Perpisahan sudah pasti akan meninggalkan luka, tapi lebih baik berpisah. Jika bersama membawa duka.
****
Diana memasukkan motornya ke bengkel Poltak, Dia tidak pernah membawa motornya pulang kerumahnya. Sehingga kedua anak kembarnya tidak ada yang mengetahui apa yang dilakukan mamanya saat mereka sudah tertidur lelap.
"Kau balap lagi ?" suara itu membuat Diana kaget, karena Dia mengira tidak ada lagi orang yang berada di bengkel.
"Bang ! kau membuat jantung ini mau lepas dari tempatnya." Diana memegang dadanya.
"Sampai kapan kau melakukan balapan ?" mata Poltak tajam menatap Diana.
"Aku butuh uang bang ," jawab Diana.
"kalau butuh uang, pulanglah. Semarah-marahnya orang tua, jika mereka melihat cucunya sudah tumbuh besar. Kemarahan mereka pasti akan hilang," kata Poltak.
"Tidak bang, aku tidak akan pulang. Permisi bang ." Diana dengan cepat pergi dari bengkel, sebelum Poltak bertanya panjang lebar lagi. Membuat dia mengingat kedua orang tuanya.
"Dasar keras kepala, jika Carlo masih ada. Dia pasti sudah menjewer telingamu. Tetapi jika Carlo masih ada tidak mungkin kau mengalami ini semua, sampai menghilangkan identitas aslimu ." Poltak berbicara sendiri dan memadamkan penerangan dalam bengkelnya dan kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu saat Diana memasukkan sepeda motornya tadi.
Diana kembali kerumahnya, yang tidak begitu jauh jaraknya dari bengkel. Begitu tiba didepan rumah ia melihat lampu dikamar anak kembar sudah padam. Yang menandakan yang punya kamar sudah pulas masuk kedalam mimpinya.
Dengan pelan-pelan Diana membuka pintu, dan ruang tamu juga dalam keadaan gelap.
Clik...
Tiba-tiba ruangan yang tadinya gelap, kini terang benderang. Dan terlihat sosok wanita yang berdiri didekat sakelar, menatapnya.
"Mbak Jelita !" Diana kaget melihat Mbak Jelita yang berdiri dalam gelap tadi, menunggu kedatangannya.
"Kenapa malam pulang Di ?" tanya Mbak Jelita.
"Banyak kerjaan di bengkel mbak," jawab Diana sembari berjalan menuju dapur.
"Bengkel Poltak kecil begitu, apa sampai larut mengurus pembukuan ," kata Mbak Jelita mengikuti Diana berjalan ke dapur.
"Kau pasti balapan lagi kan?" tanya Mbak Jelita.
"Iya Mbak," jawab Diana dengan jujur, tidak ada yang bisa disembunyikan dari orang yang telah membantunya. Dalam mengurus kedua putra-putrinya.
"Duduklah, kau pasti belum makan kan ?" Mbak Jelita menghangatkan sayur yang sudah dingin kembali.
Diana menarik kursi dan duduk, menunggu mbak Jelita menghangatkan sayur.
"Di, tadi mbak melintas didepan rumah. Sepertinya Tuan Regan sudah lama tidak kembali kerumah ," ucapan Mbak Jelita, membuat Diana melihatnya.
"Untuk apa mbak ke sana ?" tanya Diana.
"Mbak penasaran saja Di, mbak rindu dengan mbok Darmi ." mbok Darmi orang yang membesarkan Jelita, dan sudah dianggap Jelita sebagai keluarga. Karena masih kecil Jelita mulai bekerja di keluarga Barata.
"Mbak, kalau mbak rindu dengan mbok Darmi. Kembalilah, Di tidak apa-apa. Di sudah dewasa mbak, Randhi dan Rhiana juga sudah mandiri ," ucap Diana.
"Tidak Di, mbak tidak akan kembali. Jika mbak kembali, pasti Tuan Regan akan menanyai mbak. Dimana Di tinggal, apa Di mau kembali kepada Tuan Regan ?" tanya Mbak Jelita.
"Tidak Mbak, Di sudah berjanji dengan Tuan Barata dan Nyonya Barata. Bahwa Di hanya menjadi istri Regan, sampai Regan sembuh. Dan Regan sudah sembuh mbak, sudah saatnya Di menghilang." setitik air mata mengalir.
**Flashback**
Di sore yang mendung, Clara memberanikan dirinya untuk menemui Regan dirumahnya. Tetapi Clara tidak bertemu dengan Regan, ia hanya bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Duduklah ." Tuan Barata dan Nyonya Barata menerima kedatangan Clara dengan ramah, membuat Clara semakin merasa bersalah.
Tiba-tiba Clara bangkit dan berlutut di hadapan kedua orang tua Regan, membuat keduanya merasa kaget.
"Hei Nona muda, apa yang kau lakukan. Jangan begini !" seru papa Regan.
"Ayo bangkit, jangan berlutut begini." Nyonya Barata memegang pundak Clara dan mendirikannya dan membawanya duduklah.
