Jawabannya

Marisa keluar kantor bersama beberapa karyawan yang lain. Ia berjalan menuju halte bis. Namun tiba-tiba sebuah mobil mercededez benz keluaran terbaru berhenti tepat dihadapannya. Lalu kaca mobilpun dibuka.

"Pulang bareng yuk Ris," ajak seorang dari dalam mobil yang ternyata adalah Alvaro.

"Em,, maaf pak saya naik bis saja," tolak Marisa dengan senyum terpaksa.

"Udah masuk saja, sekalian buka puasa, kan saya sudah janji mau ajak kamu buka puasa." Alvero memaksa.

Marisa melihat sekitarnya, banyak karyawan yang memperhatikan mereka, akhirnya Marisa pun membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.

"Gitu dong, kamu mau makan dimana?" tanya Alvero saat Marisa selesai memakai sabuk pengamannya.

"Terserah bapak saja," jawab Marisa yang sebenarnya tak nyaman pergi dengan atasannya itu.

"Jangan panggil bapak, kedengarannya saya kayak tua banget," kata Alvero sambil melihat kearah Marisa. Lalu melajukan mobilnya menuju restauran favorite keluarganya.

"Emm" Marisa tersenyum paksa. Mau dipanggil apa kalau bukan pak, bukankah Alvero adalah atasannya.

"Panggil Al saja kalau lagi diluar kantor," kata Alvero saat melihat kebingungan diwajah Marisa.

"Em,, iya Mas Al." Akhirnya ia pun terpaksa menuruti keinginan Alvero.

"Gitu dong. Kan enak didengernya," kata Alvero yang kemudian fokus dengan jalanan didepannya.

Sepanjang jalan menuju restauran Marisa hanya diam, tak banyak bicara, hanya menjawab seperlunya saja jika Alvero bertanya.

Marisa merasa ponselnya terus begetar, ia lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengeceknya. Sebuah panggilan masuk dari Elvan. Hanya panggilan biasa bukan panggilan video.

"Angkat saja siapa tahu penting. Santai saja ini kan diluar jam kerja," kata Alvero yang melihat Marisa hanya menatap layar ponselnya.

Marisa pun menerima panggilan Elvan.

"Assalamu'alaikum cantik. Udah pulang belum?" tanya Elvan dari sambungan telfon.

"Waalaikumsalam Mas, ini udah pulang kok mas, tapi.." Marisa melirik kearah Alvero yang fokus menyetir namun tetap menajamkan pendengarannya, menguping apa yang dikatakan Marisa dan seseorang dibalik telfon itu.

"Tapi apa? Kamu baik baik saja kan?" tanya Elvan terdengar khawatir.

"Eh, iya mas, aku lagi diajak buka puasa diluar sama atasanku mas. Udah dulu ya, nanti ku telfon lagi. Aku nggak enak mas." Marisa merasa tak nyaman, seperti ia sedang berselingkuh saja.

"Yaudah, nanti jangan lupa kabarin ya. Oh iya mas besok pulang," katanya dengan bahagia.

"Serius mas?" Suara Marisa begitu semangat. "Aku udah cuci jaketnya Mas, hari minggu mas ambil ya," katanya lagi, seolah lupa disebelahnya ada orang yang penuh tanda tanya dengan siapa Marisa menelfon.

"Iya, besok kalau udah sampai, mas main ke kost kamu ya. Kamu pulang hati hati. Jangan lupa sholat maghrib," kata Elvan.

"Iya mas, Assalamu'alaikum," kata Marisa.

"Waalaikumsalam."

Marisa pun mengakhiri panggilannya. Ia senyum senyum sendiri, membayangkan akan bertemu dengan Elvan. Sudah lama mereka tak bertemu secara langsung.

"Pacar kamu?" tanya Alvero yang tak mampu menahan rasa penasarannya.

"Bukan mas, teman," jawab Marisa.

"Temen dekat?" tanya Alvero yang sedikit mulai kesal.

Marisa tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya saja. Lalu fokus dengan pemandangan diluar kaca sampingnya.

Hening.

Mereka tak lagi mengeluarkan suara. Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga mereka pun akhirnya sampai di sebuah Restauran mewah tempat mereka akan berbuka puasa.

