Randhi dan Rhiana kembali guys, happy reading ❤️❤️
***
🌟Masih flashback🌟
Clara berjalan keluar dari dalam rumahnya, kepalanya menunduk. Air matanya berderai membasahi pipinya.
Didepan pintu rumahnya, langkahnya terhenti. Untuk terakhir kali ia melihat kearah pintu kamar mama dan papanya.
Clara mengharapkan, pintu kamar itu terbuka. Papa dan mamanya muncul untuk mencegah dirinya, agar tidak pergi dari rumah yang telah didiaminya hampir dua puluh tahun.
Tapi apa yang diharapkannya, tinggallah harapan. Tidak terdengar suara pintu kamar terbuka, suara mama dan papanya mencegahnya untuk tidak pergi.
"Non !" Jelita menghampiri Clara dan mengandeng tangan Clara untuk keluar dari kediaman orangtuanya.
"kemana Clara harus pergi mbak, Clara tidak ingin kembali kerumah itu !" seru Clara.
"Kalau tidak kembali, Non Clara mau kemana ?" tanya Jelita.
"Clara belum tahu " Clara keluar dari halaman rumah orang tuanya.
Koper yang dibawanya ditariknya dengan pelan, ia masih bingung kemana Dia harus melangkahkan kakinya.
Tiba-tiba Clara teringat dengan seseorang yang sangat dikenalnya.
"Non ! mau kemana ?" tanya Jelita, ketika Clara menyetop taksi yang lewat didepannya.
"Clara akan pergi ketempat teman kak Carlo mbak " kata Clara.
"Dimana ?" tanya Jelita.
"Dipinggiran mbak, jauh dari kota " kata Clara.
"Mbak kembalilah, biarkan Clara pergi. Clara tidak sanggup untuk kembali kerumah itu lagi, jangan katakan kemana Clara pergi ," kata Clara, kemudian naik kedalam taxi yang distopnya tadi.
Begitu Clara masuk kedalam taxi, Jelita juga ikut naik kedalam taxi tersebut.
"Mbak !" kaget Clara melihat Jelita ikut masuk kedalam taxi bersama dengan dirinya.
"Ayo jalan pak ." titah Jelita.
"Mbak ingin lihat dimana Non Clara akan tinggal ." sambung Jelita.
Dua jam dalam perjalanan, Clara tiba didepan bengkel. Yang dulu selalu dikunjunginya bersama dengan saudara kembarnya.
"Bang " Clara berdiri di depan yang panggilnya Abang tersebut.
Orang yang dipanggilnya dengan Abang tersebut, menatap Clara dan melihat kearah koper yang dibawa Clara.
Tanpa bertanya, Poltak sudah tahu apa yang terjadi terhadap Clara. Poltak mengambil koper Clara dan membawanya masuk kedalam bengkel.
Belum jauh dari depan, Clara tiba-tiba pingsan. Membuat Poltak dan Jelita kaget.
Poltak berlari mengangkat Clara dan meletakkannya kedipan kecil yang ada dibelakang bengkel.
"Non..Non Clara !" Jelita kaget dan menangis.
"Jangan nangis kau, tolong kau berikan ini kehidungnya " selesai berkata kepada Jelita, Poltak berlari keluar. Dan kembali dengan cepat bersama dengan seorang wanita paruh baya.
"Kenapa dia ?" tanya Bidan yang dipanggil Poltak tadi.
"Pingsan Bu " jelita yang menjawabnya.
Bidan tersebut memeriksa kondisi Clara.
"Tidak apa-apa, setelah bangun nanti. Tolong suruh periksa" Bidan tersebut mengambil benda yang ada didalam tasnya dan memberikannya kepada Jelita.
"Tespek " gumam Jelita.
"Apa ia sudah menikah ?" tanya Bidan dengan menatap Jelita, kemudian beralih menatap wajah Clara.
"Sudah Bu " sahut Jelita.
"Ya sudah, saya kembali dulu. Nanti sudah sadar, suruh periksa. Boleh juga datang kerumah saya " kata bidan.
"Pak Poltak, saya permisi dulu ya. Nanti sadar adeknya, bawa ke rumah saya saja "
"Ya Bu, terimakasih " Poltak melihat Clara.
"Belum sadar ?" tanya Poltak.
"Baru saja bang ," jawab Jelita.
Clara membuka matanya.
"Kenapa Clara mbak ?" tanya Clara kepada Jelita.
"Pingsan kau Ara " Poltak yang menjawab .
"Tadi bidan nyuruh Non Clara periksa" Jelita menyerahkan tespek yang diberikan bidan tadi kepada Clara.
"Apa Clara hamil ?" Clara menatap wajah Poltak dan Jelita.
"Jangan khawatir, periksa saja dulu " kata Poltak.
Dengan dibantu Jelita, Clara bangkit dari dipan dan berjalan menuju toilet kecil yang ada dibelakang bengkel.
"Apa periksanya, bisa disiang hari mbak. Bukannya dipagi hari ?" tanya Clara.
