Saat yang dinanti telah tiba. Saat bertemu dengan calon ayah mertua. Bagaimana rasanya bertemu dengan calon ayah mertua? Sebentar lagi Marisa akan merasakannya.
Matahari telah berganti dengan bintang bintang kala Elvan dan Marisa memasuki Restauran yang terbilang mewah itu. Langit yang kini menjadi gelap dihias jutaan bintang nampak begitu romantis saat mereka telah sampai dimeja Restauran. Elvan sengaja memesan meja di lantai teratas restauran itu, untuk membuat kesan yang tidak terlalu formal pertemuan pertama mereka bertiga.
Keraguan dihati Elvan seolah hilang kala menatap wajah ayu yang meneduhkan hatinya itu. Pikiran buruknya siang tadi seakan lenyap bersamaan dengan senyum manis yang selalu tertarik dari bibir ranum yang dipoles lipstik merah itu.
Marisa nampak anggun dengan blouse putih yang dipadu dengan rok hitam dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai indah.
Sementara Elvan nampak gagah dengan kemeja polos berwarna maroon dengan celana hitam polos. Serta rambutnya yang biasa berponi, kini telah diubahnya sehingga menampakkan jidatnya yang mulus dengan jelas.
Mereka berdua nampak tersenyum malu malu saling mengagumi penampilan masing-masing.
Elvan dan Marisa duduk di kusi dengan meja bundar, dihiasi lilin besar yang menghasilkan cahaya yang begitu terang. Terdapat bunga asli yang mekar diatas vas bunga dari kaca itu.
Malam ini Elvan begitu romantis dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Hingga datanglah sesosok laki-laki dengan setelan jas biru dongker yang datang menghampiri mereka. Laki-laki yang dikenal Marisa sebagai atasannya di kantor, sekaligus ayah dari direktur utama dimana dia bekerja sebagai sekretaris pribadinya.
"Pak Erwin." Sapa Marisa dengan terkejut yang membuatnya reflek berdiri. Ia sungguh tak menyangka atasannya dikantor itu datang menghampirinya saat ia dan calon suaminya akan bertemu dengan calon mertuanya.
"Halo, Risa. Kamu disini?" Tanyanya dengan senyum kepada Marisa.
Elvan yang memperhatikan reaksi Marisa pun ikut berdiri. Ia masih menunggu apa yang akan dikatakan Marisa selanjutnya.
"Bapak disini juga?" Tanya Marisa setengah gugup. Ia pernah terpergok tengah jalan dengan putranya tapi kini ia malah bersama laki-laki lain. Entah apa yang akan dipikirkan laki-laki setengah baya itu.
"Tentu." Jawab Pak Erwin lalu memperhatikan Elvan. "Saya ada janji untuk makan disini." Kata Pak Erwin lagi. "Di meja ini." Lalu menarik kursi untuk duduk.
"Apa kita salah meja mas?" Tanya Marisa kepada Elvan hampir tak bersuara. Ia yakin Elvan akan paham maksudnya karena Elvan tengah memperhatikannya.
Elvan menangkap jelas sinyal ketegangan di wajah Marisa. Ia mengerti dengan bahasa bibir yang diucapkan calon istrinya itu meski tanpa suara.
"Kita nggak salah meja, kamu duduk dulu deh." Kata Elvan lalu ia sendiri duduk kembali ke kursinya.
"Dia Papaku." Kata Elvan lalu terdiam menunggu reaksi Marisa.
Pak Erwin tersenyum kearah Marisa. Sementara Risa terlihat shock. Ia hanya mengedip ngedipkan matanya berkali kali antara mimpi dan kenyataan. Bagaimana bisa atasannya itu menjadi calon mertuanya? Apakah ini serius? Ah, pasti calon suaminya itu sedang bercanda.
"Mas, jangan bercanda." Kata Marisa dengan serius.
"Aku nggak bercanda sayang." Kata Elvan.
