Xiao Yi mengikuti Yang Mulia Yan Yue dan kasim Chen, diikuti oleh pengawal-pengawal raja yang berpakaian gelap dan berikat kepala hitam itu menuju bagian depan bangunan yang di kelilingi oleh pohon mapel dan beberapa pohon persik di halamannya.
Di atas pintunya tertulis "Istana Chue Lian"
Kasim Chen mengeluarkan kunci Pintu Istana Chue Lian yang selalu ada terselip di pinggangnya. Yang Mulia Yan Yue hanya mempercayakan semua urusan pribadinya kepada kasim yang telah mengasuhnya sejak dia berusia 5 tahun itu.
ketika Pintu itu terbuka ternyata itu hanyalah gerbang, di dalamnya terdapat beberapa bangunan kecil yang saling berhadapan, sementara di tengah-tengah semua bangunan itu pekarangan dengan sebatang pohon Rongshu semacam beringin dengan batang nya yang besar dan berwarna abu-abu, berdiri ditengah-tengah pekarangan. Daun-daunnya yang rimbun nampak hitam dalam kegelapan malam. Di bawahnya ada kursi dan meja bulat yang di bentuk dari oak.
Di setiap sisi kiri dan kanan istana Chue Lian terdapat sebuah pot besar yang di dalamnya pohon hiok atau di kenal dengan tanaman giok. Daun kecil-kecilnya yang tebal dan bertumpuk sewarna jamrud jika dilihat siang, hijau cerah kemilau jika ditimpa cahaya, sayangnya dalam keremangan tanaman itu hanya seperti segerombol batu.
Tanaman ini banyak hidup di Wilayah Niangxi yang cenderung hangat. Melambangkan keberuntungan.
Pintu istana Chue Lian terbuka, Yang Mulia melangkahkan kakinya masuk di ikuti oleh Xiao Yi. Sementara pengawal pribadi kepercayaan raja yang selalu menemani kemanapun dia pergi, Jian Jie dan 5 lainnya mengambil posisi berjaga di depan pintu.
Bagian dalam istana itu hanya remang-remang karena hanya mendapat cahaya dari sebuah lentera di sudut ruangan.
Kasim Chen segera menghidupkan beberapa lentera lain yang ada di atas meja dan beberapa sudut ruangan, sehingga ruangan itu menjadi terang benderang.
Istana Chu Lian itu di dominasi dengan ornamen warna hijau. bahkan kain tirai yang ada di dalamnya dari beludru warna hijau.
Hiasan ruangannya juga dari kebanyakan dari giok dipadu dengan ornamen dari kayu.
Sebuah vas di atas meja dengan bunga krisan yang berwarna putih buram karena layu nampak kontras dengan ruangan yang indah itu.
"Ambilkan arak dan beberapa camilan" kata Yang Mulia Yan Yue melepaskan mantelnya sambil menuju sebuah balai di sudut ruangan. Balai memanjang seperti tempat santai itu ditutupi karpet tebal berwarna kuning gading. Di atasnya terdapat bantalan duduk yang ada di kiri kanan meja segi empat berkaki pendek yang berdiri pongah di atas balai.
Kasim Chen dengan patuh meninggalkan kamar itu. Sekarang yang ada hanya Xiao Yi dengan Yang Mulia Yan Yue.
"Kemari, mendekatlah...." Yang Mulia memanggil Xiao Yi, dalam nada berat dan lelah.
Xiao Yi mendekat dengan pasrah, ketakutannya yang dirasakannya sepanjang perjalanan menuju Istana chu Lian itu sepertinya menguap perlahan. Dia sudah tidak bertenaga untuk menghindar dari apapun yang akan terjadi.
"Duduklah!"
Xiao Yi mengambil tempat duduk di seberang meja, menunggu.
"Ini adalah pertama kalinya aku mengijinkan orang lain boleh masuk ke dalam istana Chue Lian ini. Kamu adalah orang pertama yang ku bawa ke sini. Ku harap aku tidak salah menilai tinggi dirimu,"
Xiao Yi mendengarkan dengan raut wajah tanpa ekspresi, Yang Mulia adalah orang yang penuh kejutan. Dia bahkan tidak bisa menebak apa yang mungkin sedang dipikirkan Yang Mulia dan bahkan apa yang akan terjadi padanya setelah beberapa saat lagi.
"Selir Yi...bolehkah aku memanggilmu dengan nama lain?" tanya Yang Mulia, meskipun pertanyaan itu sebenarnya hanya formalitas saja. Seorang raja berhak memanggil siapapun dengan apapun yang dia mau, siapa yang bisa menolak?
"Yang Mulia bebas memanggilku dengan nama apapun" jawab Xiao Yi, dengan wajah menunduk.
"Bisakah kamu mulai malam ini kalau berbicara denganku, langsung menatap wajahku?"
"Hamba tidak berani Yang Mulia" Jawab Xiao Yi.
"Angkat wajahmu! ini perintah!" Volume suara Yang Mulia agak meninggi, memaksa Xiao Yi mengangkat dagunya.
Yang Mulia tersenyum lebar, wajahnya yang biasanya dingin dan agung itu, terlihat cerah. Matanya yang coklat kehitaman sewarna batang willow itu, berkilat tajam namun lembut.