Saat mereka telah duduk dan memesan makanan, Pak Erwin ayah Alvero baru sampai di Restauran.

"Al, kamu disini," sapa Pak Erwin setelah melihat Alvero dan Marisa.

"Papa.. Papa ngapain disini?" tanya Alvero kaget.

"Papa lagi ada urusan terus mampir kesini karena udah mau waktu buka. Kamu makan berdua sama sekretaris kamu? Papa boleh gabung kan?" tanya Pak Erwin yang langsung menarik kursi untuk duduk.

"Iya, terserah papa," kesal Alvero.

Pak Erwin pun duduk dan memesan makanannya.

"Kalian pacaran?" tanya pak Erwin kepada Marisa dan Alvero setelah mereka bertiga diam beberapa lama.

"Belum"

"Tidak," jawab mereka bersamaan namun berbeda jawaban.

"Belum dan tidak itu beda loh." Pak Erwin kebingungan dengan dua jawaban berbeda itu.

"Aku baru mau deketin tapi Papa malah ganggu," jawab Alvero dengan kesal. Sementara wanita yang dihadapannya kini hanya terdiam.

"Ohh.... maafin papa kalau sudah ganggu kencan kamu ya." Tersenyum kepada Alvero . "Maaf ya sudah mengganggu acara kalian," kata pak Erwin kepada Marisa.

"Tidak masalah pak, ini hanya makan biasa kok," jawab Marisa.

Tak lama kemudian makanan pun datang. Dan adzan pun berkumandang, Mereka pun membatalkan puasa dan kemudian makan dengan tenang.

Marisa dan Alvero kemudian pulang karena Marisa beralasan ingin tarawih di rumah.

...****************...

Keesokan harinya.

Elvan tengah bersiap siap berangkat pulang ke ibukota. Setelah memasukkan semua barangnya ke dalam tas ranselnya Elvan pun keluar dari kamar Marisa. Ia lalu menuju terminal dengan diantar pak Rahmad.

"Ayah akan coba bantu meyakinkan Marisa untuk menerimamu," kata Pak Rahmad sebelum Elvan pamit masuk ke dalam terminal.

"Iya terimakasih banyak yah. Maaf kalau saya merepotkan ayah terus," kata Elvan.

"Sudah, jangan sungkan. Kalau kalian berjodoh ayah juga akan jadi keluargamu. Kalaupun tidak, ayah tetap anggap kamu sebagai anak laki laki ayah," kata Pak Rahmad dengan tulus.

"Iya ayah, ayah sungguh baik sekali," kata Elvan dengan bangga.

"Oh iya, nanti kalau sudah dapat jawaban dari Risa, kamu segera urus surat suratnya. Lebih baik kalian menikah setelah lebaran ini," kata pak Rahmad dengan serius.

"Insya Allah yah, nanti Elvan akan minta tolong sama teman kakek yang kerja di KUA biar dibantu prosesnya," kata Elvan dengan yakin.

"Kebetulan, adik ayah juga penghulu disini. Jadi nanti Insya Allah bisa cepat prosesnya," kata Pak Rahmad.

"Alhamdulillah semoga dipermudah yah, Elvan hanya tinggal menunggu jawaban Marisa sajaz" kata Elvan

"Insya Allah." Pak Rahmad tersenyum.

"Elvan pamit dulu yah." Elvan Meraih tangan Pak Ridwan dan mencium punggung tangannya.

"Hati hati di jalan ya," pesan Pak Rahmad.

"Iya ayah, Assalamu'alaikum." Elvan melambaikan tangannya.

"Waalaikumsalam."

Pak Rahmad kemudian meninggalkan terminal. Sementara Elvan telah duduk di dalam bis. Elvan lalu mengirim pesan kepada Marisa.

[Assalamu'alaikum cantik, selamat pagi.] Elvan

Tak berapa lama Marisa pun membalas pesannya.

[Waalaikumsalam Mas, pagi juga.] Marisa

[Kamu lagi apa?] Elvan

[Ini lagi siap siap mau ke kantor mas. Mas jadi pulang hari ini?] Marisa

[Ini mas lagi perjalanan, mungkin nanti malam sampai dikota] Elvan

[Hati-hati Mas] Marisa

[Iya cantik] Elvan.

