"Amanda, percaya sama gue. Arka itu semalem, gue yang nganterin ke rumah ibunya."
Rio mencoba menghalau Amanda yang kini berjalan di sekitaran kampus, dengan mata yang berusaha mencari keberadaan Maureen.
"Gue belum tenang kalau belum ketemu Maureen dan jambak rambutnya dia." ujar wanita itu dengan nada penuh emosi.
"Man, nanti malah ngundang perhatian. Bukannya lo sama Arka mencoba merahasiakan hubungan kalian?" ujar Rio lagi.
"Udah terlanjur kesel gue."
Amanda tetap mencari kesana kemari.
"Mana sih si Maureen?" teriaknya hingga mengundang perhatian sekitar.
Maureen cukup terkenal di kampus, karena perempuan itu merupakan selebgram yang menjadi incaran para laki-laki. Ketika ada seseorang yang mencari Maureen dengan nada marah, apalagi perempuan. Para haters Maureen akan berkumpul, untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Suara lo jangan gede-gede, Man. Pada ngeliatin tuh?"
"Biarin aja, gue mau cari itu cewek." ujar Amanda.
"Belum dateng mungkin."
Mata Amanda menjelajah kesana kemari, namun ia tak mendapati gadis itu. Ia pun beralih ke sisi lain kampus.
"Amanda, lo jangan emosi gitu. Lo lagi hamil. Kalau terjadi apa-apa sama lo, gue harus ngomong apa sama Arka?"
"Biarin, yang penting hari ini emosi gue bisa terselesaikan. Bayi gue akan lebih kasian, kalau ibunya terus-terusan memendam kemarahan."
Amanda kini beralih ke sisi timur kampus. Tiba-tiba Maureen datang dan berteriak.
"Lo nyariin gue?"
Amanda menoleh, puluhan pasang mata kini sontak memperhatikan mereka. Sementara Rio masih berusaha menghalau Amanda.
"Amanda, udah Man."
"Iya, gue nyariin lo. Dasar perempuan gatel, mana Arka?" Amanda balas berteriak.
"Ada apaan tuh?"
Chanti dan Widya yang tak sengaja melintas, melihat keributan itu. Mereka pun melangkah lebih dekat untuk melihat apa yang terjadi. Disana sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi kelas pagi yang berkerumun.
"Kenapa?. Lo kehilangan Arka?" tanya Maureen dengan nada suara yang sengak.
"Arka nginep kosan gue semalem?" lanjutnya lagi.
Amanda terkejut, begitupula dengan Rio. Maureen sengaja untuk membuat Amanda cemburu.
"Dasar perempuan gatel lo."
Amanda mendekat dan menjambak Maureen. Maureen pun tak tinggal diam, ia balas menyakiti Amanda. Sementara kini Rio kalang kabut mendamaikan.
"Udah, udah!."
Rio berusaha keras, namun kedua wanita ini tampaknya memiliki tenaga ekstra. Mereka masih saja saling menyakiti satu sama lain. Sampai Rio pun terkena cakaran kuku panjang Maureen.
Maureen lalu mendorong tubuh Amanda hingga nyaris terjatuh. Beruntung Arka datang dan langsung menyanggah tubuh istrinya itu.
"Amandaaa." teriaknya penuh kekhawatiran.
Semua yang ada disana terkejut dengan kehadiran Arka.
"Sampe dia kenapa-napa karena lo, gue nggak akan segan-segan buat balas nyakitin lo."
Penuh kemarahan Arka berteriak pada Maureen. Gadis itu tersentak, tak disangkanya Arka bisa bersikap sekasar itu padanya. Apalagi Arka menggunakan kata "Lo". Bukan "Kamu" seperti biasanya.
Arka kini membawa Amanda menjauh, sedang Amanda masih penuh dendam pada Maureen. Ia terus saja menatap ke arah mantan pacar Arka itu dengan penuh kemarahan.
"Amanda, udah!"
"Aku belum selesai sama dia, Ka."
"Masuk!"
Arka menyuruh Amanda masuk kedalam mobil. Kebetulan ia masih membawa mobil Amanda, yang semalam sengaja di parkir Rio agak jauh dari rumah orang tuanya agar tak ketahuan sang ibu maupun tetangga.
