**Jumpa lagi dengan Randhi dan Rhiana guys ❤️
Happy reading guys ❤️**
*****
Dalam perjalanan menuju ketempat perlombaan, Randhi duduk diam. Tidak seperti biasanya, Randhi yang ribut dan banyak bicara. Sekarang menjadi anak pendiam.
Berbeda dengan Rhiana, yang biasanya pendiam. Kini banyak berbicara.
"Kak Randhi, kenapa diam. Apa kakak takut ?" tanya Rhiana.
"Bukan takut, kakak menghapal lagu yang akan dibawakan nanti. Takut lupa ," sahut Randhi.
"Ooohh ." Rhiana melihat keluar jendela, dan melihat kearah gedung-gedung yang tinggi.
"Ternyata, dikota gedungnya tinggi-tinggi ya. Didekat rumah kita yang paling tinggi hanya tiga lantai ." Rhiana berbicara sendiri.
Randhi melihat kearah yang dilihat Rhiana.
"Bagus ya, kakak kalau sudah besar. Akan belikan gedung itu untuk mama dan Rhiana ," kata Randhi.
" Bunda ?" tanya Rhiana, karena Randhi tidak menyebutkan Bunda Jelita.
"Ya, Bunda juga ," jawab Randhi.
"Rhiana tidak suka tinggal di gedung bertingkat kak Randhi ," kata Rhiana.
"Kenapa ?" Randhi.
"Bagaimana jika ada gempa, lihat di tv. Jika ada gempa sulit keluar !" kata Rhiana yang sangat suka melihat berita, berbeda dengan Randhi yang tidak menyukai menonton berita. Randhi sangat menyukai dunia balap seperti Diana.
"Benar juga, sudah. Kakak tidak jadi membeli gedung tinggi itu !" ujar Randhi.
Mobil memasuki gedung yang sangat tinggi dan berhenti dilapangkan parkir yang cukup luas.
"Ayo kita turun !" seru ibu Evi, guru yang mendampingi Randhi dan teman-temannya.
Randhi dan Rhiana turun, begitu tiba diluar. Randhi dan Rhiana mendongak untuk melihat Keatas gedung.
"Tinggi sekali ." bisik Rhiana kepada Randhi.
"Ya ." terlihat wajah Randhi yang gugup.
"Ayo kita masuk ," ujar ibu Evi.
"Bu, apakah kita akan naik keatas ?" tanya Rhiana khawatir.
"Ibu juga tidak tahu, kita masuk dulu. Ayo ." Bu Evi berjalan didepan, bersama dengan guru pendamping yang lain. Yaitu Bu Sarah.
"Randhi, aku gugup ," ujar Simon yang mengikuti lomba menyanyi bersama dengan Randhi.
"Sama ," sahut Randhi.
"Kau Rhiana ?" tanya Simon kepada Rhiana yang berjalan dengan memegang tangan Randhi.
"Tidak ," sahut Rhiana.
"Rhiana tidak ikut lomba menyanyi, untuk apa Dia gugup " kata Randhi.
"Kau ikut hanya untuk menyemangati Randhi ?" tanya Sonia kepada Rhiana.
"Iya ," jawab Rhiana singkat.
Begitu memasuki lobby, mereka sudah disambut oleh panitia. Dan mereka diarahkan untuk naik ke tingkat lima .
****
Regan sedang mengamati layar yang ada didinding diruang kerjanya.
Manuel asistennya masuk dengan membawa berkas-berkas yang harus ditandatangani Regan.
"Apa sudah ada perkembangan, dari penyelidik yang baru ?" tanya Regan sembari menandatangani berkas yang diberikan oleh Manuel kepadanya.
"Ada pak, mereka curiga. Nyonya Clara telah Menganti identitas, dengan menggunakan nama palsu !" kata Manuel.
Regan mengangkat kepalanya dan melihat kearah Manuel.
"Karena mereka menyelidiki, tidak ada nama Nyonya Clara menuju luar negeri. Dan Nyonya Clara masih berada di Indonesia, bisa juga Nyonya Clara mengganti namanya dan tinggal diluar pulau." lanjut Manuel.
"Shit..! Pantas, kita tidak menemukan jejaknya. Coba kau selidiki maid yang bernama Jelita, saat Clara pergi. Maid ini juga mengundurkan diri, katanya ia pulang kampung !" titah Regan.
"Baik Pak ." Manuel kemudian keluar dari dalam ruang kerja Regan.
"Kenapa tidak terpikirkan oleh ku,, nama apa yang kau pakai Clara." guman Regan.
Pintu terbuka dari luar, dan Sofia muncul dengan wajah yang cerah. Berbeda pada saat ia keluar terakhir kali dari dalam ruangan Regan.
"Hai Re, mau kah kau makan siang dengan ku ?" tanya Sofia dengan suara yang yang lembut.
Regan menatap kearah jam dinding didalam ruangan kerjanya.
"Kau lihat, jam berapa ini !" tunjuk Regan kearah jam dinding yang dilihatnya tadi.
"Jam 10:35 ," jawab Sofia.
"Kau sudah ingin makan siang jam segitu ?" tanya Regan dengan dingin.
