Xiao Yi memacu kudanya menembus hutan Zi teng yang hanya remang-remang cahayanya, mengikuti kuda pengawal Jian di depannya.
Mantelnya berkibar-kibar menantang angin.
Ketika sampai pekarangan kuil yang yang tidak begitu luas itu mereka disambut ramah oleh beberapa orang biksu perempuan dengan pakaian berwarna kuning kecoklatan.
Xiao Yi dan Jian Jie diantar ke dalam biara setelah menaiki anak tangga dari undakan batu yang jumlahnya puluhan.
Begitu mencapai bangunan kuil, di depan ruang pintu utama terdapat meja altar dan patung dewa menyambut mereka.
Di dalam ruangan utama tempat sembahyang atas lantai paling tinggi dan meja utama diletakkan patung dewi Kwan Im yang hampir satu meter tingginya. Di atas meja panjang tersusun buku-buku kitab suci dan sebuah bejana kuningan.
Di depannya masih ada terdapat meja tempat persembahan yang di lengkapi dengan beberapa piring sajian berisi kue-kue dan buah-buahan.
Pada samping kiri kanannya ada dua jambangan besar dan sepasang pelita yang menyala. Cahayanya meliuk lembut mengikuti angin malam. Ruangan sembahyang itu terasa begitu hangat dan tenang.
Pada bagian dinding ada tirai yang menjuntai di belakang altar yang semua dominasi warna merah, termasuk ornamen-ornamen dan lampion-lampion yang bergelantungan di langit-langit.
Xiao Yi pertama kali memasuki kuil ini, yang hanya pernah di dengarnya dari cerita-cerita orang. Kuil ini adalah salah satu kuil yang paling banyak di kisahkan oleh penutur-penutur di Youwu, karena konon ceritanya ada seorang gadis yang pernah menjadi kekasih raja Yan Yue menjadi biksu di sini.
Seorang biksuni yang tampaknya paling tua dan memberi salam. Dia adalah Biksu kepala yang memimpin kuil Sunyen itu. Xiao Yi pun merapatkan tangan memberi salam dan membungkuk memberi hormat. Jian Jie tampaknya sangat familiar dengan tempat itu, dengan penuh hormat menyampaikan maksud kedatangan mereka serta memperkenalkan Xiao Yi dan menyerahkan beberapa kantong liang sebagai persembahan.
"Selamat datang di kuil Sunyen, Nyonya Yi..."
Sang Biksu menyambut dengan ramah.
"Kami berdoa semoga Nyonya dan Yang Mulia diberikan kesehatan dan keberuntungan." Biksu tua itu menyampaikan harapan.
Baru kali ini ada seorang selir dari Raja Yan Yue yang berkunjung ke kuil Sunyen. Itu merupakan suatu hal yang istimewa untuk para biksu di kuil ini. Ada bebarapa kali, kuil ini pernah di datangi oleh bangsawan-bangsawan Yanzhi dalam hari-hari besar tertentu termasuk Ibu suri.
Kuil ini pernah di kunjungi Yang Mulia Yan Yue, dulu sekali untuk bersembahyang, tapi hanya sekali itu. Setelahnya, Yang Mulia tidak pernah lagi datang kecuali satu dua orang pengawal pribadi Yang Mulia, yang datang secara berkala dalam satu purnama untuk mengantarkan persembahan kepada kuil Sunyen.
Jian mempersilahkan Xiao Yi ke sebuah bejana tempat berisi air di sudut ruangan dan mencuci tangannya di situ, setelah itu Xiao Yi menerima dupa dari seorang biksuni.
Wajah biksu perempuan yang masih cukup muda itu sangat tenang, usianya mungkin saja di akhir dua puluhan, jauh lebih tua dari Xiao Yi yang masih belum genap dua puluh tahun.
Senyumnya memancar hangat kepada Xiao Yi, entah mengapa Xiao Yi merasa biksu ini tetap terlihat begitu cantik meskipun kepalanya tanpa sehelai rambut sama sekali.
Xiao Yi tanpa banyak bicara, membakar dupa di tangannya lalu melakukan Pa kui tiga kali sebelum menancapkan dupa di tangannya ke sebuah bejana di atas altar. Di iringi do'a-do'a yang di bacakan oleh para biksuni di dalam ruangan sembahyang.
Tidak berapa lama, ritual itu selesai dan mereka berdua memohon diri kepada semua biksu.
Jian menanyakan beberapa hal kepada biksu tua yang berhubungan dengan keperluan dari kuil Sunyen yang mungkin bisa di bantu dan berjanji Selir Yi akan mengirimkan semua kebutuhan kuil Sunyen.
"Terimakasih atas bantuan dari nyonya Yi, semoga karma baik dan keberuntungan di terima oleh nyonya dan semua keinginan baik nyonya bisa terlaksana." Ucap Biksu tua dengan penuh rasa terimakasih
Bikshuni muda yang memberikan dupa kepada Xiao Yi mengantarkan mereka sampai menuruni tangga.
