"Jiu Jiu...kenapa kamu pergi begitu lama?" Yang Mulia membenamkan wajahnya dileher Xiao Yi.
Xiao Yi memejamkan matanya kuat-kuat. kedua jemarinya mengepal dengan erat. Keinginan begitu kuat untuk mendorong tubuh kekar itu tapi Xiao Yi tidak punya keberanian untuk melakukannya.
Hembusan nafas Yang Mulia terasa panas dileher jenjang gadis itu, gerakannya begitu kasar dan liar.
"Yang Mulia...yang Mulia, anda terlalu banyak minum" desah Xiao Yi dengan suara gemetar dari dalam pelukan erat yang Mulia, yang seolah-olah ingin Xiao Yi menjadi satu dengan dirinya.
"Jiu Jiu aku sangat rindu..." Yang Mulia mencium rambut Xiao Yi dengan bersemangat.
Seperti kerinduan yang meledak, begitu berharap untuk tumpah ruah dari dalam penampungannya karena telah tertahan begitu lama. Kerinduan itu berkarat ditimpa semua iklim di tiap musim hidupnya selama bertahun-tahun.
"Jiu Jiu...apa kamu tidak merindukan aku? Apakah kamu benar-benar tak lagi mencintaiku? apa kamu tidak merindukan malam-malam kita di gunung Yanshen? apakah kamu benar-benar lupa?"
Kalimat dari bibir Yang Mulia seperti sebuah pemicu yang memberi Xiao Yi kekuatan untuk mendorong tubuh Yang Mulia sekuat tenaga.
"Hentikan Yang Mulia! Saya Xiao Yi, bukan Jiu Jiu Yang Mulia!" Xiao Yi memeluk tubuhnya sendiri dengan perasaan yang bercampur baur.
Rasa takut, kasihan, jijik dan marah memberinya keberanian melakukan penolakan itu.
Kata-kata Yang Mulia mengenai malam-malam indah yang dilewatinya bersama Jiu Fei di gunung Yanshen, membuat Xiao Yi bergidik.
Yang Mulia terjengkang kebelakang, tubuhnya yang kekar itu menjadi begitu lemah dan berat dalam pengaruh arak. Yang Mulia benar-benar mabuk. Dorongan tubuh kecil Xiao Yi sanggup membuat Yang Mulia terdorong hampir menyentuh lantai.
Yang Mulia menegakkan tubuhnya berusaha duduk dengan bertahan pada lengannya, matanya begitu nanar menatap Xiao Yi yang membelalakkan matanya ketakutan ke arah Yang Mulia, tangannya memeluk tubuhnya sendiri seperti berusaha berlindung dari sesuatu.
"Chenxing? Jiu Jiu?" Yang Mulia sungguh mabuk. Dimatanya, bayangan Jiu Fei dan Xiao Yi bergantian berubah-ubah. Senyum manis Jiu Fei, paras ketakutan Xiao Yi, tatapan muram Jiu Fei dalam balutan kain kuning panjang dan kepala botak,Wajah pucat Xiao Yi...semuanya seperti gambar yang bergerak.
Yang Mulia memegang kepalanya dan memejamkan matanya beberapa kali. Lalu mendapati Xiao Yi yang meringkuk seperti anak kucing di depannya.
"Chenxing...maafkan aku" dengan suara tak berdaya yang penuh sesal Yang Mulia bergeser dari tempat duduknya berusaha berdiri. Tapi kemudian tubuhnya menjadi oleng.
"Yang Mulia!" dengan gerakan refleks Xiao Yi menangkap tubuh Yang Mulia, menyambut dengan tubuhnya yang ramping itu.
Yang Mulia sekarang berada di dalam pelukan Xiao Yi, begitu putus asa dan tak berdaya.
"Chenxing, maafkan aku..." desahnya dengan mata terpejam, kelopak matanya nampak menggenang basah.
Xiao Yi hampir saja berteriak memanggil kasim chen atau siapapun yang ada diluar pintu untuk membantunya mengangkat tubuh besar yang kepalanya kini terbaring diatas lengan kirinya seperti bayi. Tapi urung dilakukannya.
Dia tak ingin mempermalukan Yang Mulia di depan bawahannya. Dia tidak ingin mereka menyaksikan Raja agung mereka itu, sedang menangis tak berdaya meringkuk di dalam pelukan seorang wanita. Sungguh tidak baik jika keadaan Yang Mulia seperti ini merendahkan kehormatannya dimata siapapun.
Xiao Yi menatap wajah yang Mulia dengan rasa kasihan, sekarang dia merasa senasib dengan laki-laki yang kini berada di dalam pelukannya.
Mereka mencintai orang lain, mereka menyimpan perasaan mereka sedalam-dalamnya sampai hampir menjadi bumerang yang merobek-robek jantung mereka.
mereka sama-sama merindukan orang yang hampir mustahil untuk bisa bersama-sama dengan mereka. Sama-sama menanggung rindu berkarat di hati masing-masing.
