Arka keluar dari rumah sakit, pemuda itu berjalan gontai sambil terus berfikir. Apa yang selanjutnya akan ia kerjakan, demi mendapatkan uang.
Ayahnya sudah sangat kritis. Sementara ia tak tahu harus mencari uang dengan cara apa lagi, pikirannya seakan tertutup.
Selama beberapa waktu belakangan ini, sebenarnya ia mulai melamar kerja ke berbagai perusahaan. Namun karena ia masih kuliah, tak banyak perusahaan yang menyediakan kerja part time.
Arka bisa saja memindahkan jadwalnya untuk kuliah malam. Tetapi rata-rata kantor pulang pada pukul 20:00. Ada yang bubaran jam 5 sore, namun jauh. Jika ia memaksa ke kampus pun, sudah pasti akan terus terlambat.
Dan lagipula saat ini ia membutuhkan uang mendesak. Hutang ibunya masih banyak, ayah tirinya butuh biaya untuk pengobatan, serta kampusnya yang menunggu pembayaran. Arka benar-benar kalut.
Tiba-tiba mata Arka menangkap seseorang melintas didepan pagar rumah sakit. Ketika ia tengah berdiri di muka lobi.
"Liana?" gumam Arka seraya memastikan.
Tak lama kemudian,
"Lianaaa."
Arka berteriak, namun agaknya gadis itu tak mendengar.
"Lianaaa."
Arka mengejar Liana, sementara kini gadis itu berjalan dengan cepat menjauhinya. Agaknya ia mulai sadar dengan kehadiran Arka.
"Liana, tunggu!"
Liana terus mempercepat langkahnya, bahkan kini terlihat setengah berlari.
"Liana, tunggu!" Arka mencegat Liana.
"Kamu mau apa?" tanya Liana dengan nada ragu-ragu.
Entah mengapa justru kini gadis itu yang tampak ketakutan pada Arka. Berbanding terbalik dengan Arka yang selama ini takut kepadanya.
"Saya mau terima tawaran kamu waktu itu." ujar Arka seraya menatap Liana.
"Ma, maksud kamu?" tanya Liana ragu.
Gadis itu lalu membenarkan kacamatanya yang sedikit turun.
"Saya mau menikahi bos kamu, Amanda."
Liana agak sedikit terkejut mendengar pernyataan itu.
"Ke, kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?" tanyanya kemudian.
"Saya sudah pikirkan matang-matang dan saya mau. Saya setuju untuk menikahi dan menghamili dia. Saya juga setuju menunggu sampai dia melahirkan."
Tiba-tiba Liana teringat pada peristiwa beberapa hari lalu. Disaat ia mengatakan pada Amanda jika usahanya telah gagal.
"Dia nggak mau?" tanya Amanda saat itu.
"Maafkan saya bu, saya sudah berusaha semaksimal mungkin." ujar Liana seraya tertunduk. Ia takut dipecat oleh Amanda karena sudah gagal menjalankan misinya.
Namun alih-alih marah dan berteriak, Amanda justru malah terduduk di kursi dan diam menatap suatu sudut. Tak disangkanya meski memiliki power, ternyata tak mudah untuk mendapatkan segala yang ia inginkan.
"Ya sudah." ujar Amanda kemudian.
"Nggak usah dilanjutkan lagi." imbuhnya.
"Jadi, saya boleh istirahat bu?" tanya Liana.
Amanda mengangguk, Liana pun sumringah lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Gimana?. Bisa saya ketemu Amanda." tanya Arka membuyarkan lamunan Liana.
"Mmm, maaf. Sepertinya ibu Amanda sudah menyerah."
"Menyerah?"
"Iya, dia sepertinya sudah berubah pikiran. Kalau kamu maksa, kamu temui saja dia sendiri. Saya nggak mau terlibat, takut salah ambil tindakan. Saya masih butuh buat kerja sama dia, saya permisi."
Liana pergi meninggalkan Arka. Arka sempat diam sejenak, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Namun kemudian,
"Liana."
Arka kembali menyusul Liana. Namun kali ini Liana berlari, seperti orang yang dikejar kambtib.
"Lianaaa."
"Lianaaa, kalau saya mau menemui dia saya harus kemanaa?"
Liana makin mempercepat larinya. Arka pun kemudian kehilangan jejak perempuan muda itu.
***
Di kantor.
Amanda mereguk wine sesaat setelah jam kerjanya usai, namun ia masih berada di ruangan dan belum berencana untuk pulang.
