Jumpa lagi dengan author, dengan karya baru. Semoga reader suka ya.
***
Tepukan dibahunya membuyarkan lamunan Diana.
"Iya Mbak Jel ." Diana kaget.
"Hei..ngelamun saja, makan dulu. Nanti naik asam lambungnya," ujar Jelita.
Diana mulai menyuapkan nasi kedalam mulutnya, dan Jelita terus menatap wajah Diana.
"Di, kau tidak rindu dengan mama dan papamu. Mereka pasti rindu dengan mu Di ," kata Jelita kepada Diana.
Diana menghentikan makannya, dan menghela napas panjang.
"Siapa yang tidak rindu dengan kedua orangtuanya, Mbak ?" kata Diana .
"Kembalilah, kunjungi mereka. Sudah tujuh tahun Di ," ucap Jelita.
"Tidak terasa ya mbak, sudah tujuh tahun. Sebentar lagi ulang tahun Randhi dan Rhiana."
"Apa kita rayakan seperti tahun-tahun sebelumnya, berkunjung ke makam uncle Carlo ?" tanya Jelita.
"Iya Mbak, kita ketempat kak Carlo ," ujar Diana dengan perasaan yang sedih, jika mengingat kakak kembarnya yang telah terlebih dahulu mendahuluinya.
"Kak Carlo duluan lahir, dan duluan juga pergi." perkataan Diana membuat mata Jelita juga ikut berembun.
Jelita bangkit dan menghampiri Diana dan mengusap-usap pundaknya.
"Sudahlah Di, jangan bersedih lagi. Nanti sikembar bangun, dan melihat kau bersedih. Mereka akan tertanya-tanya ."
"Bagaimana mereka hari ini Mbak ?' Diana menanyakan perkembangan kedua buah hatinya.
"Biasa saja Di, tadi mereka cepat pulang. Sedangkan mbak masih ke pasar, mereka kelaparan. Untung bang Poltak membawa mereka makan, kau tahu kan. Randhi itu tidak bisa menahan lapar, padahal waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi. Perutnya sudah minta di isi lagi ," kata Jelita.
"Dia berbeda dengan Rhiana Mbak, kalau Rhiana bisa menahan lapar."
"Rhiana juga pendiam dan acuh dengan sekitarnya, sepertinya Rhiana mengikuti sifat Den Regan ya ," ucap Jelita dengan menyebutkan nama papa Randhi dan Rhiana.
"Hups..! maaf Di, mbak lupa ." Jelita menutup mulutnya.
"Tidak apa-apa mbak Jel, Dia memang keturunannya. Lihatlah wajah mereka berdua, semua mengikuti orang itu. Hanya Randhi yang mengikuti sifat Diana, sedikit nakal ," ujar Diana dengan sambil tertawa.
"Iya, seharusnya. Randhi mengikuti sifat orang sana, ini kenapa terbalik. Sang putri yang dingin dan datar, seperti cerita dalam film saja." Jelita tertawa membayangkan sifat Rhiana yang pendiam dan dingin dengan lingkungan masyarakat sekitarnya, berbeda dengan Randhi. Yang terlalu ramah, sehingga masyarakat sekitarnya banyak yang mengenal dirinya.
Diana ingin mengangkat piring bekas makannya, tetapi Jelita mencegahnya.
"Sudah, biar mbak saja. Istirahatlah, besok Minggu. Mau mbak masak kan apa ?" tanya Jelita dari dapur.
"Besok kita makan diluar saja Mbak, Minggu kita istirahat. Hari ini Di lagi banyak uang ." Diana mengeluarkan uang dari saku jaketnya.
"Di, jangan balapan lagi ya. Mbak ingin berjualan di pasar, itu bisa menjadi pemasukan keuangan kita ," kata Jelita sembari berjalan mendekati Diana.
"Balapan itu juga hobby Di mbak, dengan balap. Di merasa kak Carlo masih bersama Di, bukan demi uang saja Di melakukan balapan ," ujar Diana sebelum menghilang masuk kedalam kamar Rhiana dan Randhi.
Diana berhenti didepan tempat tidur Randhi dan Rhiana.
"Kalian sudah besar, dua Minggu lagi kalian genap berusia 7 tahun ." Diana duduk disisi pembaringan putra-putri kembarnya.
"Jika Dia tahu keberadaan kalian berdua, apa ia mau menerima kalian," ucap Diana.
Diana teringat kembali dengan pertemuan selanjutnya dengan Tuan Barata dan Nyonya Barata.
Pertemuan yang tidak Diana ingat lagi, sudah berapa kali dirinya datang untuk menemui Tuan dan Nyonya Barata. Dan dirinya kembali dengan kekecewaan, karena Tuan dan Nyonya Barata tidak keluar menemuinya.
