Selama hampir dua minggu Amanda dan Arka melakukan perawatan, yang telah menjadi wedding package untuk mereka dari event organizer yang disewa oleh Nindya.
Wedding organizer tersebut telah di pesankan oleh Nindya, bahwa mereka tidak boleh mempublikasikan pernikahan antara Arka dan juga Amanda dihalaman sosial media milik mereka.
Karena ini merupakan pernikahan rahasia, dan pihak wedding organizer itu pun menjamin kerahasiaan pernikahan tersebut.
"Kenapa sih, gue harus di dudukin disini segala?" tanya Amanda seraya melihat sebuah gerabah, dengan bara api yang tampak diberi semacam rempah-rempah.
"Ini tuh ratus, Man." jawab Nindya.
"Iya, buat apaan tapi?"
Amanda masih tidak mengerti, apa yang akan dilakukan padanya hari itu.
"Lo kan mau begituan nih nanti, sama si Arka."
"Lah terus hubungannya ini sama itu apa?. Mau dibikin hangus punya gue?"
"Hahaha." Nindya ngakak.
"Ya, nggak sampe hangus juga. Biar nggak bau ikan asin."
"Enak aja, lo. Punya gue nggak bau ya." Amanda membela diri.
"Ye, emang lo pernah cium sendiri?" tanya Nindya.
"Kagak sih."
"Nah, makanya."
"Jadi gue harus ngapain, nih?" tanya Amanda lagi.
"Ya, duduk." jawab Nindya.
"Panas, ah."
"Nggak."
Amanda pun lalu duduk ditempat yang telah disediakan. Mulanya semua tampak baik-baik saja. Sampai kemudian,...
"Apaan lo bilang kagak panas. Panas bego, gila lo ah."
Amanda beranjak.
"Ntar dulu, Amanda."
"Nggak mau, gue batalin aja nikahnya ribet."
Nindya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaan."
***
Bunga-bunga telah tersusun sedemikian rupa di setiap sudut, di pinggir pegangan tangga dan di beberapa tempat yang dianggap memiliki keindahan tersendiri.
Hari itu hati Amanda dan Arka sama-sama bergetar. Perasaan takut dan cemas kini bercampur aduk, memenuhi pikiran dan hati mereka.
"Ri, gue koq takut ya?" ujar Arka pada Rio yang menemaninya didalam kamar.
"Ngapain lo takut?. Kan udah gue ajarin gimana caranya. Cukup dengan, saya terima nikahnya dan bla, bla, bla."
"Bukan soal itu."
"Lah terus?"
"Gue takut salah ngambil keputusan." jawab Arka.
"Sebenernya lo takut kalau Amanda itu jelek dan tua kan?"
Arka terdiam, sejujurnya itu juga yang menjadi ketakutannya kini.
"Inget tujuan utama lo, Ka. Membebaskan orang tua lo dari hutang-piutang, membantu membereskan biaya pengobatan bokap lo sampai sembuh, dan jadi tuan tanah."
Rio tersenyum dan dibalas oleh senyuman Arka yang berisi kelicikan.
Pintu terbuka, Arka merapikan sedikit jasnya lalu turun ke bawah dengan didampingi oleh Rio. Ia menemui orang yang akan menikahkan mereka dan bersalaman dengan orang tersebut. Arka lalu dipersilahkan untuk duduk.
Ketika dirasa semua telah siap, prosesi pun dimulai. Dengan memantapkan hati, Arka menikahi Amanda dengan lancar. Ia mengucapkan ikrar pernikahan, dengan tanpa mengulang sekalipun. Hingga membuat semua orang yang berada di ruangan itu kompak berkata,
"Sah."
Arka menghela nafas lega, begitupula dengan Rio. Sementara disebuah ruangan dikamar lain, Amanda berdiri di muka pintu dengan didampingi oleh Nindya.
"Man, Arka udah selesai. Begitu lo buka pintu ini, lo udah bukan lagi Amanda yang sama. Lo udah jadi istri Arka, walaupun siri. Lo siap?"
Amanda memejamkan mata, menarik nafas lalu mengangguk. Tak lama kemudian pintu kamarnya pun dibuka. Amanda melangkah menuruni anak tangga, semua orang yang ada dibawah melihatnya. Rio terdiam dan menunjuk ke arah wanita itu, seketika Arka pun menoleh.
"Cantik banget, Ka."
Rio berujar tanpa sadar. Sedangkan kini Arka terdiam, hatinya bergetar hebat. Amanda yang ada didalam bayangannya selama ini, ternyata tak seburuk yang ia kira. Wanita itu begitu cantik, dengan kulit putih bersih, cukup tinggi, serta memiliki mata yang sangat indah.
Arka berdiri secara serta merta dan mendekat ke arah wanita itu, hati Amanda sama bergetar. Meskipun ia pernah melihat Arka sebelumnya, namun tidak sedekat ini.
