●POV MARISA●
Elvan Putra Wiguna. Laki-laki yang baru beberapa bulan ini kukenal, namun hatiku begitu meyakini Mas Elvanlah yang terbaik untuk menjadi imamku nanti.
Bagiku Mas Elvan adalah hal menakjubkan. Ya, karena dia lah laki-laki yang mampu melakukan hal tak terduga untukku. Tak ada alasan untukku menolak laki-laki sempurna sepertinya. Mas Elvan membuatku jatuh cinta setelah kejadian malam itu.
Ketika itu, aku tahu dia akan men*iu*ku. Sangat jelas dimatanya, perasaan tulusnya. Bahkan jarak diantara kami hanya beberapa centi, saat aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Bukankah seharusnya menjadi hal wajar saat seorang gadis dewasa bersama pria dewasa yang akan berci**an, demi menyalurkan perasaan mereka? Namun, Mas Elvan berbeda, dengan segenap kesadarannya Mas Elvan menghentikan aksinya. Dengan rasa penyesalan yang dalam ia meminta maafku, aku tahu itu, dan seketika itu aku tahu Mas Elvan sungguh berbeda.
Sejak saat itu, aku mempercayakan hatiku untuknya. Karena aku tak akan mampu menemukan lagi laki-laki istimewa sepertinya. Laki-laki yang kuyakini akan menyayangiku hingga akhir hayat.
Kenyataan demi kenyataan mulai menggoyahkan hatiku. Mas Elvan yang ku kenal sederhana, ternyata tak sesederhana itu. Ia putra kedua pimpinanku. Ya, dia adik sang penerus kejayaan GC grup, tempatku bekerja. Hatiku mulai ragu, apakah mas Elvan yang sekaya itu pantas mendapatkan istri seorang pegawai biasa sepertiku? Tidak, aku rasa tidak.
Namun, setelah mendapat penjelasan tentang jati dirinya yang sesungguhnya, keyakinanku mulai datang kembali, bahkan semakin besar. Saat Mas Elvan merangkul erat ayahnya, aku sadar Mas Elvan mempunyai hati yang besar. Ia laki-laki penyayang, itulah yang kurasakan.
Hari ini, setelah membereskan semua pekerjaanku, aku keluar kantor. Kulihat Mas Elvan yang tengah duduk di loby kantor. Ia menungguku meskipun tanpa bertanya terlebih dulu kepadaku.
"Sudah pulang?" Tanyanya saat aku menghampirinya.
"Sudah Mas." Jawabku tersenyum. "Mas ngapain disini?" Tanyaku pada Mas Elvan.
"Emm, aku mau jemput kamu. Akan aku antar kemanapun kamu pergi." Katanya dengan senyum yang tersungging indah dibibirnya, menciptakan sebuah lesung pipit dikedua pipinya.
"Yaudah, antar aku pulang terus antar aku ke terminal ya Mas." Kataku.
"Siap, Tuan putri." Kata Mas Elvan, lalu kami pun meninggalkan kantor tempatku bekerja. Sekaligus kantor milik ayah dan kakek Mas Elvan.
Mas Elvan mengantarku pulang ke kost dengan mobilnya. Mobil yang baru beberapa hari kuketahui dimilikinya. Setelah itu Mas Elvan mengantarku menuju terminal. Didalam mobil mas Elvan terus saja mengoceh agar aku hati-hati, agar aku terus mengabaranyi, agar aku tak kemana-mana dan sebagainya. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Mas Elvan begitu perhatian, padahal kami hanya akan berpisah beberapa hari saja sebelum hari pernikahan.
Mas Elvan ternyata sudah menyiapkan beberapa oleh-oleh untuk kubawa pulang ke kampung, beberapa baju koko serta sarung untuk dipakai ayah lebaran katanya. Ia tak membelikan untukku, sayang sekali pikirku.
Mas Elvan mengantarku masuk ke terminal bahkan membawa semua barang-barangku. Setelah mengantarku masuk ke dalam bus, Mas Elvan melambaikan tangannya dengan senyuman yang begitu manis. Bus yang aku tumpangi memang sudah penuh dengan penumpang dan sepertinya aku lah penumpang terakhir yang naik. Tak lama bus pun bergerak meninggalkan terminal, beserta Mas Elvan yang masih setia melambaikan tangannya.
