"Namanya Keenan Arka Adrian, dia seorang aktor, model. Pernah membintangi beberapa iklan, FTV, aktif di fashion show, dan pernah photoshoot untuk beberapa majalah."
Amanda mendengarkan secara seksama, penjelasan seorang asisten rumah tangga yang tengah bertugas di penthouse-nya.
"Itu informasi dari pak Darwis?" tanya Amanda dengan menyinggung perihal peranan sang supir.
Belakangan pak Darwis ditugaskan Amanda, untuk mencari informasi tentang pemuda yang dilihatnya tempo hari.
"Iya." Asisten rumah tangga tersebut menjawab.
"Oke, lanjut!"
"Berasal dari keluarga biasa saja, tinggal di lingkungan yang biasa saja. Pernah sekolah di sekolah yang biasa saja, tidak tau apakah memiliki darah Latin atau tidak. Tinggi sekitar 182 cm, bertubuh atletis, status mahasiswa."
"Wait, mahasiswa?" tanya Amanda tak percaya.
"Bukannya dia dosen ya?" lanjutnya lagi.
"Disini tulisannya mahasiswa, bu."
"Nggak salah liat?" Amanda memastikan.
"Nggak, beneran mahasiswa. Nih, mahasiswa."
Asisten rumah tangga tersebut menunjukkan tulisan yang tertera di catatan pada Amanda.
"Usianya?" tanya Amanda.
"Sekitar 21 atau 22 tahun."
"Hah?. Berapa?"
"Sekitar 21 atau 22."
Asisten rumah tangga tersebut berkata dengan nada keras dan panjang, lantaran mengira jika Amanda budek. Padahal majikannya tersebut hanya terkejut mendengar semua itu.
***
"Aduh gimana ini?"
Amanda mondar-mandir di hadapan Rani dan juga Nindya, beberapa jam setelah mendengar penjelasan dari asisten rumah tangganya. Wajah wanita itu tampak cemas dan juga bingung.
"Ya udah sih, embat aja."
Nindya memberikan saran paling simpel sejagat raya.
"Ih, jangan!" Rani berbeda pendapat.
"Masih muda banget, di umur segitu cowok mana bisa di percaya. Masih bocah dan pasti masih labil." lanjutnya lagi.
"Ran, Amanda itu lagi bukan mau cari suami beneran. Tapi suami sewaan yang bisa bikin dia bun to the ting, alias tekdung."
Nindya membuat gerakan setengah lingkaran di perutnya.
"Jadi ini tuh beneran?. Amanda cuma mau cari cowok yang bisa menghamili dia doang?" tanya Rani.
Amanda dan Nindya kompak mengangguk sambil melebarkan bibir.
"Gila ya kalian. Kasihan tau anak yang bakal lahir nanti, nggak ada bapaknya."
Amanda dan Nindya saling bertatapan, lalu sama-sama menghela nafas.
"Ran, yang kasihan itu kalau si anak lahir dalam kondisi emaknya miskin, dan bapaknya ghosting. Nah ini temen lu si Amanda kan kaya raya. Mau bapaknya tuh anak kagak ada sekalipun, anaknya nggak bakalan kelaparan." ujar Nindya diikuti senyum Amanda.
"Ya tapi kan, anak juga butuh sosok ayah. Nggak sekedar butuh materi doang Nin." Rani membela diri.
"Ya bapaknya masih boleh, kalau mau berkunjung ke anaknya. Amanda nggak akan ngelarang koq. Iya kan Man?" Nindya memastikan.
Amanda mengangguk.
"Tapi kan, lebih enak gitu kalau punya suami. Bisa berkeluh kesah, manja-manja." ujar Rani lagi.
"Pernikahan lo sendiri gimana?"
Kali ini Amanda bertanya, Rani jadi agak terdiam seketika.
"Iya sih, tapi kan Nindya suaminya baik. Ada contoh."
Lagi-lagi Amanda dan Nindya menghela nafas.
"Ran, gue itu nggak mau berumah tangga dalam arti sebenarnya. Satu, karena gue ngerasa itu nggak terlalu perlu. Dua, gue males jadi banyak kewajiban yang harus gue kerjakan. Terutama kewajiban dengerin bacot ipar dan juga mertua. Lagian kan lo sendiri yang awalnya menyarankan gue untuk nikah siri."