****************

Malam harinya

Elvan menunggu Marisa pulang tarawih didepan kostnya.

"Mas Elvan," sapa Marisa dengan senyum yang mekar dibibirnya. Ia masih memakai mukenanya. Dan berlari kearah Elvan yang sedang duduk di motornya.

"Iya cantik." Elvan juga menyambut Marisa dengan senyum.

"Mas darimana sih," tanya Marisa.

"Kenapa? Kangen?" tanya Elvan.

"Apa sih mas, mas kesini mau ambil jaket?" tanya Marisa

"Em,, mas kangen kamu," kata Elvan yang membuat pipi Risa memerah. "Mau jalan nggak?" ajaknya.

"Kemana?"

"Terserah kamu mau kemana, jalan jalan keliling kota gimana?" kata Elvan.

"Em,, jangan jauh jauh tapi Mas, udah malam ini," kata Marisa

"Iya, mas paham. Udah sana ganti baju."

Risa tersenyum, ia pun masuk dan berganti baju.

"Mas, memangnya Mas Elvan enggak lelah?" tanya Marisa saat akan memakai helm yang diberikan Elvan.

"Lelah mas sudah hilang setelah ketemu kamu," kata Elvan yang membuat Marisa tersenyum malu. "Kamu pakai jaket mas dong, jangan jaket itu terlalu tipis"

Saat itu Marisa memang mengenakan cardigan berbahan tipis.

"Iya deh, yaudah aku masuk lagi ganti jaket," kata Marisa

Marisa pun kembali masuk dan berganti jaket.

Malam yang indah pun mereka habiskan dengan menyusuri jalanan ibu kota dengan hati mereka yang kini semakin dekat. Hanya berkeliling menikmati kebersamaan. Namun mereka merasa seperti tengah melewati taman bunga yang bermekaran. Hanya bahagia yang mereka rasakan.

Elvan menepikan motornya.

"Suka martabak manis?" tanya Elvan sambil melepas helmnya, ia masih duduk diatas motonya.

"Mas suka martabak manis?" Marisa balik bertanya. Ia sendiri masih duduk dibelakang Elvan.

Elvan memutar tubuhnya menghadap kebelakang, masih tetap duduk dimotornya. Ia tanpa sadar melepaskan helm yang masih dikenakan Marisa.

Rambut Marisa yang tergerai indah pun melayang layang pelan tertiup angin yang sepoi sepoi. Elvan yang terpesona dengan kecantikan Marisa perlahan demi perlahan memajukan wajahnya. Suasana yang sepi ditambah entah setan mana yang merasukinya membuat Elvan ingin sekali merasakan bibir yang menggoda imannya itu.

Elvan masih terus memajukan kepalanya perlahan. Sementara Marisa, ia sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Elvan. Namun ia masih terpaku dan tak merespon. Ia hanya menatap tajam mata Elvan yang terus menatapnya dalam. Seperti bukan Elvan yang ia kenal. Hingga bibir mereka pun hampir bersentuhan.

"Mas," kata Marisa sambil memundurkan wajahnya.

Elvan yang tersadar pun akhirnya ikut memundurkan kepalanya. Seketika ia langsung berbalik dan menghadap kedepan. Jantungnya berdetak kencang.

Apa yang aku lakukan. Marisa pasti marah. Gumam Elvan dalam hatinya.

Dasar bodoh. Kenapa kamu terbawa suasana sih. Ia memukul mukul kepalanya..

"Mas.. Mas Elvan kenapa." Marisa nampak khawatir. Ia dengan sedikit ragu mengelus elus punggung Elvan. "Mas Elvan kenapa sih?" Kembali mengulang pertanyaannya yang belum mendapat jawaban.

"Maaf ya, kita pulang saja, lain kali akan Mas belikan martabaknya. Cepat pakai helm mu," kata Elvan, Ia pun mengenakan helmnya sendiri. Dan segera melaju menuju kost Marisa.

