Elvan baru saja pulang dari menemui sahabat kakeknya bersama sang kakek tentunya, untuk mengurus semua surat surat yang dibutuhkan untuk menikah di rumah Marisa. Ia pun langsung pergi ke bengkel karena sang kakek dan sahabatnya yang mengurus semuanya.
"Assalamu'alaikum." Kata Elvan saat selesai memarkir motor di bengkel motor miliknya.
"Waalaikumsalam" jawab semua yang ada di bengkel.
Karena hari minggu, bengkel Elvan pun sangat ramai. Semua karyawannya sibuk bahkan ada beberapa motor yang masih mengantri belum ditangani.
"Van, elu udah balik" sapa Galih yang baru keluar dari dalam ruangan.
Bengkel Elvan cukup luas, dibelakangnya ada pintu kaca yang menghubungkan bengkel dengan ruang tunggu berpendingin udara untuk menyamankan pelanggan bengkelnya. Ruang tunggu itu tepat di depan kasir. Lalu disamping kanan kasir ada sebuah ruangan yang di gunakan untuk kantor. Sementara dibelakang ruang tunggu terdapat pintu sebuah gudang untuk menyimpan sparepart dan variasi motor.
"Iya, kemarin sore udah sampek sebenernya, tapi gue langsung ke tempat Risa." Kata Elvan saat mereka masuk ke dalam ruangan tunggu itu. "Dan elu tau setelah lebaran gue dan Risa akan langsung nikah." Kata Elvan dengan bangga.
"Wah,, selamat brother. Betewe emang kagak pakek lamaran kok langsung nikah lu." Tanya Galih heran.
"Iya bokap Risa pengennya gitu nggak pakek acara lamaran katanya. Yaudah masuk yuk, gue pengen lihat laporannya secara langsung." Kata Elvan, karena mereka kini telah berada di depan pintu kantor.
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan kantor. Ruangan itu berukukuran 3x4 meter. Terlihat kecil memang tapi cukup nyaman untuk mereka berdua bekerja.
"Elu udah urus surat surat Van, lebaran kan nggak sampek dua minggu lagi bro." Kata Galih setelah duduk di depan Elvan.
"Udah gue serahin sama kakek sama sohib nya, gue terima beres aja. Nanti baru gue kirim ke bokap Risa buat diurus Beliau." Kata Elvan sambil membuka buku laporan penjualan dan pendapatan bengkel.
"Terus elu udah pesen baju pengantin.?" Tanya Galih.
"Em,, belum sih.. entar gue omongin sama Risa dulu dia maunya gimana." masih fokus membuka lembar demi lembar laporan itu.
"Kalau bokap sama brother lo udah elo kasih tahu juga." Kata Galih.
Elvan mengangkat wajahnya dan menatap mata sahabatnya itu.
"Belum lah, entar aja mereka gampang. Entar dikira gue minta sumbangan sama mereka kalau tau gue nikah." Kata Elvan lalu fokus kembali.
"Ah elah biar gimana juga harusnya elu kenalin dulu Risa sama keluarga bokap elu." Kata Galih yang kini menyalakan laptopnya.
"Bodo amat gue sama bokap. Yang penting kakek nenek udah setuju. Udah cukup buat gue. Dah lah nggak usah ngomongin mereka, laporan bengkel cabang mana?" Tanya Elvan tak ingin membahas ayah dan kakaknya.
Mereka pun kembali fokus dengan pekerjaan mereka.
***
Hari sudah semakin sore, saat Elvan sampai di depan kost Marisa.
"Maaf ya, Mas terlambat jemputnya." Kata Elvan saat melihat Marisa tengah menunggunya di depan rumah. Marisa saat itu memakai hem berwarna pink dengan celana jins berwarna biru langit.
Marisa yang tadi menunggu di parkiran kost pun menghampiri Elvan yang masih diatas motornya.
"Memangnya mas darimana kayaknya sibuk banget, sampai nggak ngabarin dari pagi." Kata Marisa yang mengambil helm dari tangan Elvan dan memakainya.
"Iya Mas tadi sibuk ngecek keadaan dan juga laporan laporan bengkel selama Mas tinggal tiga hari ini cantik." Kata Elvan.
"Em iya.." Kata Marisa yang kemudian naik ke atas motor sport berwarna merah itu.
Lalu Elvan pun melajukan motornya, ia bercerita kepada Marisa bahwa ia berencana membuka bengkel cabang.
Marisa hanya mengangguk angguk mendengar Elvan bercerita, sejak awal kuliah Elvan memang telah membuka bengkel kecil dan setelah kenal dengan Galih mereka pun bekerja sama hingga akhirnya bengkel itu pun sukses seperti sekarang.
