Di siang yang terik, bengkel terlihat cukup ramai, banyak pengunjung yang datang untuk sekedar mengganti oli, mengganti ban, mengganti onderdil, bahkan ada yang hanya service rutinan. Meski tak se ramai hari minggu tapi cukup lah membuat para karyawan sibuk dengan motor-motor yang datang silih berganti.
Elvan kini tengah berada di bengkelnya. Duduk tenang di ruangan kerjanya, ditemani laptop yang tak hentinya menyala semenjak pagi. Elvan sedang fokus dengan nama barang barang yang akan dipesannya untuk stok bengkel.
Elvan mendengar ketukan pintu yang ternyata adalah pegawainya.
"Maaf Pak, diluar ada Papanya Pak Elvan mau ketemu." Kata pegawai yang merupakan kasir di bengkel Elvan itu.
"Oh, suruh masuk." Kata Elvan kemudian kembali fokus dengan laptopnya."
Tak lama kemudian Pak Erwin pun datang.
"Sibuk El." Kata Pak Erwin yang baru masuk dan menutup pintu ruangan itu.
"Ya, seperti yang papa lihat. Ada apa?" Tanya Elvan yang kini menghentikan aktifitasnya. "Silahkan duduk Pa."
"Trimakasih El." Pak Erwin menarik kursi didepan meja Elvan. "Oh iya El. Gimana kabar kamu dan kakek nenek?" Tanya Pak Erwin yang kini telah duduk di kursinya.
"Alhamdulillah baik semua, langsung aja deh pa ada apa, nggak mungkin papa kesini kalau cuma nanya kabar." Kata Elvan yang seakan tak ingin membuang waktunya.
"Papa ini papa kamu El, jangan gitu lah sama Papa." Pak Erwin menghembuskan nafas dengan kasar. Terlihat sekali kesedihan dan penyesalan di wajah yang mulai nampak keriput disebagian wajahnya itu.
Elvan hanya diam tak menjawab. Ia sungguh membenci laki laki dihadapannya itu.
"Papa mau ajak kamu liburan ke Jepang sama keluarga Papa." Kata Pak Erwin setelah beberapa saat.
"Maaf Pa, berapa kali Elvan harus bilang. Elvan nggak akan pernah mau liburan sama keluarga Papa. Lagian Papa tau kan aku dulu mau ikut setiap papa liburan itu karena bunda yang minta." Kata Elvan yang kini mulai kesal.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini sama Papa." Kata pak Erwin dengan wajah memelas. Matanya berkaca kaca. Ada banyak beban yang Elvan lihat dimatanya itu.
"Aku akan menikah." Kata Elvan dengan datar.
"Apa?" Pak Erwin terkejut.
"Aku nggak berharap Papa datang." Elvan masih dengan nada datar.
"Kapan El? Sama siapa?" Tanya Pak Erwin yang tampak bahagia. Anak laki lakinya akan segera menikah.
"Setelah lebaran." Jawab Elvan masih dengan ekspresi datar. Ia bingung harus bagaimana, sejak kecil laki laki itu begitu ia sayangi, tapi setelah kematian Bundanya, Elvan seperti membuat jarak dengan ayah kandungnya itu.
"Apa dengan wanita yang bersamamu di depan perusahaan kita kemarin?" Tanya pak Erwin yang memang melihat Elvan menjemput Marisa.
"Papa kenal Risa?" Tanya Elvan seakan tak percaya. Apakah Papanya itu sungguh mengenal Marisa.
"Iya, dia kan kerja di perusahaan kita jadi papa pasti kenal." Kata Pak Erwin yang seakan menyembunyikan fakta bahwa Marisa adalah sekretaris Alvero dan bahkan kakaknya itu menyukainya. Mereka menyukai wanita yang sama.
"Kantor Papa itu besar. Nggak mungkin kalau papa bisa kenal sama Marisa. Apa Papa menyembunyikan sesuatu?" Elvan curiga dengan sikap Papanya.
"Pacar kamu itu Risa? Dia sering ikut meeting dan dia termasuk karyawan terbaik jadi Papa kenal dia." Jawab Pak Erwin yang masih menutupi kebenaran.