Xiao Yi dengan keberanian yang entah datang dari mana, mengangkat tangan kanannya dan menyapu air mata Yang Mulia dengan ibu jarinya. Kesedihan Xiao Yi seperti menyatu dengan kesedihan Yang Mulia.
Tiba-tiba Yang Mulia menangkap tangannya, memegang jemari Xiao Yi dalam keadaan mata yang terpejam.
Jemari itu diraihnya dan di genggamnya dengan kedua tangannya, kemudian diletakkannya di bibirnya. Tanpa suara apapun.
Hanya desah nafasnya yang terasa hangat di jemari Xiao Yi yang terkepal sendiri.
Nafas yang Mulia turun naik, semakin lama semakin teratur. Kemudian Yang tersisa adalah desah yang berirama. Yang Mulia tertidur dalam mabuknya.
Xiao Yi menarik jemarinya ketika genggaman Yang Mulia mulai melemah. Memastikan Yang Mulia tertidur tanpa terganggu oleh gerakannya.
Yang Mulia Yan Yue tertidur sampai pagi dalam pelukan Xiao Yi.
...***...
Bulan ke tiga di tahun pertama, musim dingin sudah di penghujungnya. Di utara negara Yanzhi masih turun Salju termasuk di propinsi Youwu. Tapi di Yubei sendiri sudah tidak lagi turun salju, hanya udara masih terasa dingin, apalagi bila malam tiba.
Setelah malam di istana Chue Lian berlalu, di ujung pagi yang cerah, Xiao Yi terbangun di atas tempat tidur dengan sebuah selimut hangat membungkus tubuhnya, di dalam istana Chue Lian yang lebih layak jika di sebut sebagai istana giok karena ornamen-ornamennya yang indah itu.
Tidak ada lagi Yang Mulia di dekatnya, yang di saat terakhir Xiao Yi mengingatnya, tertidur lelap diatas lengannya.
Ketika dia membuka mata, di atas meja sudah tersedia semangkok sup hangat dengan Chu Cu yang duduk di sebelah tempat tidurnya, tampak tenang menunggunya bangun.
Malam itu seperti mimpi, semuanya seolah tidak nyata. Menguap tak berbekas.
Saat Xiao Yi bertanya keberadaan Yang Mulia pada pelayan setianya itu, Chu Cu hanya tahu seorang kasim muda utusan kasim Chen datang menjemputnya pagi-pagi benar untuk menunggui majikan bangun dan membawanya kembali ke wisma Xingwu.
Hampir tiga pekan sejak kejadian di istana Chue Lian, Yang Mulia tak pernah lagi menjumpai Xiao Yi, menginginkannya bertemu ataupun meminta Xiao Yi melakukan sesuatu untuknya.
Menurut rumor di istana harem tempat para selir, Yang Mulia sedang sibuk mengatasi beberapa bencana alam yang melanda bagian utara, musim dingin yang berkepanjangan mengakibatkan utara Yanzhi mengalami bencana kelaparan di beberapa wilayah.
Propinsi Youwu termasuk yang harus bersiap-siap mengalami banjir musiman akibat sungai Yalu yang membeku akan mencair di awal musim semi yang tak seberapa lama lagi datang. Xiao Yi juga mencemaskan keluarganya di sana, meskipun sebenarnya musibah seperti itu hampir selalu tiap tahun di alami mereka.
Yang Mulia juga harus membagi perhatiannya pada wilayah selatan Yanzhi dengan pemberontakan-pemberontakan kecil yang di lancarkan oleh beberapa klan yang melawan kebijakan daerah distrik setempat. Tapi itu bukan hal baru bagi Yang Mulia Yan Yue.
Memadamkan pemberontakan seperti itu cukup dengan mengirimkan beberapa komandan pasukan dan pasukan kecil tanpa harus menurunkan panglima perangnya, zhao Juren yang terkenal itu.
Mendengar nama Zhao Juren saja, orang akan bergidik, kabarnya dia adalah seorang panglima perang yang sangat kuat dan perkasa di Negara Yanzhi, mungkin rupanya sama seperti namanya, besar gagah laksana raksasa.
Zhao Juren adalah salah satu orang kepercayaan Yang Mulia Yan Yue, dia sudah beberapa kali turun berperang bersama Yang Mulia, di awal Yang Mulia dinobatkan menjadi raja.
...Terimakasih readers tersayang yang sudah kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...Nantikan UP episode selanjutnya......
...🌹🌹...
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya🙏...
...Love you all☺️😊...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Echa04
hmmmmm kasian yiyi..... apakah yang yue akan menyesali tindakan nya setelah sadar
2023-09-09
1
MawarBodas
komen pertamaku setelah baca beberapa episodenya,Saya termasuk Penyuka bacaan seperti karangan Kk author ini,Berasa baca Buku karangan Asmaraman Kho phing ho,BTW saya Sukaaa sekali ceritanya othor...sehat selalu 😉🥰
2023-07-26
0
Rita Kumala
kayaknya bagus klo dibikin drakor kerajaan...
2023-06-04
0