"Kan gue bercanda doang, Amanda. Kalau bisa nikah resmi kenapa harus siri?" tukas Rani.
Nindya dan Amanda tersenyum bahkan mereka tertawa kecil.
"Lo hargai aja keinginan Amanda, Ran. Lagipula prinsip dan pandangan hidup masing-masing orang itu kan berbeda-beda. Masih untung Amanda mau menikah siri. Diluar sana banyak yang punya anak, bahkan nggak menikah sama sekali."
Rani hanya diam, ia tak berani membantah apalagi menceramahi Amanda soal pernikahan. Karena pernikahan dirinya sendiri hampir kandas, plus suaminya yang ghosting dan tak memberi nafkah pada anak.
***
Di suatu tempat.
"Ya udah deh, Ka. Gue balik ya."
Rio berpamitan pada Arka, ketika urusan di kampus hari itu telah berakhir. Mereka berpisah di parkiran. Rio menuju mobilnya, sementara Arka kini berjalan ke arah halte bus yang ada di luar.
"Arka?"
Seorang wanita berpakaian rapi ala wanita kantoran menghentikan langkah Arka, yang sedikit lagi sampai ke halte bus.
"Maaf, siapa ya?" tanya Arka kemudian.
Ia memperhatikan orang tersebut sambil mencoba mengenali.
"Saya Liana. Saya orang kepercayaan dari ibu Amanda Marcelia Louis" jawab orang tersebut.
"Amanda Marcelia Louis?. Siapa itu?" tanya Arka heran.
"Nanti juga kamu akan tau."
"Maksudnya?" Arka makin tak mengerti.
"Kamu sedang butuh uang kan?. Untuk menyelesaikan segala masalah yang terjadi di hidup kamu dan keluargamu?"
Arka sedikit terdiam lalu mengerutkan dahi.
"Iya, tapi apa hubungannya?. Anda ini siapa?. Amanda itu siapa?"
Pemuda itu benar-benar bingung.
"Atau kalian pemilik aplikasi pinjaman online ilegal?"
Tiba-tiba saja ia berspekulasi demikian.
"Kalau iya, saya nggak berminat. Soalnya debt collector kalian suka barbar dan sebar data, kalau telat bayar." lanjutnya lagi.
"Amanda itu adalah wanita yang bisa menyelesaikan semua masalah keuangan kamu. Kamu cukup bertemu dia hari ini. Apa kamu punya waktu?"
Arka merasa ini begitu aneh, mendadak ia menjadi penuh curiga kepada wanita bernama Liana itu.
"Ini sebenernya kenapa sih?. Maksudnya apa?. To the point aja." ujar Arka.
"Bu Amanda ingin kamu menikah siri sama dia."
Arka kembali mengernyitkan dahi.
"What, menikah siri?" tanya nya kemudian. Ia kaget mendengar semua itu.
"Iya, kamu cukup menikahi dia secara siri, memberikan dia kehamilan dan menunggu sampai dia melahirkan. Setelah itu kamu mau minta bayaran berapapun, dia akan kasih."
"Apa-apaan sih?"
Arka masih tak mengerti dengan ucapan Liana. Ia makin menganggap wanita itu sebagai orang aneh.
"Oh ya lupa, ada uang mukanya koq. Sebesar 100 juta." ujar Liana.
Kali ini Arka menghela nafas.
"Mbak, saya memang sedang berada dalam masalah yang serius. Tapi saya tidak punya waktu untuk berbicara dengan orang asing, dan membicarakan hal yang tidak masuk akal seperti ini. Jangan jadikan masalah hidup orang sebagai bahan candaan."
Arka kemudian berlalu dan meninggalkan Liana menuju halte bus.
***
"Apa?. Dia menolak?."
Amanda tak percaya pada apa yang diucapkan oleh Liana. Liana sendiri merupakan asisten pribadi Amanda yang selalu menyiapkan segala keperluannya, baik di kantor maupun diluar.
"Dia langsung pergi begitu saja, bu. Padahal saya sudah mengatakan semua yang ibu suruh katakan." jawab Liana.
