Hari masih temaram saat Elvan dan Marisa keluar dari rumah setelah sholat shubuh di rumah. Karena terlalu lama mandi, Elvan yang tadinya ingin sholat shubuh di masjid malah tertinggal Pak Rahmad yang berjalan sendirian menuju masjid. Elvan dan Marisa pun memutuskan untuk sholat di rumah. Berdua mengawali hari dengan melakukan ibadah bersama kekasih halal.
"Mas, jangan pakai sandal." Kata Marisa yang melihat Elvan akan mengenakan alas kakinya.
"Masih dingin sayang. Nanti saja ya di lepas dijalan." Kata Elvan yang masih tetap memakainya. "Kamu juga pakai nanti kalau kena beling atau apa gitu gimana, masih gelap sayang." Kata Elvan saat melihat Marisa tak ingin memakai sandalnya.
Setelah perdebatan kecil itu, akhirnya Marisapun mengalah. Dipakailah sandal japit berwarna merah muda itu. Lalu mereka berjalan bergandengan menuju tempat yang diarahkan Marisa.
Fajar mulai menampakan wujudnya, warnanya yang kemerah-merahan menandakan tak lama lagi sang surya akan datang. Sebagian orang mulai lalu lalang, membawa peralatan tani mereka.
Elvan masih terus setia menggandeng tangan Marisa. Ia seolah menunjukkan bahwa gadis cantik yang berjalan disebelahnya itu adalah miliknya.
Para warga mulai banyak yang mematikan lampu teras dan sebagian rumahnya. Sungguh mereka juga perlu berhemat untuk menekan biaya listrik bulanan mereka.
Ibu-ibu mulai keluar dari rumah mereka, menyapu halaman rumah yang terlihat kotor oleh dedaunan kering yang berguguran. Pemandangan seperti ini sangat jarang ada di kota.
Marisa dan Elvan telah sampai di sebuah bukit persawahan yang cukup luas.
"Disini kita bisa lihat matahari terbit dengan sangat jelas loh Mas." Kata Marisa yang mulai duduk ditepi jalan itu. Ia menggunakan sandal yang dipakainya sebagai alas untuk duduknya.
Elvan masih berdiri. Memperhatikan sekitarnya dengan takjub. Marisa memang benar, tempat itu memang begitu indah.
Mereka berada di puncak bukit. Ditepi jalan perkampungan itu ada area persawahan terasering yang cukup luas hingga ke kaki bukit. Tepat didepan mereka duduk ada sungai kecil yang lebarnya tak sampai satu meter.
"Ini sungai untuk mandi? Kenapa kecil sekali?" Tanya Elvan saat memperhatikan aliran air yang mengalir tenang itu.
"Bukan mas, ini irigasi, parit namanya. Emang Mas mau mandi disini?" Kata Marisa yang tertawa karena Elvan seolah tak bisa membedakan sungai dan parit itu.
"Masa ini parit. Kok bersih?" Tanya Elvan.
"Iya mas, ini air dari pegunungan jauh disana tu." Kata Marisa menunjuk ke arah gunung yang nampaknya begitu dekat.
"Beneran? Dari sana langsung?" Tanya Elvan seolah tak percaya.
"Ya kalau langsung dari sana sih aku nggak tau pasti mas. Tapi kata ayah air sungai ini dari pegunungan itu." Kata Marisa.
"Oh ya, disana ada apa aja selain gunung?" Tanya Elvan.
"Emm, yang aku tahu disana ada air terjun mas." Kata Marisa "Aku baru sekali sih kesana sama..." Marisa tak melanjutkan kata-katanya.
"Sama siapa?" Tanya Elvan penasaran.
"Sama orang lain mas. Udah ah nanti malah ngebahas orang lain mas." Kata Marisa lalu melempar batu kecil kedalam air parit itu.
Elvan duduk disebelah Marisa, ia juga memakai sandalnya sebagai alas untuk duduk. Lalu dipeluknya erat pinggang sang istri dan mengecup pangkal rambut Marisa.
"Mas, nggak bahas orang lain. Mas pengen bahas kamu, Mas cuma pengen kenal kamu lebih dalam." Katanya tersenyum lalu mengusap-usap lengan Marisa.
"Aku kesana rame-rame mas. Ada Fadil juga anaknya Paklik Ridwan." Kata Marisa.
"Emm,,. Sama orang yang kemarin bawa bunga juga?" Tanya Elvan.
Marisa mengangguk.
"Dia ajak aku supaya kenal kampung ini mas, terus ajak aku ke air terjun. Tapi sama ayah harus rame-rame, yaudah jadinya Fadil sama temen-temenya juga ikut." Kata Marisa menjelaskan.
"Mas harus berterima kasih sama ayah." Kata Elvan senang dan mengecup lagi kepala Marisa.
"Kenapa?" Tanya Marisa.
"Karena ayah menjagamu dengan sangat baik." Kata Elvan senang.
Merekapun menikmati matahari yang mulai terbit dihadapan mereka. Duduk bersama ditepi jalan itu menyaksikan awal dimulainya hari itu.
***
Elvan baru selesai membantu Marisa menyapu lantai rumah. Pak Rahmad menyapu dibagian luar rumah. Sementara Marisa tengah memasak untuk sarapan mereka.
"Wah, kalian kompak sekali ya." Kata Bu Marsih yang kebetulan lewat.
