Kriteria Calon Suami

Risa telah selesai sholat shubuh dan membersihkan kamar beserta dapurnya yang ia pakai memasak sahur. Semua telah selesai ia kerjakan.

Risa teringat lagi tentang lamaran Elvan semalam. Ia yang baru mengenal Elvan selama sebulan terakhir merasa Elvan adalah laki-laki yang baik. Namun Ia masih begitu ragu tentang keseriusan Elvan. Ia tak mau salah dalam mengambil keputusan. Karena baginya, menikah hanya ada sekali, dan jangan sampai terulang lagi.

Di tengah keraguan hatinya, Risa membuka ponselnya. Ia mencari nama Ayahnya dalam daftar kontak telephone di ponselnya. Saat ini, lebih baik bercerita dengan ayahnya, Karena semenjak kepergian ibunya untuk selamanya itu, Ayahnya lah tempatnya berbagi cerita, meskipun rasnya tetap tak sama dengan ketik bercerita bersama Ibunya.

Risa kemudian menelfon ayahnya. Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya sang Ayah pun menjawab panggilannya.

"Assalamu'alaikum Ayah" sapa Risa penuh keceriaan seperti biasa.

"Wa'alaikumsalam Nak, kamu puasa?" Suara Pak Ridwan yang telah lama tak didengar secara langsung oleh Risa.

"Insya Allah yah, Ayah tadi sahur pakai apa?" Kata Risa.

"Ayah tadi sahur sama telor ceplok. Kamu sendiri?" Tanya pak Ridwan.

"Risa makan sama nasi padang yah" Risa tersenyum teringat Elvan. "Yah, kemarin Risa dilamar sama laki laki."

"Siapa, Nak?" Tanya Pak Ridwan setengah tak percaya.

"Namanya Mas Elvan Yah, temennya Mas Galih."

"Kamu udah kenal dia dengan baik?" Tanya Pak Ridwan memastikan lagi.

"Insya Allah yah, selama sebulan ini kenal Mas Elvan, dia baik yah. Sholatnya juga Insya Allah rajin Yah, Risa pernah jadi makmum dia pas sholat, dan ayah tau, suaranya merdu sekali yah saat menjadi imam." Kata Risa sambil membayangkan kembali kejadian semalam saat Elvan memimpin sholatnya.

"Kalau kamu yakin dia bisa jadi suami dan imam yang baik untuk kamu, lebih baik kamu terima Nak, supaya ada teman hidup, teman yang akan menjagamu, Insya Allah, wanita yang baik jodohnya juga laki laki yang baik Nak." Nasehat Pak Ridwan untuk Risa.

"Sebenarnya Risa sudah minta waktu satu bulan Yah supaya meyakinkan hati Risa." Kata Risa.

"Baiklah Nak, ayah hanya bisa mendoakan kamu supaya kamu mendapat laki laki yang baik yang penting dia harus rajin sholat dan rajin mencari nafkah." masih menasehati Risa.

"Iya Ayah Insya Allah, ya sudah Risa tutup dulu ya telfonnya. Risa mau siap siap ke kantor." Kata Risa setelah melihat jam dipergelangan tangannya.

"Iya Nak, hati hati ya. Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam Yah."

Risa pun mengakhiri panggilannya dengan sang ayah. Ia lalu bersiap untuk berangkat ke kantor.

****

Saat ini Risa telah berada di ruang kerja Alvero. Ia sedang merapikan berkas berkas meeting yang baru saja selesai.

"Kamu istirahat saja dulu Ris, hasil meeting tadi kamu kerjakan nanti saja. Dan serahkan besok pagi ke saya." Ucap Alvero setelah melihat jam di tangannya menunjukkan jam istirahat.

"Baik Pak, apa saya boleh sholat di mushola kantor dulu Pak?" Kata Risa yang kini telah memegang berkas di tangannya.

"Ya silahkan! Saya mau pulang dulu, Kakek lagi nggak enak badan jadi saya mau menemaninya dulu. Apa saya ada jadwal lain?" Tanya Alvero memastikan

"Tidak ada Pak." Jawab Risa.

"Baguslah, oh iya Ris, maafkan mama saya atas kejadian kemarin ya." Kata Alvero yang kini telah bangun dari kursi direkturnya.

"Oh, soal itu tidak masalah pak, sudah sewajarnya nyonya Anita bersikap seperti itu." Kata Risa yang menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.

"Yasudah saya pulang dulu." Kata Elvan.

"Baik Pak." Jawab Risa. Kemudian mereka sama sama keluar ruangan Alvero.

***

Dua minggu kemudian.

Risa yang telah selesai sholat dhuhur menerima pesan dari sahabatnya, Ratna.

