"Selir Yi..."suara ragu-ragu Selir Yuan tiba-tiba menghentikan cerita Xiao Yi.
Xiao Yi, mengalihkan pandangannya ke wajah mungil di depannya itu yang nampak cemas menatapnya.
"Kamu menangis?" tanyanya dengan wajah bersalah. Xiao Yi buru-buru menghapus air matanya. Kemudian tersenyum dengan getir yang kentara.
"Aku...aku hanya rindu rumahku" jawab Xiao Yi dengan suara bergetar.
Selir Yuan memegang jemari Xiao Yi.
"Semua orang pasti rindu dengan rumah, suatu saat kalau kita beruntung kita bisa kembali pulang..."Selir Yuan tampak berusaha menghibur Xiao Yi. Meskipun dia sendiri tak yakin dengan apa yang dikatakannya.
Xiao Yi mengangguk dengan tatapan penuh harap, memiliki seorang teman di tempat asing ini sedikit banyak membuatnya merasa beruntung.
"Apakah ada kematian, sehingga ada yang perlu ditangisi di tempat ini?" tiba-tiba seorang wanita dengan gaun kuning terang, raut wajah masam dan pongah berdiri di depan pintu gazebo.
Dagunya terangkat dengan mata yang menyipit penuh kecurigaan.
Selir Yuan segera berdiri, di ikuti oleh Xiao Yi.
"Selamat datang kepada Selir Mei," Selir Yuan menyambut ramah sambil memberi hormat, hal yang sama dilakukan Xiao Yi.
"Ada apa ini?" tanyanya lagi, tanpa memperdulikan sambutan yang di berikan padanya.
"Kami hanya minum teh dan makan beberapa camilan pagi, apakah selir Mei mau bergabung?" Selir Yuan balik bertanya.
"Aku hanya lewat saja, tidak berminat untuk bergabung." Sahut Selir Mei.
"Kenapa selir baru ini menangis? apakah dia terlalu senang bercerita tentang undangan makan malam bersama raja tadi malam, sehingga air matanya tumpah ruah karena bahagia" Selir Mei berucap sinis, matanya menatap tajam ke arah Xiao Yi.
"Bukan begitu kakak Selir Mei..." Selir Yuan menyahut cepat, menjadi tak enak dengan ketegangan yang tiba-tiba itu.
"Selir Yi hanya sedang bercerita tentang kota asalnya"
"Oh,ya? hanya itu?" mata Selir Mei yang sipit dengan bola mata coklat itu berkilat seperti serigala yang sedang waspada.
"Apakah dia tidak bercerita juga, bagaimana cara dia merayu Yang Mulia, di malam pertama? Tidakkah dia menceritakan bagaimana membuat Yang Mulia terhasut oleh mulut berbisanya?" Selir Mei melengos, sepertinya kecemburuannya terhadap Xiao Yi sana sekali tidak bisa di tutupinya.
"Kami tidak berbicara tentang itu..." Selir Yuan tampak kebingungan.
Xiao Yi tidak berkata apa-apa, dia diam mematung di tempatnya berdiri, memandang heran kepada Selir Mei yang baru datang dan terus mengucapkan hal-hal yang tidak dimengerti olehnya.
"Selir Yuan, kamu tidak perlu membelanya, kita hanya perlu mendengarkan Selir Yi mengisahkan kelihaiannya, karena dua malam berturut-turut bisa menemani raja!" sekarang kilat kecemburuan dimata Selir Mei berubah menjadi kebencian.
"Aku tidak melakukan apa-apa..." Xiao Yi berkata lirih.
"Tidak melakukan apa-apa?! bagaimana bisa, Yang Mulia hanya melihat kepadamu, tanpa kamu melakukan apa-apa?" nada suara Selir Mei terdengar mengejek.
