Arka membawa Amanda pulang ke penthouse, karena itu yang diinginkan oleh wanita tersebut. Para asisten rumah tangga yang biasa bertugas dirumah sudah akan masuk kembali dalam waktu dekat ini. Dan Amanda menginginkan ketenangan di masa awal kehamilannya.
Asisten rumah tangga yang sering bekerja di penthouse pun dipindah tugaskan ke rumah satunya. Karena Amanda sama sekali tak ingin ada orang lain, kecuali dirinya dan Arka.
Ini kali pertamanya Arka menginjakkan kaki di penthouse tersebut. Jujur ia takjub dengan apa yang kini disuguhkan didepan matanya. Bagaimana bisa wanita seusia Amanda sudah memiliki tempat tinggal semahal ini, pikirnya
Dibangun di atas sebuah gedung, dengan pemandangan yang menghadap ke arah gedung-gedung pencakar langit lainnya. Inilah tempat yang selalu di impikan Arka, ia ingin memiliki tempat seperti ini kelak di kemudian hari.
"Kamu istirahat, ya." ujar Arka, usai membaringkan istrinya di atas sebuah tempat tidur. Ia menarik selimut dan menutup sebagian tubuh istrinya itu.
"Arka."
"Hmm?"
"Aku takut."
"Takut kenapa?" tanya Arka heran. Ia kini duduk disisi Amanda.
"Anak ini, sekarang ada dalam diri aku. Terus aku harus gimana dan ngapain?"
Arka menghela nafas dan menatap Amanda dengan lembut.
"Kamu cuma perlu istirahat cukup, makan yang bergizi dan jangan stress. Itu aja setahu aku."
"Jangan tinggalin aku dulu, sebelum anak ini lahir ya, Ka."
Amanda berujar dengan nada penuh harap. Arka tersenyum dengan tulus lalu mengangguk, mencoba meyakinkan wanita itu.
"Aku janji, aku akan mendampingi kamu sampai kamu melahirkan."ujar Arka.
Amanda lalu tersenyum. Namun tiba-tiba Amanda beranjak menuju kloset di kamar mandi. Lalu kemudian,
"Hueeek."
"Hueeek."
Terdengar suara seperti muntah.
"Amanda."
Arka menyusul Amanda lalu mengusap punggung istrinya itu. Hingga Amanda memuntahkan semua yang tadi ia makan. Amanda memencet tombol kloset dan mencoba berdiri, ia pun dibantu oleh Arka.
"Ka, gelap ka." ujar Amanda menutup dan membuka matanya beberapa kali.
Arka membiarkan Amanda diam sejenak. Lalu kemudian menuntunnya kembali ketempat tidur. Arka memberikan bantal agar Amanda bisa bersandar.
"Bentar, aku ambilin minum."
Arka bergegas mengambil air putih dan memberikannya pada Amanda. Wanita itu lalu minum hingga hampir habis.
"Kamu tarik nafas, dan cobalah untuk rileks."
Amanda menuruti ucapan Arka. Setelah ia bisa mengontrol rasa tidak nyaman ditubuhnya, Amanda pun kini dapat berbaring. Rasa mual yang ia rasakan berangsur mereda.
"Ka, apa semua kehamilan kayak gini?" tanya Amanda seraya menatap Arka.
"Setahu aku sih, iya. Menurut beberapa artikel yang sempat aku baca."
"Berapa lama?. Aku rasanya pengen menyerah aja."
"Kamu nggak boleh ngomong gitu. Kan dari awal kamu yang ngebet pengen punya anak. Diluar sana banyak loh, perempuan yang kepengen punya anak tapi nggak bisa hamil."
Amanda terdiam, perkataan Arka ada benarnya. Diluar sana bahkan banyak sekali wanita yang sedang berjuang untuk mendapatkan seorang anak. Tak seharusnya ia menyerah dengan keadaan ini. Di dalam rahimnya kini ada sebuah kehidupan, dan mestinya ia bergembira.
"Sekarang kamu istirahat ya." ujar Arka kemudian.
"Aku laper, Ka."
"Ya udah, aku pesenin makan. Kamu mau makan apa?" tanya Arka.
"Aku mau spaghetti, tapi kamu yang masak. Spaghetti nya ada di belakang."
"Oke, tunggu disini!"
"Bolognese ya, Ka. Sausnya ada di dalam kitchen set, cari aja."
"Iya."
Arka menghela nafas berkali-kali, ketika ia telah sampai di dapur. Mengumpulkan energi kesabaran agar menjadi lebih besar. Ia bisa saja pergi meninggalkan semua ini sekarang, namun lagi-lagi ia tak setega itu.
Terlebih kini Amanda tengah mengandung anak hasil dari perbuatannya. Meskipun anak itu adalah hal yang diminta oleh Amanda dan bukan yang diinginkan oleh Arka sendiri.
Beberapa menit kemudian, Arka tiba dengan makanan yang diminta oleh Amanda. Wanita itu pun tampak sumringah.
"Ayo bumil, makan dulu." ujarnya kemudian. Amanda pun bangun dan menerima makanan tersebut.
"Hmmm, wangi banget." ujar Amanda menikmati aromanya.
"Nggak pengen muntah lagi?" tanya Arka. Amanda menggeleng, lalu mulai mencoba makanannya.
"Arka, ini enak banget." ujarnya kemudian.
"Ya udah, abisin ya!" tukas Arka.
"Kamu nggak makan?" tanya Amanda.
"Nanti, kamu aja dulu."
"Nggak mau, maunya bareng."
Amanda menyuapi Arka dan Arka pun menerimanya. Mereka lalu makan berdua.