"Nyonya adalah selir Yang Mulia?" tanya nya dengan menundukkan wajahnya dalam-dalam begitu mereka mencapai pekarangan tempat kuda mereka ditambatkan.
Xiao Yi mengangguk membenarkan sambil tersenyum sembari tetap dalam posisi penuh hormat pada biksu perempuan yang masih muda itu.
"Apakah Yang Mulia dalam keadaan sehat?" tanyanya lagi, suaranya lebih pelan.
"Ya, Yang Mulia dalam keadaan sehat" jawab Xiao Yi, merasa heran dengan pertanyaan biksuni ini.
"Kami berdoa untuk kesehatan Yang Mulia, kesehatan nyonya dan juga kesejahteraan rakyat Yanzhi." Biksu itu tersenyum dan sedikit membungkuk seraya mundur beberapa langkah memberi ruang untuk Xiao Yi menaiki kudanya.
Xiao Yi menaiki kudanya di ikuti oleh Jian. Tidak berapa lama mereka sudah memacu kudanya menembus kegelapan malam menuju tempat Yang Mulia Yan Yue menunggu mereka.
Yang Mulia duduk di sebuah batu ketika Xiao Yi dan Jian tiba. Ketiga pengawal lain tampak berjaga dengan siaga di sekeliling Yang Mulia. Sementara Yang Mulia Yan Yue, duduk menunggu dengan wajah yang tenang.
"Maafkan kami telah membuat Yang Mulia terlalu lama menunggu" Jian melompat dari atas kuda dan memberi hormat.
"Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Yang Mulia sembari berdiri.
"Semua berjalan dengan lancar Yang Mulia." Jian menjawab dengan cepat.
"Sebaiknya kita segera kembali ke istana" Yang Mulia menatap sesaat wajah Xiao Yi yang nampak bercahaya di timpa sinar bulan, yang tiba-tiba menyembul separuh di balik awan.
Tampaknya semakin larut, cuaca semakin bersahabat.
Gadis itu duduk dengan gagah di atas kudanya, dagunya terangkat tinggi menantang malam. Tidak ada ketakutan ataupun keluhan dengan hawa dingin yang mungkin sedang dirasakannya. Gadis ini mengingatkannya pada seseorang di tahun-tahun yang lama, yang sudah begitu jauh ditinggalkannya.
Menjelang tengah malam rombangan kecil itu sudah menuruni bukit Zhieshan dan tiba di gerbang utara istana. Penjaga gerbang bersiaga membuka gerbang, setelah melewati beberapa bangunan istana mereka kembali ke belakang bangunan kosong tempat awal keberangkatan mereka.
Di sana telah menunggu Kasim Chen dan dua pengawal berbaju hitam yang mereka tinggalkan tadi.
"Hormat kepada Yang Mulia..." kasim Chen membungkuk memberi salam begitu mereka sudah turun dari kudanya masing-masing.
Wajah Yang Mulia begitu cerah dalam keremangan cahaya malam, ada rasa puas yang tersirat dari senyumnya.
"Buka kan pintu istana Chue Lian!" perintahnya.
Kasim Chen sejenak terpana, dia seperti tidak percaya dengan yang di dengarnya.
"Ya, yang mulia??" Kasim Chen meminta Yang Mulia mengulang perintahnya.
"Buka pintu istana Chue Lian, malam ini aku dan selir Yi akan menginap di Istana Chue Lian."
Yang Mulia menjawab dengan santai.
Kalimat itu menjadi berbeda makna di telinga Xiao Yi dan kasim Chen.
Xiao Yi merasa serasa di sambar geledek, di benaknya ternyata Yang Mulia masih menginginkan dirinya meskipun dia telah melakukan semua permintaan Yang Mulia.
Dia mengira Yang Mulia akan melepaskannya kembali ke Wisma Xingwu setelah kepulangan mereka tetapi ternyata, mereka harus melewatkan malam ini di sebuah tempat bersama.
Sementara kasim Chen termangu, ini pertama kali Yang Mulia akan mengunjungi Istana yang selama ini terlarang bagi orang lain menginjaknya selain Yang Mulia sendiri.
Sejak sepuluh tahun terakhir Yang Mulia hanya membuka Istana itu untuk dirinya sendiri dan beberapa pelayan kepercayaannya yang secara rutin membersihkan tempat itu.
Tidak pernah ada seorang perempuan pun termasuk selir bahkan ibu suri sendiri yang boleh mengunjungi istana itu.
Istana itu hanyalah milik Yang Mulia Yan Yue dan segala kenangannya bersama dengan kekasihnya yang telah lama meninggalkannya, nona Jiu Fei.
...Terimakasih readers tersayang yang sudah kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...Nantikan UP episode selanjutnya......
...🌹🌹...
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya🙏...
...Love you all☺️😊...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
ciru
cakeep
2023-08-15
0
mama yuhu
semangat thor
2023-04-05
1
nadira
tanda tanda niiih
2023-02-21
0