"Dengarkan baik-baik, kamu baru saja masuk ke istana ini. Kamu hanyalah selir raja yang baru, entah bagaimana cara kamu meneluh Yang Mulia sehingga bisa melihatmu. Tapi, sebentar lagi Yang Mulia akan sadar, kamu hanya akan di campakkan seperti sampah sisa yang tidak berguna" Selir Mei nampak geram di depan Xiao Yi dengan wajah merah padam.
Lalu dengan kesal, menghempaskan lengan jubahnya dan berbalik meninggalkan gazebo tempat Selir Yuan dan Xiao Yi berada tanpa pamit atau memberi salam.
Selir Yuan menghela nafas panjang, sementara Xiao Yi masih mematung di tempatnya berdiri seperti orang yang kebingungan.
"Dia marah untuk alasan apa?" tanya Xiao Yi seolah pada dirinya sendiri.
"Sudahlah, tidak perlu dibawa ke dalam hati, Selir Mei memang selalu begitu." Selir Yuan duduk kembali dan menuangkan teh ke dalam cangkir.
Xiao Yi duduk dengan sikap enggan. Selir Yuan menyodorkan gelas yang berisi teh dan tersenyum lebar kembali.
"Selir Mei memang selalu bersikap emosional, untuk hal-hal yang tidak perlu pun kadang dia mengamuk tanpa alasan. Tidak perlu terlalu kau hiraukan" Selir Yuan meneguk teh dala cangkirnya, mencoba meredakan ketegangan yang dialami Xiao Yi.
"Tapi aku tidak melakukan apapun yang dituduh oleh selir Mei..." Xiao Yi mendesah, membela dirinya.
"Jadi, di malam pertama yang mulia denganmu, Yang Mulia tidak melakukan apa-apa padamu? bukankah dia bermalam di wisma Xingwu malam itu? seisi istana telah tahu rumor itu!" Sekarang Selir Yuan yang melotot tidak yakin pada Xiao Yi.
"Yang Mulia hanya tidur di wisma Xingwu karena terlalu banyak minum, kami bahkan tidak tidur di satu ranjang..." Xiao Yi berkata setengah berbisik.
Selir Yuan tiba-tiba tertawa geli, seolah mendengar hal yang lucu dan lumrah.
"Tentu saja, rumor yang beredar selalu berlebihan. Yang Mulia tidak akan menyentuh pengantinnya, itu adalah rahasia umum dalam istana ini..." selir Yuan terkekeh.
"Bahkan, aku tak yakin, Selir Mei pernah tidur dengan yang mulia seperti yang dikisahkannya pada semua orang, dia suka mengarang cerita untuk membuatnya lebih dihormati dari selir yang lain."Selir Yuan berbisik dengan mata yang berkedip geli.
Xiao Yi hanya menatap selir Yuan dengan bingung, apakah sebegitu pentingnya bisa tidur dengan Yang Mulia untuk meningkatkan status seseorang di dalam istana ini, sehingga para selir pun saling berkompetisi mencari perhatian raja?
"Selir Yi, tahu kah kamu di malam pertamaku dengan raja, bahkan Yang Mulia hanya menyodorkan arak pernikahan tanpa ingat untuk membuka tirai yang menutup wajahku" suara Selir Yuan terdengar sedih.
"Dia cuma datang menanyakan namaku, menyodorkan arak pernikahan, kemudian pergi. Dua tahun aku sudah tinggal di istana ini, sekalipun yang mulia tidak pernah lagi datang ke wisma Yangjie." Kesedihan Selir Yuan, tidak dimengerti oleh Xiao Yi. Seharusnya, jika Xiao Yi di posisi Selir Yuan maka dia akan sangat senang.
"Apakah sangat penting tidur dengan Yang Mulia, bagimu?" Xiao Yi akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya, tentang perasaan wanita di depannya ini yang masih belum mampu dimengerti olehnya.
"Tentu saja. Bukankah seorang istri harus melayani suaminya, itulah kewajiban kita. Jika seorang suami tidak ingin menyentuh kita bukankah itu membuat kita menjadi sangat rendah?"Selir Yuan balik bertanya dengan suara getir.