"Masih ada nggak, Ka?" tanya Amanda ketika spaghetti tersebut telah habis di dalam piring.
"Masih, mau aku ambilin lagi?"
"Biar aku aja." ujar Amanda.
"Jangan, kamu istirahat aja disini."
"Aku nggak mau, nantinya malah males gerak."
Amanda beranjak, Arka yang khawatir itu pun kemudian mengawasinya. Tak lama setelah itu Amanda kembali dengan jalan yang sempoyongan.
"Tuh kan, sempoyongan gitu."
Arka menyambut tubuh wanita itu, sementara yang disambut malah terkekeh.
"Gelap Ka penglihatan aku." ujarnya.
"Besok kita ke dokter, bilang semua keluhan kamu."
"Iya, tapi yang terpenting sekarang adalah makan dulu. Ayo makan lagi!"
Arka tersenyum lalu mengelus kepala wanita itu. Mereka pun melanjutkan makan sambil berbincang.
***
Di kosan Rio.
"Arka kemana sih?" tanya Doni pada Rio, yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya. Sementara Doni sibuk memetik gitar di atas tempat tidur Rio.
"Sibuk dia, bininya lagi hamil." jawab Rio.
"Udah hamil itu tante-tantenya?" tanya Doni lagi.
"Udah, makanya Arka nggak bisa kemana-mana." jawab Rio.
"Arka terlalu pake perasaan sih, menurut gue ya." ujar Doni sambil menyalakan sebatang rokok.
"Nggak sesuai sama niat dan omongan dia dari awal." lanjutnya lagi.
"Gue sih nggak bisa ngejudge si Arka nya." ujar Rio.
"Kita kan nggak tau, keadaan itu rumah tangga kayak gimana." lanjut Rio lagi.
"Siapa tau aja, emang keadaannya bikin Arka jadi nyaman atau gimana." imbuhnya.
"Ya, tapi kan tetep aja itu pernikahan siri dan kontrak. Harusnya Arka fokus aja di line nya dia sebagai suami bayaran, dan kerja sesuai job desk aja. Dapet duit, itu anak berojol, kelar. Kalau kayak gini terus, Arka bisa kehilangan hidupnya sendiri."
Rio hanya diam, ia tak tahu harus memberi tanggapan apa kali ini.
***
"Arkaaa."
Amanda berteriak di suatu pagi. Arka yang saat itu tengah bersiap pergi ke kampus pun, terkejut dan berlarian ke kamar.
"Kenapa, Amanda?" tanya nya khawatir. Ia takut Amanda terjatuh atau apa.
"Ka, kenapa muka aku jadi banyak jerawat gini?"
Amanda memperlihatkan beberapa jerawat yang timbul di wajahnya. Arka lalu menghela nafas.
"Aku pikir ada benjolan segede telor di wajah kamu." ujarnya kemudian.
"Koq kamu ngomongnya gitu sih?"
"Ya, jerawat doang emang kenapa sih?" tanya Arka heran.
"Ya, aku jelek jadinya."
Amanda meraih sebuah produk skincare dan berniat menggunakannya. Namun dengan cepat Arka menyambar produk tersebut dan melarang Amanda.
"Eh, kamu nggak boleh sembarangan loh." ujarnya.
"Sembarangan gimana?. Emang kamu pikir itu skincare abal-abal?. Itu mahal loh."
"Mau harganya mahal kek, keluaran brand ternama kek. Kalau lagi hamil itu nggak bisa sembarangan pake skincare. Aku pernah lihat video dokter di tiktok." ujar Arka.
"Aturan dari mana?"
"Kalau nggak percaya buka aja tiktok atau cari artikelnya di google. Kamu kan terpelajar, dosen pula. Masa hal kecil kayak gini aja nggak tau."
"Koq kamu jadi marahin aku sih?"
Amanda mengeluarkan senjata pamungkasnya, yakni menjadi pihak yang paling tersakiti dan teraniaya.
Hingga membuat Arka pun tak tega bersikap keras pada wanita itu lebih lanjut. Arka lalu duduk di atas tempat tidur dan menarik Amanda, untuk duduk disisinya.
"Sini, duduk sini." ujar Arka. Amanda pun menurut saja.
"Orang kalau lagi hamil itu, rentan terhadap zat-zat asing dari luar. Karena bisa aja zat tersebut membahayakan si janin."
Amanda menundukkan matanya.
"Lagian kamu mau jerawatan juga tetep cantik koq." ujar Arka.
"Tapi kan menganggu buat aku."
"Iya, nanti kita konsultasi dulu ke dokter. Skincare apa aja yang bisa kamu gunakan dan nggak."
Amanda mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Arka. Arka membiarkan hal tersebut barang sejenak. Ia menoleh dan entah mengapa, ia ingin sekali mencium kening wanita itu dan ia pun melakukannya.
Amanda bereaksi, ia kini mengangkat kepala dan mendekatkan bibirnya ke bibir Arka. Kemudian kedua bibir itu menyatu, hingga menjadi ciuman yang penuh gairah.
Namun kemudian Arka ingat, jika istri sirinya itu tengah hamil pada trisemester pertama. Ia pun menyudahi itu semua lalu bersiap.
"Aku berangkat dulu ya, takut kesiangan. Nanti siang aku mau ketemu papa sama ibu."
Amanda mengangguk, Arka lalu mencium kening wanita itu sekali lagi. Kemudian ia pun beranjak dan pergi meninggalkan kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Ferguzo
so sweet bumil
2025-03-19
0
Buana Buana
seru banget pasangan ini, 👍
2023-11-17
3
Lela Lela
Baik arka itu
2023-06-10
1