Meminta Restu

Risa baru pulang setelah mewakili Alvero bertemu dengan klien. Karena Kevin yang biasa mewakili Alvero tengah berada di luar negeri guna meninjau proyek mereka disini. Absennya sang wakil direktur itu membuatnya menggantikan tugasnya. Sementara Alvero yang telah usai memimpin rapat dengan para pemegang saham sedang duduk tenang di kursi kerjanya.

Risa mengetuk pintu ruangan sang pimpinan itu. Setelah mendapat ijin akhirnya Ia masuk, dan kini Ia telah berdiri dihadapan Alvero.

Risa pun menyerahkan dokumen hasil meeting nya dengan klien untuk diperiksa kembali oleh Alvero.

"Kamu kerja sudah berapa lama Ris?" Tanya Alvero saat memeriksa hasil meeting yang diserahkan Risa.

"Saya baru bekerja setahun ini pak. Maaf, memangnya kenapa ya pak?" Jawab Risa sedikit gugup, apakah ada yang salah dengan hasil kerjanya.

"Emmm.. Saya suka dengan kerja kamu. Pertahankan ya!" Kata Alvero.

"Terimakasih pak. Saya juga masih belajar dengan Pak Alvero dan Pak Kevin yang selalu membantu saya." Menganggukkan pelan kepalanya.

"Hmmm.. ngomong ngomong kamu libur lebaran kemana Ris?" Tanya Alvero saat mengembalikan dokumen ke tangan Risa.

"Saya akan mudik ke kampung pak. Lebaran kan memang waktu berkumpul dengan keluarga Pak." Kata Risa.

"Hemm, sayang sekali Ris, padahal saya mau ajak kamu liburan ke Jepang bersama keluarga besar saya." Kata Alvero dengan nada menyesalnya. "Mungkin lain kali kita bisa liburan sama sama. Kamu mau kan?" Ajaknya dengan tersenyum menatap mata Risa.

Risa tak menjawab, hanya senyum canggung yang diterukir diwajahnya. Aneh sekali, kenapa tiba tiba atasannya itu mengajaknya liburan.

Setelah itu Risa pamit untuk kembali ke meja kerjanya. Masih dengan heran ia memikirkan kata kata Alvero barusan.

Pak Alvero ngajak aku liburan? Apa nggak salah?

Risa terekekeh pelan. Ia mengingat kembali bagaimana Mama Alvero yang marah saat Alvero ingin pergi berbuka bersamanya. Sungguh ia tak ingin membayangkan akan seperti apa reaksi Mama Atasannya itu jika saja Beliau mendengar ajakan Alvero untuk pergi berlibur.

****

Di Rumah Ayah Risa.

Setelah pulang sholat jum'at, Elvan yang sedang memasang kartu sim barunya itu tengah duduk di kursi tamu. Ia berharap akan ada jaringan walau hanya sedikit sehingga dia akan bisa berkomunikasi dengan Risa.

Setelah selesai memasang dan meregistrasi kartu simnya, Elvan mencoba mengirim pesan chat kepada Risa.

[Assalamu'alaikum cantik, lagi apa? Pasti lagi kerja ya.]

Setelahnya Elvan mengirim pesan kepada Galih.

[Bro, gimana bengkel,? Aman?]

Galih dan Risa belum membaca pesannya. Akhirnya ia letakkan kembali ponselnya diatas meja. Dan saat itu pak Rahmad masuk ke dalam rumah.

"Nak Elvan, belum istirahat." Pak Rahmad melihat Elvan yang masih mengenakan sarung tengah duduk di kursi ruang tamunya.

"Belum pak, nanti saja." Jawab Elvan.

Pak Rahmad kemudian duduk disamping Elvan.

"Jadi nak Elvan mau dengar jawaban saya sekarang atau nanti?" Tanya pak Rahmad yang matanya fokus ke televisi besar yang baru saja ia nyalakan.

"Emm kalau bisa sih sekarang pak, karena rencananya saya mau berangkat besok pagi." Kata Elvan melihat ke arah pak Rahmad. Ia begitu berharap mendapat kabar baik dari pak Rahmad.

"Kalau saya tidak setuju, Nak Elvan akan bagaimana?" Tanya pak Rahmad yang masih fokus melihat acara televisi.

Elvan menarik nafas dalam dalam, rasa percaya dirinya hampir hilang begitu saja, tapi ia masih tak ingin menyerah.