[Ris, ayah kamu nasih ternak kambing?] Ratna

[Iya masih, kenapa memangnya Na?] Risa

[Temen aku ada yang mau belajar ternak kambing. Boleh kirimin alamat ayah kamu nggak?] Ratna

[Ayahku dikampung jauh banget dari ibukota Na. Emang temen kamu dimana sih? Kenapa nggak cari yang deket ibukota aja.] Risa

[Temen aku itu baru pindah kota Ris, dia tinggal di kota deket ayah kamu, dia juga pengen ternak kambing terus aku saranin aja ketemu ayah kamu. Dan dia tertarik pengen belajar.] Ratna

[Yaudah ini alamat ayahku

Desa XX Kec. YY Kab. ZZ

Ayahku namanya Rahmat Cahyadi.] Risa

[Oke makasih ya Ris.] Ratna

[Iya sama2.] Risa

Tak berselang lama Risa menerima panggilan telfon dari Elvan. Dengan cepat ia menekan tombol hijau di ponselnya. Laki laki yang dua minggu lalu melamarnya kini membuatnya seakan ingin terus bersamanya.

"Assalamualaikum cantik?" Sapa Elvan melalui panggilan video.

"Wa'alaikumsalam Mas, ada apa tumben nelfon?" Kata Risa.

"Nggak boleh ya nelfon jam segini. Apa mas ganggu kamu cantik?" Elvan masih saja menggoda Risa. Ia sepertinya senang melihat ekspresi wajah Risa yang malu malu tiap kali ia berusaha menggoda dan merayu nya.

"Boleh kok Mas, ini kan masih jam kerja." Jawab Risa.

"Em.. Mas cuma mau pamit aja sama kamu." Ucap Elvan terhenti yang ternyata sukses membuat Risa panik.

"Mas mau kemana? Apa Mas udah nyerah gitu aja? Kan masih ada waktu dua minggu lebih mas." Kata Risa terlihat begitu panik. Yang dapat Elvan lihat dengan jelas dari layar ponselnya. Dalam hati Elvan semakin yakin bahwa Risa akan menerima lamarannya.

"Mas cuma mau pamit kalau beberapa hari ini mas akan ada kerjaan di luar kota. Mas masih ingat kok kalau kamu masih punya waktu buat jawab lamaran Mas." Kata Elvan.

"Jadi Mas masih nunggu jawaban aku kan mas?" Tanya Risa meyakinkan hatinya bahwa Elvan tak akan semudah itu menyerah. Jauh di dalam hatinya dia sangat berharap bahwa Elvan akan tetap menunggunya. Karena kini ia mulai yakin dengan Elvan. Setelah seringnya mereka chating dan video call. Meskipun mereka sangat jarang bertemu secara langsung, tapi Risa kini yakin Elvan akan menjadi suami terbaik untuknya.

"Iya, Mas masih tetep menunggu kok. Emang kamu mau jawab sekarang?" Tanya Elvan lagi.

"Nanti Mas, setelah lebaran." Jawab Risa.

"Iya deh. Mas tunggu ya. Semoga jawaban kamu adalah kabar baik buatku." Kata Elvan tersenyum.

"Apa yang setelah lebaran?" Suara Alvero yang baru keluar dari ruangannya pun mengagetkan Risa.

"Eh. Pak Al. Maaf pak." Katanya menganggukkan kepala seakan meminta maaf. "Mas. Aku kerja dulu ya." Risa mematikan telfonnya tanpa salam. "Maaf Pak atas keteledoran saya." Menunduk meminta maaf pada atasannya itu.

"Iya tak apa. Masih ada waktu lima menit kok Risa. Emang kamu mau kemana setelah lebaran?" Tanya Alvero yang tadi sempat mendengar percakapan Risa dan Elvan di telfon.

"Emmm.. maaf Pak itu masalah pribadi." Risa menundukkan pandangannya.

"Oh.. ya maaf kalau saya lancang." Alvero lalu duduk di kursi depan meja Risa.

"Emmm.. Pak, maaf kalau boleh saya tanya. Lebaran ini kita libur berapa hari ya Pak?" Tanya Risa.

"Emm.. biasanya sepuluh hari kita libur." Alvero duduk di depan Risa. "Risa, apa kamu punya pacar?" Tanya Alvero penasaran.

"Saya nggak punya Pak. Karna saya nggak mau pacaran." Jawab Risa.

"Kenapa? Apa kamu mau langsung menikah?" Semakin penasaran.

"Kalau sudah bertemu jodoh mungkin saya akan langsung menikah Pak." Jawab Risa dengan senyumnya.

"Kamu suka laki laki yang seperti apa?" Tanya Alvero, matanya tak lepas menatap Risa.