"Nggak mau." Amanda bersikukuh.
"Masuk!"
Arka berkata dengan nada setengah marah. Akhirnya wanita itupun menurut, ia masuk ke mobil lalu membanting pintu.
"Braaak."
"Nggak usah kayak gitu kamu sama suami. Aku tau kamu lebih tua dari aku, tapi disini aku suami kamu."
Arka mengoceh panjang lebar. Tak lama kemudian Rio mendekat.
"Ka."
"Ri, sorry banget gue telat dateng. Sorry jadi ngerepotin lo." ujar Arka.
Rio tertawa kecil.
"Nggak apa-apa, baru kali ini gue ngeliat lo diributin cewek. Biasanya lo mulu mohon sama cewek."
Arka tak kuasa menahan senyum. Ia yang tadinya marah, kini merasa sedikit reda."
"Ya udah, gue balik dulu ya." ujar pemuda itu.
"Lo ngampus nggak nanti?" tanya Rio.
"Sore aja, noh dia lagi ribet."
Arka menunjuk ke arah istrinya yang ada didalam mobil. Lagi-lagi Rio tertawa.
"Cewek nggak hamil aja serem, bro. Apalagi hamil." ujar Rio lagi. Dan lagi-lagi Arka tersenyum.
"Ya udah gue jalan ya." ujar Arka kemudian.
"Iya, hati-hati." jawab Rio.
Arka masuk ke dalam mobil, ia melihat Amanda yang masih setia dengan ekspresi wajah ngambeknya.
"Ulangi lagi perbuatan kamu yang kayak tadi. Biar semua orang tau kalau aku udah nikah sama kamu. Biar pada ngadu sekalian ke orang tua aku."
"Koq jadi kamu yang marah-marah ke aku sih?"
"Kamu bertindak nggak mikir dulu, kayak anak kecil tau nggak."
"Lagian kamu kenapa nggak pulang?. Kenapa nggak bisa dihubungin?. Aku nggak bisa tidur tau nggak semaleman, pikiran aku kemana-mana."
Arka menghela nafas. Kemarahan yang tadi sudah diujung lidahnya, kini seperti menghilang begitu saja.
"Aku gelisah tau nggak. Ini bukan mau aku, tapi anak kamu. Dia yang bikin aku kepikiran sama kamu. Mikir kamu kecelakaan lah, apalah. Kalau aku nggak hamil, aku bodo amat sama orang. Nggak pernah aku begitu peduli kayak gini sama orang."
Arka kembali menghela nafas lalu menginjak pedal gas. Mobil itu kini merayap meninggalkan pelataran kampus.
"Kamu koq diem?. Tadi kayaknya marah banget. Udah paham kalau kamu salah?" Amanda kembali mencerca sang suami.
Arka masih diam.
"Arka."
"Amanda, aku bingung mau ngomong apa lagi."
"Dari mana kamu semalem?"
"Kamu bakal percaya nggak kalau aku ceritain?"
"Ya tergantung. Kemana kamu semalem?"
"Aku ke bar sama Doni, sama Rio."
"Pasti ada cewek-ceweknya kan?"
"Ada, tapi aku nggak ngapa-ngapain sama mereka. Aku seharian nunggu kamu bales chat aku. Kamu nggak ada bales, ngangkat telpon pun nggak."
"Kenapa nggak samperin aku ke kantor?. Atau pulang ke rumah nungguin aku."
"Doni ngajak aku ke bar, kita udah lama banget nggak kesana. Tadinya aku pikir cuma mau minum dikit, nggak taunya aku keterusan sampe mabok. Rio nganterin aku ke rumah ibu, aku tidur disana."
"Terus kenapa tadi Maureen bilang, kamu tidur di kosan dia."
"Ya kamu pikir dong, dia itu mantan aku. Dia masih suka sama aku. Wajar aja dia ngomong gitu, biar kamu marah. Masa sama trik anak muda kayak dia, kamu nggak bisa baca. Kamu udah jauh lebih dewasa loh."
"Mana aku tau, emang aku punya pengalaman soal hubungan sama orang."
Amanda membuang mukanya ke sisi jalan, Arka lalu menghentikan mobilnya.