Pak Rahmad dan Elvan pun menoleh ke arah bu Marsih yang berdiri ditepi jalan depan rumah itu.
"Oh, bu Marsih. Alhamdulillah bu, saya dapat anak laki-laki yang mau menyapu, tapi saya tidak menyuruh lo sebenarnya." Kata Pak Rahmad terkekeh.
"Ah Pak Rahmad bisa saja. Anak laki-laki saya saja jam segini baru bangun pak." Kata Bu Marsih.
Pak Rahmad tertawa.
"Bu Marsih darimana?" Tanya Elvan yang sedang menyapu lantai teras rumah itu.
"Itu, saya dari warung, nitip kue sama gorengan. Memangnya Marisa kemana kok Nak Elvan mau menyapu sih. Nggak takut gantengnya hilang tertutup debu?" Tanya Bu Marsih.
Elvan terkekeh. "Istri saya lagi masak bu, saya kira kalau bantu bantu istri malah kelihatan tambah ganteng."
Pak Rahmad dan bu Marsih tertawa.
"Oh, saya pikir Marisa masih tertidur karena kelelahan." Bu Marsih menutup mulutnya.
"Walaupun kelelahan tapi dia bangun lebih awal kok bu." Kata Elvan membela istrinya.
"Hehehe semoga Pak Rahmad segera punya cucu ya. Kalau begitu saya pulang dulu. Sudah siang. Mari pak Rahmad, Nak Elvan." Kata Bu Marsih.
"Aamiin. Terimakasih Bu Marsih, hati-hati" Kata Elvan.
Semoga saja doa bu Marsih terkabul. Seperti doanya waktu ketemu di pasar dadakan dulu. Batin Elvan
"Mas sarapannya sudah siap." Kata Marisa yang baru keluar dari pintu rumah.
"Eh, iya. Ajak ayah juga ya. Mas cuci tangan dulu." Kata Elvan lalu meletakkan sapunya.
"Iya Mas." Marisa masuk ke dalam lagi menuju dapur dan menemui ayahnya lewat pintu dapur.
***
"Ayah nggak cari rumput." Kata Marisa yang meletakkan dua cangkir kopi diatas meja untuk ayah dan suaminya yang tengah bersantai di ruang tamu.
"Besok saja Ris, ayah hari ini mau santai sama kalian." Kata Pak Rahmad yang menuang kopinya ke dalam lepek keramik. "Kamu tau, suamimu ini tidak akan bisa ternak kambing." Kata Pak Rahmad.
"Memangnya kenapa yah?" Tanya Marisa yang kini duduk disamping Elvan, sementara Elvan yang jadi topik utama juga terlihat heran dengan kesimpulan Pak Rahmad. Ia diam karena pertanyaan atas kalimat ayah mertuanya itu telah diwakilkan oleh sang istri.
"Karena dia tidak bisa cari rumput." Kata Pak Rahmad lalu menyeruput kopi yang telah dituangnya.
"Bukannya waktu itu Elvan yang bantu ayah sampai karung ayah penuh. Padahal karung Elvan lebih dulu penuh dari karung ayah." Kata Elvan tak terima.
"Tapi setelahnya kaki dan tanganmu gatal-gatal alergi kan?" Kata Pak Rahmad dengan santai.
Elvan terkekeh lalu menyeruput cangkir kopi nya.
"Apa benar mas?" Tanya Marisa tak percaya. "Kamu alergi sama rumput?". Marisa menutup mulutnya yang mulai menertawakan Elvan.
"Waktu itu aku sedang berjuang loh demi kamu." Kata Elvan tak terima.
"Itu membuktikan kalau suami kamu ini mau bekerja keras Ris." Kata Pak Rahmad yang kini membela Elvan.
"Emmm,, iya iya. Suamiku pekerja keras." Kata Marisa yang masih bersemu menahan tawanya.
Elvan menyeruput kembali kopinya.
"Oh iya, kamu masih tetep kerja Ris setelah menikah?" Tanya Pak Rahmad.
"Emm, iya yah. Kata Mas Elvan aku masih boleh kerja kok, selagi nggak mengganggu tugas aku sebagai istri." Kata Marisa.
"Oh iya kebetulan aku inget, aku belum bilang ke kamu. Besok kita balik ya." Kata Elvan.
"Kenapa mas, kan aku libur masih lama mas. Mas udah mau kerja?" Tanya Marisa.
"Iya, kenapa buru-buru menginaplah dulu sampai beberapa hari lagi." Kata Pak Rahmad.
"Em, jadi gini, Mas udah pesen paket honeymoon buat kita di pulau A." Kata Elvan.
"Apa?"
bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
LENY
ELVAN BIARPUN ANAK ORANG KAYA DAN TAJIR TAPI BISA MEMBAUR DAN HIDUP SEDERHANA MAU KERJA CARI RUMPUT MENYAPU BENAR2 LAKI2 DAN MANTU IDAMAN ❤👍👍
2024-05-08
0
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
aaa sweet banget kalian.. suasananya mendukung asri sejuk menenangkan di pedesaan.. pasangan yang romantic and sweet beautifull 🤗🤗❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹
2023-07-03
0
Yucaw
wehh..gercep yg mau honeymoon ya..😂😂 pulau A?? Apaan tuh?? 😉😉
2023-05-29
0