...Happy Reading...
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
" Ada saatnya kita tidak punya pilihan lain, selain terdiam dan mencoba menerimanya "
Didalam sebuah lorong rumah sakit terbesar didaerah situ, sepasang laki - laki dan perempuan masih terpaku sesaat.
Siapa lagi kalau bukan dua manusia yang sudah seperti tikus dan kucing kalau bertemu.
Mata Simon dan Raras saling memandang, sorot mata indah itu saling bertemu, entah apa yang mereka fikirkan dan entah apa isi dari benak mereka masing - masing saat ini.
" Ciee.. lagi jatuh citrong ni yee..?"
Ledek segerombolan suster yang lewat sehabis ganti shift.
" Co cuuuuiiitttt deh..?"
Ledek mereka kembali dan akhirnya mereka tersadar.
" Astaga..?"
Ucap Simon langsung melepas pegangan tangan di tubuh ramping Raras.
Bruuukkk..
" Awwww.. kenapa dilepas? sakit tauk..!"
Raras memijat tulang belakangnya yang terhempas di lantai.
" Aaah.. masak gitu aja sakit? bisa berdiri kagak?"
Ucap Simon menghilangkan canggungnya, baru kali ini dia berdekatan dengan seorang wanita dalam jarak terdekat kecuali dengan mamahnya.
" Kamu jadi cowok kasar banget sih, harusnya setelah ditangkep itu diberdiriin, bukan dihempasin pe a, pantes saja kamu kagak laku - laku!"
Ucap Raras kehilangan kendalinya karena merasakan sakit dipinggang belakangnya.
" Kamu bilang apa? ulangi sekali lagi?"
Tanya Simon kesal.
" Yang bagian mana? yang kasar atau yang nggak laku - laku?"
Ucap Raras dengan santainya.
" Haaaìiiss.. dasar play girl bermulut mercon kamu ya!"
Teriak Simon dan berlalu meninggalkan Raras yang masih duduk di lantai.
" Heiii.. tunggu, bantuin dulu kek, main pergi aja..!"
Teriak Raras.
" Bodo amat..!"
" Dasaarrrr...! Pria impoten..!
Ingin sekali Raras memanggil dengan sebutan itu, tapi hati nuraninya masih melarangnya untuk menambah timbangan dosanya.
Sesampainya di ruang rawat, Mirna sudah menunggu mereka dengan rangkaian drama yang sudah dia susun matang - matang.
" Mana Raras nak?"
Tanya Mirna melihat putranya seorang yang masuk.
" Masih diluar mah, bentar lagi juga masuk, gimana kondisi mamah? apa sudah lebih baik sekarang?"
Tanya Simon khawatir sambil memegang kedua jemari mamahnya dan ditempelkan dipipinya.
" Mamah sudah lebih baik, tapi kalau kamu mau mengabulkan keinginan mamah, itu jauh membuat mamah lebih baik lagi, dan mungkin tidak akan ada penyesalan lagi jika mamah memang sudah waktunya.."
" Mamah jangan ngomong kayak gitu napa? Simon nggak suka!"
Ucap Simon menyela omongan mamanya.
" Mamah cuma ingin melihat kamu bahagia nak?"
" Simon sudah bahagia saat ini mah, Simon sangat bahagia walau hanya hidup berdua dengan mamah."
Simon menahan sesak didadanya.
" Tapi mamah ingin sekali melihat kamu menikah, dan punya anak, mamah cuma pengen punya keluarga yang ramai, tidak kesepian seperti sekarang."
Mirna meneteskan air matanya.
Namun sepertinya air mata ini asli, dan kata - kata ini berasal dari jeritan hati seorang ibu yang ingin melihat putra semata wayangnya menjalani kehidupan normal seperti yang lainnya.
Dibalik pintu Raras menyandarkan kepalanya mendengar curahan hati seorang ibu dengan anaknya.
Apa aku harus menerimanya? apa aku tega menolaknya? apa aku terlalu jahat jika membiarkan ibu Mirna larut dalam kesedihanya seperti itu? haah.. ya Tuhan aku harus bagaimana?
Raras mengusap air matanya yang ikut menetes dan memantapkan hati untuk menemui bu Mirna.
" Nak Raras.. kamu darimana?"
Tanya Mirna masih dengan deraian air matanya.
" Dari.. dari Toilet mah, iyah..hehe.."
Raras mencari alasan.
" Owh ya Simon, kamu disuruh ke ruang administrasi sekarang."
Ucap Mirna sengaja mengusir anaknya karena ingin berbicara empat mata dengan Raras.
" Baik mah, aku pergi dulu."
Simon berlalu meninggalkan ruangan itu.
" Ra.. kemarilah.."
Panggil Mirna melihat Raras mematung dibelakang.
Raras berjalan dengan lemas, pasrah menerima apapun itu, dia hanya berfikiran ingin melihat Bu Mirna bahagia, itu saja yang ada di benaknya saat ini.
Dia sudah prustasi memikirkan segalanya sedari tadi, dan tidak menemukan solusi yang terbaik untuk semua, fikirannya buntu, dia membayangkan jika Bu Mirna adalah Ibunya sendiri, pasti akan sangat sulit menerima keadaan anaknya yang seperti itu.
Dalam hidupku mungkin terlalu banyak orang yang tersakiti karenaku, anggap saja ini sebagai penebus dosaku, Gusti nu Agungggg.. hambamu pasrah saja, semoga ini yang terbaik untuk semua.
Jeritan hati seorang Raras Puteri Bhanuwati.