"Aneh, kenapa dia nggak mau ya?. Dia kan sedang butuh uang, salahnya dimana coba?" gumam Amanda.
"Salahnya adalah, lo langsung menyuruh Liana untuk menyampaikan maksud secara gamblang. Nggak ada basa-basinya sama sekali."
Rani membeberkan pendapatnya di hadapan Amanda dan juga Nindya. Saat mereka tengah mengunjungi penthouse milik Amanda dan membahas hal mengenai Arka. Saat itu sudah beberapa jam berlalu, setelah Amanda bertemu dengan Liana.
"Maksud lo, harus pelan-pelan gitu?" tanya Amanda pada sang sahabat.
"Ya iyalah, orang juga kaget kali lo gituin. Apalagi dia cowok, biasanya mereka tuh harga diri dan gengsinya tinggi. Udah deh, mending lo cari cowok yang bener aja. Yang usianya dewasa, jauh di atas lo. Pasti dia mau serius."
Rani memberikan pendapatnya.
"Ran, ini cuma masalah waktu aja. Menurut gue nggak apa-apa kalau Amanda langsung to the point sama si Arka ini. Biar si Arka berfikir, ini kesempatan mau dia ambil atau nggak." ujar Nindya.
"Lagian kenapa sih lo, kayak takut banget kalau Amanda sama cowok yang lebih muda dari dia. Daripada sama yang lebih tua, ntar yang ada Amanda malah di atur-atur." lanjutnya lagi.
"Ya tapi kan setidaknya kalau udah dewasa bisa lebih serius, Nin."
"Nggak ada yang bisa menjamin semua itu. Yang umur dewasa tapi kelakuan kayak bocil SMP juga banyak."
Rani dan Nindya terus berdebat. Sementara kini Amanda menyeruput kopinya, sambil melihat ke arah kaca penthouse. Ia tak menyangka perkara ingin memiliki anak saja, masalahnya bisa serumit ini.
***
"Gila, masa ada cewek yang nawar gue dan ngajakin nikah siri."
Arka conference call bersama Rio dan juga Doni, ketika ia sudah sampai dirumah.
"Tante-tante, bro?" tanya Rio antusias.
"Nggak tau tante-tante atau masih muda, atau istri orang. Gue nggak sempet nanya." jawab Arka.
"Lah, lo tadi tau dari mana kalau bukan dari orangnya langsung?. Masa lo nggak ngeliat muka dan tampangnya kayak apa?" Lagi-lagi Rio berkata.
"Dia kayak nyuruh orang kepercayaannya gitu, buat ngomong ke gue. Bukan orangnya langsung." jawab Arka.
"Nah, dia tau elo dari mana?" tanya Doni penasaran.
"Ya mana gue tau juga." jawab Arka.
"Lo main dating APP kayak gitu nggak sih?" lanjut Doni.
"Kagak, mana ada gue main begituan. Yang ada di gampar sama cewek gue."
"Oh lo masih sama Maureen?" Kali ini Rio yang bertanya.
"Masih lah." jawab Arka lalu menyeruput kopinya, yang ia buat sebelum menelepon.
"Kalau misalkan si tante itu masih ngebet sama lo, lo mau nggak ninggalin Maureen?" lanjut Rio lagi.
"Gila lo ya." Arka berujar sambil tertawa.
"Dih kalau dibayar mah nggak apa-apa kali, bro." Doni mengeluarkan saran terbangsatnya.
"Dari pada lo bayarin kencan mulu tiap jalan sama Maureen. Udah mana Maureen kagak mau nongkrong di tempat yang murah. Mending sekali-kali lo yang dibayarin. Iya nggak, Ri?"
"Yoi."
Rio mendukung ucapan Doni.
"Sesat lo berdua." ujar Arka masih terus tertawa.
"Emang si cewek itu tadi menjanjikan lo berapa?" tanya Rio.
"Apanya?"
"Bayaran, ege. Kalau lo mau nikah sama dia, dia berani bayar berapa?"
"Mana gue tau. Tadi dia cuma bilang kalau gue bisa minta sebanyak yang gue mau, kalau tugas gue udah selesai."
"Tugas apaan emangnya?" tanya Doni penasaran.