"Ayolah Re, aku tadi tidak sarapan pagi. Lagi pula, ini perusahaan mu. Kau pergi keluar tidak ada yang melarang ," ujar Sofia.
"Aku, dan kau. Apa kau mau makan gaji buta, kalau kau tidak suka lagi bekerja di sini. Silahkan tulis surat pengunduran dirimu, aku tidak suka dengan karyawan yang tidak profesional !" Regan melanjutkan kerja kembali.
Melihat Regan tidak mengiyakan ajakannya, Sofia keluar dari dalam ruangan Regan dengan bergerutu.
Sofia turun kembali kelantai ketempat ia kerja, saat ia keluar dari dalam lift. Jalannya terganggu.
"Kenapa kalian berlarian disini, apa kalian ini taman bermain ?" tegur Sofia kepada Randhi dan teman-temannya, yang baru kembali dari toilet.
"Maaf !" Randhi minta maaf, begitu juga dengan Simon.
"Awas..!" Sofia menyibakkan Randhi dari hadapannya dengan kasar, sehingga Randhi terjatuh.
"Kak Randhi !" Rhiana yang melihat Randhi terjatuh menjadi marah, dan melemparkan jepitan rambutnya yang dipegangnya.
"Kau !" lemparan Rhiana mengenai kepala Sofia, membuat ia berhenti dan memutar badannya.
"Siapa yang melempar ?" Sofia mengambil jepitan tersebut dan berjalan kearah Randhi dan teman-temannya.
"Aku !" Randhi maju kedepan Rhiana.
"Dasar anak nakal !" seru Sofia, dan tangannya terangkat dan ingin melayangkan tamparan kewajah Randhi.
Randhi memejamkan matanya, menunggu tamparan tangan Sofia mendarat di wajahnya.
"Apa yang kau lakukan ?" suara yang keras, beserta cekalan ditangannya. Membuat Sofia kaget dan spontan melihat kearah orang yang memegang tangannya.
"Regan !" seru Sofia kaget.
Regan berada dibelakangnya, dan tangan Manuel memegang erat tangan Sofia. Sehingga Sofia merasakan sakit.
"Kau ingin memukul anak kecil, yang pantas menjadi anakmu !" seru Regan dengan suara yang emosional.
Randhi mendengar ada suara yang marah, membuka matanya. Rhiana meraih tangan Randhi, untuk menariknya mundur.
"Re, mereka anak-anak nakal. Anak-anak yang tidak mendapatkan didikan dari orang tuanya, mereka berlarian seenaknya. Mereka hampir membuat ku jatuh !" adu Sofia.
"Kami tidak berlarian, kami dari toilet. Kami ingin kembali ketempat perlombaan !" seru Randhi yang tidak ingin disalahkan.
"Tante ini, yang jalan sambil ngomel-ngomel !" sambung Simon, yang tadi hanya diam. Sekarang berani bersuara.
"Kalian !" Sofia melotot menatap Randhi dan teman-temannya.
"Anak ini melemparku dengan ini Re !" Sofia menunjukkan jepitan rambut yang berada dalam genggaman tangannya.
"Karena Tante mendorong kakakku, hingga jatuh !" balas Rhiana dengan pandangan mata seperti biasanya, yaitu dingin.
Manuel melihat kearah Randhi dan Rhiana, dan kemudian menatap Regan.
"Duplikat boss masih kecil ." batin Manuel.
"Kau mendorong anak sekecil ini, kau ini sarjana hukum. Kau bekerja dibagian legal di perusahaan ini, sepertinya kami sudah salah menempatkan diri mu di tim legal ." sindir Regan.
"Re !" wajah Sofia bersemu merah, ia malu. Karena Regan meragukan kapasitasnya sebagai anggota tim legal diperusahaannya.
Banyak mata yang memandang kearah mereka, dengan menundukkan kepalanya. Sofia beranjak meninggalkan Regan.
Sepeninggal Sofia, Regan memandang kearah Randhi dan teman-temannya.
"Kenapa kalian berada disini ?" tanya Regan.
"Mereka ini peserta lomba menyanyi antar sekolah pak ." Manuel yang menjawab.
"Sudah, kembali kalian ketempat. Jangan berlarian disini ya. Disini banyak kabel-kabel, nanti kaki kalian tersangkut kabel dan jatuh ," kata Regan.
"Ayo kita kembali tempat acara ." Randhi dan teman-temannya meninggalkan Regan, tetapi tidak dengan Rhiana. Dia menatap Regan dengan tatapan mata yang tajam.
Membuat Regan dan Manuel heran menatapnya.
"Kenapa tidak ikut dengan teman-temannya ?" tanya Regan.
Tetapi Rhiana tidak menjawabnya, dan pergi meninggalkan Regan.
"Ada apa dengan anak itu ?" guman Regan, dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karena insiden yang dilakukan Sofia.
*
*
*
Bersambung guys ❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
susi 2020
😘😘😍
2023-05-03
0
susi 2020
😎😎😎
2023-05-03
0
Mimi Jamileh
ga da feeling gitu apa rega?
2021-10-24
0