**Jumpa lagi dengan Randhi dan Rhiana.
Happy reading guys ❤️❤️**
****
Randhi dan teman-temannya kembali ketempat acara, sedangkan Rhiana masih mematung memandang kearah Regan.
Pandangan matanya, menatap wajah Regan dengan tatapan mata yang tajam.
"Boss, anak itu melihat boss. Sepertinya ada yang ingin dikatakannya ," kata Manuel kepada Regan.
Regan melihat kearah Rhiana dan berjalan menghampirinya, dan kemudian jongkok untuk mensejajarkan badannya dengan badannya Rhiana.
"Ada apa, apa ada yang sakit dibuat Tante tadi ?" tanya Regan.
Rhiana tidak menanggapinya, dan Dia berjalan meninggalkan Regan yang masih dalam posisi berjongkok.
"'Ada apa dengannya ?" tanya Regan kepada Manuel, seraya bangkit dari posisi jongkoknya.
"Mungkin Dia masih kesal dengan Sofia boss, karena Sofia karyawan sini ," jawab Manuel.
Regan dan Manuel berjalan menuju tempat perlombaan, karena Regan salah satu juri dalam perlombaan tersebut.
Dalam perjalanan menuju tempat acara, sesekali Rhiana menoleh kearah Regan yang berjalan di belakangnya.
Regan tidak mengetahui bahwa Rhiana melihat kearahnya, tetapi Manuel melihat tatapan mata Rhiana yang menatap kearah Regan dengan tatapan yang terlihat aneh.
Randhi dan Simon duduk dibarisan peserta, sedangkan Rhiana duduk dibarisan penonton bersama dengan guru pendamping.
"Rhiana, ayo duduk sini," kata Bu Evi.
"Rhiana disini saja Bu ." Rhiana memilih duduk dibelakang Bu Evi.
"Oke ," jawab Bu Evi, yang mengetahui bahwa anak muridnya yang satu ini. Sangat tidak suka berbaur dengan temannya, berbeda dengan Randhi yang sangat suka bergaul.
Ketika acara perlombaan dimulai, satu persatu peserta dipanggil untuk menyanyikan lagu yang sudah dipilih oleh para peserta.
Rhiana duduk santai mendengar para peserta membawakan lagu, sampai duduknya terganggu dengan kedatangan pria dan langsung duduk didekatnya.
"Hai.." sapa Manuel kepada Rhiana.
Rhiana menoleh tetapi tidak menjawab sapaan Manuel.
"Yang ikut lomba itu saudaramu ?" tanya Manuel.
"Ya ," jawab Rhiana.
"Kenapa tidak ikut lomba ?" tanya Manuel.
"Aku tidak suka menyanyi ," jawab Rhiana.
"Yang mana saudaramu, yang gemuk atau yang imut itu ?" tanya Manuel lagi.
"Yang mirip dengan ku, kami kembar ," jawab Rhiana.
"Pantes, kalian mirip sekali," ujar Manuel.
"Kita sudah lama berbincang-bincang, tapi Om tidak tahu namamu ?" tanya Manuel.
"Rhiana Putri B ." beritahu Rhiana.
"Nama yang bagus, B itu kepanjangan dari apa ?" tanya Manuel penasaran.
"Tidak tahu, mama tidak pernah mengatakannya. Di absensi sekolah juga begitu ," jawab Rhiana.
"Kalian tinggal dimana ?" tanya Manuel lagi.
Rhiana menatap Manuel, dan berkata.
"Kenapa Om bertanya, apa Om seorang wartawan ?" tanya Rhiana, dengan pandangan mata yang penuh selidik.
"Om tidak wartawan, Om ingin tahu saja. Kita kan teman ," kata Manuel.
"Rhiana tidak boleh berteman dengan orang yang tidak Rhiana kenal ." kemudian Rhiana menggeser duduknya, menjauh dari Manuel.
"Matanya, mirip mata boss. Kalau sedang marah ." monolog dalam benaknya Manuel.
Melihat Rhiana bergeser dari dekatnya, Manuel mengurungkan niatnya untuk bertanya kembali.
Pembawa acara memanggil nama Randhi untuk maju kedepan.
"Sekarang kita panggilkan peserta atas nama Randhi Putra B, hei.. ternyata hari ini teman kita ini sedang berulang tahun !" seru host, setelah membaca data-data pribadi Randhi.
"Ayo kita ucapkan selamat ulang tahun kepada Randhi !"
Penonton secara serentak mengucapkan selamat ulang tahun kepada Randhi.
"Ulang tahun keberapa Randhi ?" tanya host tersebut.
"Tujuh tahun, saudara ku juga ulang tahun ," kata Randhi.
"Saudara, kalian kembar ?" tanya host.