Arka mengulurkan tangannya dengan sedikit ragu-ragu, Amanda balas mengulurkan tangannya dengan gemetar. Kedua tangan itu lalu menyatu dalam genggaman yang cukup erat. Tak lama kemudian, mereka berjalan ke arah dua buah kursi yang telah disediakan. Pada tempat yang dikelilingi dekorasi bebungaan.
Momen tersebut kemudian diabadikan, Rio mengambil foto dan memvideokan mereka. Hingga tanpa sengaja, Rio bertabrakan bahu dengan Liana.
"Braaak."
Keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Rani yang baru keluar dari rumah sakit, datang dengan diantar adik sepupunya menggunakan kursi roda. Ia terkejut dan tak menyangka, jika suami Amanda setampan itu.
"Ganteng ya, Nin." ujar Rani seraya memperhatikan Arka.
"Makanya Amanda ngebet, biar anaknya cakep." jawab Nindya.
Rani dan Nindya sama-sama tersenyum.
"Udah ah, gue mau makan. Makan yuk!" ajak Nindya. Rani pun mengangguk.
"Ka, Ka, foto dulu."
Rio mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri, Arka, dan juga Amanda. Mereka lalu sama-sama tersenyum.
"Cekrek." Foto itu berhasil diambil.
"Ini, Rio." ujar Arka pada Amanda. Wanita itu pun tersenyum dan menjabat tangan Rio.
"Hai."
"Hai, gue Rio temennya Arka."
Amanda lagi-lagi tersenyum. Rio adalah tipikal teman yang tengil, namun sopan.
"Amanda, Arka tadi takut tau."
Rio berseloroh, seakan dirinya adalah teman akrab Amanda.
"Oh ya?" tanya Amanda kemudian.
"Iya, takut lo jelek."
"Ri..."
Arka memperingatkan Rio, sementara kini Rio berlari sambil tertawa-tawa. Arka lalu menunduk karena merasa tak enak pada Amanda. Sementara Amanda sendiri hanya tersenyum.
Acara hari itu berlangsung penuh kebahagiaan, bagi orang-orang yang hadir. Namun bagi Amanda dan Arka, pernikahan yang mereka jalani tetaplah pernikahan di atas kepentingan.
Meski sempat tergetar oleh kecantikan dan ketampanan masing-masing, mereka tak lupa jika pernikahan ini terjadi di atas sebuah kesepakatan. Arka dan Amanda telah menandatangani sebuah perjanjian pernikahan, sehari sebelum acara ini berlangsung.
Tertulis disana bahwa Amanda akan melunasi seluruh hutang keluarga Arka, dan membiayai perawatan ayah Arka sampai selesai. Termasuk membantunya mendapatkan donor ginjal.
Balasannya adalah, Arka memberikan keturunan pada Amanda. Jika Arka pergi dan melanggar perjanjian, maka semua uang yang dikeluarkan Amanda untuk Arka akan dianggap sebagai sebuah sebuah penipuan. Amanda akan menyeret Arka ke polisi.
Malam itu para asisten rumah tangga menyiapkan dinner mewah di balkon kamar yang ditempati Arka. Mulai malam itu para asisten rumah tangga tersebut akan berlibur, dan hanya akan ditinggalkan Arka serta Amanda saja dirumah.
Agar keduanya leluasa melakukan kewajiban sebagai suami istri. Supaya cepat mendapatkan kehamilan yang diinginkan.
Arka menunggu di meja, makanan dan minuman sudah dihidangkan. Tak lama kemudian Amanda datang dan lagi-lagi Arka terpesona.
Istrinya itu mengenakan sebuah gaun merah dengan belahan dada yang berbentuk V rendah. Ia juga menggunakan heels dan lipstik berwarna senada.
Arka pun sempat menelan ludah dan membuang pandangan, ketika akhirnya Amanda duduk dihadapannya. Wanita itu benar-benar menggoda naluri kejantanannya.
Mereka lalu makan sambil berbincang, dan saling bertanya mengenai hal-hal yang mereka tidak saling ketahui.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Amanda pada Arka, seraya menatap lepas ke depan. Mereka saat itu telah selesai makan dan berdiri di bibir balkon.
"Ya, aku suka disini." jawab Arka.
Mereka saling menatap, bahkan untuk waktu yang cukup lama. Hingga beberapa saat kemudian bibir keduanya saling menyatu satu sama lain.
Amanda belum pernah melakukan hal tersebut, sekalipun seumur hidupnya. Namun ia bisa mengimbangi Arka, lantaran sudah menonton banyak film romantis sebelum hari itu tiba.
Tanpa sadar tangan Arka sudah menyentuh semua bagian yang ia inginkan. Nafas mereka terdengar memburu.
