"Arka, sampai kapan kamu akan menunggak?"
Staff administrasi kampus kembali memanggil Keenan Arka Adrian dan menagih kewajiban yang harus ia bayar. Tapi kali ini orangnya berbeda dengan yang tempo hari.
Pemuda berusia 22 tahun itu hanya diam. Karena berbagai alasan telah ia gunakan, terhitung sejak hari pertama proses pembayaran itu terlambat. Ia benar-benar bingung kali ini.
"Saya tunggu, paling lambat minggu ini. Saya sudah tidak bisa memberi kamu keringanan lagi." ujar staff tersebut.
"Tapi bu, saya benar-benar belum bisa bayar."
"Kalau saya terus-terusan kasih kamu dispensasi, nggak enak sama mahasiswa yang lain. Coba kamu cari, kampus mana yang bisa seperti ini?. Nggak ada kan?"
Arka diam.
"Di kampus lain kalau mahasiswanya nggak bisa bayar, sistem akan langsung otomatis mengubah status kamu dari mahasiswa aktif menjadi cuti. Disini doang kamu masih bisa dimaklumi. Jadi tolong di usahakan ya."
Arka hanya bisa mengangguk, walaupun itu semua belum tentu pasti. Tak lama kemudian ia pun terlihat berjalan di sepanjang koridor, sambil terus berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang dengan segera.
Dalam kacamata kampus, ia merupakan kaum menengah yang dianggap mampu dan tidak tepat sasaran jika diberikan beasiswa. Padahal kenyataannya kaum menengah juga berjuang untuk mendapatkan apapun.
"Arka."
Seseorang menghampirinya, ternyata Robert. Teman satu manajemen keartisan, yang tempo hari ia gosipkan bersama Doni dan juga Rio.
"Hei, bro. Ada apa?" tanya Arka.
Ia mencoba bersikap biasa saja pada Robert, meskipun pemuda itu adalah saingannya.
"Ntar sore kita semua disuruh ke kantor manajemen. Mbak Arni bilang dia menghubungi lo, Doni, dan Rio. Tapi kalian semua nggak ada yang ngangkat. Kata dia ada banyak project baru, dan para klien mau mengadakan casting di kantor ." ujar Robert.
"Oh, oke. Makasih ya." tukas Arka kemudian.
"Ya udah, gue cuma nyampein itu aja. Jangan nggak dateng, soalnya casting akbar." ucap Robert lagi.
"Oke." jawab Arka.
Robert pun berlalu. Tak lama setelah itu Doni dan Rio datang menghampiri.
"Kenapa tuh anak?" tanya Doni pada Arka. Ia melihat ke arah Robert yang mulai menjauh.
"Dia nyampein pesan mbak Arni, kita disuruh ke kantor manajemen sore ini. Ada castingan." jawab Arka.
"Tumben dia ngasih tau kita." celetuk Rio.
"Halah, palingan juga si Robert nanti mau pamer sama kita. Pasti ntar dia yang di anak emasin sama mbak Arni, pak Philip, dan pak Jeremy. Tau sendiri petinggi manajemen kita pilih kasih kalau soal job. Palingan juga tuh bocah lagi yang dapet." ujar Doni panjang lebar.
"Tapi nggak apa-apa kali, kita dateng aja." ujar Rio kemudian.
"Siapa tau klien ada yang tertarik sama kita." lanjutnya lagi.
"Iya juga sih, kalau nggak dicoba mana kita tau." Arka menambahi.
"Gue nggak ikut ah." Doni agaknya sungkan.
"Ayolah bro, ikut aja." ajak Rio.
"Siapa tau rejeki kita ada disana, ya kan?" imbuhnya lagi.
"Bener, bro. Biar kita ada temennya." timpal Arka.
"Percuma, bro. Robert lagi pasti yang dapet." ujar Doni pesimis.
"Coba aja dulu." Rio berusaha meyakinkan.
Doni seperti berfikir.
"Ayolah!" desak Arka lagi.
"Ya udah deh." Doni menyerah, Arka dan Rio pun jadi sumringah.
"Nah gitu dong." ujar mereka di waktu yang nyaris bersamaan.
Siang itu mereka bertiga mendatangi kantor manajemen Peace Production, yang menaungi mereka selama ini. Dan Benar apa yang dikatakan Robert, hari itu banyak production house yang mengadakan casting disana. Para pesertanya bukan saja berasal dari manajemen itu sendiri, melainkan dibuka untuk umum.
"Arka, Doni, Rio."
Mbak Arni selaku divisi talent Peace Production memanggil ketiga pemuda itu. Ketika mereka tengah celingukan, di tengah keramaian peserta yang lalu lalang.