"Jangan sampai istri Papa tahu kalau aku akan menikah dengan Risa. Risa nggak mau berhenti kerja, dan aku nggak bisa paksa dia. Aku nggak mau terjadi apa apa dengan dia. Aku mohon sekali ini sama Papa." Elvan pun luluh, dan meminta perlindungan dari laki laki yang ia benci itu.
"Papa janji. Papa akan jaga Risa untuk kamu El." Pak Erwin tersenyum karena ia merasa Elvan mulai luluh dengannya. Ia bisa merasakan bahwa Elvan sangat mencintai Marisa. Seperti Ia yang dulu sangat mencintai ibunda Elvan.
"Tidak usah kasih tahu kak Al, aku nggak mau kalau dia terkena marah Kakeknya kalau sampai dia tidak ikut liburan. Papa juga tidak perlu datang." Kata Elvan.
"Iya El. Papa tidak akan memberitahu Kakakmu. Tapi kalau Papa bisa, Papa akan usahakan untuk datang." Kata Pak Erwin.
Elvan mengangguk. Kini hatinya yang beku seakan perlahan lahan mencair.
"El, kamu masih belum mau mengelola saham yang Papa kasih ke kamu?" Tanya Pak Erwin setelah mereka diam beberapa saat.
"Pa, aku sudah bilang. Aku tidak mau ikut campur masalah perusahaan Papa." Kata Elvan dengan tegas.
"Ya Papa tahu, itu terserah kamu El, yang harus kamu tahu sekarang saham kamu sama dengan kakakmu Al. Papa pergi dulu, akan ada meeting dengan dewan direksi sebentar lagi. Semoga pernikahan kamu lancar ya. Assalamu'alaikum." Pak Erwin bangkit dari duduknya.
"Waalaikumsalam." Jawab Elvan.
Pak Erwin pun meninggalkan bengkel Elvan. Dan tak lama setelahnya Galih masuk ke ruangan itu.
"Bro, elu jadi anak nggak ada sopan sopan nya ya." Kata Galih yang baru selesai menutup pintu.
"Apa sih elu datang datang ngomel." Kata Elvan yang membaca lagi laporan stok barangnya.
"Gue mau masuk tadi. Eh taunya bokap elu lagi didalem. Elu kalau mau kasih tau pernikahan elu. Harusnya elu yang samperin bokap elu. Bukan malah bokap elu yang kemari tau nggak." Galih berkali kali menunjuk Elvan dengan tangannya. Ia geram melihat sikap sahabatnya yang menurutnya keterlaluan itu.
"Dia kesini karena ngajak gue liburan, trus gue tolak. Yaudah sekalian aja gue bilang kalau gue mau nikah." Kata Elvan dengan santai.
"Nikah aja nggak kawin." Kata Galih yang mencoba menggoda Elvan.
"Monyet lu." Memeriksa laporan yang dibawa Galih.
Mereka pun kembali fokus menyelesaikan pekerjaan mereka.
***
Di ruangan Alvero.
Pak Erwin masuk ke dalam ruangan Alvero setelah bertemu dengan Marisa.
"Al, gimana Kevin? Apa ada masalah. Sepertinya dia terlalu lama disana." Kata Pak Erwin yang telah duduk di sofa bersebelahan dengan Alvero.
"Iya Pa, sepertinya pembangunan hotel disana sedikit tertunda karena kecerobohan para pekerja." Kata Alvero yang memang merasa Kevin terlalu lama mengatasi masalah proyek di luar negeri itu.
"Dan dia belum bisa mengatasinya?" Tanya Pak Erwin yang langsung bisa menebak situasi.
"Apa Al harus kesana Pa?" Alvero sepertinya paham dengan keinginan ayahnya.
"Papa rasa memang harus begitu, kamu susul Kevin besok lalu kamu suruh dia pulang, untuk menggantikan kamu disini." Kata Pak Erwin dengan tegas.
"Iya Pa besok Al akan berangkat."
"Bagus Al, kamu cepat selesaikan masalah disana. Jangan sampai kakekmu tahu dan akan marah. Untuk saat ini keuangan perusahaan memang masih aman, tapi kamu tahu kan pengaruh proyek itu dengan keuangan perusahaan kedepannya. Jangan buat klien kecewa dan kakek mengetahuinya. Mengerti." Kata Pak Erwin.