"Lo udah menyerah?" tanya Nindya yang sejak beberapa menit lalu mampir ke kantor wanita itu.
"Ya, mau gimana lagi. Orangnya nggak mau, ya udah. Daripada Liana ribet, gue tugaskan itu melulu. Mending dia balik jadi copywriter buat produk-produk perusahaan gue."
"Ya, lo cari kek cowok lain. Banyak tau, Man. Mau yang usia berapa aja, ada. Yang lokal ataupun blasteran, bisa dicari." tukas Nindya.
"Males gue, ntar kayak kejadian waktu itu, pada banyak maunya. Kan gue cuma mau cari suami bayaran sementara, yang bisa kasih gue anak."
"Iya, maksud gue. Mungkin ditempat lain, ada."
"Males ah, mesti nyari-nyari lagi. Punya anak nggak punya anak juga sama aja. Kalaupun emang nggak ada penerus, gue kasih nih perusahaan ke orang lain. Buat anak lo kek, atau siapa gitu."
"Hati-hati, Man. Ucapan adalah doa loh." Nindya mereguk es teh manis yang ia pesan dari kantin kantor.
"Ya biarin aja. Toh juga doa gue nggak buruk-buruk amat. Mulia loh gue, mau ngasih nih perusahaan gue ke anak-anak lo."
Keduanya lalu sama-sama tertawa. Tiba-tiba telpon Nindya berdering, tak lama kemudian ia pun mengangkat telpon tersebut.
"Apa?" teriak Nindya dengan wajah penuh ketakutan.
"Kenapa, Nin?" tanya Amanda tak kalah paniknya.
"Man, Rani." ujar Nindya penuh kecemasan. Ia lalu buru-buru mengambil tasnya yang terletak di sofa.
"Rani, kenapa?"
"Rani, dia." Nindya tampak mondar-mandir tak karuan.
"Kenapa?" tanya Amanda semakin panik.
"Dia mau melahirkan." Nindya berujar dengan susah payah.
"Loh, kan masih lama. Masa iya sekarang, prematur dong?"
"Udah cepetan, Man. Rani tuh ditendang suaminya tadi katanya."
"Apa?"
Amanda syok, lalu buru-buru mengambil tas tangan dan kunci mobilnya. Detik berikutnya, mereka pun berlarian ke halaman parkir.
Amanda mengemudikan mobilnya sendiri. Karena jika menggunakan jasa supir, sudah pasti supirnya akan sangat berhati-hati. Namun kali ini ia bisa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Amanda, man. Awas, Maaan."
Nindya berteriak, ketika Amanda hampir saja menabrak mobil lain di sebuah jalan.
"Man, pelan-pelan aja!. Please!"
"Minggir, Man!"
"Oooowww, woooow."
"Awas, Man!"
"Amandaaaa."
Nindya berisik di sepanjang perjalanan, sementara Amanda terus fokus ke depan. Beberapa kali ia menerobos lampu merah. Sampai kemudian,
"Nin, rumah sakit mana?" tanya nya kemudian.
"Haduh, Nindya menepuk dahinya."
"Gue lupa nanya lagi, Man."
Amanda menghela nafas. Kali ini mereka sengaja stop dipinggir jalan, karena tak tau arah dan tujuan. Nindya pun lalu mencoba menghubungi nomor Rani.
"Nggak diangkat lagi, kayaknya dia lagi melahirkan deh sekarang. Parah banget itu suaminya." ujar Nindya dengan nada lemah.
"Gue akan suruh orang gue untuk nyari suaminya itu. Bakal gue bikin nyesel dan minta maaf sama Rani." Amanda berkata penuh dendam.
"Gue rasa sih, suaminya ngamuk karena Rani gugat cerai. Atau bisa jadi juga ngebet cerai, tapi terhalang karena Rani lagi hamil. Tau deh, nggak ngerti gue otak laki-laki model gitu."
"Apalagi gue." ujar Amanda.
Wanita itu menghela nafas, mereka belum juga mendapat kabar. Sementara kini Nindya mencoba menelpon lagi ke nomor Rani.
"Halo, Ran." tiba-tiba telpon tersambung setelah sekian lama.
"Nin."
Suara Rani terisak diseberang, tak lama kemudian tangisnya pun pecah. Nindya berusaha menenangkan, sambil bertanya di rumah sakit mana kini Rani berada.
Tak lama berselang, Amanda mengemudikan mobilnya kembali. Menuju ketempat yang telah diberitahukan oleh Rani. Sesampainya di sana mereka langsung menuju ke kamar tempat dimana Rani dirawat. Wanita itu menangis ketika akhirnya Amanda dan Nindya masuk.