"Iya mbak." ujar mereka kemudian.
"Sini!"
Mbak Arni membawa mereka kedalam sebuah ruangan.
"Ini, kalian ganti kostum dulu." ujar perempuan itu.
Mbak Arni memberikan tiga setel pakaian, yang sesuai dengan tinggi dan berat badan masing-masing. Tak lama kemudian mereka selesai berganti.
"Tuh kan ganteng." ujar mbak Arni menatap kagum ketiganya. Arka, Doni, dan Rio pun nyengir.
"Tumben mbak Arni perhatian." bisik Doni.
"Biasa, ada maunya." celetuk Rio dengan suara pelan.
"Kan kalau kita terpilih, dia juga yang nge-cut honor kita." lanjutnya lagi.
"Pokoknya casting kali ini, anak-anak manajemen kita harus dapat semua. Entah itu sekedar iklan, peran utama, maupun supporting. Jangan sampe ada yang gagal. Karena event ini diadakan di gedung manajemen kita dan kita harus buktikan, kalau manajemen kita bukan abal-abal." Mbak Arni memberi pesan.
"Oke mbak, siap." ujar Arka seraya melempar senyuman.
"Beres." timpal Doni dan Rio diwaktu yang nyaris bersamaan.
"Kalian langsung aja ke ruangan-ruangan itu. Sambil bawa ini, biodata kalian. Nanti serahkan aja kesana." ujar mbak Arni lagi.
"Masih manual aja " ujar Doni.
"Tau, mereka minta gitu. Good luck ya." ujar mbak Arni
"Oke mbak." jawab mereka serentak.
Mbak Arni memberikan salinan biodata yang sudah di print kepada masing-masing talent nya tersebut.
Tak lama mereka pun keluar dari ruangan itu, lalu bergerak menuju ruangan-ruangan yang dipakai untuk casting. Ada banyak pilihan disana. Seperti iklan, FTV, Film, serta talent untuk acara reality show.
Satu persatu ajang pencarian tersebut diikuti oleh Arka, Doni, maupun Rio. Ibarat kata memancing, lebih baik menaruh umpan di segala tempat. Karena kemungkinan dapat akan lebih besar. Jadilah hari itu mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di sana.
Tiga hari kemudian, Arka, Doni, dan Rio mendapat telpon dari manajemen. Bahwa beberapa klien menginginkan mereka bertiga, untuk ikut penyaringan talent sesi ke dua.
Dua hari setelahnya mereka dipanggil lagi untuk menjalani screen tes, sebelum akhirnya nanti final putusan akan di umumkan. Tentu saja ketiganya kegirangan dan tidak menolak. Seusai pulang kampus, mereka bergegas menuju kesana.
Arka, Doni, dan Rio dipisah. Arka diminta untuk casting ulang iklan produk pembersih rambut, film, dan FTV. Doni dan Rio diminta untuk iklan serta film yang berbeda. Setelah screen tes selesai, mereka pun kembali dan menunggu pengumuman.
***
"Arka, kamu udah dikabarin dari tempat casting?"
Ibunya bertanya di suatu pagi yang dingin. Hujan turun sejak semalam dan masih menyisakan rintiknya pagi ini.
Arka mengerti, pastilah kini ibunya tengah membutuhkan uang tambahan. Meskipun ia tak berani berkata jujur pada Arka.
"Belum, bu. Ibu doain Arka ya bu." ujar Arka kemudian. Ibunya tersenyum tipis namun tulus.
"Pasti, nak. Ibu selalu doain kamu. Ayo makan!"
Arka tersenyum, lalu melahap sarapan paginya yang berupa nasi goreng. Sudah hampir dua bulan ini, sarapan paginya selalu sama. Lantaran sang ibu memang hanya mampu menghidangkan hal tersebut.
Uang mereka sangat terbatas, dan pemasukan ibunya sedikit. Sementara Arka sudah lama tak mendapat tawaran job, dan sang ayah masih terbaring dirumah sakit.
Pagi itu Arka berangkat ke kampus, lagi-lagi ia ditanyai perihal bayaran. Dan untuk kesekian kalinya ia terdiam, karena tak mampu memastikan kapan ia akan bisa membayar. Ia sendiri tak ingin mengajukan cuti, karena sudah sangat tanggung. Sedikit lagi kuliahnya akan selesai.
"Tolong ya Arka, kampus lain nggak ada loh yang pake sistem purba kayak gini. Para mahasiswa di wajibkan membayar sebelum mengikuti perkuliahan di semester berikutnya, kalau nggak cuti otomatis. Tapi kamu pengecualian, kamu diberi keringanan karena surat permohonan yang kamu kirimkan di akhir libur semester kemarin."
