...🌿🌿 Happy Reading 🌿🌿...
Seminggu telah berlalu, Raras belajar banyak tentang tugas - tugas sekertaris dari Nila sekertaris kawakan yang sudah bekerja puluhan tahun dari dia masih muda dulu.
Mereka bahkan akrab sekali, sering ngobrol ngalor ngidul, bukan Raras namanya kalau sulit dapet teman, dia bisa nyambung ngobrol dalam bentuk apapun.
Cocok ya kan jadi pentolan trio ghibah?
Sedangkan Simon masih seperti biasa saja, kaku, cuek dan tidak perduli dengan orang apalagi dengan omongan netizen, dia bahkan tidak menganggap Raras ada, yang selalu dia panggil masuk ruangan hanya Nila saja.
Hanya saja dia sedikit heran dengan Raras, kenapa selama seminggu ini dia tidak menggodanya sama sekali, hanya menggoda sekali dengan pakaian minim aklhaknya waktu hari pertama kerja.
Hari ini Nila sekertaris aslinya ingin meminta cuti selama beberapa hari kedepan, karena anaknya sedang sakit dan dirawat dirumah sakit.
" Permisi pak?"
Sapa Nila memasuki ruangan Simon.
" Iya, ada apa?"
Jawab Simon.
" Maaf pak, tapi bolehkan saya minta izin cuti?"
" Kapan?"
" Selama beberapa hari kedepan pak?"
" Beberapa hari? maksudnya?"
Simon terkejut, tidak biasanya Nila izin lama.
" Anak saya sedang sakit pak, dan dirawat dirumah sakit, adik - adiknya masih kecil, tidak bisa menjaganya."
Ucap Nila sedih.
" Aaah.. okey, tapi siapa dong yang gantiin kamu sementara? ini akhir tahun, tutup buku, nggak mungkin kita tumpuk pekerjaan sampai tahun depan kan?"
Simon merasa tambah pusing, sudah kerjaan menumpuk, sekertarisnya minta cuti lagi.
" Kan ada neng Raras pak, dia sudah menguasai apa yang saya ajarkan kok pak? dia orangnya cepat tanggap dan mudah mempelajari hal - hal baru?"
Ucap Nila.
" Ini bukan karena kamu mau cuti kan?"
Tanya Simon curiga.
" Tidak pak, selama seminggu ini dia memang sering belajar pekerjaan sekertaris pak."
" Benarkah?"
Simon terkejut.
Pasalnya, dia sama sekali tidak memintanya, biasa juga seminggu sekertaris baru langsung keluar karena tidak tahan dengan sikapnya.
" Benar pak, saya tidak berbohong, saya yakin dia bisa menggantikan saya dengan baik."
" Baiklah, coba suruh dia yang nemenin saya meeting diluar siang ini, aku mau tahu seberapa dalam dia menguasai pekerjaan sekertaris seperti yang kamu bilang?"
" Baik pak, saya permisi."
Apa benar dia bisa jadi sekertaris, apa dia bukan sekertaris setingan mamah? tapi kemarin waktu interview sudah jelas itu memang mamah yang cari? aah.. coba nanti aku lihat performa dia yang sesungguhnya.
" Neng.. aku boleh cuti?"
Ucap Nila bersorak pada Raras.
" Haruslah mbak, anak mbak kan lagi sakit, emang ini jaman PKI ada penindasan karyawan."
Ucap Raras menggebu.
" Tapi Ra, kamu gantiin semua pekerjaan mbak ya?"
" Yaah.. kok aku sih mbak, aku males banget deket - deketan dengan drakula itu?"
" Jadi siapa lagi? kamu kan sekertarisnya juga? tolongin mbak deh, daripada mbak nggak boleh cuti kasihan anak mbak."
Jiwa seorang wanita Raras tergugah.
" Baiklah mbak."
Raras tertunduk lesu, dia sudah membayangkan hari - hari bersama Simonyong itu.
" Nanti kamu temenin Bos kita meeting di luar ya?"
" Nanti? siang ini? kenapa cepet banget mbak?"
" Kan kamu sudah belajar banyak dari mbak, bagaimana cara kamu presentasi, bagaimana cara kamu menyambut klien, bagaimana kamu menghandle jadwal pekerjaan bos kita? jadi kamu tinggal praktekin aja?"
Jelas Nila.
" Tapi kenapa mendadak gini sih mbak?"
" Aku yakin, kamu pasti bisa, ini filenya yang harus kamu presentasikan didepan klien nanti, selalu tersenyum dan semangat Raa!"
" Haaaahh.. aku tidak semangat kali ini!"
Raras malah menyenderkan kepalanya di meja kantor.
Saat jam makan siang, Raras sudah bersiap setelah mengumpulkan energi untuk menghadapi drakula itu.
" Kamu sudah siap?"
Ucap Simon berhenti di meja sekertaris.
" Sudah pak."
Raras tersenyum kecut.
" Nila, kamu sudah siapkan semuanya?"
" Sudah pak."
" Kamu sudah memberitahunya apa yang harus dia lakukan nanti?"
" Tentu pak, Raras pasti bisa, semangat Ra!"
Nila menyemangati Raras yang berdiri lesu dibelakang Bosnya.
Didalam perjalanan, Raras yang biasanya cerewet menjadi pendiam, dia hanya memandang jalanan dengan tatapan kosong, disamping sopir, sedangkan Simon asyik memandangi Raras tanpa sepengetahuan Raras.
Kenapa dia sama sekali tidak menggodaku? apa benar itu pilihan mamah? atau dia memang pengen jadi sekertaris beneran, bukan cuma jembatan menjadi calon nyonya Anderson?
Simon melamun sampai ditempat meeting.
