Ini kisah maju mundur cantik ya, akan ada flashback didalam cerita ini .
***
Randhi berjalan menuju ketempat tukang baso dengan sangat bergembira, berbeda dengan Rhiana yang jalan dengan santai dan sedikit cuek. Ketika orang yang dikenalnya menyapa mereka, Rhiana hanya menampilkan senyum tipisnya.
Sedangkan Randhi, senyumnya terus mengembang dibibirnya.
"Om, kenapa ramai sekali ?" tanya Rhiana yang tidak suka dengan keramaian, Dia lebih suka berada dalam kamarnya. Bermain dengan mainan Lego. Berbeda dengan Randhi yang suka dengan keramaian, dan lebih suka berada di bengkel Poltak. Melihat Poltak memperetelin onderdil sepeda motor yang diperbaikinya.
Begitu tiba di tukang baso langganan mereka, Randhi langsung memesan baso ceker favoritnya.
"Bang, baso ceker dua . Es teh satu ," ujar Randhi dengan bersemangat.
"Kak, mama melarang kita minum es," kata Rhiana.
"Mama tidak ada ," jawab Randhi.
"Oh ya, kalian tidak boleh minum es." Poltak mengingat, keduanya dilarang minum es oleh mamanya Diana.
"Om, Randhi ingin minum es ." rengek Randhi.
"Tidak boleh Randhi, nanti Mamamu dan Bunda Jelita marah kepada Om," kata Poltak.
"Baiklah ." bibir Randhi ngerucut, membayangkan es teh terbang menjauhinya.
***
Ditempat yang berbeda, dan diwaktu yang sama. Seorang pria sedang melampiaskan kemarahannya kepada bawahannya.
Brakk...
Barang-barang yang ada diatas meja, beterbangan akibat kemarahan yang sudah tidak bisa dikontrolnya.
"Apa kerja kalian, untuk mencari seorang wanita saja kalian tidak mampu!" telunjuknya mengarah kepada dua orang laki-laki yang berada dihadapannya.
"Maafkan kami Tuan Regan, sepertinya Nyonya Clara sudah tidak ada di negara ini lagi " ucap anak buahnya.
"Aku tidak mau tahu, kalian harus mencarinya. Walaupun ke ujung dunia, kalian harus mencari Clara, Keluar !" teriaknya kepada kedua pria tersebut.
Sepeninggal kedua pria tersebut, Regan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dia berbaring dan meletakkan tangannya menjadi bantalan kepalanya.
"Wow.. wow...apa yang terjadi, apa ada bencana alam didalam ruangan ini ?" Joseph berdiri didepan meja kerja Regan, matanya melihat barang-barang berserakan dilantai.
"Diam!" ucap Regan, dengan mata yang masih terpejam.
"Sabar Bro, jangan marah-marah." Joseph berjingkat-jingkat melewati barang-barang yang berserakan di lantai.
"Belum ada kabar ?" tanya Joseph sembari dia meletakkan bokongnya kekursi.
"Belum ."
"Apa kau tidak mencari kerumahnya ?" tanya Joseph.
"Sejak Dia pergi dari rumah, Dia tidak kembali pulang kerumahnya," kata Regan.
"Kemana Dia ?" heran Joseph, karena sudah tujuh tahun. Clara pergi dari rumah Regan.
"Aku tidak tahu, orang-orangku juga tidak bisa menemukan dirinya. Sepertinya Dia hilang seperti angin, tidak berbekas ."
"Apakah Dia tidak ada lagi di dunia ini ?" Perkataan Joseph membuat Regan membuka matanya dan duduk.
"Jaga ucapan mu, Dia masih hidup. Dia tidak bisa mati, Dia belum membayar kesalahannya kepadaku dan Amara ." Regan bangkit dan dan menghubungi seseorang.
Tok..tok...
"Masuk ."
Seorang petugas kebersihan masuk, dan terlihat dari wajahnya kaget begitu melihat keadaan ruangan boss besarnya berantakan seperti baru saja mengalami kena gempa.
"Bersihkan semua ." Regan menunjuk kearah lantai.
"Baik Tuan ." petugas kebersihan mulai melakukan pembersihan.
"Ini Tuan ." petugas kebersihan menyerahkan ponsel Regan yang pecah.
Regan menerimanya dan melihat layar ponselnya yang pecah.
"Ponsel yang keberapa rusak dalam waktu sebulan ini ?" ledek Joseph.
Regan tidak menjawab, hanya tatapan matanya yang garang menatap wajah Joseph.
"Sorry.. sorry Bro ." ngekeh Joseph mendapatkan tatapan mata Regan.
"Ada apa kau kesini, Apa tidak ada kerjaan dikantor mu. Sehingga kau bisa santai disini ?" tanya Regan kepada Joseph.