Elvan masih saja terdiam. Hanya rasa bersalah yang ada dihati dan pikirannya. Padahal sebentar lagi dia akan mendapatkan wanita impiannya. Namun karena kebodohannya yang tak mampu mengendalikan diri membuatnya ragu bahwa Marisa akan memaafkannya. Dan mungkin saja Marisa akan segera menolaknya.

Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mereka pun akhirnya sampai di depan kost Marisa. Marisa lalu turun dari motor Elvan dan menyerahkan helm yang telah dilepasnya.

"Mas, mau mampir sebentar, ada yang mau aku bicarakan sama Mas," kata Marisa setelah merapikan rambutnya.

Elvan terdiam sesaat, lalu ia pun turun dari motornya setelah melepas helm dan menyimpannya.

Marisa berjalan lebih dulu. Dan Elvan mengikutinya di belakang.

"Mas Elvan duduk dulu, aku mau bikin teh hangat sebentar." Marisa pun kemudian membuka kunci pintu dan masuk kedalam kost nya.

Elvan kemudian duduk dikursi plastik yang tadi ditunjuk oleh Marisa. Ia merasakan hawa panas dalam tubuhnya, padahal angin sedang bertiup sepoi sepoi. Berkali kali ia menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa, demi menenangkan jantungnya yang memompa begitu cepat.

Apa yang akan dikatakan Marisa, ia pun pasrah. Apapun itu pasti yang terbaik. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa jodoh tak akan kemana. Dan jika memang Marisa bukan jodohnya semulus apapun jalannya ia tak akan bersama. Itu yang kini ia yakini.

"Silahkan diminum tehnya Mas." Marisa yang keluar dengan membawa dua cangkir teh pun mempersilakan Elvan minum.

"Trimakasih." Hanya itu yang diucapkan Elvan. Ia sendiri bingung harus berkata apa. Akhirnya ia menyeruput teh itu. Manis dan hangatnya teh buatan Marisa seakan membuatnya lebih tenang.

"Aku minta maaf atas apa yang tadi aku lakukan ke kamu Ris, aku benar benar khilaf," kata Elvan menyesal.

Marisa pun menyeruput teh miliknya. Ia pun nampak begitu gugup. Ia seruput lagi cangkir bermotif bunga itu. Lalu meletakkan kembali ke meja plastik berwarna senada dengan kursi yang tengah ia dan Elvan duduki.

"Mas, setiap manusia pasti punya salah dan khilaf. Dan Allah yang menciptakan kamu dan aku saja mau memaafkan semua hambanya yang bertaubat, kenapa aku tidak," kata Marisa.

Elvan pun kembali terdiam.

"Aku mau kasih jawaban aku sekarang Mas, apa boleh?" tanya Marisa.

"Bukankah seharusnya kamu menjawabnya dua minggu lagi," kata Elvan yang kini berharap bisa merubah keadaan dan lebih meyakinkan Marisa bahwa tadi hanyalah sebuah khilaf yang tak akan lagi terulang.

"Jadi Mas Elvan tidak mau dengar jawaban ku sekarang?" Marisa yang sebenarnya merasa sudah yakin dengan jawabannya tak ingin mengulur ulur waktu lagi.

"Kalau jawaban kamu menolakku, ijinkan aku menggunakan sisa waktu yang ku punya untuk meyakinkan hatimu," kata Elvan menatap cangkir teh di hadapannya.

"Kenapa Mas pesimis? Memang aku sudah mengatakan jawabanku," kata Marisa.

"Sudah lah Ris, jangan berputar putar. Kamu boleh jawab apapun sekarang. Tapi sampai waktuku habis aku akan tetap mendekati kamu," kata Elvan frustasi.

"Mas, mas tahu kan kenapa aku nggak mau pacaran. Karena aku nggak mau melakukan kesalahan Mas." Marisa terdiam.

"Jadi jawaban kamu apa?" tanya Elvan yang semakin tidak sabar.

"Aku mau kita langsung menikah Mas," kata Marisa yang membuat Elvan hanya diam tak percaya.

"Aku nggak mau kita sampai melakukan kesalahan. Jadi lebih baik kita secepatnya menikah. Aku juga tahu kalau Mas Elvan pergi ke rumah ayah," kata Marisa lalu menyeruput kembali tehnya.

"Kamu serius kan?" tanya Elvan yang masih tak percaya Marisa menerima lamarannya.