Begitulah kata-kata yang ia dengar dari salah satu staf administrasi. Kata-kata yang sejatinya sudah ia dengar sejak sebelum-sebelumnya, namun terus di ulang-ulang.
Hari itu Arka menuntaskan mata kuliah dengan mood yang sedikit berantakan. Jujur soal bayaran ini sangat menyiksa pikirannya. Andai saja ia memiliki uang banyak saat ini pikirnya.
"Arka."
Tiba-tiba setelah sekian hari berlalu, Liana kembali muncul dihadapannya. Jika Liana bukanlah perempuan, mungkin sejak tadi Arka sudah melayangkan pukulan. Saking kesalnya ia pada masalah dalam hidupnya, dan juga pada orang-orang pengganggu seperti Liana.
"Bos lo nggak kapok-kapok juga ya." ujar Arka dengan nada marah, yang berusaha ia tahan. Namun raut kekesalan terlihat jelas diwajahnya.
"Beberapa hari belakangan ini sih, bu Amanda sedikit kapok. Tapi hari ini dia semangat lagi." jawab Liana polos.
"Saya mau menanyakan tawaran saya waktu itu." lanjutnya kemudian.
Arka menghela nafas lalu berjalan meninggalkan Liana. Sementara Liana kini mengikutinya.
"Jadi gimana Arka?. Mau menikah siri dan menghamili bos saya?" tanya perempuan itu.
Kali ini Arka menoleh, karena suara Liana cukup besar. Ia takut banyak yang mendengar dan akhirnya salah paham.
"Bilang sama bos kamu, cari laki-laki lain aja. Saya nggak mau, saya masih punya harga diri." jawab Arka.
"Kenapa sih?. Kan kerjaannya enak loh. Tinggal keluar-masukin doang." ujar Liana.
"Enak, mbah mu." tukas Arka.
"Mbah saya dikampung."
"Bodo."
"Mau ya, Arka."
"Saya bilang nggak ya, nggak."
Arka menjawab dengan nada sedikit membentak.
"Kamu pikirin lagi deh. Kalau kamu sama bos saya, kamu bisa dapat uang banyak. Nggak perlu repot mikirin uang kuliah yang nunggak dan hutang-hutang orang tua kamu yang bejibun itu. Semua bakal lunas dalam sekejap."
Kali ini Arka benar-benar naik pitam. Ia kembali menghentikan langkah lalu menoleh dan mendekat ke arah Liana.
"Denger ya, Liana. Anda dan bos anda sudah terlalu dalam mencampuri urusan kehidupan pribadi saya. Jadi saya minta sekarang stop!. Stop mengejar-ngejar saya, stop stalking hidup saya. Kuliah saya, hutang orang tua saya, bukan urusan dia. Ngerti?"
"Tapi Arka, pikirkan keuntungannya."
"Arrgghh."
"Kamu bisa hidup layak."
Tiba-tiba handphone Arka berbunyi, ternyata mbak Arni.
"Hallo, Arka?"
"Iya mbak."
"Kamu, Doni, dan Rio lulus screen testnya. tolong segera ke kantor, ya."
"Serius mbak?" tanya Arka tak percaya.
"Iya Arka, pokoknya kamu siap-siap ya. Ditunggu sampe jam 8 malem. Pake baju yang keren, oke?"
"Iya mbak, oke. Makasih ya mbak." Arka sumringah.
"Sama-sama." jawab mbak Arni lalu mematikan telpon.
"Gimana Arka?" tanya Liana lagi.
"Nggak." Arka menegaskan.
"Hadiahnya lumayan, loh." Liana gigih.
"Dalam beberapa hari ke depan, saya akan punya uang lagi dan saya nggak butuh uang bos kamu. Jadi, berhenti mengganggu saya. Oke?"
Arka meninggalkan Liana. Kali ini ia menyetop sebuah taksi, agar Liana berhenti mengejarnya.
"Pak jalan, pak." ujar Arka pada si supir taksi.
"Kemana, dek?"
"Jalan permata 3." jawab Arka.
Pemuda tersebut pulang dulu ke rumah untuk berganti pakaian, setelah itu ia pergi kekantor manajemen Peace Production. Disana ia dipertemukan dengan klien dan menandatangani kontrak.
Ia kemudian menjalani proses reading dan syuting selama beberapa hari. Ia didaulat untuk sebuah peran pembantu utama dalam film bergenre romantis. Awalnya ia mengira jika ia mendapat peran utama, namun peran itu ternyata didapat oleh Robert.
Arka agak sedikit kecewa, karena ia merasa antara dirinya dan Robert memiliki bakat yang sama. Hanya saja Robert dinilai lebih tampan oleh orang manajemen maupun klien, lantaran warna kulit dan looknya yang seperti orang Korea. Sehingga nasibnya lebih beruntung dari Arka.