"Menghamili itu cewek dan nungguin sampe dia melahirkan." jawab Arka.
"Hah?"
Doni dan Rio terperangah.
"Enak dong." seloroh Doni kemudian.
"Bangsat lo." Arka dan Rio kompak tertawa.
"Ya enak, bego. Maju-mundur ah-ah doang, abis itu dapet duit. Udahlah di enakin, di nafkahin lagi. Kurang apa tuh?"
"Iya juga ya." Rio mulai berfikir.
"Gue juga mau kalau ada yang ngajak gue begitu." lanjut pemuda itu lagi.
"Kenapa sih lo nggak mau, Ka?" tanya Doni penasaran.
"Ya nggak mau lah. Gue aja kagak tau tuh cewek bentukannya gimana, statusnya apa. Kalau bini sah orang gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana. Kalau bini sah orang dan ketahuan, paling lo dilabrak sama lakinya."
Celetukan Rio tersebut sukses membuat mereka semua kembali tertawa.
"Abis itu viral deh." Doni menimpali.
"Iya, abis viral langsung tawaran job gue meningkat. Di undang ke banyak acara TV, podcast YouTube, ya kan?. Tapi emak gue malu." ujar Arka dengan nada setengah tertawa.
"Jaman sekarang yang penting duit, Ka." ujar Doni diikuti tawa Rio.
Arka pun hanya bisa senyum-senyum sendiri, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
"Arka, tunggu!"
Seseorang menahan laju Arka, ketika ia hendak masuk ke dalam kampus. Ini terjadi pada hari berikutnya.
"Lo lagi?"
Arka melihat perempuan yang kemarin, kini berada tepat di depan matanya.
"Masih inget saya kan?. Saya Liana dan saya."
"Orang kepercayaannya ibu Amanda."
Arka meneruskan ucapan Liana, sebelum Liana sendiri melanjutkan kata-katanya.
"Iya dan..."
"Dan kamu datang kesini atas suruhan ibu Amanda, untuk meminta saya menikah siri sama dia. Iya kan?"
"Eee, iya. Tugasnya...."
"Menghamili ibu Amanda dan menunggu dia sampai melahirkan." ujar Arka lagi.
"Eee, benar. Hehe."
Liana membetulkan kacamatanya, sambil terus menatap Arka yang kini mulai gerah.
"Bilang sama ibu Amanda, kalau saya nggak mau. Oke?"
Arka melanjutkan langkahnya, namun Liana tak menyerah begitu saja.
"Arka, ibu Amanda bilang, dia bisa kasih kamu apa aja yang kamu minta. Termasuk membelikan kamu mobil mewah. Dari pada kamu naik bus terus, ntar kamu cepat tua karena terkena debu dan polusi. Bisa jadi jelek loh nanti."
Kali ini Arka menoleh. Ia menatap Liana dengan tatapan yang tajam.
"Sekali lagi anda bicara, saya tidak segan-segan untuk mematahkan leher anda, mbak Liana. Bilang sama bos anda, bahwa sebanyak apapun uang yang dia miliki. Dia nggak akan pernah bisa membeli saya, camkan itu!"
Arka kembali melangkah, kali ini Liana hanya terpaku ditempatnya. Karena ia takut terjadi kekerasan terhadap dirinya, jika ia terus mengejar pemuda itu.
***
"Belagu banget sih itu anak, pake acara jual mahal segala lagi."
Amanda menggerutu di dalam penthouse-nya yang baru dibersihkan. Sementara Liana hanya diam tertunduk dihadapan bosnya itu. Liana merasa tak enak, karena telah gagal menjalankan misi untuk yang kedua kalinya.
"Maaf bu, saya sudah berusaha. Saya sudah katakan semua yang ibu suruh katakan ke dia." ujar Liana.
"Ya sudah sana!" Amanda memerintahkan perempuan itu untuk pergi.
"Besok saya kerja begitu lagi, bu?" tanya Liana.
"Besok libur." jawab Amanda.
Liana baru saja hendak selebrasi akibat kegirangan demi mendengar hal tersebut. Namun ia melihat masih banyaknya kekesalan yang terdapat di wajah Amanda. Ia pun mengurungkan niatnya lalu berbalik arah.