"Saya akan berusaha meyakinkan Bapak, saya memang tidak bisa berjanji untuk membuat Putri Bapak selalu bahagia, karena saya sadar saya tidak akan bisa membuat semuanya terkendali sesuai dengan keinginan saya. Tapi saya berjanji saya akan selalu ada disampingnya disaat bahagia, sedih, dan juga tangisnya." Jawab Elvan dengan mantap.

"Saya sebagai orang tua memang menginginkan Risa mendapat yang terbaik, tapi sebagai manusia saya juga sadar, anak saya punya banyak kekurangan." Pak Rahmad menarik nafas dalam dalam. Ada rasa sedih dan bahagia karena putri kecilnya kini telah dewasa dan akan diminta orang lain yang baru ia kenal beberapa hari untuk dijadikan istri. "Kalau Nak Elvan serius, Nak Elvan boleh membawa orang tua Nak Elvan kemari setelah Risa menyetujui lamaran ini." Kata Pak Rahmad menatap Elvan.

"Ibu saya sudah meninggal Pak, dan saya tidak yakin apa ayah saya akan bisa datang. Tapi kakek nenek saya pasti akan datang." Kata Elvan.

"Memangnya ayah nak Elvan kemana?" Tanya Pak Rahmad mulai penasaran.

"Ayah saya...." Elvan memikirkan kata apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan pak Rahmad. Apa ia harus jujur atau dia tutupi saja fakta itu.

Elvan masih terhanyut dalam pikirannya. Apa yang harus dia katakan kepada Pak Rahmad. Haruskah ia jujur mengatakan tentang keadaan hubungan dengan ayahnya yang sampai kini tak lagi dekat. Apakah pak Rahmad akan menerima keadaannya. Atau justru akan membuat pak Rahmad menolaknya. Elvan bingung. Ia terus saja mengerutkan alisnya.

"Nak Elvan." Kata pak Rahmad. "Apa nak Elvan baik baik saja." Tanya pak Rahmad yang alis mata Elvan berkerut tanda ia sedang memikirkan seuatu.

"Iya pak." Angguknya yang masih dengan keraguan hatinya.

"Apa ayah nak Elvan menikah lagi setelah kepergian ibu nak Elvan? Sepertinya nak Elvan sedikit berat untuk bercerita." Kata pak Rahmad.

"Emmm bukan begitu pak." Elvan terdiam sejenak, ia mengambil nafas sebanyak yang ia bisa lalu segera menghembuskannya. Berkali kali ia lakukan dan akhirnya ia siap bercerita.

"Jadi ayah saya punya dua istri, dan ibu saya adalah istri kedua ayah saya." Jawabnya tertunduk. Tak ada kekuatan dalam dirinya untuk sekedar menatap mata pak Rahmad. Ia pasrah apapun keputusan pak Rahmad, yang terpenting ia tak ingin menutupi fakta itu lagi.

Selama ini tak ada yang tahu bahwa Elvan masih memiliki ayah. Ia selalu menutupi karena rasa benci nya kepada keluarga ayahnya itu. Hanya Galih dan beberapa karyawannya saja yang mengetahui tentang sosok ayah kandungnya itu.

Pak Rahmad masih diam. Ia sendiri masih mencerna kata kata Elvan. Ada ketakutan dihatinya apakah Elvan juga akan seperti ayahnya. Memiliki dua istri yang akan menyakiti hati putrinya yang masih ia anggap putri kecil itu.

"Jujur saya tidak ingin anak saya mengalami sakit hati perselingkuhan atau bahkan poligami didalam rumah tangganya. Apa nak Elvan juga akan seperti ayah Nak Elvan?" Tanya pak Rahmad yang kini seolah tengah menghakiminya.

"Saya paham betul bagaimana perasaan ibu saya. Sebagai istri kedua, orang lain memandangnya hina karena merebut suami orang. Saya tahu bagaimana sakitnya hati ibu saya saat mengetahui fakta bahwa ibu saya bukan satu satunya wanita dihidup suaminya. Untuk itu saya berjanji tidak akan membuat Risa mengalami apa yang ibu saya alami." Elvan mengangkat kepalanya lalu menunduk lagi setelah kalimatnya berakhir.

Pak Rahmad kembali diam. Hening yang terasa membuat mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing masing.

Lalu pak Rahmad pun mulai bicara. "Ajaklah juga ayahmu kesini nak."

