"Kamu telah bertemu dengannya?" mata Yang Mulia terbelalak tidak yakin, kepalanya mencorong ke depan, cangkir arak yang ada di genggamannya, dikembalikannya ke atas meja begitu saja.
"Dia baik-baik saja Yang Mulia" Xiao Yi menegaskan kembali dengan suara yang lebih pelan.
"Jiu Jiu? Kamu bertemu dengan Jiu Jiu?"
"Jika Jiu Jiu yang dimaksud oleh Yang Mulia adalah biksu yang mempunyai gantungan baju dengan rumbai giok sutra seperti yang di miliki yang mulia, maka saya benar telah bertemu dengannya" jawab Xiao Yi dengan sedikit hati-hati.
"Ya! Jiu Jiu memilikinya! Dia masih menyimpannya? tali xieyi ini?" Yang Mulia mengangkat giok di tangannya sehingga rumbai itu hampir menyentuh hidung Xiao Yi.
"Ya, saya melihatnya di pinggang seorang biksu, sama persis dengan yang dimiliki Yang Mulia" Jawab Xiao Yi sambil menarik sedikit wajahnya kebelakang.
Yang Mulia memalingkan wajahnya, mata tajam itu begitu kontras dengan kabut yang membentuk kaca-kaca di sana.
Dia seorang raja yang memerintah negara sebesar Yanzhi, dengan wilayah yang begitu luas dan besar tetapi sungguh menyedihkan melihat betapa cinta telah membuatnya begitu lemah dan tak berdaya.
"Dia bahkan menanyakan kabar Yang Mulia" ucap Xiao Yi pelan, tapi kalimat itu sanggup membuat raja itu semakin membalikkan tubuhnya.
Yang Mulia diam mematung, memunggungi Xiao Yi yang menjadi serba salah. Dia tidak yakin, apakah dia telah membuat kesalahan dengan apa yang sudah disampaikannya.
Bukankah yang mulia sangat ingin mengetahui keadaan biksu itu? kenapa sekarang dia bersikap seperti ini?
Suasana menjadi hening, tidak ada lagi yang bersuara diantara mereka berdua.
Hanya tarikan nafas Yang Mulia yang turun naik, tak teratur, memecah kesunyian malam.
Tiba-tiba Xiao Yi sadar, Yang Mulia hanya ingin menyembunyikan kesedihannya dari hadapan Xiao Yi.
"Aku terakhir melihat Jiu Jiu di musim semi, tepatnya sembilan tahun yang lalu..."suara Yang Mulia terdengar serak.
"Dia memutuskan meninggalkanku, tepat pada hari ulang tahunku yang ke delapan belas. saat itu bulan keempat, saat itu bunga-bunga Ying hua sedang mekar di taman shenhua, warnanya seperti pipi Jiu Jiu. beberapa hari setelah aku di nobatkan menjadi raja Yanzhi."
perlahan Yang Mulia Yan Yue membalikkan badannya kembali. Sekarang wajah itu mengeras, kabut yang tadi tampak dimatanya, hilang. tetapi bulu matanya yang legam itu berembun.
"Ketika aku tahu, dia sudah pergi ke kuil Sunyen. Aku menyusulnya ke sana, berharap dia merubah keputusannya. Kalaupun dia tidak bisa menjadi permaisuri, setidaknya aku akan memohon supaya dia bisa menjadi selir. Aku hanya berharap bisa melihatnya setiap hari"
Yang Mulia menghela nafasnya sebentar.
"Tapi, tahu kah kamu apa yang aku temui di Sunyen?" tanya Yang Mulia, sambil meneguk arak yang tadi tidak sempat diminumnya.
Xiao Yi diam, menunggu sambungan kalimat yang di ucapkan Yang Mulia. Dia tahu benar, Yang Mulia tidak berharap jawaban apapun dari mulutnya, tapi hanya ingin dia mendengarkan saja.
"Rambutnya yang panjang hitam seperti giok Hei yu itu telah hilang habis tak bersisa, menyisakan batok licin yang aku bahkan tidak sanggup melihatnya" yang Mulia yan Yue mendorong cangkir ditangannya, Xiao Yi segera menuangkannya.
"Sejak itu, aku tidak sanggup melihat wajahnya...! Aku tidak sanggup melihatnya menatapku dalam balutan kain buram, diam seperti patung tak berdaya. Yang ku ingat, dia gadis yang tangannya begitu lincah memainkan pedang dan tegar seperti karang"
Yang Mulia Mereguk minumannya, sampai kepalanya terdongak menghadap langit-langit.
Tak pernah Xiao Yi melihat ekspresi kesedihan sedalam itu yang dimiliki oleh orang yang pernah bertemu dengannya.
"Chenxing, apakah menjadi seorang raja tidak boleh mencintai seseorang dan memilikinya?" bola matanya memerah, menatap tajam pada Xiao Yi, seolah mencari jawaban dari gadis itu.