"Iya Pa, akan aku usahakan."
Pak Erwin memang sengaja membuat Alvero meninggalkan negara ini agar Elvan bisa menikahi Marisa tanpa sepengetahuan Alvero. Meskipun keduanya adalah anaknya namun menurutnya Elvan yang selalu sendirian berhak untuk bahagia bersama Marisa.
Hari hari pun berlalu, Alvero kini telah meninjau proyek yang sedang bermasalah itu.
Hingga hari minggu yang dinanti pun tiba.
Matahari mulai naik menandakan pagi akan segera berakhir. Meskipun tengah hari masih lama, namun nampaknya cahaya terpanas itu sedang sangat bersemangat menyinari penduduk bumi. Menghangatkan kulit dan sebentar lagi akan terasa seakan membakarnya.
Elvan sedang duduk di depan kost Marisa. Ia memang berencana mengunjungi makam ibunya bersama Marisa, untuk meminta restu sebelum menikah beberapa hari lagi.
Ia masih setia menunggu sang calon istri yang kala itu masih bersiap. Elvan menghabiskan waktu yang lumayan lama menurutnya itu dengan bermain game online. Ya, hanya untuk membunuh suntuk yang kian mendera.
Akhirnya yang dinanti nanti pun tiba. Sang pujaan hati kini membuka pintu kamar sekaligus rumahnya itu.
Marisa memakai kerudung berwarna maroon dan hem berwarna merah serta memakai sepatu kets yang berwarna senada dengan celan jeans nya. Marisa keluar rumah dan seketika membuat Elvan terpesona.
"Mas. Mas. Mas" Marisa melambai lambaikan tangannya didepan wajah Elvan, karena sang calon suami itu tengah terbengong menatapnya.
"Ini beneran kamu dek?" Tanya Elvan setelah mendapatkan kesadarannya.
"Iya Mas, aneh ya?" Tanya Marisa yang sebenarnya juga merasa aneh dengan penampilannya. Namun bagaimana lagi, ia tak mungkin pergi ke makam dengan pakaian biasanya yang tanpa penutup kepala.
"Enggak, kamu cantik apalagi pakek kerudung gini. Mas jadi kayak lihat bidadari surga." Kata Elvan yang semakin merasakan getaran dihatinya.
"Mas ini mulai lagi deh." Marisa tersipu malu. Ia berkali kali menarik tali tas selempangnya.
"Beneran, kenapa kamu nggak berhijab?" Tanya Elvan yang kini mulai berjalan mengikuti langkah Marisa.
"Aku nggak PD mas, aku kayak belum siap mental gitu sebenernya." Jawab Marisa yang kini telah sampai ditempat biasa Elvan memarkir motornya.
"Kenapa memangnya? Itu kan suatu kewajiban menutup aurat kamu." Tanya Elvan penasaran.
"Ya namanya belum siap mas, aku takut nanti nggak nyaman terus aku lepas. Aku pengennya pakai hijab itu selamanya mas jadi nggak lepas pakai lepas pakai gitu. Ngomong ngomong kita naik apa mas, kok motornya nggak ada?" Tanya Marisa yang kini bingung karena motor Elvan tak ada ditempat parkiran kost itu.
"Mas nggak bawa motor." Kata Elvan santai dan berjalan menuju deretan mobil mobil yang terparkir rapi.
"Jadi kita naik apa mas? Naik bis?" Tanya Marisa yang mulai mengikuti langkah kaki Elvan.
"Naik mobil, udah masuk, jangan ngomel terus." Kata Elvan yang telah membuka pintu mobil samping kemudi.
"Ini mobil siapa mas?"
bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
mobil mamas mu ris.. suka gk? nyaman gk? 😂
2023-07-02
0
Yucaw
Kalau sdh nikah dan suami yg meminta memakai hijab harus mau ya neng Risa,biar makin berkah RT nya..🤗 Suamimu sultan juga lo Risa..sepolos itu ya kamu ngira Elvan cm pny bengkel 😁
2023-05-28
0
⚘️💙⚘️ Neng Gemoy ⚘️💙⚘️
oooohh... kirain kmrn itu yg liat Al ... 😁
2023-01-04
0