Elvan berkata bahwa ia mendapat modal dari sang ibu untuk membuka bengkel. Ibunya bekerja disebuah restauran mewah sebagai koki, namun ia masih tetap menerima nafkah dari ayahnya yang ibunya simpan dan tak pernah dipakai. Hingga saat Elvan ingin membuka bengkel, ibunya pun memberinya uang simpanannya tersebut. Elvan yang akhirnya tahu uang itu dari sang ayah kemudian marah. Namun ibunya saat itu tengah sakit keras tetap memaksa untuk meneruskan bengkelnya. Hingga ibunya pun menghembuskan nafas terakhirnya setelah Elvan berjanji akan tetap berusaha memajukan bengkel itu.
"Mas, lalu ayah Mas Elvan sekarang dimana?" Tanya Marisa saat akan memasuki halaman rumah Elvan.
"Kapan kapan aja mas cerita ya, dia orang sibuk nggak akan ada waktu buat nemuin kita." Kata Elvan dengan senyum termanisnya.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan disambut oleh kakek Elvan sementara nenek Elvan tengah memasak didapur.
Setelah bersalaman dengan kakek Risa pun meminta ijin untuk membantu nenek didapur sementara Elvan tengah masuk ke kamar untuk mandi.
"Assalamu'alaikum?" Sapa Marisa saat tiba di dapur.
"Waalaikumsalam. Eh,, kamu sudah datang. Kamu pasti Marisa ya." Kata nenek yang sedang mencuci tangan di wastafel.
Marisa pun meraih tangan nenek dan mencium punggung tangan yang telah keriput itu.
"Iya nek, saya Risa." Jawabnya dengan senyum yang semakin membuat wajah cantiknya mempesona.
"Kamu cantik sekali Risa. Maaf tadi nenek tidak dengar kalau kamu sudah datang, maklum pendengaran nenek mulai berkurang." Kata nenek Elvan dengan ramah.
"Iya nek, tidak apa. Nenek masak apa?" Tanya Marisa
"Nenek baru selesai masak kari ayam. Sekarang kita bikin es campurnya sama sama ya." Kata Nenek tersenyum.
Marisa terus saja tersenyum, rasanya sudah lama ia tak memasak bersama seorang wanita. Biasanya ia akan ke rumah Ratna saat sedang ingin memasak tapi karena kesibukannya ia telah lama tak memasak dirumah Ratna bersama Mama Ratna yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
Setelah selesai memasak dan menyiapkan makanan diatas meja makan. Marisa dan juga nenek Elvan menyusul Elvan dan sang kakek yang tengah mengobrol di ruang tamu.
"Jadi kalian akan langsung menikah?" Tanya kakek setelah mereka berempat duduk bersama.
"Iya kek, ayah Risa inginnya langsung menikah dan tidak perlu ada lamaran." Elvan yang menjawab.
"Ya, kalau itu sih kakek setuju." Kakek mengangguk anggukkan kepalanya.
"Tapi Van, apa kamu sudah bilang sama Papa kamu?" Kini giliran sang nenek yang bertanya.
"Belum nek, nanti saja lah mereka pasti sibuk. Lagian Elvan ini laki laki tidak perlu seorang wali kan?" Jawab Elvan.
"Tapi biar bagaimanapun dia berhak tahu. Dan seharusnya kamu juga mengenalkan calon istri kamu dengannya." Kata kakek.
"Buat apa kek, kalau Elvan kesana nanti pasti keluarga mereka akan bertengkar, Elvan tidak mau kalau disalahkan terus kek." Kata Elvan.
"Setidaknya kamu tetap beritahu Papa dan Kakak kamu. Mereka bisa datang atau tidak yang penting kamu kasih tahu." Kata nenek.
"Nanti sajalah nek, kalau sudah dekat waktunya." Jawab Elvan.
Tak lama suara adzan pun berkumandang. Mereka membatalkan puasa bersama dan bersama menuju masjid untuk sholat maghrib.
Setelah pulang dari masjid mereka pun makan bersama dengan tenang.
Lalu setelah makan Elvan mengantar Marisa untuk kembali pulang ke kostnya. Namun ditengah jalan ia membelikan Marisa martabak manis seperti janjinya kemarin.
"Dek, besok kamu pulang jam berapa?" Tanya Elvan setelah mereka sampai di depan kost Marisa.
"Jam empat biasanya mas, kenapa?" Tanya Marisa yang sudah melepas helmnya.
"Besok mas jemput ya. Nanti kamu kirim alamat kerjamu." Kata Elvan.
"Em, iya deh mas. Emang kita mau kemana lagi sih?" Tanya Marisa
"Kita kan perlu baju pengantin dek." Elvan menatap wajah Marisa yang semakin hari semakin menggemaskan.
"Ya Allah, aku nggak kepikiran mas." Kata Marisa yang tertawa karena melupakan hal yang penting itu.
"Ya sudah, Mas pulang dulu ya. Besok usahakan ya." Kata Elvan.
"Iya mas Insya Allah."
Elvan pun tersenyum lalu pulang kembali ke rumahnya.
...----------------...
Keesokan harinya.
Risa telah meminta ijin untuk pulang satu jam lebih awal. Ia tengah menunggu Elvan menjemputnya di depan kantor. Sebelumnya Elvan telah mengirimi pesan bahwa ia sudah dijalan jadi Risa tak menunggu terlalu lama.