Meskipun Arka juga sangat tampan, namun bagi pihak manajemen maupun klien selama ini, Robert lebih enak dilihat di kamera. Sebab Arka berkulit sedikit taning, sedang pasar sedang heboh dengan oppa Korea. Arka selalu membenci hal tersebut, namun ia sedang butuh banyak uang.
Rasanya tak baik jika menyia-nyiakan kesempatan, meski bukan pemeran utama. Maka ia jalani saja semua itu, lagipula ia juga mendapatkan dua iklan sekaligus dan juga FTV.
Honor dari keempat pekerjaan tersebut jika digabung, maka akan lumayan untuk Arka membayar uang kuliah dan juga membantu ibunya menyicil hutang serta membiayai pengobatan sang ayah tiri.
Arka bernegosiasi, meminta honornya dibayar di muka dan klien pun menyetujui. Ia menjalani proses syuting dengan hati lega, karena uang sudah ditangan.
***
Usai proses syuting yang memakan waktu selama beberapa hari, Arka berniat menemui kekasihnya Maureen. Ia sudah lama tak mengajak gadis itu jalan-jalan, karena belakangan ini ia tidak memiliki uang yang cukup.
Lagipula ia tidak mungkin mengajak gadis secantik Maureen untuk makan dipinggir jalan. Karena sudah pasti Maureen tidak akan mau. Hari ini ia memiliki uang untuk menyenangkan hati kekasihnya itu.
Arka terus berjalan menyusuri fakultas ilmu komunikasi. Ia sengaja tak memberitahu Maureen, karena ingin memberi kejutan. Ditangannya tergenggam sebuah buket bunga mawar merah import kesukaan Maureen.
Arka tahu dimana Maureen sering duduk bersama teman-temannya. Maka ia pun menyambangi tempat tersebut. Arka tersenyum ketika mendengar suara Maureen dari balik tembok, segera saja ia mempercepat langkah.
Namun kemudian sebuah petir menyambar di hati Arka. Tatkala ia melihat kekasihnya itu tengah bergelayutan di bahu seorang laki-laki.
Dan yang lebih membuatnya sakit hati adalah, laki-laki itu tak lain dan tak bukan adalah Robert.
Tubuh Arka seketika lunglai, bunga di tangannya terjatuh begitu saja. Ia kini berbalik arah dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Perlahan ia pun meninggalkan tempat itu.
Arka menelpon Doni dan juga Rio, ia memberitahukan hal tersebut. Kedua temannya sangat marah pada Robert, mereka kini coba menenangkan Arka.
Tak lama setelah itu Arka kembali dipanggil ke ruangan Administrasi, ia diberi waktu tiga hari untuk menyelesaikan bayarannya.
Arka mengatakan jika ia bisa membayar hari ini juga. Segera ia pergi ke ATM untuk menarik sejumlah uang. Namun baru saja tiba di muka ATM, tiba-tiba ia mendapat telpon dari rumah.
Arka bergegas pulang. Ketika sampai dirumah Arka mendapati ibunya yang tengah diintimidasi serta diamuk oleh rentenir. Penuh kemarahan Arka pun akhirnya memberikan seluruh honornya untuk membayar pokok hutang sang ibu.
Dan baru saja masalah itu selesai, tiba-tiba kini pihak rumah sakit menelpon. Mengabarkan jika ayah Arka butuh segera tindakan yang lebih serius, karena sudah mengalami beberapa komplikasi.
Arka begitu kalut menghadapi semua itu. Ditambah lagi kini uangnya hanya tersisa tiga ratus ribu rupiah. Apa yang bisa ia lakukan dengan uang tersebut.
Ia bahkan tak punya tempat untuk meminjam, karena ia sudah tak memiliki jaminan apapun. Hanya rumah yang mereka punya, tetapi itu masih dipertahankan oleh ayah tirinya. Karena itulah satu-satunya milik mereka yang masih tersisa.
Arka terdiam disisi ruang ICU, melihat kondisi sang ayah tiri yang semakin kritis. Ia mencoba berfikir keras, hal apa yang selanjutnya bisa ia kerjakan.
Untuk mendapat tambahan uang, guna memenuhi perawatan ayahnya. Arka benar-benar bingung saat ini. Semua jalan keluar seakan tertutup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Yara
Ayo Arka, terima aja. Hehehe
2025-02-21
0
Sulaiman Efendy
MAKANTA TRIMA TU TAWARAN LIANA TUK NIKAH MA AMANDA
2024-08-21
0
Akatsuki _2x
polos banget ngomongnya 🤣
2023-07-06
1