Amanda sendiri sempat kaget beberapa kali, ketika Arka menyentuh bagian-bagian tersebut. Karena ia juga belum pernah disentuh siapapun. Ia sempat menepis tangan Arka, namun pemuda itu sedikit memaksa. Hingga Amanda hanya bisa pasrah dan menikmatinya.
Saat semuanya tengah berada dalam situasi yang panas, tiba-tiba Arka menghentikan aksinya. Hingga membuat Amanda terdiam dan kaku ditempatnya berdiri.
"Kalau mau, mintalah dengan memohon."
Arka berbisik di telinga Amanda dengan nada nakal penuh menggoda, kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Sementara Amanda merasa ada yang telah terenggut dari dalam dirinya. Amanda memejamkan mata, antara marah tetapi suka.
Maka ia pun berjalan cepat menyusul Arka dan membalikkan badan pemuda itu. Arka terkejut, Amanda mendapatkan bibir pemuda itu sekali lagi dan kali ini seakan enggan melepasnya.
Gelora jiwa muda Arka pun bangkit. Ia mendorong Amanda kembali ke tempat semula. Ia juga melepas jas dan membuangnya begitu saja ke lantai. Lalu pria itu menanggalkan sisa benang yang masih melekat ditubuhnya, dan mendorong Amanda ke peraduan.
"Braaak."
Amanda kini terlentang di hadapan Arka. Tangan Arka kembali melakukan hal yang sama seperti tadi. Menjelajah ke berbagai arah, lalu ia menghentikannya begitu saja.
"Why?" tanya Amanda dengan emosi tertahan. Ia telah terbuai begitu tinggi, namun Arka menjatuhkannya lagi seperti tadi.
"Mohon!" ujar Arka dengan nada yang penuh arogansi.
Amanda yang terlanjur dikuasai kehendak dan gairah itu pun akhirnya memohon.
"Please Arka, lakukan itu!"
"Aku nggak denger." ujar Arka berpura-pura.
"Please Arka, please!"
Amanda berucap dengan sangat bahkan terdengar seperti hampir menangis. Arka mulai menyibak helaian yang masih melekat pada tubuh wanita itu.
Ia juga menurunkan resleting dan tampaklah sebuah benda yang membuat mata Amanda menjadi terbelalak. Benda itulah yang akan ia gunakan untuk menuntaskan kewajibannya.
"Aaakh."
Amanda berteriak kesakitan, ketika Arka baru saja memulai. Arka lalu diam dan menghentikan sejenak aktivitasnya.
Ia menatap Amanda dan membelainya dengan penuh kasih. Lalu diberikannya wanita itu ciuman yang sangat lembut di bagian bibir. Arka kembali mendorong miliknya secara perlahan.
"Ssshh."
Amanda mulai merasakan sensasi yang tak biasa. Sementara Arka terus berusaha memasukkan lebih dalam. Hingga kemudian, Arka mendapatkan wanita itu dengan sekali hentakan.
"Aaaaa."
Amanda kembali berteriak, Arka memeluk wanita itu untuk waktu yang cukup lama. Hingga tanpa terasa Amanda sendirilah yang bergerak-gerak di bawah sana.
Seakan menginginkan Arka segera melakukan aksi yang lebih seru. Arka pun mengerti dan memberikan hujaman demi hujaman yang diinginkan Amanda.
Mereka terus menyatu dan saling menatap satu sama lain, diantara gelombang rasa yang bercampur aduk. Cinta telah berada ditempat semestinya, menghadirkan sejuta kenikmatan yang tiada tara. Malam kian larut, keduanya terhempas dengan sebuah teriakan panjang.
Untuk pertama kalinya Amanda merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam rahimnya. Ia menatap Arka dan begitupun sebaliknya. Lalu tanpa sadar, keduanya saling berpelukan hingga pagi menjelang.
Entah pernikahan ini sah atau tidak dimata orang lain, mengingat bukan ayah kandung Amanda yang menikahkan mereka. Namun Amanda telah merencanakan semuanya secara matang, hingga jika semua ini menimbulkan masalah di kemudian hari. Ia telah memiliki jawaban untuk menyelesaikan semuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
SCARA HUKUM AGAMA YA GK SAH, KRN AMANDA MSH MMPUNYAI WALI SAH, YAITU AYAH KANDUNGNYA.. DIMATA ORG SAH, DI MATA TUHAN TDK SAH, KRN TDK GUNAKN WALI YG SAH, MRK TTP BRZINAH
PENGHULU ZAMAN SKRG YG PTG DUIT. DIA GK TAKUT TANGGUNG JAWABNYA TRHADAP TUHAN..
2024-08-21
2
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
perawatannya sampe 2 minggu? banyak amat perawatan apa aja tiap hari
2023-11-16
2
Lela Lela
wak waw
2023-06-10
0