"Maaf Pak, memangnya kenapa ya Pak?" Jawab Risa mulai deg deg an.

"Mungkin saya bisa menjadi laki laki seperti impian kamu." Jawab Alvero.

"Menurut saya, manusia tidak perlu berubah untuk manusia lainnya Pak. Kita harus mencari pasangan yang bisa menerima kita apa adanya. Bukan menjadi orang lain demi menyenangkan hatinya."

"Ya, kamu benar. Tapi apa saya bisa menjadi kriteria calon suami impian kamu?"

Risa terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Alvero adalah laki laki baik. Dia memperlakukan karyawannya dengan sangat baik. Menghargai hasil kerja keras bawahan dan tidak semena mena. Dari segi fisik dia juga tampan, kulitnya putih bersih, hidungnya mancung dengan tatapan mata yang tajam. Dia juga jangkung seperti Elvan. Dari segi fisik, bisa dibilang Alvero adalah laki laki sempurna.

"Maaf Pak, saya tidak punya kriteria khusus untuk calon suami saya. Tapi kalau saya boleh berharap saya ingin punya suami yang rajin sholat dan menjadi imam yang baik untuk saya. Itu saja."

Kini Alvero terdiam. Ia tak mampu mengeluarkan kata katanya. Apakah selama ini ia sholat dengan rajin. Ah, bahkan ia hanya sholat dhuhur dan Ashar di kantor. Selebihnya sangat jarang sekali apalagi dengan kesibukannya sebagai Direktur Utama. Ia bahkan tak pernah membaca Al Qur'an, lalu apakah Ia mampu menjadi imam yang baik sesuai dengan angan angan Risa.

****

Keesokan harinya.

Siang hari yang terik, matahari seakan ingin membakar kulit manusia yang tengah sibuk beraktifitas diluar. Panas terik yang membuat gerah dan haus adalah salah satu ujian manusia di bulan suci Ramadhan, apakah manusia mampu melewatinya dan menahan semua rasa lelah, gerah dan haus hingga adzan maghrib tiba. Entahlah, yang pasti saat terdengar suara adzan, rasa lelah itu tergantikan dengan nikmat berbuka yang tiada tara.

Masih dibawah terik matahari, Elvan keluar dari terminal bis, setelah melakukan sholat dhuhur. Ia berjalan mencari taksi atau mungkin ojek. Apapun asal ia bisa segera sampai ke alamat yang akan ditujunya. Elvan terus berjalan menggendong tas ranselnya. Sebelumnya ia berangkat naik bis antar kota antar provinsi, dan menempuh perjalanan hampir lima jam di bis. Dan kini Ia masih harus berjalan mencari angkutan menuju alamat rumah seseorang yang akan ia temui. Benar benar perjalanan yang sangat melelahkan.

Setelah berjalan keluar terminal Elvan menemukan pangkalan ojek yang beberapa dari mereka tengah asyik rebahan di pangkalannya.

"Disini emang nggak ada ojek online ternyata. Apa perusahaan itu belum menyentuh kota kecil ini ya." Gumamnya sambil berjalan kearah pangkalan ojek yang telah didepan mata.

"Mau kemana Mas?" Sapa seorang tukang ojek.

"Tau alamat ini nggak Pak?" Elvan menyodorkan ponselnya memberitahukan alamat yang ingin Ia tuju.

"Oh, kebetulan saya asli sana mas. Mari saya antar Mas." Jawab tukang ojek itu.

"Alhamdulillah, berapa ongkosnya pak?" Tanya Elvan.

"Dua puluh lima ribu Mas, sudah biasa harga segitu." Jawab tukang ojek itu lagi.

"Baiklah, antar saya ya Pak. Oh iya sekalian tanya, disana ada penginapan nggak pak. Sepertinya akan kemalaman kalau saya nanti langsung pulang."

"Emmm,, ndak ada Mas. Mas dari mana tow memangnya?"

"Saya dari kota pak. Kalau gitu antar saya sekarang ya Pak."

"Ya ya baik, silahkan ini helmnya."

Elvan pun diantar tukang ojek menuju alamat itu. Setelah dari jalan raya, mereka memasuki sebuah jalan yang lebih kecil dari jalan raya tapi masih bisa dilewati dua mobil. Ia mulai disuguhkan pemandangan yang menyegarkan mata. Hamparan sawah yang membentang disamping kiri dan kanan sepanjang jalan itu. Mereka kemudian memasuki kawasan hutan jati yang asri.

Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas kilometer dari terminal, akhirnya Elvan pun sampai di depan rumah minimalis yang terlihat lebih bagus dari rumah sederhana kiri kanan nya.

"Sudah sampai Mas." Kata tukang ojek itu.

