Jumpa lagi dengan Randhi dan Rhiana, happy reading guys.
****
Setelah mendapatkan perintah dari Regan, Manuel segera melaksanakan tugas yang diberikan tersebut.
Manuel menghubungi seseorang dan memerintahkan untuk membawa sepeda berwarna biru dan hitam.
""Warna hitam ? warna hitam sulit boss ," jawab orang diseberang telepon.
"Sepeda ini untuk anak kembar sepasang ," kata Manuel.
"Kenapa tidak warna pink untuk anak yang cewek boss ," jawab dari lawan bicara Manuel.
"Jangan pink, menurut pengamatan ku. Yang cewek ini tidak feminim, anaknya sangat sulit untuk didekati. Sangat keras, Dia cocok dengan warna hitam ," kata Manuel sambil mengamati Rhiana dari kejauhan.
"Ok boss, saya akan cari yang warna hitam. Walaupun sangat sulit untuk mencari sepeda untuk anak kecil yang berwarna hitam, karena biasanya. Anak kecil itu sangat menyukai warna yang cerah ," kata lawan bicaranya Manuel.
"Kalau tidak ada, kau cat ulang sepedanya menjadi warna hitam ." selesai berbicara, Manuel menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari lawannya berbicara.
Ketika ingin kembali ketempat Dia duduk tadi, langkah Manuel terhenti. Karena menabrak orang yang datang dari dalam menuju keluar.
"Aw...!" wanita yang ditabrak Manuel terjatuh kelantai.
"Maaf..maaf !" ucap Manuel kepada orang yang ditabraknya.
Rambut palsu yang dikenakan wanita tersebut jatuh.
"Rambutku !" teriak Jelita.
Ketika Jelita ingin mengambil rambut palsunya, tangannya sudah didahului oleh tangan Manuel.
"Minta rambutku !" seru Jelita dan melihat wajah orang yang mengambil rambut palsunya.
"Asisten Den Regan !" monolog dalam benaknya Jelita.
"Ini ." Manuel menyerahkan rambut palsu Jelita dan melihat wajah Jelita.
"Aku sepertinya pernah melihat wajah ini, tapi dimana ?" dalam benaknya Manuel.
Jelita langsung menyambar rambut palsunya, dan mengambil kacamata hitamnya yang terjatuh juga. Kemudian bergegas bangkit dan berlari dari hadapan Manuel.
Jelita langsung berlari keluar dari dalam gedung, rencananya dari toilet kembali lagi ketempatnya bersama dengan Diana tadi batal.
Manuel yang sibuk untuk mengingat wajah yang ada dihadapannya, tidak menyadari bahwa Jelita sudah tidak ada didekatnya.
"Pembantu Boss !" seru Manuel, dan melihat kedepannya. Dan wanita yang ditabraknya tadi sudah tidak ada.
"Mana orang itu !" Manuel berlari menuju ke tempat sekuriti, dan memberikan tugas para sekuriti untuk mencari orang dengan ciri-ciri yang ada pada Jelita tadi.
Para sekuriti mencari kesegala tempat, dan orang yang mereka cari sudah tidak ada dalam gedung.
"Pak Manuel, orang yang kita cari tidak ada didalam gedung ini. Sepertinya berhasil meloloskan diri." lapor kepala sekuriti kepada Manuel.
"Ayo kita lihat cctv ." Manuel bergegas menuju ruang kontrol keamanan.
Petugas kontrol keamanan memutar rekaman cctv dan Manuel melihat Jelita berjalan keluar dari dalam gedung dan berada diparkir luar menunggu seseorang.
"Ini Dia !" seru Manuel, dan tidak lama setelah Jelita menelpon. Datang seorang wanita, kemudian wanita tersebut membuka rambut palsunya dan kaca matanya.
"Nyonya Clara !" guman Manuel, dengan ekspresi wajah yang tidak dapat dikatakan senang atau khawatir.
Senang, karena Nyonya Clara masih berada di Indonesia. Khawatir karena ia tidak berhasil menahannya, agar tidak kabur.
"Berikan rekaman video yang berisi wanita ini, dan cari dimana saja keduanya saat berada dalam gedung ini. Setelah ketemu, kirimkan rekamannya ." kemudian Manuel keluar dari dalam ruang kontrol.
"Apa yang dilakukan Nyonya Clara, apa nyonya ingin bertemu boss. Kalau ingin bertemu boss, tidak mungkin Nyonya lari. Dan pembantu Boss yang resign, ternyata ikut dengan Nyonya Clara ." Manuel berbicara sendiri, sambil berjalan untuk bertemu dengan Regan.