"Iya Mas, sekarang Mas pulang deh. Besok urus surat surat buat nikah kita. Ayah bilang nggak perlu ada lamaran karena akan buang buang waktu dan uang. Mubadzir. Kalau keluarga mas sudah setuju semua langsung ke rumah aja pas akad nikah," kata Marisa.

"Mas benar benar nggak percaya." Elvan tampak begitu bahagia. Berkali kali menggelengkan kepala dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. "Hari senin mas akan urus semuanya."

"Iya Mas, ya sudah Mas cepat pulang, nggak enak kalau dilihat tetangga ini udah malam," kata Marisa.

"Iya mas pulang sekarang. Tapi besok Mas jemput kamu ya kita buka puasa sama kakek nenek dirumah Mas," ajak Elvan.

"Insya Allah mas," jawab Marisa

"Ya sudah Mas pulang. Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam Mas."

Elvan pun meninggalkan kost Marisa dengan perasaan yang berbunga bunga. Ia bahkan ingin berteriak menyuarakan isi hatinya yang bahagia itu.

bersambung....

Terpopuler

Comments

LENY

LENY

Ya jgn2 ayah Alvaro Ayah Elvan jg waduh. syukurlah Risa menerima Elvan. dia laki2 yg baik.

2024-05-07

0

Alanna Th

Alanna Th

gawat kl bnr alvaro n elvan satu ayah; bisa rebutan restu donk 🤔😰😥

2023-08-25

1

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

selamat ya mas elvan lamaranmu dan cintamu diterima oleh Risa. akhirnya kalian jadi menikah bentar lagi... 💋💋❤❤❤