Elvan mengangkat kembali kepalanya, ia seperti mendapatkan kembali kekuatannya yang tadi mulai menghilang. Rasa percaya diri kembali merasuki jiwanya. Ia tersenyum sumringah. Sangat jelas terlihat kebahagiaan dimatanya.

"Insya Allah saya juga akan mengajak ayah saya pak." Kata Elvan dengan senyum yang tersungging dibibirnya.

"Yasudah Nak Elvan istirahatlah. Ini pakailah untuk mengobati kaki nak Elvan." Pak Rahmad memberikan sebuah krim kepada Elvan. Pak Rahmad tahu bahwa sepertinya kulit Elvan yang putih itu alergi terkena rumput liar di hutan.

"Terimakasih pak. Saya tidak apa-apa, ini hanya gatal gatal sedikit saja." Kata Elvan.

"Sudahlah sepertinya kaki Nak Elvan terkena alergi. Ini bisa mengobati alergi itu." Kata Pak Rahmad mengambil tangan Elvan lalu meletakkan krim itu ditangan Elvan.

"Terimakasih Pak." Kata Elvan.

Pak Rahmad tersenyum lalu pergi menuju kamarnya. Elvan pun mengoleskan krim itu di kakinya.

Elvan tidur dengan nyenyak siang itu, kini Ia hanya perlu fokus untuk meyakinkan Risa menerimanya sebagai calon suami. Ah, rasanya ia sudah tak sabar menunggu jawaban Risa.

Siang yang terik telah berganti dengan sore yang indah. Setelah sholat Ashar, Elvan mengajak pak Ridwan untuk mencari takjil. Ini adalah buka terakhirnya dirumah pak Rahmad. Ia juga ingin lebih dekat lagi dengan laki laki yang kini ia nobatkan sebagai calon ayah mertua.

Mereka menuju sebuah pasar dadakan. Karna hanya hari hari puasa seperti ini tempat ini menjadi pasar. Banyak jenis makanan yang dijajakan, mulai dari aneka es, aneka puding, lauk pauk, aneka olahan sayur juga tersedia.

Setelah berhenti di tempat yang cukup luas. Pak Rahmad mengajak Elvan menuju stand yang menjual aneka lauk pauk.

"Wah, pak Rahmad sama siapa? Kok saya belum pernah lihat?" Tanya seorang penjual lauk.

"Oh,, ini temennya Risa kebetulan lagi ada keperluan terus mampir dan menginap dirumah saya." Jawab Pak Rahmad dengan tawanya yang khas.

"Assalamu'alaikum saya Elvan bu." Kata Elvan memperkenalkan diri.

"Waalaikumsalam, saya Marsih, kamu ganteng banget ya." Kata penjual itu.

"Trimakasih." Jawab Elvan dengan tersenyum seraya memamerkan gigi geliginya yang rapi.

"Kamu temen atau pacarnya Risa?" Tanya penjual disebelah bu Marsih.

"Saya temannya. Insya Allah kalau berjodoh akan jadi suaminya." Elvan terkekeh, orang bilang kata kata adalah do'a. Dan semoga saja do'a nya segera terkabul.

"Aamiin, saya doakan semoga nak Elvan berjodoh dengan Risa. Kalau saya lihat kalian sepertinya serasi." Bu Marsih mengaminkan doa Elvan.

"Sudah sudah, saya mau bandeng presto nya satu." Kata pak Rahmad menunjuk ke arah ikan bandeng yang terbungkus plastik mika itu. "Nak Elvan mau yang mana?" Tanya Pak Rahmad.

"Em.. saya ayam balado deh, sama bandeng presto nya boleh juga buat sahur nanti." Kata Elvan. "Pak Rahmad nanti sahur makan apa? Nggak sekalian beli?" Tanya Elvan.

"Oh iya saya lupa, ayam panggang saja bu Marsih, yang bagian paha ya." Kata Pak Rahmad.

"Ya sebenta." Bu Marsih membungkus semua pesanan Elvan dan Pak Rahmad. "Ini." Kata Bu Marsih menyerahkan satu kantong plastik berisi ayam balado, bandeng presto dan ayam panggang itu.

Elvan pun langsung menerimanya. "Berapa semuanya bu?"

"Semuanya empat puluh ribu." Kata bu Marsih setelah menghitungnya.