Manuel ingin melaporkan kepada Regan mengenai penemuannya tentang Clara, begitu sampai ketempat acara. Manuel melihat Regan sedang melakukan pertemuan dengan juri-juri yang lain.
"Kalau sekarang kukatakan, pasti boss langsung meninggalkan tempat acara. Jika nanti kukatakan, boss akan marah. Ahh..!" Manuel mengajak-acak rambutnya, yang tadinya rapi. Kini berantakan seperti baru tertiup angin.
Manuel memutuskan untuk menunda mengatakan kepada Regan mengenai Clara.
"Moga tidak marah ." guman Manuel.
Diluar, Diana dan Jelita sudah berhasil keluar dari sekitar gedung. Mereka sudah berada di halte, yang sangat jauh dari perusahaan Regan.
"Di, berhenti ! aku nggak sanggup lagi ," ujar Jelita dengan napas yang tersengal-sengal, begitu juga dengan Diana. Wajahnya terlihat pucat dan keringat mengalir deras.
Jelita duduk dikursi halte, tangan mengipas-ngipas wajahnya yang berkeringat.
"Mbak, apa asisten Kak Regan mengenali mbak Jelita ?" tanya Diana.
"Aku tidak tahu Di, mbak gugup. Mbak kabur saja, begitu banyak orang. Kenapa harus bertabrakan dengan asistennya Den Regan ," ujar Jelita .
"Lihat ini, jantung mbak masih berdebar-debar. Untung mbak masih sanggup untuk bangkit tadi ," ujar Jelita.
"Bagaimana dengan anak-anak mbak, bagaimana jika kak Regan mengambil Randhi dan Rhiana ?" panik Diana.
"Di, jangan panik dulu. Nanti dikira orang-orang kita kena rampok, kita pulang dulu. Kita ketempat bang Poltak, mungkin bang Poltak bisa pergi untuk melihat keadaan Randhi dan Rhiana " kata Jelita.
"Ayo mbak Jelita," kata Diana.
"Kita naik taxi saja Di " Jelita menyetop taksi kosong yang melintas didepan mereka.
Begitu tiba didepan bengkel, Diana langsung keluar. Berlari menuju bengkel.
"Bang !" seru Diana.
"Ada apa ?" tanya Poltak.
"Kami ketemu dengan asistennya kak Regan !" kata Diana.
"Sepertinya, asisten Den Regan mengenaliku bang " kata Jelita.
"Terus !"
"Randhi dan Rhiana masih berada disana bang! bagaimana jika kak Regan mengetahui bahwa Randhi dan Rhiana adalah anak-anaknya !" Diana sudah menangis.
"Baguslah, sudah seharusnya Papa nya ikut bertanggungjawab ," kata Poltak dengan santainya.
"Bang !" seru Jelita, karena perkataan Poltak makin membuat Diana menangis.
"Apa yang harus Abang bantu ?" tanya Poltak.
"Tolong Abang pergi ke stasiun TV, tempat Randhi lomba bang. Lihat, apa Randhi dan Rhiana baik-baik saja ," kata Jelita.
"Bang, cepat Abang kesana," ujar Diana .
"Iya, Abang ganti baju dulu. Badan penuh oli begini, nanti Abang tidak boleh masuk juga " Poltak masuk kedalam, tidak lama kemudian. Poltak keluar sudah dalam keadaan bersih.
Kemudian Poltak pergi dengan naik sepeda motor.
"Semoga mereka tidak mengenali Randhi dan Rhiana ," kata Diana.
"Kalau asisten Den Regan mengenali mbak, dan tidak tahu bahwa mbak ada hubungan dengan Randhi dan Rhiana. Kita tidak perlu khawatir Di ," kata Jelita.
"Kak Regan bukan orang yang bodo mbak, Dia pasti mencari tahu. Kenapa mbak ada di perusahaannya, mungkin saja Dia melihat cctv ," kata Diana.
"Iya, kenapa mbak bodo. Itu perusahaan besar, mungkin saja cctv berada di mana-mana. Mungkin dilapangan parkir juga ada !" seru Jelita.
"Mereka pasti melihat kita mbak !" Diana bertambah khawatir.
"Kenapa aku bodo sekali, seharusnya tadi. Aku tidak menunggumu dilapangan parkir ," kata Jelita.
"Semoga saja, dilapangan parkir tidak ada cctv-nya. Kalau ada, semoga saja cctv-nya rusak " Doa Diana.
*
*
*
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
susi 2020
🙄🙄🙄
2023-05-03
0
susi 2020
😘😘
2023-05-03
0
@. mm03
horre...,sdh mau ketemu papa ya sikembar,..ternyata kado yg diminta dikabulkan sama kak author
2021-10-10
0