"Begitu lebih baik" kata Yang Mulia, matanya menyapu tiap bagian wajah Xiao Yi.
"Mulai hari ini, jika kita hanya berdua, kau harus menatap mataku, saat kita berbicara!"
Pandangan Yang Mulia lurus mulai dari rambut hitam legam panjang yang digelung sebagian, dan di hiasi jepit rambut dari kayu berukir lotus pemberiannya itu, kemudian pada mata Xiao Yi yang bulat jernih, matanya memang lebih bulat dari gadis-gadis kebanyakan. Kemudian alisnya yang lurus dengan lengkungan halus pada bagian ujungnya, hidungnya yang bangir dan bibir tipisnya yang berwarna merah muda. Semua tampak serasi dengan wajah lonjong halus bak pualam milik gadis itu.
Yang Mulia Yan Yue baru menyadari gadis ini bahkan lebih cantik dari pertama kali dia temui di tengah jalan pasar kota Yubei.
"Kamu ternyata sangat cantik..." Desah Yang Mulia, pertama kali dalam bertahun-tahun kebelakang, dia memuji seorang gadis karena kecantikannya. Betapa sesungguhnya kalimat itu begitu langka di ucapkan dari bibir Yang Mulia.
"Aku akan memanggilmu dengan nama Chenxing jika bersamaku..." kata Yang Mulia.
"Matamu itu, seperti kejora...nama Chenxing akan cocok untukmu, apakah kamu menyukainya?" tanya Yang Mulia.
Xiao Yi mengangguk saja.
Kasim Chen tiba dengan dua orang pelayan, membawa baki kayu berisi cemilan berupa kue dari beras yang berwarna merah dan hijau dengan motif seperti punggung kura-kura dan kue lobak yang dipanggang dengan beberapa guci arak Juhua Jiu dari fermentasi bunga krisan. Arak ini adalah kesukaan Yang Mulia jika bersantai, karena bisa membuatnya merasa lebih tenang.
Kasim Chen dan dua pelayan itu segera keluar setelah meletakkan baki yang mereka bawa. Kasim Che menutup pintu dengan hati-hati. Sesaat Kasim Chen dan Jian di depan pintu saling beradu pandang, seolah saling bertukar tanya dalam hati,
Apakah Yang Mulia sudah melupakan nona Jiu Fei?
"Chenxing..." Yang Mulia memberi isyarat untuk menuangkan arak ke dalam cangkir keramik yang ada di atas meja.
Xiao Yi menuangkan arak ke dalam cangkir dan memberikannya kepada Yang Mulia, dalam sekali teguk anggur itu tak bersisa di dalam gelas.
"Chenxing, terimakasih kamu telah melakukannya untukku." Ucap Yang Mulia pelan.
"Melakukan apa Yang Mulia?" sekarang Xiao Yi menjadi lebih berani, kepalanya terangkat melihat langsung mata yang diam-diam menarik perhatiannya itu.
"Mengantarkan persembahan ke kuil Sunyen." jawab Yang Mulia.
"Oh..." Xiao Yi mendesah, sambil menuangkan lagi arak dari guci.
"Apakah kamu melihatnya, apakah dia baik-baik di sana?" Yang Mulia menerawang seolah bertanya kepada diri sendiri.
"Siapa yang dimaksud Yang Mulia?" tanya Xiao Yi kebingungan.
Yang Mulia mengeluarkan sebuah gantungan baju dari giok berwarna hijau jamrud dengan motif naga yang dari tadi menggantung di pinggangnya, giok itu di gantung dengan tali anyaman sutra kuning yang ujungnya di pintal berjumbai.
Tiba-tiba Xiao Yi teringat biksu yang mengantarnya sampai pekarangan kuil tadi, di pinggangnya menyembul jumbai yang sama, sewarna dengan sutra kuning pada giok Yang Mulia.
"Dia...dia..." Yang mulia mengelus jumbai itu dengan mimik yang begitu muram, kata-katanya mengambang seperti kabut di udara.
"Dia baik-baik saja Yang Mulia" tiba-tiba saja Xiao Yi menyela, meskipun tampak ragu-ragu.
Muka Yang mulia langsung terangkat memandang lurus kepada Xiao Yi. Ada keterkejutan yang tampak di pias wajahnya.
Apakah gadis ini benar-benar tahu apa maksudnya? atau dia hanya mengada-ngada sekedar berusaha menghibur Yang Mulia?
"Dia yang memiliki gantungan yang sama dengan yang dipegang Yang Mulia, aku telah bertemu dengannya..." ucap Xiao Yi dengan nada berani. Sekarang dia yakin, biksu perempuan yang tidak terpaut jauh usianya dengan Yang Mulia itu tentulah Jiu Fei, kekasih lama Yang Mulia.
...Terimakasih readers tersayang yang sudah kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...Nantikan UP episode selanjutnya......
...🌹🌹...
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya🙏...
...Love you all☺️😊...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
ciru
cakeep.
2023-08-15
0
Meliany Rina
sedih juga akan kisahnya
2023-05-28
0
mama yuhu
rumah cinta pertama raja🤭
2023-04-05
1