"Ini bu, kembaliannya buat ibu saja." Kata Elvan menyerahkan uang lima puluh ribuan.

"Trimakasih Nak Elvan, semoga secepatnya bisa jadi mantunya pak Rahmad." Kata bu Marsih yang kemudian diamini oleh Elvan.

Mereka pun menuju pedagang minuman. Ada banyak jenis minuman yang dijajakan. Tempat tersebut lebih ramai daripada tempat bu Marsih sehingga mereka berdua harus mengantri.

"Pak Rahmad mau yang mana biar saya belikan sekalian. Sepertinya terlalu ramai daripada nanti berdesak desakan." Kata Elvan.

"Em, ya sudah kalau begitu, saya mau es kolak pisang saja. Nak Elvan yang antri ya. Oh ya, jangan panggil saya Pak ya, panggil ayah saja, biar nanti terbiasa." Kata pak Rahmad.

"Iya baiklah pak, eh maksudnya Yah.." kata Elvan sedikit canggung.

Pak Rahmad pun terkekeh.

Kini Elvan tengah membeli minuman manis pelepas dahaga yang sekaligus bisa menunda lapar itu. Sesekali gadis gadis disebelahnya melirik penuh kekaguman kepada Elvan. Namun seolah Elvan tak memperhatikan, ia lebih fokus dengan penjualnya. Setelah puas berkeliling membeli takjil mereka berdua pun pulang. Bersiap untuk berbuka puasa di rumah.

bersambung....

Terpopuler

Comments

Yucaw

Yucaw

wahh...ijo..ijo...ijo...gass Elvan,udah di suruh panggil ayah tuh 🙈🙈 semoga ayahmu nnt mau melamar Risa untukmu,kebangetan kl gak mau,udah gak pernah dpt kasih sayang,masak iya antar ngelamar aja gak mau..

2023-05-28

0

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️

beneran udah dapet lampu ijo niiiii ... 😍😍

2023-01-04

0

bunda syifa

bunda syifa

yeee si Elvan udah dapet restu mertua, tinggal berjuang untuk dapetin hati Risa yg masih malu-malu mau🤭🤭