Air mata Amanda jatuh, sementara Nindya tersedu-sedu. Rani menangis di pelukan kedua sahabatnya itu, bayi yang dikandungnya tak dapat lagi diselamatkan. Ia pun menceritakan kronologinya.
Benar dugaan Nindya, suaminya itu sudah sangat ingin bercerai secara hukum dan berencana menikahi selingkuhannya. Namun terhalang kehamilan Rani.
Karena orang yang sedang hamil tidak bisa bercerai hingga anaknya lahir. Ia pun marah dan menendang Rani dalam sebuah perdebatan panjang.
Kedua anak Rani melihat ibunya jatuh dengan posisi pendarahan. Mereka lalu meminta tolong pada tetangga. Kebetulan dirumah hanya ada mereka bertiga saja saat itu.
Sesaat setelah menendang ayah mereka pergi entah kemana. Rani dibawah ke rumah sakit, namun bayinya tak sempat tertolong.
"Lo harus lapor polisi, Ran. Lo nggak boleh diem aja." ujar Nindya menggebu-gebu.
Rani mengangguk sambil masih menangis.
"Gue yang akan menyeret dia kekantor polisi." Amanda berkata dengan penuh dendam, seraya melempar pandangan ke suatu sudut.
"Brengsek itu orang." ujarnya lagi.
***
"Liana."
"Tok, tok, tok."
Sebuah ketukan pintu mengagetkan Liana di pagi-pagi buta. Liana pun membuka pintu kamarnya dan ternyata ibu kost.
"Ada apa ya, bu?" tanya Liana heran.
Tak mungkin ia ditagih uang kos karena beberapa hari lalu ia telah membayar.
"Ada yang nyariin kamu." ujar ibu kos tersebut.
"Siapa bu?" Liana kembali bertanya.
"Ibu nggak tau. Cowok, ganteng. Kayak bintang iklan gitu mukanya."
"Hah?"
Liana buru-buru ke depan dan mengintip dari balik tembok. Seketika ia pun terkejut lalu menutup mulut. Benar dugaannya bahwa itu adalah Arka. Entah bagaimana Arka bisa menemukan kosnya ini, yang jelas ia harus kabur.
Liana berjalan perlahan, agar tak terdengar langkahnya. Ia kembali ke kamar, mengambil tas, dompet, lalu mengunci pintu dan mengendap lewat pintu pagar belakang. Perlahan ia pun berjalan lalu berlari menuju jalan raya. Namun tiba-tiba Arka sudah berada didepan matanya.
"Liana, saya mau bicara sama kamu. Kenapa kamu menghindari saya?"
Liana mencari jalan lain, namun kini Arka mencekal lengan perempuan itu dan mengambil paksa handphone dari tangan Liana.
"Saya teriakin copet ya." ancam Liana.
"Silahkan saya nggak takut. Saya akan bilang kalau kita sepasang kekasih yang lagi berantem, ayo teriak!"
Liana pun menghela nafas.
"Arka, Ibu Amanda itu nggak mau dipermainkan. Tipikalnya dia, kalau udah menyerah ya menyerah. Lagian kemaren-kemaren pas dia gigih banget ngejar kamu, kamu kemana aja?"
"Saya nggak mikir panjang saat itu, sekarang saya bener-bener butuh uang." jawab Arka.
"Kamu bilang udah bisa dapat uang sendiri."
"Udah habis."
"Sekarang lo nyesel kan, nyesel kan, nyesel kan." ujar Liana dengan menirukan nada lagu Young Lex, namun ekspresi wajahnya sangat datar.
"Li, kita lagi nggak bercanda." ujar Arka.
"Saya nggak bercanda." jawab Liana.
"Saya butuh, kamu hubungi Amanda sekarang. Bilang kalau saya berubah pikiran."
"Tapi bu Amanda akan marah, kalau saya terkesan plin-plan. Saya udah bilang nggak berhasil dan dia udah menyerah."
"Ya apa salahnya bilang ke dia, kalau saya berubah pikiran."
"Arka, itulah yang membedakan bu Amanda dari kita semua. Kenapa dia bisa menjadi kaya di usia yang terbilang cukup muda. Karena dia akan membuang serta melupakan hal yang sudah tidak penting baginya dan terus bergerak maju. Saya yakin bu Amanda juga udah nggak mau membahas hal ini lagi. Kalau terus saya paksain, saya nanti yang kena semprot." ujar Liana.
