**Jangan ditiru Randhi ya guys 🙅🙅
*****
Randhi masih dalam posisi ingin meninju anak yang mengejeknya, Rhiana menahan lengan Randhi.
"Lepas Rhi, kakak ingin meninjunya kembali !" seru Randhi.
"kak Randhi, untuk apa kakak melawan mereka itu. Mereka itu anak-anak nakal !" kata Rhiana.
"Mereka mengejek kita, mereka bilang kita tidak punya papa !" seru Randhi.
Mendengar perkataan Randhi, Rhiana menghampiri anak yang babak belur dipukuli Randhi. Mata Rhiana melotot memandangi Faisal.
"Jangan dekat-dekat kau, ku laporkan kau ke papaku !" seru Faisal kepada Rhiana.
"Apa benar, apa yang dikatakan Randhi ? kau mengatakan kami tidak punya papa ?" tanya Rhiana dengan tatapan matanya yang dingin dan cukup mengerikan, membuat anak yang mengejeknya tadi mundur kebelakang.
"Iya ! kalian memang tidak punya papa !" ejek Faisal kembali.
Ejekan Faisal, membuat Rhiana emosi dan ingin melayangkan tangannya kepada Faisal.
"Kau ...!" tangan Rhiana ingin menonjok anak tersebut, tetapi tidak terjadi. Karena terdengar suara guru.
Faisal terselamatkan dengan kehadiran guru, yang dipanggil salah seorang murid.
"Apa yang kalian lakukan ?" tanya Bu guru Marini kepada anak-anak yang berkerumun.
" Itu Bu, Randhi dan Faisal berkelahi !" adu anak yang melihat perkelahian Randhi dan Faisal.
"Kenapa kalian berkelahi ?" Bu Marini melihat wajah Faisal yang sobek bibirnya, akibat pukulan tangan Randhi.
"Bu, Dia memukuliku Bu ." adu Faisal dengan menunjukkan wajahnya yang lembam.
"Randhi, apa yang kau lakukan. Apa kau ingin jadi anak nakal ?" tanya Bu Marini.
Randhi diam saja, matanya masih terlihat emosi menatap wajah Faisal.
"Bu, Randhi tidak bersalah. Faisal mengejek Randhi Bu ," ucap salah seorang murid yang melihat perkelahian antara Randhi dan Faisal.
"Ikut kalian kekantor !"
Bu guru Marini membawa ketiganya kekantor.
Dalam kantor, Bu Marini menghubungi wali murid untuk datang.
Jelita yang mendapatkan panggilan dari sekolah merasa cemas, dan bergegas pergi ke sekolah.
"Randhi, Rhiana. Apa yang terjadi, kalian tidak apa-apa ?" tanya Jelita.
"Mereka berkelahi Bu ." lapor Bu Marini kepada Jelita.
"Randhi ! kenapa berkelahi ?" tanya Jelita.
"Lihat anak saya, bonyok dibuat oleh anak anda. Apa anda tidak mengajarkan kebaikan kepada anak anda !" kata mama Faisal kepada Jelita.
"Ibu jangan main tuduh begitu, kita tanya dulu. Apa penyebabnya mereka berkelahi, tidak akan ada perkelahian jika tidak ada yang memulai !" balas Jelita, yang tidak menerima dengan perkataan orang tua Faisal.
"Begini ibu-ibu, kedua anak ini berkelahi tidak dibenarkan," kata Bu Marini.
"Dia mengejek kami Bunda, Dia mengatakan bahwa kami tidak punya papa !" seru Rhiana dengan menunjuk kearah Faisal.
"Itu memang kenyataan, kenapa marah !" kata mama Faisal.
"Apa ada yang salah, jika mereka tidak mempunyai papa sekarang ini? ingat ! karma itu bisa terjadi, bisa-bisa papa kalian meninggal seperti papa kedua anak ini !" seru Jelita.
Perkataan Jelita membuat mama Faisal tertegun dan wajahnya pucat pasi.
Melihat wajah mama Faisal yang pucat, membuat Jelita senang.
"Memang, Randhi memukul putra ibu salah. Tapi putra ibu juga salah, apa ibu tidak pernah mengajari putra ibu agar tidak menghina orang yang tidak mempunyai orang tua ?" tanya Jelita.
"Kau ini, kenapa nakal sekali. Membuat mama di ceramahi !" mama Faisal mencubit Faisal dan menjewer telinganya.
"Ibu, sudah ! jangan melakukan itu. Apa yang ibu lakukan, akan membuat putra ibu makin tidak bisa diatur ," kata Bu Marini.
"Maaf ," ujar mama Faisal.
"Permisi Bu, saya ingin membawa anak saya pulang !" Faisal diseret mamanya untuk pulang.