" Pak terlalu sering melamun, bisa memperpendek usia bapak lho?"
Bisik Raras dibelakang tubuh bosnya yang dari tadi melamun saja.
" Hehh.. kau mau dipecat ya?"
Simon berbisik sambil menggeratkan giginya kesal.
" Itu bapak diajak berjabat tangan dari tadi? bapak malah asyik melamun saja!"
Simon tersentak dan langsung menjabat dan meminta maaf pada relasinya atas dirinya yang sedang tidak fokus.
Dan akhirnya tiba lah waktunya Raras melakukan presentasi untuk pertama kali didepan khalayak ramai.
Semua mata tertuju padanya, gugup, gemetaran itu sudah pasti, namun hanya awalan saja, karena setelahnya respon dari mereka yang ada diruangan itu baik, dan itu membuat kepercayaan diri Raras membaik.
Semua bertepuk tangan kagum atas presentasi Raras yang sangat baik, teliti dan mendetail.
" Sudah cantik, pintar lagi."
Banyak sekali yang berucap seperti itu dengannya.
Simon makin bingung dibuatnya, benarkah dia sekertaris pilihan mama?
Saat keluar dari gedung Simon berbicara dengan Raras, baru kali ini dia mau mengajak seorang wanita bicara terlebih dahulu, diluar masalah kantor.
" Kamu pernah kerja dimana sebelum disini?"
Tanya Simon sambil berjalan.
" Belum pernah pak, saya baru saja wisuda bulan kemarin."
Ucap Raras santai.
" Benarkah? tapi kelihatannya, kamu bisa menguasai presentasinya tadi?"
Ucap Simon ingin memuji tapi tidak tahu caranya.
" Hehe.. saya belajar banyak dari mbak Nila pak?"
" Good."
Krucuk - krucuk
Terdengar perut keroncongan Raras, karena tadi pagi dia hanya sarapan susu dan siang tadi dia tidak makan, saking gugupnya akan presentasi.
" Apa kamu tadi tidak makan?"
Tanya Simon tersenyum mendengarkan suara perut keroncongan Raras.
Eh buset dah.. baru kali ini liat dia tersenyum, tampan juga ternyata.
Jiwa play girlnya bermunculan, setelah selama seminggu ini dia nggak pergi kencan karena capek dan sering pulang larut nemenin Nila lembur di akhir tahun.
" Aku tahu kalau aku tampan, tapi sory, aku tidak tertarik pada wanita."
" Astaga? jadi bapak tertarik dengan pria?"
Celetuk Raras.
" Tidak juga."
ucap Simon santai sambil masuk mobil.
" Pak jalan, tapi sebelum balik kekantor kita mampir restoran seafood dulu ya, yang deket arah pantai itu."
Ucap Simon dan diangguki oleh sopir pribadinya.
Setelah kurang lebih dua puluh menit mereka sampai direstoran seafood yang sejuk dan viewnya menghadap langsung ke pantai.
" Kamu mau pesen apa?"
Tanya Simon.
" Boleh pesen apa aja ini pak?"
Tanya Raras yang memang hoby makanan seafood.
" Pesanlah sesuka hatimu?"
" Mbak pesen kepiting saos tiram, udang galah sama cumi crispy ya? kagak usah pake nasi."
" Haah? habis semua tuh?"
" Iya, kan nggak pake nasi? makanan seafood kalau dimakan pake nasi kagak kerasa, hehe."
Simon benar - benar terkejut, biasanya kalau cewek diajak makan kan suka jaim, lha ini dia pesen tiga menu sekaligus.
" Ini makanannya, silahkan dinikmati."
Ucap mbak pelayan restoran itu.
" Waah.. ini harum sekali, pasti mantep rasanya, bapak pesen nasi goreng seafood doang? mau coba ini kagak? enak banget lho?"
Raras tanpa sengaja ingin menyuapkan daging kepiting yang sudah dia buang cangkangnya, kebiasaannya makan dengan pacar - pacarnya selalu seperti itu.
Simon seperti dihipnotis membuka mulutnya dan menerima suapan Raras, padahal seumur - umur baru kali ini dia disuapi perempuan selain mamahnya, pake tangan lagi, biasanya dia orang yang super duper steril.
" Gimana? enak kan?"
Ucap Raras meledek.
" Kamu udah cuci tangan kan tadi?"
Tanya Simon.
" Udah dong, pake hand sanitizer juga kali, Bapak kira cewek secantik aku jorok gituh?"
Ucap Raras yang mulai cerewet.
Ternyata Bosnya tidak semenakutkan seperti apa yang dia bayangkan.
" Mau lagi?"
Ucap Raras menawarkan suiran daging udang galah.
Simon menggangukkan kepalanya dan menerima suapan demi suapan dari Raras.
" Bapak doyan juga ternyata? kenapa tadi cuma pesen nasi goreng aja?"
" Malas.. kotor tanganku nanti."
Ucap Simon sambil terus mengunyah udang galah saos tiram itu.
" Ciih..Bapak ngerjain aku? aah..makan sendiri!"
Raras menghentikan suapannya dan memasukkan kemulutnya sendiri.
" Habiskanlah, aku udah kenyang!"
Ucap Simon santai.
Tanpa sepengetahuan mereka, ada seseorang dibalik pohon sedang mengambil foto - foto mereka dari jarak jauh.
Ulah siapa itu ya?
Jangan lupa Vote dan tinggalkan jempol kalian gaes😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Umi Adja
itu mesti suruhan mama mirna
2023-11-07
1
Maura
visual thor
2023-05-15
1
MustikaDyahSukmawati[BundaIke]
Ulahnya Si Madam Mirna , Gaeis
2022-02-09
0