...🦋🦋 HAPPY READING 🦋🦋...
Tiga gadis cantik walau hanya dengan make up tipis - tipis itu pun menjadi sorotan saat ikut mengantri di lift perusahaan sebelah kiri.
Apalagi mata pria - pria yang ikut mengantri, bahkan mereka rela mundur demi bisa satu lift dengan tiga gadis itu.
Saat lift mulai berjalan, mereka mulai bergosip ria, tiada hari tanpa menggosip bagi mereka, sampai dijuluki ibunya Raras Trio Ghibah.
" Masih penasaran deh gue, kenapa disini ngantri di sebelah kagak ngantri sih?"
ucap Mala sambil mengibaskan muka panasnya karena berdesakan masuk lift.
" Tapi sepertinya lift yang disana lebih nyaman, masak rusak sih?"
sahut Raras.
" Gara - gara si pria gila tadi tuh, kita harus pindah lift, nyebelin amat sih tu orang, coba kalau nggak pindah pasti kita sudah sampai di lantai lima belas, pengen banget gue bogem tadi tuh!"
Ujar Shanum yang mudah terbawa emosi.
" Kalian keluarga Anderson group ya?"
Tanya mas disebelah Raras.
" Bukan."
Jawab Raras cepat.
" Terus?"
" Kita mau nglamar kerja mas."
" Apah?"
Sontak mas tadi kaget.
" Emang kenapa? kalau kita naik lift itu sih?"
Tanya Mala si centil.
" Itu lift khusus petinggi perusahaan dek, tidak boleh sembarang orang menaikinya!"
Ucap Om disebelah ikut menimpali.
" Trus kenapa kalau kita ikut naik? kagak ada kok tulisannya khusus petinggi perusahaan, sama - sama makan nasi ini, kenapa harus dibeda - beda in?"
Mala tidak terima.
" Bener tu La, Lift kagak dibawa nyampe surga aja dibeda - bedain ya kan?"
Sahut Shanum.
" Besok - besok kalau kita diterima kerja disini, kita naik lift sebelah aja yuk gaess, kalau perlu kita tempelin kertas di lift sebelah, DIMATA TUHAN HANYA AMAL PERBUATAN YANG MEMBEDAKAN BAIK BURUK MANUSIA, bukan jabatan, kekayaan apalagi Lift perusahaan."
Timpal Raras pentolan trio ghibah ikut berkomentar.
" Mantep tuh, ide yang bagus, hahaha.."
Trio ghibah itu tertawa, bahkan orang - orang disekeliling mereka ikut tertawa dan geleng - geleng kepala mendengarnya.
Kagak ada yang mereka takuti didunia ini, bahkan preman atau hantu sekalipun, hanya Tuhan yang mereka takuti.
" Ini nie kayaknya ruangannya gaes?"
" Ketuk aja kali ya?"
Tok.. tok.. tok
Srettt.. pintu ruangan itu terbuka sendiri.
" Gile.. keren cuy?"
Bisik Mala.
" The real holang kaya sob!"
" Haii.. kalian kok baru datang?"
Mirna langsung beranjak berdiri menyambut mereka.
" Maaf Bu, tadi liftnya antri?"
Jawab Mala.
" Masak antri sih? kalian naik lift sebelah kanan kan?"
Tanya mirna heran.
" Awalnya Bu, tapi disana ada dua makluk tak kasat mata bu, kita disuruh pindah, jadi lama deh?"
Jawab Raras dengan pedenya.
" Makluk tak kasat mata?"
Kening Mirna berkerut.
" Iya Bu, ganteng - ganteng sih, tapi nyebelin!"
Ucap Mala si mulut rem blong.
" Ya sudah, no problem, bisa kita mulai interviewnya sekarang?"
Ucap Mirna semangat.
" Tentu Bu."
Jawab mereka serentak.
" Sayang, sini nak bantuin mamah?"
Panggil Mirna kepada anak semata wayangnya.
" Napa mah, aku lagi sibuk nie."
Ucap Simon masih berkutat dengan dokumen - dokumennya.
" Sini dulu, buruan bantuin mamah!"
teriak Mirna.
" Anak mamah cuy.."
Bisik mereka bertiga sambil tertawa tanpa suara.
" Apa sih mah?"
Simon datang mendekati mamahnya.
" Haaahhh.. kamu?"
Teriak mereka bertiga kompak.
" Kalian sudah kenal?"
Tanya mama Mirna terkejut.
" Dia itu si..."
Raras langsung mendekap mulut Mala rapat - rapat sebelum mulutnya nerocos dan akhirnya mereka gagal dapat pekerjaan kembali.
" Aahh.. tidak Bu, tadi cuma terjadi kecelakaan kecil saja dengan putra ibu."
Ucap Raras.
" Kecelakaan?"
Mirna menautkan kedua alisnya.
" Eh.. kaki putra ibuk tidak sengaja keinjek, hehe.."
Raras tersenyum canggung.
" Ciiihhh.. dasar wanita bermuka dua."
Gumam Simon menyeringai.
" Ya sudah.. kalian silahkan duduk, dan serahkan CV kalian?"
Ucap Mirna.
Untung saja pria itu tidak ngadu ke mamahnya, bisa gawat ini, gatot lagi dapat kerjaan.
" Wuaaah.. ternyata IP kalian tinggi semua, selain cantik kalian juga cerdas ya?"
Ucap Mirna kagum, kalau dilihat mereka gadis polos biasa, ternyata kecerdasan mereka tidak bisa dianggap biasa.