" Ra.. tolong pertimbangkan permintaan mamah ya nak, sekali ini saja?"
Ucap Mirna memohon.
Raras masih terdiam seribu bahasa.
" Bagaimana kalau kita buat perjanjian?"
Ucap Mirna meyakinkan.
" Hah? perjanjian?"
Raras tidak habis pikir tentang itu.
Biasa juga kalau di drama atau film itu yang buat perjanjian antara suami dengan istri, kenapa ini jadi mamah mertua dengan istri?
" Perjanjiannya seperti yang tadi mamah bilang, kalau dalam waktu tiga bulan, Simon tidak bisa menyentuhmu dan artian melakukan hubungan suami istri denganmu, kamu boleh meminta pisah darinya, dan Mamah akan membantumu dan membersihkan namamu dari rumor apapun yang beredar? bagaimana?"
Raras berfikir dalam diam.
Sejauh ini perilaku Big Bos memang menunjukkan kalau dia itu benar - benar tidak tertarik dengan wanita, tadi saja aku dihempaskan, kalau dalam drama pasti tadi langsung ada adegan plus - plusnya, ya sudah aku terima saja, anggap saja ini pacaran sah dan islami, semangat Ra.. kamu pasti bisa!
" Tapi kalau dia itu.. itu bagaimana mah?"
Raras kembali bimbang.
" Itu apa? hehe.. semua keputusan ada ditanganmu, mamah cuma ingin tahu, apa benar Simon itu impoten atau tidak, itu saja!"
Ucap Mirna semangat.
" Apa ini tidak berlebihan?"
Ketakutan Raras kembali menyerang.
" Anggap saja tidak, mamah bergantung padamu Ra..! please tolong mamah kali ini ya sayang?"
Raras menghela nafas panjang dan memejamkan matanya, mencoba meyakinkan ini semua.
" Dan satu hal lagi, kamu boleh minta imbalan apapun yang kamu mau, apapun itu katakan saja, dan ini simpan untukmu..!"
Mirna menyerahkan Blackcard unlimited atas nama Raras.
" Apa ini mah?"
Raras benar - benar terkejut.
" Nomor pinnya tanggal lahir kamu, kamu bisa menggunakannya untuk apapun yang kamu mau dan kamu perlukan."
Ucap Mirna sambil tersenyum.
" Tapi mah ini terlalu berlebihan!"
Ucap Raras tidak enak hati, seakan - akan dia menjadi wanita bayaran.
" Tidak nak, itu bahkan tidak seberapa dengan pengorbanan yang kamu lakukan!"
Ucap Mirna.
" Tapi aku nggak mau nerima ini mah, aku ikhlas bantuin mamah, yang penting mamah bahagia, lagi juga cuma tiga bulan ini kok."
Ucap Raras menolak.
" Simpanlah, itu hakmu, mamah sudah membuatnya khusus untukmu, jadi kamu harus menerimanya, kalau enggak mamah marah nie!"
Ucap Mirna pura - pura merajuk.
" Tapi Raras boleh minta satu hal nggak mah?"
Pinta Raras.
" Apa itu sayang?"
" Pernikahan ini kita rahasiakan saja."
" Kenapa? kalau pun nanti kalian harus berpisah, mamah akan menjamin nama baik kamu Ra, itu janji mamah kepadamu?"
" Raras masih belum siap mah, apalagi nanti kalau orang tua Raras tau nikah ini hanya sebatas uji coba, aku takut mereka sedih dan kecewa, karena Raras puteri satu - satunya."
Ucap Raras memohon.
" Begitu ya? hemmm.. ya sudah, gimana baiknya saja, jadi kapan kamu siap nikah? besok pagi ya?"
Ucap Mirna membuat Raras makin terkejut
" Hah? harus besok banget ya mah? apa ini tidak terlalu cepat?"
Tanya Raras makin panik.
" Tidak, besok waktu yang tepat, besok kan hari sabtu, jadi kamu punya alasan untuk bisa menginap diluar, bilang saja acara kantor gitu, jadi orang tuamu tidak curiga!"
" Orang tuaku tidak curiga, tapi dua sahabatku pasti curiga, mereka selalu nginep dirumahku kalau weekend mah, masak aku ada acara kantor mereka berdua tidak, kita kan satu kantor!"
" Apa kamu juga tidak mau memberitahu kedua temanmu itu?"
" Sepertinya belom saatnya deh mah, mungkin nanti pelan - pelan saja, mereka suka ngomong keceplosan, takutnya ibuk tau dan ayah bisa kumat nanti penyakitnya."
Ucap Raras tidak yakin akan keputusannya.
" Kalau begitu, mamah yang akan meminta izin kepada kedua orang tuamu, dan untuk kedua temanmu, mamah akan kasih mereka tiket liburan sesuai dengan tempat kerjanya, dan kamu juga berlibur tapi ditempat yang berbeda."
" Terserah mamah saja."
Raras sudah pusing memikirkannya.
Author juga pusing ini memikirkan wali nikah Raras, ada yang bisa? hehe..
Jempolll bantu jempolll dong😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 257 Episodes
Comments
Juragan Jengqol
haha.... baru mau nanyain. othor udah duluan tanya 🤣🤭
2024-01-16
0
Juragan Jengqol
kaya nego beli kinderjoy sama anak 🤭🤣
2024-01-16
0
MustikaDyahSukmawati[BundaIke]
Puciyang , Pusying Kelapa Barby , Putcing Bintang 07 Keliling Dunia Seantero Sejagat Raya
2022-02-10
0