"Saya...saya...tidak tahu Yang Mulia..." Xiao yi menjawab gelagapan.
Yang Mulia tertawa keras, tawa yang sanga aneh. Seperti serigala yang sedang terluka.
"Chenxing, apakah kamu pernah jatuh cinta?" tiba-tiba yang Mulia bertanya. Lengan kirinya bertahan di atas meja, sementara wajahnya mendekati wajah Xiao Yi dengan mimik yang mengiba.
Xiao Yi hanya terpana, menatap Yang Mulia tak bergeming dari tempat duduknya. Dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, kepalanya terasa berat. Wajah Qian Ren yang sedang tersenyum menari di sana.
"Jatuh cinta itu sangat indah, Chenxing...! Benar-benar indah! Kamu tidak bisa memejamkan matamu tanpa melihat dirinya. Tidak ada tempat yang lebih indah di dunia ini selain dari tempat dimana orang yang kamu cintai berada. Dan...kamu akan bersedia mati untuk orang yang kamu cintai, jika di menginginkannya" Kata yang Mulia kemudian. Diminumnya lagi arak yang ada di cangkirnya dan Xiao Yi dengan sigap menuangkannya lagi.
"Tapi cinta itu akan berbalik membunuhmu saat kamu tidak bisa memilikinya. Kamu mungkin saja masih bernafas tapi jiwamu telah dibunuhnya. Kamu hidup tapi mati!" Yang Mulia terkekeh, dua bulir bening jatuh di sudut matanya.
Seorang raja yang begitu gagah perkasa, yang telah memenangkan perang entah berapa puluh kali, di tangannya mungkin telah beratus nyawa melayang, di pedangnya mungkin telah banyak liter darah tertumpah.
Tapi malam ini, Xiao Yi melihat air mata seorang raja jatuh tanpa bisa dia sembunyikan. Hanya karena cinta, raja agung itu seperti singa yang kehilangan cakarnya, meringkuk terluka.
Xiao yi mencintai Qian Ren sepenuh jiwanya, dia adalah laki-laki pertama yang memberinya sebuah Xiang Nang, kantong wewangian dari sutera yang disembunyikan didalam tumpukan bunga peony. Laki-laki itu menggantungnya di pohon willow, supaya ditemukan oleh Xiao Yi.
Setiap hari, selama musim semi itu, Xiao Yi menemukan keranjang peony dengan Xiang nang diantara tumpukan bunga. Lusinan kantong wewangian dari sutera beraneka warna dengan motif yang disulam berbagai rupa itu menjadi koleksi yang sangat disayangi Xiao Yi.
Setelah itu, Xiao Yi tidak bisa memejamkan matanya, jika tidak melihat Xiang Nang itu sambil membayangkan wajah Qian Ren.
Apakah cinta yang dimaksud oleh Yang Mulia adalah cinta yang seperti itu? Tapi kenapa Xiao Yi tidak bisa membandingkan kesedihan yang dirasakan oleh yang Mulia Yan Yue dengan kesedihan yang dialami olehnya.
Perpisahan yang di alami oleh Xiao Yi tidak sampai membuat Xiao Yi menderita sedalam penderitaan yang Mulia.
Yang Mulia meneguk araknya lagi dan lagi, sampai guci di tangan Xiao Yi menjadi kosong. Xiao Yi telah menuangkan dua guci penuh arak untuk diminum yang Mulia.
Yang mulia menyodorkan cangkirnya lagi tapi Xiao Yi tak bergeming.
"Tuangkan araknya lagi!"
Xiao Yi menggeleng kecil, menolak permintaan Yang Mulia.
"Jiu Jiu, kenapa kamu melakukan ini kepadaku" Yang mulia menggeser meja yang ada dihadapan mereka dengan kasar, tangannya mencengkeram lengan Xiao Yi.
"Jiu Jiu!" mata Yang Mulia membara seperti api.
"Yang Mulia, anda terlalu banyak minum" Xiao Yi berucap tanpa berusaha melepas cengkeraman Yang Mulia.
"Jiu Jiu...apakah kamu tahu, aku sangat merindukanmu? Aku hampir tak mengenali lagi kapan siang dan kapan malam karena semuanya selalu terasa gelap" Yang Mulia merangsek memeluk Xiao Yi.
"Saya bukan Jiu jiu Yang Mulia, saya bukan Jiu Jiu!"
"Aku sangat merindukanmu, Jiu Jiu" pelukan yang Mulia terasa sangat erat. Tubuh kekar Yang Mulia menekan tubuh ramping Xiao Yi sampai gadis itu hampir tak bisa bernafas.
"Saya bukan Jiu Jiu..."
...Terimakasih readers tersayang yang sudah kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...Nantikan UP episode selanjutnya......
...🌹🌹...
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya🙏...
...Love you all☺️😊...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Echa04
sesakit itu kah....
2023-09-09
0
ciru
cakeep
2023-08-15
0
🎼shanly_keys
sedih ya
2023-06-29
0