2022-12-03

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Boleh Minta Nomermu?
3 Mengantar Pulang
4 Kriteria Calon Suami
5 Agar Tak Berbohong
6 Mencari Rumput
7 Meminta Restu
8 Jawabannya
9 Kamu Kerja Disini?
10 Cincin Nikah
11 Aku Akan Menikah
12 Mas Elvan Ganteng
13 Dia Papaku
14 Latihan Peluk
15 Bertemu kembali dengan masa lalu
16 Hari Yang Dinanti
17 Kunci Mobil
18 Pertama Kali
19 Alergi
20 Apa kurang Romantis?
21 Honeymoon 1
22 Honeymoon 2
23 Rumah Siapa?
24 Visual / Bukan bab cerita
25 Demi Tas Cantik
26 Jangan Khawatir
27 Hari Patah Hati
28 Beri Aku Semangat
29 Berkunjung Ke Rumah Besar
30 Berguna Untuk Perusahaan
31 Usaha dan Do'a
32 Putra Kedua
33 Sakit
34 Hamil
35 Kehilangan
36 Kesedihan Calon Orang Tua
37 Kembali Bekerja
38 Keputusan Elvan
39 Sekretarisku
40 Pertunangan
41 Tes Kehamilan
42 Merahasiakan Kehamilan
43 Rencana Jahat Anita
44 Kecelakaan
45 Tertangkap Basah
46 Hilang Ingatan
47 Ancaman
48 Setelah Aku Meninggalkanmu
49 Menuju Lahiran
50 Melahirkan
51 Penculikan Zayn
52 Beberapa Tahun Setelahnya
53 Zayn dan Zea
54 Zayn Rindu Mama
55 Janji Zayn
56 Panggil Papa Saja
57 Tanggal Ulang Tahun Yang Sama
58 Aku Telah Kembali
59 Tanyakan Pada Cintamu
60 Mengungkap Fakta
61 Zea Yang Usil
62 Masih Suami Istri
63 Dipecat
64 Siapa Wanita Itu?
65 Malam Bahagia Untuk Elvan
66 Aku Nggak Suka
67 Apa lagi?
68 Jangan Ganggu Keluargaku
69 Selalu dan Selamanya Mencintaimu
70 Tentang Zayn
71 Pertemuan dengan Sylvia
72 Tega Banget Sih
73 Jangan Menangis Sayang
74 Kebun Binatang
75 Jangan Percaya Dia
76 Jangan Sakiti Mamaku
77 Seluruh Saham Kalian
78 Kakek Darma yang Licik
79 Maafkan Kakek
80 Rencana Ulang Tahun
81 Jangan Merusak Hidupmu
82 Kapan Punya Adik?
83 Usaha Yuk
84 Siapa yang Sakit
85 Kesetiaan Elvan
86 Berhentilah Menyakiti
87 Maafkan Mama
88 Happy Birthday My Twins
89 Kejutan Untuk Istri
90 Malam Kita
91 Aku Beruntung (Ending)
92 Pengumuman Novel Baru Menikahi Anak Sopir
93 Bonchap1 Kamar Hotel
94 Bonchap2 Wanita Pembohong
95 Bonchap3 Sylvia kenapa?
96 Bonchap4 Anggota Baru (Final End)
97 PENGUMUMAN SEASON 2
98 Terjerat Gairah Musuh by Itta Haruka
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Prolog
2
Boleh Minta Nomermu?
3
Mengantar Pulang
4
Kriteria Calon Suami
5
Agar Tak Berbohong
6
Mencari Rumput
7
Meminta Restu
8
Jawabannya
9
Kamu Kerja Disini?
10
Cincin Nikah
11
Aku Akan Menikah
12
Mas Elvan Ganteng
13
Dia Papaku
14
Latihan Peluk
15
Bertemu kembali dengan masa lalu
16
Hari Yang Dinanti
17
Kunci Mobil
18
Pertama Kali
19
Alergi
20
Apa kurang Romantis?
21
Honeymoon 1
22
Honeymoon 2
23
Rumah Siapa?
24
Visual / Bukan bab cerita
25
Demi Tas Cantik
26
Jangan Khawatir
27
Hari Patah Hati
28
Beri Aku Semangat
29
Berkunjung Ke Rumah Besar
30
Berguna Untuk Perusahaan
31
Usaha dan Do'a
32
Putra Kedua
33
Sakit
34
Hamil
35
Kehilangan
36
Kesedihan Calon Orang Tua
37
Kembali Bekerja
38
Keputusan Elvan
39
Sekretarisku
40
Pertunangan
41
Tes Kehamilan
42
Merahasiakan Kehamilan
43
Rencana Jahat Anita
44
Kecelakaan
45
Tertangkap Basah
46
Hilang Ingatan
47
Ancaman
48
Setelah Aku Meninggalkanmu
49
Menuju Lahiran
50
Melahirkan
51
Penculikan Zayn
52
Beberapa Tahun Setelahnya
53
Zayn dan Zea
54
Zayn Rindu Mama
55
Janji Zayn
56
Panggil Papa Saja
57
Tanggal Ulang Tahun Yang Sama
58
Aku Telah Kembali
59
Tanyakan Pada Cintamu
60
Mengungkap Fakta
61
Zea Yang Usil
62
Masih Suami Istri
63
Dipecat
64
Siapa Wanita Itu?
65
Malam Bahagia Untuk Elvan
66
Aku Nggak Suka
67
Apa lagi?
68
Jangan Ganggu Keluargaku
69
Selalu dan Selamanya Mencintaimu
70
Tentang Zayn
71
Pertemuan dengan Sylvia
72
Tega Banget Sih
73
Jangan Menangis Sayang
74
Kebun Binatang
75
Jangan Percaya Dia
76
Jangan Sakiti Mamaku
77
Seluruh Saham Kalian
78
Kakek Darma yang Licik
79
Maafkan Kakek
80
Rencana Ulang Tahun
81
Jangan Merusak Hidupmu
82
Kapan Punya Adik?
83
Usaha Yuk
84
Siapa yang Sakit
85
Kesetiaan Elvan
86
Berhentilah Menyakiti
87
Maafkan Mama
88
Happy Birthday My Twins
89
Kejutan Untuk Istri
90
Malam Kita
91
Aku Beruntung (Ending)
92
Pengumuman Novel Baru Menikahi Anak Sopir
93
Bonchap1 Kamar Hotel
94
Bonchap2 Wanita Pembohong
95
Bonchap3 Sylvia kenapa?
96
Bonchap4 Anggota Baru (Final End)
97
PENGUMUMAN SEASON 2
98
Terjerat Gairah Musuh by Itta Haruka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!