"Apa ada masalah, yang bisa kami bantu ?" tanya Tuan Barata.
Clara menundukkan kepalanya, dan air matanya masih mengalir.
"Ceritakanlah, apa kau ada hubungan dengan putra kami ?" tebak Nyonya Barata.
Clara mengangkat kepalanya, dan menganggukkan kepalanya.
"Apa kau hamil?" tanya Nyonya Barata, karena Dia takut putranya telah menghamili seorang gadis diluaran sana.
"Tidak Nyonya." Clara menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah, mama kira putra kita telah mengkhianati amara semasa hidupnya Pa. Walaupun itu mama harapkan. ," kata Nyonya Barata kepada suaminya.
"Tidak mungkin dia menghianati wanita itu, kita saja tidak didengarkannya ," kata Papa Regan.
"Kalau bukan itu, apa masalahnya ?" tanya Tuan Barata.
"Kami yang menyebabkan kecelakaan yang menimpa putra Tuan dan Nyonya ," jawab Clara sembari menundukkan kepalanya.
"Apa !" Nyonya dan Tuan Barata kaget, dan menatap wajah Clara.
"kau mengatakan yang sebenarnya ?" selidik Tuan Barata.
"Iya Tuan, maafkan kami Tuan ," ujar Clara.
"Kami, siapa saja ?"
"Saya dan kakak kembar saya Nyonya."
"Sudah tiga bulan, baru kalian datang minta maaf?"
"Maaf Tuan," ucap Clara.
"kenapa hanya kau yang kesini, kemana kakakmu. Dia tidak orang yang gentleman, tidak mau mengakui kesalahannya." suara Tuan Barata keras.
"Putra kami terbaring, Dia menjadi orang yang cacat dan tidak bisa berjalan. Dan seharusnya Minggu depan Dia menikah dengan kekasihnya, gara-gara kalian yang balapan liar dijalan raya. Putraku dan calon menantu kami meninggal!"
"Maafkan kami Tuan ." Clara mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian ini, kakakmu itu harus berani mengakui kesalahannya."
"Kakak saya tidak bisa mengakui kesalahannya Tuan," kata Clara.
"Oh ya, Dia takut. Makanya ia menyuruh adik perempuannya untuk datang meminta maaf. Sedangkan Dia sedang balapan liar diluar sana !" seru Tuan Barata.
"Pa, sabar. Jangan marah-marah dulu." ingatkan istrinya.
"Papi tidak bisa sabar ma lihatlah. Putra kita mengurung dirinya terus, sedang anak-anak ini tidak merasa bersalah sedikitpun. Kalau Dia gentleman dia akan datang untuk meminta maaf!"
"Kakak saya sudah meninggal Tuan " ujar Clara dengan suara yang lirih.
"Dia tidak bisa datang sendiri untuk meminta maaf." sambung Clara.
"Apa ? kapan ? waktu itu korban hanya putra dan calon menantu saya ," kata Nyonya Barata.
"Waktu itu, kakak saya dan motornya. Terjun ke sungai, sehingga tidak ada yang tahu bahwa ada korban lain."
"Tuan, tolong maafkan kakak saya. Biar Dia tenang di sana ." mohon Clara.
"Sekarang pergilah, saat ini. Saya tidak bisa memikirkan apapun juga" ujar Tuan Barata kepada Clara, sebelum beranjak pergi meninggalkan Clara.
"Jelita..Jelita " panggil nyonya Barata.
"Iya Nyah ." seorang gadis yang berpakaian maid warna biru berlari datang.
"Antar Nona ini keluar." titah nyonya Barata kepada pelayan yang bernama Jelita.
"Ayo Nona " kata Jelita.
"Nyonya maafkan kakak saya !" seru Clara.
"Pergilah, suami saya belum bisa memaafkan kakakmu." Nyonya Barata pergi meninggalkan Clara.
"Ayo Nona, Tuan dan Nyonya tidak akan menemui Nona lagi. Datang saja lagi dua kemudian," kata Jelita kepada Clara.
"Apa mereka akan memaafkan kakakku mbak ?" tanya Clara.
"Mungkin, tapi saya juga nggak tahu juga. Ya Nona coba saja, ayo Nona silahkan pergi. Nanti Tuan dan Nyonya marah, sebentar lagi Tuan Regan pulang dari rumah sakit " kata Clara.
"Mbak, ini nomor telepon saya." Clara memberikan secarik kertas yang sudah dituliskan nya namanya.
"Mbak, jika Tuan dan Nyonya ada dirumah. Tolong kabarin saya ya." Clara kemudian pergi, meninggalkan kediaman keluarga Barata.
...Bersambung guys.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Defi
Clara atau Diana menikah dengan Regan untuk menebus kesalahan kakanya.. kamu tidak tahu Regan kalau telah punya si kembar
2023-01-01
0
fa _azzahra
harus konsen ya gaess baca novel ini.alur nya maju mndur cuantik😁
2021-10-24
1
Sulisida 34
jadi diana itu si clara
2021-10-03
0