"Pasti kamu bingung ya Marisa." Kata Pak Erwin tersenyum ke arah Marisa. "Elvan ini anak kedua saya, dia adiknya Alvero, dan dia tidak pernah mau datang ke kantor, jadi wajar kalau kamu tidak mengenalinya sebagai anak saya." Kata Pak Erwin lagi.
Marisa masih terdiam. Diamatinya lagi wajah keduanya. Memang begitu mirip, seakan Elvan adalah gambaran masa muda Pak Erwin yang kini mulai tumbuh uban dikepalanya itu.
Elvan yang masih melihat ketegangan diwajah Marisa pun kembali berkata. "Pak Erwin ini Papaku Ris, aku dan Papa emang nggak tinggal serumah dan lama kami berpisah, karena aku dan Papa punya kehidupan masing-masing."
Marisa dan Pak Erwin terdiam. Risa menatap mata laki-laki yang duduk tepat dihadapannya itu. Mencoba menyelami apa yang dikatakan calon suaminya itu.
Marisa masih terdiam, lalu ia menganggukan kepalanya, mengerti.
"Mas, boleh aku ke toilet sebentar saja." Kata Marisa yang merasa dirinya semakin tegang.
Elvan mengangguk, ia paham Marisa masih terkejut dengan kenyataan ini.
Risa pun meninggalkan meja dan menuju ke toilet.
"Kamu yang tenang ya, Papa coba ngomong sama Marisa sebentar." Kata Pak Erwin yang kemudian menyusul Marisa.
Elvan pun mengangguk. Hatinya terus berdebar dengan tegang. Kenapa Marisa begitu aneh, apa dia tak menyukai Papa kandungnya itu.
Marisa masih berdiri di depan pintu toilet khusus wanita saat Pak Erwin memanggil namanya.
"Bisa kita bicara sebentar." Kata Pak Erwin.
"Em, Pak Erwin." Marisa kaget melihat Pak Erwin telah berdiri di sampingnya.
"Soal Alvero,,, kalau bisa kamu jangan bilang ke Elvan dulu kalau Alvero mendekati kamu." Kata Pak Erwin. "Saya tidak ingin ada keributan. Karena saya mau lihat Elvan bahagia bersama wanita yang dicintainya." Kata Pak Erwin lagi.
Marisa terdiam. Berfikir sejenak. "Saya tidak akan bercerita, tapi kalau suatu saat Mas Elvan bertanya saya akan menjawab semua apa adanya." Kata Marisa.
"Ya itu lebih baik, sekarang saya akan kembali kepada Elvan. Tenangkan dulu hati kamu ya." Kata Pak Erwin lalu meninggalkan Marisa.
Marisa masuk kedalam toilet. Ia duduk diatas kloset duduk kamar mandi.
Mas Elvan anak kedua Pak Erwin, adik Pak Alvero. Bagaimana bisa? Bukannya bunda Mas Elvan sudah meninggal? Lalu Bu Anita? Bagaimana bisa? Apa mungkin Pak Erwin mempunyai dua istri? Ah,, mungkin begitu yang sebenarnya. Lebih baik aku tanya langsung sama Mas Elvan. Gumam Marisa.
Marisa keluar dari toilet dan kembali ke meja makan. Tak baik jika lama-lama meninggalkan Calon Suami dan Calon Mertuanya itu.
Marisa kembali menemui Elvan dan Pak Erwin di meja makan Restauran. Ia duduk kembali ke kursinya yang beberapa saat lalu ia tinggalkan.
Makanan sudah tersaji di meja. Elvan tersenyum ke arah Marisa. Begitupun Marisa, ia membalasnya dengan senyuman.
Mereka pun makan malam dengan tenang.
"Jadi kalian sudah kenal berapa lama?" Tanya Pak Erwin saat mereka selesai makan malam.
"Baru beberapa bulan ini Pa." Jawab Elvan "Berapa bulan sih dek?" Tanya Elvan kepada Marisa.
