Pagi menjelang, Arka duduk dan tertidur disisi Amanda yang tengah terbaring. Tangannya masih erat menggenggam tangan wanita itu, sama seperti semalam.
Amanda mengalami beberapa luka robek akibat pecahan kaca dan harus mendapat cukup banyak jahitan. Beruntung tak ada patahan di bagian tubuhnya. Hanya kepalanya saja yang terbentur cukup keras.
Beberapa saat berlalu, Amanda pun bergerak dan perlahan mulai sadar. Ia membuka mata dan melihat sekeliling yang nampak begitu asing. Ia juga menyadari jika Arka tengah berada disisinya.
"Ka."
Suara Amanda terdengar lemah, sayup-sayup Arka pun mendengarnya.
"Ka." panggil Amanda lagi.
Pemuda itu terbangun. Ia terkejut ketika mendapati istrinya telah sadar dan tengah menatapnya.
"Amanda."
Arka mencium lengan wanita itu, dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
"Aku kenapa, Ka.?" tanya Amanda bingung. Arka membelai wanita itu dengan lembut.
"Kamu ditabrak orang, Amanda."
"Terus, anak kita gimana?" tanya Amanda penuh ketakutan.
"Dia gimana, Arka?" ujarnya sekali lagi seakan tak sabar ingin mendengar penjelasan.
"Dia baik-baik aja. Dia nggak kenapa-kenapa sama sekali, dokter bilang gitu ke aku."
Air mata Amanda mengalir demi mendengar pernyataan tersebut.
"Maafin aku." ujar Arka dengan suara terisak. Keduanya lalu berpelukan dan sama-sama menangis.
"Maafin aku juga." ujar Amanda sambil sesenggukan. Arka mengangguk sambil masih terus memeluk istrinya itu.
"Beneran anak kita nggak apa-apa, Ka?. Kamu ngomong gitu bukan buat nyenengin hati aku doang kan?. Dia masih ada di dalam perut aku kan?"
Amanda masih belum percaya. Arka lalu melepaskan pelukannya dan menatap Amanda.
"Coba kamu tenang dan rasain dulu. Masih nggak dia di dalam sana."
Amanda lalu diam, dan ia pun merasakan sebuah getaran di perutnya. Ia tersenyum lalu kembali memeluk Arka.
"Aku takut dia kenapa-kenapa, Ka."
"Nggak, dia baik-baik aja. Dia kuat kayak kamu." ujar Arka.
Amanda kembali tersenyum dengan air mata yang masih mengalir. Sementara Arka terus memeluknya, seakan enggan melepaskan barang sedetik pun. Ia sudah menyesali hal ini semalam suntuk. Ia juga sangat takut jika terjadi apa-apa pada Amanda dan bayi mereka.
***
Dirumah Arka.
"Ti, kenapa ya. Ibu beberapa hari ini mimpi liat mas mu gendong bayi. Dan mimpi ibu itu selalu sama, mas mu gendong bayi yang itu-itu lagi." ujar ibu Arka seraya menuangkan air putih ke dalam gelas.
"Kepengen punya cucu kali ibu." ledek Rianti sambil menyantap makan siangnya.
"Ah kamu ini, mas mu itu masih muda loh. Masa depannya masih panjang, nanti-nanti aja kalau mau nikah. Tunggu keuangan stabil dulu, biar bisa kasih makan anak orang."
"Tapi kan mas Arka udah kerja, bu."
"Kerja di dunia keartisan itu nggak ada yang pasti. Saingannya juga banyak, setiap waktu bisa aja tergeser sama orang lain. Apalagi sekarang jamannya viral-viral. Artis suka kalah sama yang lagi hits."
"Tapi kan sekali dapet duitnya, banyak bu. Tinggal mas Arka-nya aja pinter-pinter manfaatin duit yang dia dapet."
"Iya, tapi ibu belum mau kalau dia nikah muda. Sayang hidupnya."
"Iya sih, Rianti juga nggak mau nikah muda. Sayang, hidup abis disitu doang. Ngurus itu lagi, itu lagi." ujar Rianti.
"Makanya, lebih baik itu pergi dulu ketempat dimana kita mau pergi. Beli apa yang kita mau, intinya nikmatin dan puas-puasin dulu hidup sendiri. Kalau udah nikah mah repot, semua mesti diurusin."
"Iya, bu. Rianti juga pengennya gitu. Habis cowok-cowok sekarang cuma bikin pusing doang."
Ibu Arka tertawa.