"Mau ngapain?" tanya Amanda.
Arka hanya diam lalu pergi keluar, meninggalkan Amanda sendirian di mobil. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah buket mawar merah.
Ia menyerahkan buket itu pada Amanda sambil menatapnya. Amanda terdiam, Arka terus menatapnya sambil mengunyah permen karet.
"Kamu beliin ini buat aku?"
Amanda melihat sepanjang sisi kanan jalan, yang banyak menjual bunga-bunga.
"Nggak, minta koq. Disini serba gratis." ujar Arka sewot.
Amanda tersenyum penuh haru lalu menerimanya.
"Makasih." ujarnya lalu memeluk Arka.
Arka pun mengecup lembut bibir istrinya itu, sambil mengelus perutnya yang mulai kelihatan membuncit.
"Arka." Nafas Amanda sedikit memburu.
"Kenapa?" tanya Arka heran.
"Jangan kayak gitu, akunya jadi."
"Apa?. Pengen?. Ayo!"
"Nggak mau ah, masa di mobil gini."
Arka tertawa.
"Kita jalan lagi ya." ujar Arka kemudian.
Amanda mengangguk.
"Tapi janji dulu. Setelah mesin mobil ini hidup, jangan lagi ngebahas hal tadi." ujar Arka.
"Iya."
Arka pun menghidupkan mesin mobil, Amanda mengunci emosi dan mulutnya. Kemudian mobil tersebut kembali berjalan. Tiba-tiba terdengar sebuah alarm dari handphone Arka.
"Tuh, kamu ada jadwal ke dokter kandungan hari ini." ujar Arka.
Amanda tertegun melihat Arka. Tak disangkanya pemuda itu sampai sebegitu memperhatikan dirinya.
"Kamu sampe catat itu di handphone kamu?" tanya Amanda.
"Emangnya kamu inget, kalau nggak aku catat?" Arka balik bertanya.
Amanda tersenyum sambil memalingkan wajah, entah mengapa hatinya kini seperti meleleh.
"Ka, aku laper." ujar Amanda ketika mereka memasuki kawasan yang begitu banyak street food.
"Kamu mau makan apa?" tanya Arka.
"Pengen soto ayam deh."
"Ya udah, ayo!"
Arka mengajak Amanda makan disebuah tempat yang menjual soto ayam. Disana Amanda makan seperti orang yang kesetanan.
"Amanda."
"Hmm."
Amanda menjawab namun terus makan.
"Pelan-pelan." ujar Arka kemudian.
Amanda tak peduli, ia bahkan sudah menghabiskan semua makanannya ketika Arka belum habis setengah. Arka pun tertawa melihat hal tersebut.
"Ka, aku masih laper." rengek Amanda.
"Hah?. Nasi sama soto segitu banyak, kamu masih laper?"
"Sayangnya iya, hehe."
"Ya udah, nambah gih!"
"Kamu aja, aku malu. Masa cewek makannya kayak porsi Thanos."
Arka kembali tertawa. Ia pun memesan lagi makanan yang sama seperti tadi.
"Ka, mau sate ayam juga. Baunya enak banget."
"Ya udah, aku pesenin."
Arka pun memesan sate ayam.
Ketika pesanan datang, Amanda makan seperti orang yang tidak makan seminggu. Arka pun sampai melongo dan tertawa berkali-kali, meskipun istrinya itu tampak sewot ketika ditertawakan.
"Kenapa sih kamu ketawa-tawa?. Nih anak kamu nih yang bikin aku jadi buas begini. Mana pernah aku makan sebanyak ini seumur hidup."
Amanda menggerutu seraya memakan satenya sekali tiga tusuk. Arka semakin tak kuasa menahan tawa.
"Udah makan aja, ngoceh mulu. Lagian aku juga nggak ngeledek koq, cuma lucu aja liat kamu gini."
"Lucu, lucu. Emang aku grup lawak."
Amanda mengambil lagi satenya, kali ini makan sekali tiga tusuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
KYK HAMIL KMBAR AJA MAKANNYA
2024-08-21
0
Lela Lela
hahaha gembul yg lg hamil
2023-06-10
1
Wahyuwiki
bikin anaknya kembar 3 Thor😆
2022-09-23
0