"Em,, hampir tiga bulan Mas." Jawab Marisa.
"Wah, kalian baru kenal langsung menikah?" Tanya Pak Erwin tak percaya.
"Iya, karena aku sudah sangat yakin dengan pilihanku." Kata Elvan dengan mantap.
"Papa bangga sama kamu El, memang lebih baik segera menikah dari pada lama-lama malah mempermainkan wanita." Kata Pak Erwin tersenyum bangga.
"Iya, jangan seperti Papa yang mempermainkan perasaan Bunda kan?" Kata Elvan dengan tatapannya yang sinis namun bibirnya seakan tersenyum.
"Mas." Marisa memegang tangan Elvan dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak ingin melihat Elvan dan Pak Erwin beradu mulut.
"Em,, Papa minta maaf soal itu El, memang itu kesalahan Papa, saat Papa bertemu Bunda kamu, Papa baru pertama kali merasakan jatuh cinta seumur hidup Papa, dan papa tidak ingin kehilangan bunda kamu El." Kata Pak Erwin yang mulai membuka kisah lamanya.
"Meskipun Papa sudah mempunyai istri?" Tanya Elvan masih dengan sorot matanya yang tajam penuh amarah. Namun nada bicaranya masih terdengar biasa.
Pak Erwin menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"Papa menikah dengan Mamanya Al karena perjodohan, dan setelah Papa jatuh cinta dengan Bundamu, papa tidak bisa berhenti, lalu Papa memutuskan untuk menikahi Bundamu tanpa sepengetahuan mereka semua dan Bundamu juga tidak tahu kalau Papa sudah menikah. Papa membohongi semuanya, dan saat kalian sekolah di TK yang sama akhirnya semuanya terbongkar. Kakek kamu, ayahnya Papa begitu marah, tapi karena permintaan Nenek kamu akhirnya dia mau menerima kamu, tapi tidak dengan Bunda kamu. Itu semua kesalahan Papa. Maafkan Papa El. Maafkan Papa." Kata Pak Erwin menitikan air matanya.
Pak Erwin masih begitu terpuruk, cintanya yang teramat dalam kepada sang istri yang telah meninggal, menyisakan penyesalan yang teramat dalam dihatinya. Andai ia dulu tak menikahi wanita yang begitu ia cintai itu. Mungkin saat ini dia masih bisa tersenyum bahagia. Andai dulu ia berani melawan ayahnya mungkin istri dan anaknya tak akan menderita seperti ini.
Sementara Elvan pun terlihat begitu marah merasakan sakit yang teramat dalam, mengingat bagaimana bundanya terabaikan. Tangannya mengepal, matanya yang tajam kini berlinang air mata yang tak sanggup ia tahan. Tapi tangan lembut Marisa mampu menenangkan hatinya. Merasakan usapan lembut dari wanita yang dicintainya, membuatnya sadar, ia harus kuat untuk menjaga Marisa agar tak seperti Bundanya.
Pak Erwin terus saja menangis, ia tak peduli lagi dengan apa yang dipikirkan anak dan calon menantunya yang akan menilainya sebagai laki-laki lemah. Ia tak perduli. Ia tumpahkan rasa sesal, sesak, dan begitu sakit yang menusuk-nusuk relung hatinya itu. Rasa yang telah lama ia pendam dalam dalam, kini ia tumpahkan semuanya dalam linangan air matanya.
Tiba-tiba Pak Erwin merasakan tangan yang memeluknya dengan erat.
bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Uwie Yanti
😭😭😭😭😭
2023-12-09
0
Yucaw
Begitulah cinta..deritanya tiada akhir..bagi pak Erwin,jadikan cermin El..semoga stlh ini kamu bs lbh menerima papamu,kalian sama" terluka
2023-05-28
0
Dwi Hartati08
😭😭😭😭
2022-09-18
0