"Beneran, bu. Nyebelin semua rata-rata. Ada yang tukang selingkuh, main judi slot, jadi benalu, minus tanggung jawab."
"Makanya kamu hati-hati cari cowok, jangan ngasal."
"Iya bu, Rianti selektif koq orangnya."
"Emang harusnya gitu."
Tiba-tiba ada sebuah telpon masuk di handphone ibu Arka. Wanita itu berbicara panjang lebar dan menitikkan air mata. Namun di sela-sela tangisnya, ia masih sempat tersenyum bahagia.
"Ti, papa sudah dapat donor ginjal yang cocok." ujarnya sesaat setelah telpon berakhir.
"Beneran bu?"
Rianti langsung sumringah. Mata gadis itu kini berkaca-kaca menahan tangis.
"Iya, Ti. Kamu temenin ibu ke rumah sakit ya."
"Iya bu, kalau gitu Rianti siap-siap dulu."
Beberapa saat berlalu, Amanda sudah makan dan meminum obatnya. Kini ia bersandar pada bantal dan mencoba menelpon seseorang.
Sementara Arka baru kembali dari ruangan dokter dan hendak menghampiri wanita itu. Namun tiba-tiba saja, ia menerima panggilan telpon dari ibunya.
"Halo, bu."
"Arkaaa."
"Iya bu, kenapa?" tanya Arka panik.
Ia mengira ibunya tengah histeris, karena berbicara dengan suara keras dan intonasi yang agak panjang.
"Nak, papamu."
"Iya, papa kenapa?" tanya Arka makin panik
"Papamu sudah dapat donor ginjal yang cocok." ujar ibunya kemudian. Seketika wajah Arka pun berubah sumringah.
"Beneran, bu?" tanya Arka pada ibunya.
"Iya beneran, makasih ya nak. Mana udah kamu lunasin lagi semua biayanya."
Kali ini Arka terdiam, ia lalu menatap Amanda yang masih sibuk menelpon. Hati Arka seperti diaduk dan diremas. Ia tidak tahu jika Amanda telah mengurus semuanya. Perasaan makin bersalah pun, kini tengah menyesaki ruang batin pemuda itu.
Betapa tidak, ia telah mencelakai Amanda dan hampir saja membuat jiwa wanita itu terenggut. Sementara di belakang Arka, Amanda terus berusaha memenuhi janjinya.
"Arka."
"Arka, nak."
"I, iya bu. Nanti Arka telpon lagi." ujar Arka masih terus menatap Amanda.
Ia lalu meletakkan handphonenya dan langsung berjalan ke arah Amanda serta memeluk wanita itu. Amanda yang terkejut pun langsung menyudahi panggilan telponnya dan fokus pada Arka.
"Ka, kamu kenapa?" tanya Amanda yang bingung, melihat suaminya tiba-tiba menangis di pelukannya.
"Ka."
"Maafin aku, aku udah mencelakakan kamu dan anak kita kemarin. Aku nggak tau kalau kamu udah urus semua urusan papa aku. Aku ngerasa jadi orang yang nggak tau terima kasih sama kamu."
Amanda baru mengerti. Ia lalu menarik Arka dan mempererat pelukannya.
"Udah, udah!. Nggak usah dipikirin lagi, ya!"
Amanda mengusap kepala pria muda itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Makasih banyak, aku nggak tau harus ngomong apa lagi ke kamu."
"Iya."
Amanda mencium kening Arka. Sementara Arka mengusap air mata dengan tangannya.
"Kalau kayak gini, kamu tuh keliatan masih anak kecil banget." ujar Amanda seraya tersenyum. Arka pun balas tersenyum.
"Kalau kamu mau ke papa kamu dulu, kamu boleh pergi."
"Terus kamu?" tanya Arka.
"Aku nggak apa-apa. Bentar lagi mahasiswa dan mahasiswi ku mau dateng kesini, mau jenguk aku. Jadi kamu nggak usah takut aku sendirian."
"Beneran?"
"Iya, udah kamu sana temuin orang tua kamu dulu. Kali aja ada urusan yang mereka nggak paham. Kalau ada kamu kan, seenggaknya bisa sedikit membantu."
Arka mengangguk. Namun sekali lagi ia memeluk Amanda dan Amanda membiarkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Lela Lela
Makanya harus sayng sm amanda
2023-06-10
2
Delodia Manglapy
amanda kok baik sekali
2022-09-05
0
Hurera cinox'tme
nyaris...... tamat
2022-04-09
0