Xiao Yi melepaskan semua perhiasan yang melekat di tubuhnya satu persatu dari chai bertatah batu ruby yang menancap di gelungan rambut bagian puncak kepalanya, anting-anting mutiara yang menggantung di kedua belah telinganya, kalung mutiara dengan liontin batu giok di frame dengan emas dan terakhir gelang giok di tangannya.
Yang Mulia menatapnya dengan mata menyipit seolah belum puas dengan apa yang dilihatnya, meskipun Xiao Yi tidak mengenakan perhiasan apapun sekarang.
Kemudian diambilnya sesuatu dari atas meja, Sebuah tusuk konde dari kayu persik dengan ukiran lotus yang sangat sederhana.
"Tahukah kamu, lotus adalah tanaman yang tumbuh di lumpur namun menghasilkan bunga yang indah dan murni. Lotus menceritakan tentang bagaimana transformasi sesuatu dari alam yang rendah dan tidak murni ke tingkat yang lebih tinggi." Ucap Yang Mulia entah dengan maksud apa. Xiao Yi hanya mendengarnya tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Aku selalu menyukai bunga lotus, sangat menyukainya..." lanjut Yang Mulia setengah berbisik di telinga Xiao Yi yang tiba-tiba merasa gemetar. Ada kehangatan yang tiba-tiba menjalari nadi-nadinya.
Lalu dengan hati-hati dipasangnya tusuk konde dari kayu persik licin kecoklatan itu ke gelungan rambut Xiao Yi yang sudah polos tanpa ornamen apapun.
"Sempurna..." Yang Mulia tersenyum dengan puas, wajahnya yang tampan dalam balutan pakaian sederhana itu benar-benar memukau.
Baru kali ini, Xiao Yi benar-benar membuka kedua matanya lebar-lebar mengamati wajah Yang Mulia Yan Yue.
Dia Jauh berbeda dari cerita orang-orang selama ini.
Tak ada kebengisan dan kekejaman di bola matanya, hanya kilat kesedihan yang berusaha di simpannya dalam-dalam
Yang Mulia tersenyum kepada Xiao Yi yang berdiri seperti patung di depannya. Menunggu dengan gugup apa selanjutnya yang akan di lakukan Raja ini kepadanya.
"Kasim Chen!"
Panggil Yang Mulia, di detik berikutnya Kasim Chen sudah muncul dari belakang pintu. Dengan patuh memberi hormat.
Yang Mulia mengernyitkan dahi pada Kasim yang telah merawatnya dari kecil itu.
"Semua sudah siap Yang Mulia" Kasim Chen membungkuk seolah mengerti dengan kode yang telah diberikan oleh Yang Mulia Yan Yue padanya.
"Baiklah, hari sudah mulai gelap kita harus segera berangkat" Kata yang Mulia sambil menyusupkan sebuah gantungan baju dari giok warna hijau jamrud di pinggangnya.
Yang Mulia menyodorkan sebuah mantel warna gelap kepada Xiao Yi, sementara Yang Mulia Yan Yue sendiri mengenakan mantel lain yang sewarna dengan yang diberikannya kepada Xiao Yi.
Yang Mulia Yan Yue berjalan menuju pintu, Kasim Chen memberi isyarat kepada Xiao Yi untuk mengikuti yang Mulia.
Xiao Yi dalam rasa bingung dan penasaran mengikuti langkah Yang Mulia meninggalkan ruangan. Di luar ruangan telah berdiri enam orang pengawal berikat kepala hitam dengan pakaian gelap dan pedang bersarung di tangan masing-masing.
Kasim Chen mendahului dan memberi isyarat untuk berjalan melalui samping istana Rongyu melewati beberapa petugas penjaga yang seperti telah mengerti dengan situasi memberi hormat dan memberi jalan. menyelinap di antara bangunan perpustakaan kerajaan.
Di bagian belakang istana Rongyu sebuah bangunan menyerupai istana yang tidak lagi ditinggali tetapi terawat dengan sangat baik, ada beberapa ekor kuda terikat di pohon mapel.
Hari sudah gelap, ketika mereka tiba di sana. Penerangan remang-remang hanya dari lampu-lampu di setiap sudut bangunan yang ada di depan mereka.
"Kamu benar berasal dari Youwu?" Yang Mulia menolehkan wajahnya kepada Xiao Yi.
Xiao Yi mengangguk, raut kebingungannya masih kentara di kilatan cahaya lentera yang di gantung pada sudut luar bangunan kosong itu.
"Kamu bisa menaiki kuda?" tanya Yang Mulia lagi.
"Ya, Yang Mulia" jawab Xiao Yi dengan percaya diri.