Aku tersenyum ke arahnya. Laki-laki yang dengan tegas melamarku menjadi istrinya, walaupun saat itu kami belum sepenuhnya saling mengenal. Tapi saat itu yang aku tahu Mas Elvan begitu baik, dia bukan laki-laki yang akan menjerumuskanku dalam lembah kenistaan. Aku menyukai laki-laki yang tegas dan bersungguh sungguh sepertinya. Ya, aku mencintai Mas Elvan. Apapun keadaannya.
Aku mengirim pesan kepada ayahku di kampung saat Mas Elvan tak lagi terlihat oleh mataku. Ayah yang selalu menjemputku di terminal setiap aku pulang kampung.
"Hai, lama tidak ketemu." Ku dengar suara yang menurutku tidak asing ditelingaku.
Ku toleh ke belakang. Dia... Andi... Laki-laki yang pernah dekat denganku. Kenapa dia ada disini?
"Kamu pulang juga hari ini?" Tanya Andi saat aku menoleh kearahnya.
"Iya." Jawabku singkat. Lalu aku menghadap ke depan lagi. Tak ingin berlama-lama melihat wajahnya.
"Tadi pacar kamu?" Tanya Andi yang kini berdiri dibelakang kursiku.
"Aku mau tidur, jangan ganggu aku." Jawabku lalu mengambil ponsel dan menyalakan earphoneku. Memutar musik apapun di handphone ku, dan memejamkan mataku berharap Andi akan benar-benar tak menggangguku.
Entah apalagi yang dikatakan Andi, aku sudah tak mendengarnya. Rasanya sangat malas berhadapan dengan laki-laki itu. Laki-laki yang tak memberiku kejelasan dan berakhir dengan wanita lain.
Kubuka kembali mataku setelah beberapa lama terpejam. Menatap jendela kaca bus yang melaju kencang. Mataku menatap rumah-rumah yang berbaris rapi disepanjang jalan. Sementara pikiranku menerawang jauh, terlintas lagi kisahku bersama Andi lima tahun lalu.
Awal mula bertemu Andi, aku tengah libur setelah kelulusan SMA. Aku memutuskan untuk tinggal bersama Ayah selagi menunggu jadwal masuk ke perguruan tinggi di ibukota.
Andi adalah anak seorang lurah yang tinggal di sebelah kampungku. Kami dipertemukan saat aku tengah membantu diacara hajatan salah seorang tetangga ayah. Sementara Andi ternyata adalah saudara tetangga ayah itu. Saat itu aku tengah menjadi putri domas dan Andi menjadi Manggolo (pasangan Putri domas dalam adat pernikahan jawa). Ketika itu aku dan Andi saling bertukar kembar mayang. Dan entah bagaimana kami mulai dekat satu sama lain.
Andi juga baru lulus kala itu. Kami sering pergi jalan-jalan bersama. Andilah yang memperkenalkanku dengan kampung itu. Andi satu-satunya teman dekat yang ku punya di kampung itu.
Setelah liburan kami habis, kami berpisah. Andi ternyata diterima masuk ke sekolah kepolisian. Dan aku melanjutkan sekolahku di perguruan tinggi di ibukota. Selama setahun kami masih berhubungan meski tanpa pacaran ditengah kesibukan kami.
Hingga aku merasa ada yang berbeda dari Andi. Saat liburan bersama kami, dia mengatakan bahwa dia telah mempunyai seorang kekasih. Awalnya aku kaget, hubunganku dan dia memang tanpa status pasti tapi kami saling menyukai saat itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tak lagi berhubungan dengan Andi sampai saat ini.
Aku tersadar dari lamunanku saat bus tiba-tiba berhenti. Yang aku dengar dari penumpang lain ada kecelakaan di depan bus kami.
Andi yang menyadari aku tak tidur pun kembali berdiri di belakang kursiku.
"Ris, lebaran nanti aku main ke rumah kamu ya. Aku dapat cuti loh." Katanya yang masih berdiri dibelakangku.
"Tidak usah, aku sibuk." Jawabku singkat. Ada perasaan kesal saat Andi ingin datang ke rumahku.
"Ayolah Ris, sebentar saja. Pokoknya aku akan datang." Kata Andi.
Aku tak lagi menjawab kata-kata Andi. Rasanya begitu malah berhadapan dengan laki-laki yang dulu pernah membuatku sakit hati.
Setelah beberapa saat bus kami pun melaju kembali. Dan aku memutuskan untuk tetap mendengarkan musik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
pasti Andi pengen pedekate lagi ... 🤪🤪
2023-01-05
0
Ney Maniez
😲😲
2022-09-09
0
Seroja
zaelah thor pake pov segala trus ulang cerita
2022-06-30
0