Xiao Yi tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya meletakkan cangkir tehnya perlahan seolah tidak ingin menimbulkan suara yang mungkin akan menambah buruk suasana hati Selir Yuan.
"Apakah kamu tidak tahu, seisi istana sedang sibuk membicarakan dirimu? Semua selir sedang dilanda kecemburuan yang luar biasa padamu" Selir Yuan merendahkan volume suaranya. Seolah tidak ingin di dengar oleh orang lain.
Xiao Yi terdiam, tidak yakin bahwa kecemburuan semua selir di istana ini beralasan.
"Ah, sudahlah...kita tidak perlu membicarakan hal-hal yang tidak penting seperti itu. Kita lebih baik bercerita tentang Youwu, aku sangat penasaran dengan kota dengan musim dingin paling ekstrim di kerajaan ini." Raut wajah selir Yuan kembali berubah cerah.
"Musim dingin di Youwu..." Xiao Yi berucap gamang, dia sepertinya kehilangan minat untuk bercerita lagi.
"Tahun itu, waktu aku datang ke Youwu, sedang musim gugur. Dan setiap musim gugur tiba, mengingatkan aku pada seseorang yang kutemui di Youwu..." Selir Yuan menatap kearah danau yang tampak tenang, setenang perasaannya yang tiba-tiba dirasuki rasa rindu.
"Seseorang?" Xiao Yi menaikkan alisnya yang hitam, penasaran.
"Ya, seorang pemuda di istana Tuan Qian, yang sedang memetik buah pir di kebun. Dia adalah orang tertampan yang pernah ku lihat di Youwu. Meskipun mungkin dia hanyalah seorang pelayan di istana tuan Qian." Selir Yuan menerawang dengan senyum samar di bibirnya .
Xiao Yi mendengarkan dengan seksama, segala sesuatu tentang Youwu akan membuatnya tertarik.
"Dia memberikan aku buah pir itu, dan bercerita dia memiliki teman yang sangat suka dengan buah pir di musim gugur."
Dahi Selir Yuan berkerut, dia menikmati sendiri apa yang sedang coba di ingatnya.
"Aku langsung menyukainya, pada pandangan pertama. Dia memiliki senyum yang sangat manis, lebih manis dari manisan tanghulu yang diberikannya di hari berikutnya"
"Sayangnya, mungkin kami tidak berjodoh, kami tidak pernah bertemu lagi setelahnya"
Selir Yuan menghela nafasnya.
"Seharusnya, aku tidak menerima buah pir itu sebagai hadiah. Bibi ku pernah berkata, buah Li tidak boleh di jadikan hadiah, karena Likai berarti pergi. Pir selalu melambangkan perpisahan." Selir Yuan mengakhiri ceritanya dengan wajah yang keruh.
Xiao Yi sekarang tampak tidak sependapat.
"Aku sangat menyukai buah pir, bahkan setiap musim gugur tiba, semua orang di Youwu yang mengenalku akan datang mengirimkan hadiah buah pir kepadaku saat musim gugur tiba,"
ucap Xiao Yi bersemangat.
"Seseorang pernah mengatakan kepadaku, buah pir mungkin berarti perpisahan, tapi
kita memakannya untuk menghindari perpisahan dengan yang orang-orang yang kita sayangi. Dengan memakannya, kita justru memiliki harapan besar untuk bisa berkumpul lagi bersama mereka di tahun-tahun mendatang."
Mata Xiao Yi menerawang jauh, pada wajah seseorang yang kini menancap kuat di dalam ingatannya.
...Terimakasih readers tersayang yang sudah kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...Nantikan UP episode selanjutnya......
...🌹🌹...
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like nya🙏☺️...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Maria Kibtiyah
selir yu tr yg jd sama ren
2024-12-06
0
semaumu aja
dia mah jablay mangkanya sensi
2023-11-20
0
semaumu aja
itu sih yg bakal Lo lakuin sayang nya nggak ada kesempatan 🤣
2023-11-20
0