Berkuda adalah hal yang biasa bagi Xiao Yi karena jika musim semi tiba maka kakaknya Xiao Ying akan membawanya ke dataran Pingyuan. Mereka akan berlomba sepanjang dataran untuk mencapai hutan cemara picea yang ada di bawah bukit Jianjing.
"Aku sudah yakin, tidak salah memilihmu...!Aku pernah mendengar, kalau gadis-gadis dari Youwu terkenal dengan kemampuannya berkuda" Yang Mulia Yan Yue tersenyum lebar.
"Naiklah..." Yang Mulia menjulurkan tangannya kepada Xiao Yi. Tangan kekar yang hangat milik Yang Mulia Yan Yue menggenggam tangan gadis itu, dan tangannya yang lain memeluk pinggang rampingnya.
Dengan sekali angkat, Xiao Yi telah berada di atas punggung kuda.
Yang Mulia Yan Yue dalam sekali lompat juga sudah di atas kuda yang lain. Seorang pengawal kemudian membantu melepaskan tali kuda. Kasim Chen berdiri dengan dua orang pengawal yang tinggal mengantarkan kepergian mereka.
Tidak lama setelahnya enam ekor kuda itu mulai bergerak menuju jalan belakang istana yang tidak di tinggali itu, melewati beberapa pos di depan beberapa bangunan yang masih merupakan bagian dari bangunan istana yang luas itu kemudian gerbang kecil tinggi dari kayu kokoh yang tertutup rapat.
Seorang Pengawal mengetuknya, pintu itu terbuka. Beberapa orang penjaga memberi jalan dan dengan cepat menutup gerbang itu ketika kuda-kuda itu mulai berlari menjauh.
Dalam detik berikut kuda-kuda itu mulai di pacu cepat menuju ke arah bukit kecil di belakang istana. Xiao Yi menarik kekang kudanya dengan bersemangat, ini pertama kali dia merasa hidup, saat bisa menghirup udara di luar istana. Meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang sedang di tuju olehnya di depan bersama Yang Mulia Yan Yue dan beberapa pengawal di belakangnya.
Bukit di depan itu dinamakan bukit Zieshan. Jika tiba musim semi maka warna bukit itu akan berwarna ungu keperakan dari jauh karena di bukit kecil itu di tumbuhi banyak pohon Zi teng atau pohon wisteria.
Konon menurut legenda, di bukit Zhiesan pernah ada sebuah kisah sedih. Dulu bukit itu hanyalah tanah kosong dan meranggas. Di sana tinggal sepasang suami istri.
Suatu hari sang suami di panggil oleh kerajaan untuk ikut berperang. Sebelum pergi sang suami meninggalkan segenggam biji Zi teng dan meminta istrinya menanamnya serta menjaga biji itu tetap hidup serta tumbuh sampai dia kembali.
Selama bertahun-tahun biji-biji wisteria itu tumbuh menjadi pohon. Dan si istri dengan setia merawat pohon-pohon itu dalam penantiannya. Banyak musim semi di lewatinya seorang diri dengan menatap mekarnya bunga wisteria.
Sayangnya, sang suami tak pernah kembali karena gugur di medan perang.
Sang Istri kemudian membuat racun dari biji-biji wisteria dan memakannya karena kesedihan yang tak bisa ditanggungnya lagi. Istri yang malang itu makamkan di dalam hutan Zi teng, di atas bukit Zieshan dalam penantiannya yang tak pernah berakhir.
Beratus tahun kemudian di atas bukit Zieshan yang indah itu di dirikan sebuah kuil, oleh seorang dari raja Yanzhi terdahulu untuk isterinya yang memuja dewi Kwan Im, kuil itu di namakan kuil Sunyen.
Kuda di pacu semakin cepat ketika mendekati bukit Zhiesan. Mereka melewati pohon-pohon wisteria yang tampak suram dalam kegelapan malam. Bulan sendiri tidak kelihatan, bersembunyi di balik awan gelap musim dingin.
Di dalam Kuil Sunyen itu diatas bukit Zueshan yang di selimuti kegelapan malam, diantaranya ada seorang biarawati yang menjadi cinta mati Yang Mulia Yan Yue, yang juga mematahkan hati sang raja sampai menjadi seperti kepingan salju yang tercerai tak berbentuk. Setiap kepingan itu membeku bagai batu es yang tak pernah bisa mencair.
...Terimakasih readers tersayang yang sudah kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...Nantikan UP episode selanjutnya......
...🌹🌹...
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya🙏...
...Love you all☺️😊...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Echa04
apa yg yan yue mau ngenalin cinta sejatinya pd yiyi
2023-09-08
0
🎼shanly_keys
waw.....
2023-06-29
0
nadira
bagusss
2023-02-21
0