Sepeninggal Faisal dan ibunya, Jelita berbicara dengan Randhi dan Rhiana.
"Sekali lagi, jika ada yang mengejek kalian. Jangan dilawan, tinggalkan saja. Mengerti ?" tanya Jelita kepada keduanya.
"Mengerti bunda," sahut Randhi dan Rhiana dengan menundukkan kepalanya.
"Apa mereka saya bawa pulang Bu ?" tanya Jelita.
"Tidak usah Bu, mereka tidak ada yang luka ," jawab Bu Marini.
"Ingat, belajar yang rajin. Jangan berkelahi lagi ," ucap Jelita sebelum meninggalkan ruangan guru.
"Randhi, Rhiana. Ingat ya. Jangan gunakan kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan, kalau ada yang menganggu kalian. Laporkan kepada guru ya ," kata Bu Marini.
"Baik Bu ," jawab Randhi dan Rhiana.
"Sudah, kembali kekelas ." perintah Bu Marini.
"Kenapa Bu ?" tanya Bu guru yang baru masuk kedalam ruangan guru.
"Faisal, mengejek Randhi dan Rhiana," kata Bu Marini.
"Faisal anak kelas dua ?"
"Iya ," jawab Bu Marini.
"Anak itu memang nakal."
"Dibuat babak belur dipukuli Randhi ," kata Bu Marini.
"Faisal yang gede begitu, kalah melawan Randhi anak kelas satu. Randhi kecil begitu !"
"Kecil-kecil cabe rawit, kalau sudah tersinggung. Langsung ganas, walaupun anaknya kecil ," ujar Bu Marini.
****
Perkelahian yang dilakukan Randhi sampai ke telinga Diana, saat berada dibengkel. Seorang orang tua teman sekolah Randhi yang mengatakannya kepada Diana.
"Diana..Diana !" panggil seorang kepada Diana dengan suara yang nyaring.
"Oalahh...! kenapa suaramu nyaring sekali Susan, makan apa kau pagi tadi. Atau ada toa dalam mulutmu itu ?" tanya Poltak yang sedang ngaso, dan merasa terganggu dengan suara nyaring Susan.
"Bang mana Diana ?" tanya Susan, matanya celingukan mencari keberadaan yang dicarinya.
"Keluar, cari makan. Kenapa kau datang? apa kau mau cari kawan ghibah !" ujar Poltak.
"Ihhh Abang, mana pernah aku ngibahin orang bang. Aku cuma ngibahin artis-artisnya bang ," ujar Susan.
"Artis itu bukan orang ya ?" tanya Poltak.
"Oranglah bang, tapi orang yang tidak kita kenal . Lama sekali Diana bang, kemana Diana cari makan ?"
"Ada apa kau cari Diana, apa kau mau menjodohkannya lagi ?" tanya Poltak.
"Hihh..Abang, nggak lah bang. capek aku cari laki untuknya bang, Diana nggak mau. Itu bang, Randhi tadi disekolah berkelahi..!" beritahu Susan.
"Apa...!" teriakan terkejut keluar dari dua mulut, satu dari mulut Poltak dan satu lagi dari mulut Diana yang berdiri didepan bengkel.
"Apa Randhi luka ?" tanya Diana sembari berjalan mendekati Susan duduk.
"Lawannya yang bonyok..!" kata Susan.
"Bagus !" seru Poltak bangga.
"Abang !" melotot Diana menatap Poltak.
"Pasti Randhi di ganggu, kalau tidak diganggu. Dia tidak mungkin marah ," kata Poltak.
"Benar bang, lawannya itu Faisal. Anak kelas dua yang terkenal dengan kenakalannya ," kata Susan.
"Siapa pun lawannya, tidak seharusnya Randhi berkelahi ," kata Diana.
"Apa Randhi dihukum mbak Susan ?" tanya Diana.
"Nggak tuh, Faisal diseret maknya pulang ," ucap Susan.
"Kenapa Di nggak dihubungi pihak sekolah ?"
"Jelita yang datang, sudah beres ," kata Susan.
"Di, jangan marahi Randhi dirumah ya ," kata Poltak.
"Kalau tidak di marahi, nanti keterusan Randhi bang. Buat onar Dianya !" kata Diana.
"Di, Faisal mengejek Randhi karena tidak punya ayah. Makanya Randhi marah, kalau aku tadi menjadi Randhi. Aku akan melakukan hal yang sama."
"Jangan marah Di, bicara baik-baik. Dia baru 6 tahun ," kata Poltak.
"Iya bang ," sahut Diana.
*
*
*
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
susi 2020
😂😂😂
2023-05-03
0
susi 2020
🤣🤣🤣🤣
2023-05-03
0
Mimi Jamileh
pahami anak2mu di
2021-10-24
0