"Mbak nggak tahu Non, nggak pernah megang ini " kata Jelita.
"Coba saja " Clara masuk kedalam.
Hampir lima menit Clara berada didalam.
"Non, bagaimana ?" tanya Jelita dengan tidak sabar.
Tidak ada sahutan dari dalam toilet.
"Non " gedor Jelita.
Ceklek...
Pintu terbuka, ditangan Clara ada tespek.
"Bagaimana ?" tanya Jelita.
"Ini mbak ." Clara menyerahkan tespek kepada Jelita.
"Bagaimana melihatnya, nggak ada tulisan apa-apa ?" Jelita membolak-balik tespek yang berada ditangannya.
"Tanya bang Poltak " Jelita berlari menuju Poltak yang duduk didepan bengkel.
"Bagaimana ?" tanya Poltak kepada Jelita yang menghampirinya.
"Ini bang, tapi nggak tahu apa artinya ," kata Jelita.
Clara datang kedepan dan berkata dengan suara yang pelan.
"Clara hamil ," ucap Clara.
"Apa ?" Jelita dan Poltak kaget.
"Clara hamil, Clara browser di internet cara melihat tespek. Garis dua, Clara hamil ," ujar Clara.
Keheningan terjadi seperkian detik diantara mereka, sampai tiba-tiba Jelita memeluk Clara.
"Jangan sedih, terima ini semua. Ini anugerah terindah yang berikan Tuhan " Jelita mengusap-usap pundak Clara yang menangis dalam dekapannya.
"Apa kau akan kembali ?" tanya Poltak.
"Tidak bang !" jawab Clara.
"Pikirkan bayimu ," kata Poltak.
"Karena memikirkan bayi ini, Clara tidak akan kembali ." tegas Clara.
"Ayo, Poltak mengambil koper Clara dan membawanya"
"Kemana bang ?" tanya Clara.
"Tidak mungkin kau tinggal disini ," jawab Poltak.
Poltak membawa Clara kesatu rumah.
"Tinggallah disini, pikirkan. Apa mau disini selamanya, atau kembali kepada ayah bayi itu " tunjuk Poltak kearah perut Clara.
Hari demi hari Clara berpikir, dan memutuskan ia akan menjalani hidupnya hanya bersama dengan anaknya.
Keputusan Clara, membuat Jelita mengambil keputusan untuk resign dari pekerjaannya dan tinggal bersama dengan Clara.
Dan Clara memakai nama Diana, nama tokoh lagu yang sangat disukai kakak kembarnya.
🌟 Flashback end🌟
Begitulah kenapa Diana/ Clara pergi meninggalkan kedua orangtuanya dan suaminya.
***
Pengumuman pemenang lomba menyanyi sudah diumumkan, Randhi mendapatkan juara ke 2.
Walaupun hanya mendapatkan juara ke dua, tetapi Randhi sangat gembira. Karena begitu keluar dari tempat lomba.
Dua sepeda diberikan oleh pemilik perusahaan kepada dirinya dan adiknya Rhiana.
"Aku yang hitam kak " Rhiana langsung memegang sepeda warna hitam.
"Baiklah ," jawab Randhi.
"Bagaimana kita membawanya ?" bingung Randhi dan Rhiana.
Dalam keadaan bingung, Poltak yang baru saja sampai menghampiri mereka.
"Om Poltak !" seru keduanya dengan memamerkan sepedanya.
"Kalian mendapatkan hadiah sepeda ?" tanya Poltak.
"Ini hadiah ulang tahun Om," sahut Randhi.
"Dan ini hadiah lomba, tapi Randhi hanya mendapatkan juara dua ." sambung Randhi.
"Tidak apa-apa, juara ke dua juga bagus ," kata Poltak.
"Ayo masuk kedalam semua ." titah Bu Evi.
"Sepeda kami bagaimana Bu ?" tanya Randhi yang takut sepedanya ketinggalan.
"Sudah masuk saja, biar sepedanya Om yang urus ," jawab Poltak.
Poltak menyuruh keduanya untuk masuk kedalam mobil yang membawa mereka tadi dari Sekolah Tunas bangsa.
"Aman," ucap Poltak setelah mobil bergerak meninggalkan area parkir.
Dalam mobil, mata Randhi dan Rhiana selalu melihat kearah belakang. Membuat Bu Evi bertanya.
"Apa yang kalian lihat kebelakang ?" tanya Bu Evi.
"Sepeda kami Bu," jawab Randhi.
"Tadi Om kalian bilang akan mengurusnya." Bu Evi menenangkan keduanya.
*
*
*
Bersambung 😘😘🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
susi 2020
😎😎🙄
2023-05-03
0
susi 2020
🤔🤔🤔
2023-05-03
0
Susi Susilawati
sepeda nya di liatin terus sama sikembar, takut ketinggalan. 😁😁😁
anak2 walaupun cuman dikasih sepeda, senang nya luar biasa ya..
2021-08-14
0