2023-07-02

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Boleh Minta Nomermu?
3 Mengantar Pulang
4 Kriteria Calon Suami
5 Agar Tak Berbohong
6 Mencari Rumput
7 Meminta Restu
8 Jawabannya
9 Kamu Kerja Disini?
10 Cincin Nikah
11 Aku Akan Menikah
12 Mas Elvan Ganteng
13 Dia Papaku
14 Latihan Peluk
15 Bertemu kembali dengan masa lalu
16 Hari Yang Dinanti
17 Kunci Mobil
18 Pertama Kali
19 Alergi
20 Apa kurang Romantis?
21 Honeymoon 1
22 Honeymoon 2
23 Rumah Siapa?
24 Visual / Bukan bab cerita
25 Demi Tas Cantik
26 Jangan Khawatir
27 Hari Patah Hati
28 Beri Aku Semangat
29 Berkunjung Ke Rumah Besar
30 Berguna Untuk Perusahaan
31 Usaha dan Do'a
32 Putra Kedua
33 Sakit
34 Hamil
35 Kehilangan
36 Kesedihan Calon Orang Tua
37 Kembali Bekerja
38 Keputusan Elvan
39 Sekretarisku
40 Pertunangan
41 Tes Kehamilan
42 Merahasiakan Kehamilan
43 Rencana Jahat Anita
44 Kecelakaan
45 Tertangkap Basah
46 Hilang Ingatan
47 Ancaman
48 Setelah Aku Meninggalkanmu
49 Menuju Lahiran
50 Melahirkan
51 Penculikan Zayn
52 Beberapa Tahun Setelahnya
53 Zayn dan Zea
54 Zayn Rindu Mama
55 Janji Zayn
56 Panggil Papa Saja
57 Tanggal Ulang Tahun Yang Sama
58 Aku Telah Kembali
59 Tanyakan Pada Cintamu
60 Mengungkap Fakta
61 Zea Yang Usil
62 Masih Suami Istri
63 Dipecat
64 Siapa Wanita Itu?
65 Malam Bahagia Untuk Elvan
66 Aku Nggak Suka
67 Apa lagi?
68 Jangan Ganggu Keluargaku
69 Selalu dan Selamanya Mencintaimu
70 Tentang Zayn
71 Pertemuan dengan Sylvia
72 Tega Banget Sih
73 Jangan Menangis Sayang
74 Kebun Binatang
75 Jangan Percaya Dia
76 Jangan Sakiti Mamaku
77 Seluruh Saham Kalian
78 Kakek Darma yang Licik
79 Maafkan Kakek
80 Rencana Ulang Tahun
81 Jangan Merusak Hidupmu
82 Kapan Punya Adik?
83 Usaha Yuk
84 Siapa yang Sakit
85 Kesetiaan Elvan
86 Berhentilah Menyakiti
87 Maafkan Mama
88 Happy Birthday My Twins
89 Kejutan Untuk Istri
90 Malam Kita
91 Aku Beruntung (Ending)
92 Pengumuman Novel Baru Menikahi Anak Sopir
93 Bonchap1 Kamar Hotel
94 Bonchap2 Wanita Pembohong
95 Bonchap3 Sylvia kenapa?
96 Bonchap4 Anggota Baru (Final End)
97 PENGUMUMAN SEASON 2
98 Terjerat Gairah Musuh by Itta Haruka
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Prolog
2
Boleh Minta Nomermu?
3
Mengantar Pulang
4
Kriteria Calon Suami
5
Agar Tak Berbohong
6
Mencari Rumput
7
Meminta Restu
8
Jawabannya
9
Kamu Kerja Disini?
10
Cincin Nikah
11
Aku Akan Menikah
12
Mas Elvan Ganteng
13
Dia Papaku
14
Latihan Peluk
15
Bertemu kembali dengan masa lalu
16
Hari Yang Dinanti
17
Kunci Mobil
18
Pertama Kali
19
Alergi
20
Apa kurang Romantis?
21
Honeymoon 1
22
Honeymoon 2
23
Rumah Siapa?
24
Visual / Bukan bab cerita
25
Demi Tas Cantik
26
Jangan Khawatir
27
Hari Patah Hati
28
Beri Aku Semangat
29
Berkunjung Ke Rumah Besar
30
Berguna Untuk Perusahaan
31
Usaha dan Do'a
32
Putra Kedua
33
Sakit
34
Hamil
35
Kehilangan
36
Kesedihan Calon Orang Tua
37
Kembali Bekerja
38
Keputusan Elvan
39
Sekretarisku
40
Pertunangan
41
Tes Kehamilan
42
Merahasiakan Kehamilan
43
Rencana Jahat Anita
44
Kecelakaan
45
Tertangkap Basah
46
Hilang Ingatan
47
Ancaman
48
Setelah Aku Meninggalkanmu
49
Menuju Lahiran
50
Melahirkan
51
Penculikan Zayn
52
Beberapa Tahun Setelahnya
53
Zayn dan Zea
54
Zayn Rindu Mama
55
Janji Zayn
56
Panggil Papa Saja
57
Tanggal Ulang Tahun Yang Sama
58
Aku Telah Kembali
59
Tanyakan Pada Cintamu
60
Mengungkap Fakta
61
Zea Yang Usil
62
Masih Suami Istri
63
Dipecat
64
Siapa Wanita Itu?
65
Malam Bahagia Untuk Elvan
66
Aku Nggak Suka
67
Apa lagi?
68
Jangan Ganggu Keluargaku
69
Selalu dan Selamanya Mencintaimu
70
Tentang Zayn
71
Pertemuan dengan Sylvia
72
Tega Banget Sih
73
Jangan Menangis Sayang
74
Kebun Binatang
75
Jangan Percaya Dia
76
Jangan Sakiti Mamaku
77
Seluruh Saham Kalian
78
Kakek Darma yang Licik
79
Maafkan Kakek
80
Rencana Ulang Tahun
81
Jangan Merusak Hidupmu
82
Kapan Punya Adik?
83
Usaha Yuk
84
Siapa yang Sakit
85
Kesetiaan Elvan
86
Berhentilah Menyakiti
87
Maafkan Mama
88
Happy Birthday My Twins
89
Kejutan Untuk Istri
90
Malam Kita
91
Aku Beruntung (Ending)
92
Pengumuman Novel Baru Menikahi Anak Sopir
93
Bonchap1 Kamar Hotel
94
Bonchap2 Wanita Pembohong
95
Bonchap3 Sylvia kenapa?
96
Bonchap4 Anggota Baru (Final End)
97
PENGUMUMAN SEASON 2
98
Terjerat Gairah Musuh by Itta Haruka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!