"Iya, itu saudara ku !" Randhi menunjuk kearah Rhiana, dengan terpaksa Rhiana berdiri. Setelah hist memintanya untuk berdiri.
"Gadis kecil yang sangat cantik, baru tujuh tahun, saya kira tadi 17 tahun. Maaf adek-adek semua tidak boleh ada yang naksir ya ," goda host, yang melihat Randhi gugup.
Para penonton tertawa mendengar gurauan host, begitu juga dengan Randhi .
"Sekarang Randhi, panggung ini milikmu. Keluarkan suaramu " titah Host.
Mata Randhi menatap kearah Rhiana, dan Rhiana memberikan semangat kepada kakak kembarnya.
Tidak disadari oleh Randhi, ada dua pasang mata yang menatapnya. Dan menunggunya untuk bernyanyi.
Randhi mulai bernyanyi dengan membawakan lagu Rayuan pulau kelapa.
🎶 Tanah airku Indonesia
Negeri Elok Amat ku cinta.
Tanah Tumpah Darahku Yang
Mulia.
Yang ku Puja Sepanjang Masa.
Tanah Airku Aman dan Makmur.
Pulau Ket Yang Amat Subur.
Pulau Melati Pujaan Bangsa
Sejak Dulu kala.
🎶 Melambai Lambai
Nyiur Di Pantai.
Berbisik-bisik
Raja kelana
Memuja Pulau
Nan Indah Permai
Tanah airku
Indonesia.
Mata Diana dan Jelita berembun, saat melihat Randhi bernyanyi didepan Papa.
"Di, mbak sedih melihat Den Regan. Dia tidak mengetahui anak yang bernyanyi didepannya adalah darah dagingnya," kata Jelita, yang mengenakan kacamata dan rambut palsu. Begitu juga dengan Diana, memakai makeup yang tebal dan kaca mata bertengger di hidungnya. Dan rambut palsu menutupi rambut panjangnya.
"Mbak Rhiana mana ?" mata Diana mencari-cari Rhiana, dan Diana dan Jelita kaget. Begitu melihat Rhiana duduk bersama dengan Manuel, yang Diana kenal sebagai tangan kanan Regan.
"Kenapa Dia duduk dekat Manuel !"
"Mungkin, tidak ada kursi lagi Di. Lihatlah penonton begitu membludak," kata Jelita.
Randhi menyelesaikan lagunya, tepuk tangan dari penonton bergema. Randhi tersenyum puas karena telah berhasil menyelesaikan tugasnya.
Rhiana berdiri sembari bertepuk tangan.
"Suara saudara mu sangat merdu, suara mu pasti sangat merdu juga ?" tanya Manuel lagi.
"Suaraku sangat jelek ," jawab Rhiana.
"Oh ya, mungkin suaramu sama dengan suara papamu. Dan suara saudara mu itu sama dengan suara mamamu ," kata Manuel.
"Aku dan saudara ku tidak pernah mendengar suara papaku, Dia tidak ada. Papaku sudah meninggal ," kata Rhiana.
"Maaf ." Manuel meminta maaf kepada Rhiana, karena telah mengungkit-ungkit mengenai papanya.
"Om pergi dulu, boss om memanggil Om." Manuel bangkit, karena Regan melambaikan tangannya kepadanya.
Manuel mendekati Regan.
"Kau belikan sepeda untuk kedua anak yang berulang tahun tersebut, dan berikan kepadanya," kata Regan kepada Manuel.
"Baik pak " Manuel bergegas menjalankan tugas yang diberikan oleh Regan.
Ditempat Diana dan Jelita berada, yaitu dikursi paling pojok. Mata Diana terus menatap kearah Regan, yang sampai saat ini Dia tidak tahu. Apakah statusnya saat ini masih sebagai istri, atau sebagai mantan istri Regan.
"Di, Den Regan makin matang ya. Dan sangat berwibawa ," ucap Jelita, sembari menatap wajah Diana.
"Di, kenapa kau menangis ?" kaget Jelita, melihat airmata mengalir dari kedua sudut bola matanya Diana .
"Tidak apa-apa mbak, mataku ini tidak bisa menahan haru. Melihat Randhi bernyanyi tadi mbak, suara Randhi sangat merdu ," kata Diana
"Itu keturunan papanya Di, Papa nya jago main musik dan bernyanyi. Dulu mbak sering dengar Den Regan bermain piano sambil bernyanyi " kata Jelita.
"Iya mbak, kalau Di. Hanya bisa berbuat onar ." sendu suara Diana.
*
*
*
**Bersambung..
Slow update ya**....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
susi 2020
🙄🙄🙄
2023-05-03
0
susi 2020
🤔🤔
2023-05-03
0
purnama
huuuuaaaaa terharu thor
2021-06-10
2