"Permisi bu." ujarnya kemudian.
Liana pun lalu meninggalkan Amanda yang masih berada dalam keadaan kesal.
***
"Mas Arka."
Rianti sepupu Arka datang dan menarik Arka. Ketika Arka baru saja hendak mendekati ibunya, yang tengah berjualan pada sebuah kios di pasar tradisional.
Ibunya tersebut tampak tengah sibuk meladeni pembeli, hingga tak menyadari kehadiran Arka.
"Ada apaan, Ti?" tanya Arka kemudian.
"Mas Arka mau minta uang buat bayar kuliah kan?"
Rianti seolah tahu maksud kedatangan Arka kali ini.
"Mmm, sebenernya iya Ti. Mas belum dapat uang lagi, sedangkan kampus udah mendesak mas untuk bayar." jawab Arka.
"Mas, uang ibu buat mas Arka itu udah ada. Tapi tadi..."
Suara Rianti seolah tercekat di tenggorokan.
"Kenapa Ti?" tanya Arka cemas.
Ia melirik sekilas ke arah ibunya yang masih sibuk melayani pembeli, lalu kembali menatap Rianti.
"Tadi rentenirnya nagih, mas. Ibu dimaki-maki depan orang banyak. Ibu bersikukuh bilang nggak ada uang, demi buat mas Arka."
Arka pun terdiam, hatinya kini hancur mendengar hal tersebut.
"Ibu nangis, mas. Rianti bukan mau ikut campur, Rianti ini hanya sepupu mas dari sebelah papanya mas. Tapi Rianti nggak tega liat ibu dihina begitu. Apa nggak lebih baik, uang kuliah mas Arka buat ibu cicil hutang dulu. Mas Arka berusaha lagi cari uang di luar sana."
Arka makin terdiam. Akhir-akhir ini ia sering merasa dirinya tak berguna, karena tidak menghasilkan uang. Jangankan membantu ibunya, untuk dirinya sendiri saja kadang ia kebingungan.
"Arka."
Tiba-tiba ibunya memanggil. Arka dan Rianti pura-pura tak terjadi apa-apa. Mereka mendekat ke arah ibu Arka dan menyapanya dengan senyuman.
"Kamu udah makan, nak?" tanya sang ibu kemudian.
"Udah bu, tadi di kampus." jawab Arka.
"Oh ya, Ibu sudah punya uang buat kuliah kamu."
Arka menatap Rianti, saat ibunya hendak mengeluarkan dompet.
"Bu, Arka udah dapet uangnya. Ini buat ibu aja."
Arka berpura-pura di depan wanita itu, ia tak ingin menyusahkan ibunya lebih jauh lagi.
"Beneran, Arka?" Ibunya tak percaya.
"Iya bu, bener. Arka udah bayarin ke pihak kampus." jawab Arka.
"Dapat uang dari mana kamu, nak?" tanya ibunya lagi.
Kali ini Arka agak gelagapan.
"Mmm, dari kontrak iklan bu. Arka dapat tawaran iklan lagi, tapi Arka minta bayarnya di muka."
Ibunya terlihat bernafas lega.
"Ibu senang sekali, Arka. Akhirnya kamu dapat tawaran kerja lagi setelah sekian lama. Ibu lega rasanya nak. Cukup untuk kamu aja udah syukur sekali."
Arka memaksakan sebuah senyum palsu, sementara Rianti mendukung kebohongan Arka."
"Iya bu." ujarnya kemudian.
"Tapi ini kalau kamu perlu untuk hal lain, kamu ambil aja uang ini nak."
"Nggak usah bu, buat ibu bayar hutang aja. Nanti Arka carikan tambahannya, Arka janji."
Mata ibunya berkaca-kaca menahan tangis. Lalu ia pun memeluk Arka. Arka yang sudah terlanjur larut dalam kebohongan itu, mau tidak mau akhirnya membalas pelukan ibunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Yara
Yuhu, seruuuu
2025-02-21
0
Ratna
mampir baca lagi kak....
2024-01-29
2
juhaina R💫💫
serruuuu ceritamu menarik Thor salam kenal.
2023-08-21
2