"Telpon dulu, sekali aja. Please!" Arka memaksa.
Liana pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia menuruti saja apa yang menjadi kehendak Arka. Telpon tersambung namun tak diangkat.
"Tuh kan nggak diangkat, pasti dia sibuk."
Liana mencobanya lagi bahkan sampai empat kali, namun Amanda juga tak mengangkat. Ia lalu memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat bahwa Arka telah merubah keputusan, tapi tak ada jawaban pula. Kali ini Arka menghela nafas dan membuang pandangan ke bawah.
Seketika Liana menghindar dan,
"Tuing."
Liana kabur dari Arka. Namun tak lama kemudian ia mendapat sebuah panggilan dari Amanda. Awalnya ia biasa saja, namun detik berikutnya ia pun berteriak.
"Arkaaa, tunggu!"
Liana pontang-panting mengejar Arka yang sudah entah dimana. Ia baru saja mendapatkan perintah dari Amanda untuk membawa pemuda itu kepadanya.
"Aduh mana sih tuh anak, cepet banget ngilangnya kayak copet pasar."
"Arkaaa."
Liana terus berlarian dan mencari kesana kemari. Dua hari kemudian Liana masih tak berhasil menemui Arka. Kemarin dia tidak ada di kampus dan hari ini pun sepertinya tak akan bertemu.
Liana juga sempat menyambangi rumah Arka, namun tak ada siapapun di sana. Ia tidak tahu jika saat ini keluarga Arka tengah sibuk bolak-balik ke rumah sakit. Sehingga rumah mereka kadang kosong.
Liana pun tak berani masuk ke kantor, karena Amanda pasti akan terus menanyakan perihal Arka. Ia bahkan sangat jarang membalas pesan maupun mengangkat telpon dari atasannya itu. Ia hanya berkata jika saat ini Arka tengah mempersiapkan diri.
Sementara di suatu sudut, Arka tampak terpaku. Baru saja ia mendapat telpon dari pihak kampus, bahwa ia akan di cuti paksakan. Karena tidak mampu membayar pada tenggat waktu yang telah ditentukan.
Padahal ia sudah sedikit lagi selesai, akan lebih lama jika harus menunggu selama satu tahun lagi. Jika sudah lulus, ia ingin sekali bekerja dan tak melulu harus mengandalkan dunia entertaint yang tak pasti. Namun kini semua harapannya pupus.
"Arka."
Tiba-tiba Liana muncul, namun Arka hanya menatapnya dengan tatapan lesu.
"Nggak perlu lagi." ujar Arka.
"Kuliah saya udah telat dibayar." lanjutnya kemudian.
Arka berbalik arah, Liana kini gantian mengejar.
"Arka, bu Amanda bilang dia udah setuju. Dia mau kalian segera ketemu dan menikah."
Arka masih diam, ia terus melangkah gontai. Kali ini Liana yang terserang emosi, ia tidak tau apa maunya Arka. Ia merasa bocah itu sudah mempermainkannya.
"Arka, saya udah memperjuangkan kamu ya " teriak Liana.
Kali ini Arka menghentikan langkah dan menoleh, ia menatap tajam ke arah Liana.
"Buat apa lagi?. Semua udah telat. Saya mau menikahi Amanda itu atas azas manfaat. Supaya saya bisa bayar uang kuliah saya yang udah nunggak. Sekarang saya udah di anggap cuti, apalagi yang mesti saya bayar?"
"Ada."
Liana berkata sambil menatap Arka dalam-dalam.
"Hutang-hutang ibu kamu belum lunas, biaya pengobatan ayah kamu yang nggak sedikit."
Kali ini Arka terdiam, benar apa yang dikatakan Liana barusan.
"Apa kamu tega dengan mereka?. Tega nggak mikirin hidup mereka?. Kamu mau menyerah gitu aja sama keadaan?"
Arka makin terdiam, namun tak lama kemudian sebuah mobil mewah tiba dihadapan mereka. Seorang supir keluar dan membukakan pintu. Arka menatap Liana, dan Liana mempersilahkan pemuda itu untuk masuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Dir Dirman
berbelit belit ceritanya. kayak asu
2024-04-29
4
Al^Grizzly🐨
Mc goblok and si wanita juga bagaimana ya...harusnya dia yg ketemu langsung sm Mc.
2024-01-28
0
Akatsuki _2x
ngakak banget sama liana plss 🤣
2023-07-06
1