Elvan pun sampai di depan kantor tempat Marisa bekerja.
"Kamu beneran kerja disini?" Tanya Elvan yang telah melepas helm nya.
Kantor memang nampak sepi karena karyawan yang lain masih belum pulang. Sehingga tak banyak yang melihat Elvan dan Marisa berdua di depan kantor.
"Iya Mas, kenapa memangnya? Mas nggak ngijinin aku kerja setelah nikah?" Tanya Marisa.
"Bukan begitu." Kata Elvan.
Kantor ini cukup besar, pasti Risa hanya pegawai biasa, tidak mungkin lah dia kenal akrab sama Kak Al apalagi Papa. Batin Elvan.
Elvan pun segera memakaikan Marisa helm sebelum ada yang mengenalinya.
"Mas, jangan gini nggak enak dilihat orang. Aku bisa pakai sendiri Mas." Kata Marisa yang tak menyangka Elvan akan memakaikan helmnya.
"Udah, jangan bantah belajar nurut sama calon suami. Lagian disini sepi nggak akan ada yang lihat." Kata Elvan dengan cengirnya.
"Mas itu masih calon ya. Belum suami kan?" Kata Marisa yang tersenyum namun menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
"Iya iya calon istri." Kata Elvan tersenyum bahagia. Ia tak menyangka wanita cantik dihadapannya akan menjadi istrinya.
"Kita beli yang udah jadi aja mas, kayaknya nggak ada waktu kalau pesen mas." Kata Marisa yang kemudian naik ke motor sport milik Elvan.
"Yaudah, kita cari butik aja nanti kamu tinggal pilih mana yang kamu suka." Kata Elvan yang kemudian melajukan motornya ke jalan raya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat mereka berdua sejak tadi dibalik kaca besar loby kantor itu. Laki laki itu menarik nafasnya dalam. Ada kesedihan dan kegelisahan di raut wajah tampannya.
***
Setelah berkeliling dan akhirnya membeli satu setel kebaya dan jas berwarna senada. Elvan dan Marisa memutuskan untuk mampir disebuah kafe karena waktu berbuka akan segera tiba.
Beruntung mereka berdua masih mendapat tempat duduk dan segera memesan minuman.
"Aku strawberry milkshake sama chicken finger" kata Marisa kepada pelayan kafe saat telah selesai membaca menu. "Mas mau apa?" Tanyanya kepada Elvan.
"Em.. aku mango smoothie sama chicken fingers juga deh." Kata Elvan.
"Baiklah jadi strawberry milkshake satu mango smoothie satu, dan chicken fingers dua ya." Kata pelayan itu mengulang menu yang dipilih Marisa dan Elvan lalu mencatatnya. "mohon ditunggu." Kata pelayan itu kemudian membawa kembali buku menu nya.
"Terimakasih." Kata Marisa dan pelayan kafe itu pun pergi.
Setelah itu tiba tiba ponsel Elvan yang ada di meja pun berbunyi.
Kenapa dia telfon. Tumben sekali. Batin Elvan saat melihat nama penelfon di layar ponselnya.
Mau tidak mau Elvan pun menjawabnya karena ada Marisa didepannya. Ia tak mau Marisa berpikiran negatif jika ia tak menjawab telfon itu.
"Aku angkat sebentar ya." Kata Elvan yang langsung dibalas senyum oleh Marisa.
"Ada apa?" Elvan langsung bertanya tanpa memberi salam.
"Kamu dimana? Papa pengen ketemu bisa?" Kata laki laki yang ternyata papa Elvan.
"Hari ini aku sibuk." jawab Elvan datar.
"Kalau besok gimana? Papa ke bengkel ya." Kata papa Elvan.
"Terserah papa." jawab Elvan masih datar.
"Papa beneran pengen ketemu kamu El." Kata Papanya.
"Iya terserah papa, silahkan datang aja." Elvan Menaikkan nada suaranya.
"Papa sendiri kok nggak sama Al."
"Itu lebih baik, daripada nanti istri papa marah mengira aku mencuci otak anaknya lebih baik memang datang sendiri saja."
"Oke kalau gitu. Besok papa ke bengkel ya."
"Iya, aku sibuk Pa, besok aja basa basinya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Elvan pun mengakhiri panggilannya. Ia lalu memegang kepalanya yang tiba tiba terasa berat.
Tumben sekali dia, apa dia punya firasat kalau aku akan menikah. Batin Elvan.
"Mas kenapa?"
bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Erna Wati
nah bener kn?
2023-11-29
0
Erna Wati
nti ayahnya alvero ayah elvan juga
2023-11-29
0
Yucaw
Jangan smp tuh si papa" an minta Elvan ngalah sm Alvero..tak cekik iya kl smp begitu,gak pernah ngasih kebahagiaan sm anak kok mlh mau aneh"..atau...yg lihat Elvan jemput Risa td si papa ini?? ku kira Al..trus lapor bokapnya..🙄
2023-05-28
0