"Aku ini Dosen Bro, tidak setiap hari memberikan mata kuliah," kata Joseph.
"Kau mau menjadi Dosen, agar bisa memandangi mahasiswa-mahasiswi mu kan ?"
"Hidup ini harus di nikmati, jangan dibawa susah Bro. Memandang wajah-wajah yang bening, membuat jiwaku muda kembali. Kau juga harus menikmati hidup Bro, jangan nanti kau bertemu dengan Clara kembali. Dia tidak bisa mengenali dirimu. Karena keriput di wajah mu " kata Joseph.
"Re, bagaimana hubungan mu dengan Sofia. Apa kau akan menikahinya ?" tanya Joseph.
"Aku sudah menikah, hubungan ku dengannya hanya setahap pertemanan saja ," kata Regan.
"Hanya berteman ? kalian kemana-mana bersama, kalian berdua itu tidak bisa dipisahkan. Apa Sofia juga menganggap dirimu juga hanya teman ?" tanya Joseph.
"Itu terserah Dia, dari mula kami bersama. Aku sudah mengatakan, aku tidak bisa lebih dari teman,."
"Tidak bisa kau mencobanya, untuk memberikan cintamu kepada Sofia. Lupakan Clara, mungkin Dia juga sudah bahagia ." Ucapan Joseph membuat wajah Regan memerah dan rahangnya mengeras.
"Sampai sekarang Dia masih istriku, Dia masih ada utang nyawa dengan ku !"
"Re, itu sudah takdir. Jangan kau lampiaskan kekesalan mu Kepada Clara saja."
"Cukup, aku tidak ingin mendengarkannya lagi." Regan keluar dari ruang kerjanya.
"Hei Broo..!" Joseph berjalan cepat mengikuti Regan yang berjalan dengan langkah panjang.
****
Di jalanan yang sepi, puluhan motor terparkir. Mereka menatap ujung jalan, puluhan pasang mata menunggu sepeda motor siapa yang akan muncul di garis finish terlebih dahulu.
Motor yang dikendarai Diana atau motor yang dikendarai Sandro.
Dari kejauhan sudah terlihat dua cahaya dari dua motor yang berlari diatas rata-rata.
Begitu tiba di garis finish, terlihat motor yang dikendarai Diana terlebih dahulu tiba di garis finish.
"Diana..Diana !" sorak-sorai terdengar dari mulut-mulut yang melihat aksi balap liar tersebut.
Diana menghentikan motornya, dan turun. Diana menghampiri Sandro yang baru saja tiba.
"Sorry, aku menang lagi ." Diana mengulurkan tangannya.
"Kau terlalu hebat untuk dikalahkan," ujar Sandro, sambil menerima uluran tangan Diana.
"Di, ini uangnya. Sepuluh juta. Apa kau tidak ingin mentraktir kami ?" tanya Steven.
"Sorry friend, ada dua mulut yang menunggu uang ini ," kata Diana dan menghidupkan motornya, kemudian motor yang dikendarai Diana melesat meninggalkan area balap liar.
"Di, besok kita balap lagi !" seru Sandro, tetapi tidak ada jawaban dari mulut Diana. Karena motornya sudah melesat jauh.
"Sandro, apa kau tidak malu. Kalah terus dengan Diana ?" tanya Steven.
"Diam mulutmu ." mata Sandro menatap arah motor Diana menghilang.
"Carlo, aku akan melindungi saudara kembarmu. Clara ."
Ingatan Sandro teringat Delapan tahun yang lalu, didepan peti mati temannya. Dia berjanji akan selalu melindungi Clara, walaupun dia tidak bisa mencegah niat Clara untuk menebus kesalahan abangnya yang menyebab satu nyawa melayang dan satu nyawa lagi menjadi cacat.
****
Diana tiba di rumahnya, dan kedua anak kembarnya sudah dalam keadaan tidur. Seperti ini selalu yang ditemuinya, keduanya sudah tidur jika dia pulang kerja.
Diana kerja di bengkel Poltak, dan sesekali melakukan balap liar bersama dengan gangs motor Abang kembarnya dahulu.
Sebenarnya, Poltak sudah mencegah Diana untuk melakukan balap liar. Tapi Diana mengatakan bahwa Dia membutuhkan biaya untuk uang sekolah sikembar. Dan Dia tidak ingin menerima uang cuma-cuma dari Poltak, diluar gajinya.
**Bersambung...
Update seminggu sekali ya, update terus saat Om Richard tamat**.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Defi
Mamah si kembar pembalap ya keren 👍
2023-01-01
0
Khusnul Khotimah
masih nyimak alurnya
2022-03-29
0
Angel of Love
.mulai menangkap alur critanya
2021-10-27
0