" Hehe.. terima kasih Bu."
ucap mereka serempak.
" Okey.. kalian semua saya terima."
Ucap Mirna tanpa berpikir panjang.
" Waah.. benarkah? terima kasih bu.."
Mereka bertiga berpelukan.
" Mah.. kita belum jadi interviewnya kan?"
Tanya Simon heran.
" Sudahlah, nggak usah ribet - ribet, mereka cerdas semua ini?"
" Tapi mereka mau di taruh bagian mana?"
" Mana aja bisalah, atau sekertaris kamu saja semua, gimana?"
" Haah? masak sekertaris tiga orang? mama mau kasih gaji buta sama mereka?"
Ucap Simon pusing melihat tingkah mamahnya.
" Ckkk.. ngak akan bangkrut kantor kita kalau cuma gaji tiga sekertaris, percaya deh sama mamah."
Mirna berucap santai.
" Yeaaay.. kita kerja bareng lagi"
Ucap mereka kembali berpelukan.
Simon mengamati ketiga gadis didepannya yang sedang asyik berpelukan.
Waah.. kalau mereka kerja bergerombol gitu, bisa rusak gendang telingaku, mending aku pisahin aja mereka, biar kagak ribet.
" Okey.. gini aja, salah satu dari mereka jadi sekertarisku, satunya lagi jadi sekertaris Mark, dan yang satunya lagi, dimana ya?"
Simon pun bingung sendiri meletakkannya dibagian apa.
" Kepala divisi bagian satu."
Ucap Mirna dengan cepat.
" Masak langsung kepala divisi sih mah?"
Simon makin pusing dibuatnya.
" Nggak papa, mamah yakin dia bisa!"
Ucap Mirna tersenyum, dia kan belum tahu lagi mana yang berjodoh dengan putranya, jadi harus punya jabatan yang bagus semua pikirnya.
" Horee..!"
Mereka bertiga kembali bersorak.
" Haisss.. berisik sekali lah!"
Geram Simon.
" Kalau begitu kamu pilih mana yang jadi sekertarismu?"
Ucap Mirna.
" Mana ajalah terserah mama saja, lagian nggak penting - penting amat juga."
Ucap Simon santai, karena dia masih akan tetap menggunakan sekertaris lamanya yang sudah berpengalaman.
" Kamu sebut ajalah, gitu aja kok susah amat!"
Simon mengamati mereka bertiga.
Dia yang berani - beraninya nginjek kaki gue, liat aja ntar, gue kerjain balik dia.
" Paling ujung kanan sekertarisku, tengah sekertaris Mark, yang ujung kepala Divisi."
Ucap Simon mengatur strategi.
" Haiss.. kenapa aku yang jadi sekertarisnya."
Gumam Raras.
" Kamu bilang apa?"
Teriak Simon.
" Hehe.. baik pak, siap laksanakan, mohon bimbinganya ya?"
Ucap Raras tersenyum.
" Kamu pikir saya guru pembimbingmu apa? kalau kamu nggak bisa kerja, mengundurkan diri saja sekarang, belum ada kata terlambat!"
Ucap Simon ketus.
" Buset dah.. itu mulut apa petasan, panas banget omonganya."
Bisik Raras pada Shanum.
" Nanti kita atur strategi ngerjain dia, okey? tahan.. tarik nafas.. buang!"
Bisik Shanum.
" Baiklah.. karena kalian sudah mendapatkan tempat masing - masing kalian boleh pulang, besok kalian bisa mulai kerja ya?"
Ucap Mirna dengan senyum merekah.
" Terima kasih Bu, kami permisi."
Pamit mereka bertiga.
Sesampainya di luar, Raras melampiaskan amarahnya yang terpendam.
" Aaaahhh.. dasar Simon..nyonggg! kenapa gue yang jadi sekertarisnya, Mala.. kita tukeran aja yuk?"
Pinta Raras.
" Diihh.. ogah, mending kepala divisi dong, bisa lihat banyak cowok - cowok keceh, bisa sekalian cuci mata!"
Ide gila Mala mulai bermunculan.
" Tapi kan gajinya lumayan sekertaris La? ayolah.. aku kepala divisi aja?"
Rengek Raras.
" Kamu lupa? aku punya black card, aku bisa beli apapun yang aku mau kalau gajiku nggak cukup, lagian cowok aku juga tajir melintir, kagak jadi masalah!"
Ucap Mala santai.
" Udahlah Ra, terima nasib aja, ntar kalau Simonyong berulah biar gue kasih bogeman terindah buatnya!"
Shanum ikut berkomentar.
" Haiiss.. belum apa - apa aja udah esmosi, gimana satu ruangan dengan dia, sehari berasa setahun kali ya!"
Ucap Raras melemah.
" Yawdalah.. kita pulang aja yuk, prepare ngadepin monster - monster gila itu!"
SEMANGAT...!
Kasih author semangat juga dong?
Tinggalkan Jempol dan Vote kalian ya?
Terima kasih😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Argeymi Frananda Lestary
qw udah BCA bnyak kali GC bosen", nunggu cerita Bru lgi GC mncul" jga😭😭😭
2024-06-13
1
Fatma Wati
aduh. tor aku ngak mau tau ya... gantiin pulsa aku... rela rela in beli pulsa paket biar bisa membaca ini...
2024-03-26
2
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
wkwkwk bener itu
2023-12-23
1