🌟Flashback 🌟
Hampir lima belas menit, Clara menunggu kedatangan Tuan dan Nyonya Barata. Tapi mereka tidak kelihatan muncul menerima kedatangannya.
"Non, sepertinya Tuan dan Nyonya tidak akan turun. Kembalilah ," ucap maid yang bernama Jelita.
"Tidak Mbak, saya akan terus menunggu ," kata Clara.
Clara mengangkat kepalanya dan melihat kedatangan Tuan dan Nyonya Barata.
Clara langsung berdiri dari duduknya, setelah melihat kedatangan orang yang ditunggu-tunggunya.
"Kau sungguh gigih, walaupun kami tidak ingin menemui dirimu ," ucap Tuan Barata.
"Duduklah ." titah Nyonya Barata kepada Clara.
"Kami sudah berunding, kami harapkan. Kau akan melakukan apa yang kami inginkan ," kata Tuan Barata kepada Clara.
"Apa yang Tuan inginkan, akan saya lakukan. Walaupun Tuan dan Nyonya menginginkan nyawa saya, akan saya berikan ," ucap Clara dengan suara yang tegas.
"Kami tidak menginginkan nyawamu, kami hanya ingin kehidupanmu !" ucapan Tuan Barata dengan dibarengi tatapan mata yang tajam menatap wajah Clara.
"Kehidupan ?" Clara menatap wajah Tuan dan Nyonya Barata, dengan tatapan mata yang tidak mengerti. Apa yang diinginkan kedua orang yang berada dihadapannya tersebut.
"Iya, kehidupanmu !"
"Kau tahu, sebelum kecelakaan itu terjadi. Putra kami akan menikah dengan tunangannya, tetapi karena kecelakaan tersebut merenggut calon istrinya. Terpaksa pernikahan tersebut dibatalkan ," kata Tuan Barata.
"Terus, apa yang bisa saya bantu ?" tanya Clara, belum mengerti apa yang diinginkan oleh Tuan dan Nyonya Barata.
"Kau harus menggantikan calon pengantin putra kami !" sambung Tuan Barata.
"Apa !?" kaget Clara mendengar perkataan yang keluar dari mulut Tuan Barata.
"Kau harus menikah dengan putra kami Regan, ditanggal putra kami harusnya menikah dengan tunangannya," kata Nyonya Barata, menimpali ucapan suaminya Tuan Barata.
"Itu tidak mungkin..itu tidak mungkin !" ujar Clara dengan perasaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Kalau kau tidak bisa menyanggupi keinginan kami, maafkan kami. Kami tidak akan memaafkan saudara kembarmu yang telah menghilangkan calon istri putra kami, dan menyebabkan putra kami berada di kursi roda ," kata Tuan Barata.
"Tapi Tuan, bagaimana bisa terjadi pernikahan. Putra Tuan pasti tidak menginginkan pernikahan itu , terjadi" kata Clara.
"Putra kami akan mengikuti keinginan kami, bagaimana ? apa kau akan setuju ?" tanya Tuan Barata.
"Beri saya waktu dua hari Tuan, saya akan berbicara dengan orang tua saya terlebih dahulu ," kata Clara.
"Baiklah .'
Sepulang dari rumah Tuan Barata, Clara menemui kedua orangtuanya yang sedang berada di restoran.
"Ma, Papa mana ?" tanya Clara yang masuk kedalam ruangan, dimana mamanya. Sehari-hari berada, yaitu memantau perkembangan usaha mereka. Yaitu dalam bidang kuliner.
"Papa lagi ke pasar, bahan-bahan untuk restoran sudah menipis," jawab mamanya.
"Tumben papa pergi sendiri, biasanya...." ucapan Clara berhenti, karena ia mengingat. Bahwa biasanya Carlo yang berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk restoran.
"Mama rindu Carlo ," ucap mamanya, kedua tangannya menghapus air bening yang sudah keluar. Tanpa bisa di cegahnya.
"Clara juga rindu ."
Perasaan Clara serba salah, Dia bingung untuk mengatakan bahwa Carlo terlibat kecelakaan bukan sendiri. Ada orang yang meninggal dalam kecelakaan tersebut, tapi Clara takut. Kedua orangtuanya kecewa, karena mereka tidak tahu. Bahwa kedua anak kembarnya, jika diwaktu malam. Kedua orangtuanya sibuk menghitung pendapatan dan pengeluaran restoran milik mereka, kedua anaknya sibuk dengan dunia balapan liar.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
susi 2020
🙄🙄🙄
2023-05-02
0
susi 2020
😔😔😔
2023-05-02
0
Erie
cerita y seru
2021-10-26
0