamu gonta - ganti suami, ibuk nggak akan pernah rela ya, jadi menikahlah dengan orang yang kamu cintai dan mencintai kamu! apa kamu sudah mencintainya?"
Skak..!
Raras hanya memejamkan matanya, tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya kali ini.
Boro - boro CINTA buk, bahkan dia pria impoten! aah.. kalau ibu tau soal ini, yakin deh kulitku berubah belang - belang kayak macan, tiap hari habis kena cakar, Gusti aku harus gimana ini?
" Biar ibu tebak, kamu menikah karena terpaksa kan?"
ucap Melati menajamkan kedua bola matanya.
" Bu Melati, anak saya pria yang baik, saya pastikan dia tidak akan melakukan sesuatu hal yang merugikan putri ibu, dan jika dia melakukannya, saya jaminannya Bu."
Ucap Mirna pasang badan.
" Satu bulan, berikan waktu mereka satu bulan untuk saling mengenal lebih dalam lagi sebelum hari pernikahan tiba."
Ucap Melati tegas.
" Tapi bu Melati kita sudah menyiapkan acara pernikahan mereka nanti malam."
Ucap Mirna terpotong.
" Ganti acara pertunangan saja!"
Ucap Melati tanpa penolakan.
Yess.. yess.. ibuku penyelamatku, aku padamu buk..! setidaknya selama sebulan aku masih bisa bernafas dengan damai.
Raras tersenyum bahagia mendengarnya, hari kebebasannya bertambah satu bulan.
Sesampainya di Rumah sakit, ayah Raras langsung dibawa ke ruangan IGD, Simon yang terlebih dulu sampai sudah menunggu di kursi depan ruangan sambil memejamkan kedua matanya.
Setelah beberapa menit berlalu Dokter terlihat keluar dari ruangan.
" Dokter bagaimana keadaan ayah saya?"
Tanya Raras panik.
" Keadaannya sudah membaik, pasien hanya shock saja, kami sudah memindahkannya ke ruang rawat."
" Lalu apakah ayah harus rawat inap?"
" Kalau keadaannya terus membaik, habiskan satu botol infus sudah boleh dibawa pulang."
Ucap Dokter.
" Alhamdulilaaaah.."
Mirna dan Simon serentak berucap sambil tersenyum lega.
Raras dan ibunya serentak menoleh sedikit heran melihat anak dan ibu itu, kenapa mereka lebih bahagia dari pada anak dan istrinya sendiri.
Akhirnya sore itu, ayah Raras diperbolehkan untuk pulang kembali ke Villa, dan sesampainya disana persiapan dekor dan lainnya sudah selesai dikerjakan.
" Ra.. bisa kita bicara sebentar? tapi jangan disini."
Pinta Simon.
" Dimana?"
Ucap Raras terheran.
" Emm.. "
Simon melihat sekeliling ramai WO berlalu lalang menyelesaikan semua persiapan.
" Di tepi pantai sana bagaimana?"
Raras memberikan ide.
" Baiklah.. ayok!"
Simon langsung mengandeng tangan Raras.
" Harus ini digandeng - gandeng? kayak mau nyebrang ajah."
Ucap Raras meledek Simon.
" Aahh.. ya, e.. biar cepet, kaki kamu kan pendek, ntar jalan kayak keong!"
Ucap Simon menutupi rasa malunya.
" Ciihh.. tinggi badan aku proporsional ya? bilang aja pengen pegang - pegang!"
" Diih.. nggak ada untungnya sama sekali."
" Yawda lepas dong, kok malah keenakan? haha.."
Simon seketika menghempaskan tangan Raras, dan mereka berjalan menyusuri pantai di sore hari sambil menikmati sunset di Kute Bali.
" Apa kamu baik - baik saja?"
Tanya Simon membuka obrolan.
" Tentu tidak, hidupku sudah seperti rolercoaster semenjak bertemu dengan ibumu."
Ucap Raras jujur.
" Lalu apa kamu tetap akan melanjutkan pernikahan ini?"
" Mau gimana lagi? aku sudah berjanji pada ibumu, aku tipe orang yang tidak suka ingkar janji!"
" Tapi ayah dan ibumu?"
Tanya Simon khawatir.
" Mereka akan baik - baik saja, kamu tenang aja."
Ucap Raras tersenyum melihat gurat wajah Simon.
" Kalau begitu ayok kita balik ke Villa, Akadnya mungkin sebentar lagi akan di mulai."
Ucap Simon bergegas ingin melakukan persiapan terdahulu.
" Cieee.. yang ngebet Nikahin gue?"
Ledek Raras.
" Ini terpaksa, kamu tahu sendiri kan?"
" Santai aja lagi, kita duduk dulu disini, Akadnya masih satu bulan lagi kok!"
Ucap Raras tersenyum.
" Haaah? maksudnya? kenapa satu bulan lagi? semua persiapannya udah selesai lho tadi?"
Simon terkejut sendiri.
" A.. Ciyee.. ciye.. kecewa nie? Nikahnya ditunda? apa kamu udah bucin banget pengen nikahin aku ya? haha.."
Raras makin getol aja ngodain Simon yang belom tahu rencana mereka yang telah diubah.
" Diiih.. aku kan cuma tanya? maksudnya gimana? kepedean amat kamu jadi cewek!"
" Diiih.. malu bilang bos! tadi orang tua kita sepakat mengundurkan pernikahan kita satu bulan lagi, agar kita saling mengenal dulu."
" Lalu kenapa tadi acaranya tetap dipersiapkan?"
" Diganti dengan acara pertunangan."
" Owh.. begitu "
Entah kenapa hati Simon merasa ada yang aneh, disisi lain dia senang, tapi disisi lain dia merasa sedikit kecewa.
Apa Simon sudah mulai ada rasa?
Entahlah, hanya author yang tahu 😂😂
Jangan lupa VOTE ya gaes biar author semangat updatenya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
andai aku ini ibu melati, beeeh marah nya lebih dari itu 😇😇😇
2023-12-23
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
falsafah ini sangat benar 😘😘😘
2023-12-23
0
endah yunaryanti rahayu
iya author yang mengarang ceritnya jadi tau dech .
2022-06-25
1