"Oh,, iya." Elvan turun dari motor dan merogoh saku celana bagian depan kanannya. "Ini ongkosnya Pak. Kembaliannya buat Bapak saja." Elvan menyerahkan uang lima puluh ribuan kepada tukang ojek itu.

"Wah.. Alhamdulillah, terimakasih banyak Mas, semoga Allah melancarkan rejeki dan semua urusan Mas, dan segera dipertemukan dengan jodohnya." Doa tukang ojek itu tulus.

"Aamiin. Terimakasih Pak." Elvan mengembalikan helm nya dan kemudian tukang ojek itu pun pamit untuk langsung pulang ke rumahnya.

Elvan pun berjalan menuju pintu depan rumah minimalis ber cat ungu kombinasi merah muda itu.

"Assalamu'alaikum. Permisi." Elvan mengetuk pintu yang terbuka itu.

"Wa'alaikumsalam." Jawab seorang laki laki setengah baya yang keluar dari dalam rumah. "Siapa ya?" Tanya laki laki itu.

bersambung....

Terpopuler

Comments

uhuuyyyyyy

uhuuyyyyyy

waah elvan sat set...calon suami idaman jaaann

2024-11-25

0

LENY

LENY

WAH KEREN ELVAN KETEMU AYAH RISA 👍👍BENER2 RISA KAMU GAK SALAH PILIH ELVAN. JGN PILIH ALVARO NNT DIRENDAHKAN DIHINA SAMA MAMA NYA & KEL NYA🙏

2024-05-07

0

Erna Wati

Erna Wati

elvan emg pria idaman ah berani lgsg nemuin camer

2023-11-28

2

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Boleh Minta Nomermu?
3 Mengantar Pulang
4 Kriteria Calon Suami
5 Agar Tak Berbohong
6 Mencari Rumput
7 Meminta Restu
8 Jawabannya
9 Kamu Kerja Disini?
10 Cincin Nikah
11 Aku Akan Menikah
12 Mas Elvan Ganteng
13 Dia Papaku
14 Latihan Peluk
15 Bertemu kembali dengan masa lalu
16 Hari Yang Dinanti
17 Kunci Mobil
18 Pertama Kali
19 Alergi
20 Apa kurang Romantis?
21 Honeymoon 1
22 Honeymoon 2
23 Rumah Siapa?
24 Visual / Bukan bab cerita
25 Demi Tas Cantik
26 Jangan Khawatir
27 Hari Patah Hati
28 Beri Aku Semangat
29 Berkunjung Ke Rumah Besar
30 Berguna Untuk Perusahaan
31 Usaha dan Do'a
32 Putra Kedua
33 Sakit
34 Hamil
35 Kehilangan
36 Kesedihan Calon Orang Tua
37 Kembali Bekerja
38 Keputusan Elvan
39 Sekretarisku
40 Pertunangan
41 Tes Kehamilan
42 Merahasiakan Kehamilan
43 Rencana Jahat Anita
44 Kecelakaan
45 Tertangkap Basah
46 Hilang Ingatan
47 Ancaman
48 Setelah Aku Meninggalkanmu
49 Menuju Lahiran
50 Melahirkan
51 Penculikan Zayn
52 Beberapa Tahun Setelahnya
53 Zayn dan Zea
54 Zayn Rindu Mama
55 Janji Zayn
56 Panggil Papa Saja
57 Tanggal Ulang Tahun Yang Sama
58 Aku Telah Kembali
59 Tanyakan Pada Cintamu
60 Mengungkap Fakta
61 Zea Yang Usil
62 Masih Suami Istri
63 Dipecat
64 Siapa Wanita Itu?
65 Malam Bahagia Untuk Elvan
66 Aku Nggak Suka
67 Apa lagi?
68 Jangan Ganggu Keluargaku
69 Selalu dan Selamanya Mencintaimu
70 Tentang Zayn
71 Pertemuan dengan Sylvia
72 Tega Banget Sih
73 Jangan Menangis Sayang
74 Kebun Binatang
75 Jangan Percaya Dia
76 Jangan Sakiti Mamaku
77 Seluruh Saham Kalian
78 Kakek Darma yang Licik
79 Maafkan Kakek
80 Rencana Ulang Tahun
81 Jangan Merusak Hidupmu
82 Kapan Punya Adik?
83 Usaha Yuk
84 Siapa yang Sakit
85 Kesetiaan Elvan
86 Berhentilah Menyakiti
87 Maafkan Mama
88 Happy Birthday My Twins
89 Kejutan Untuk Istri
90 Malam Kita
91 Aku Beruntung (Ending)
92 Pengumuman Novel Baru Menikahi Anak Sopir
93 Bonchap1 Kamar Hotel
94 Bonchap2 Wanita Pembohong
95 Bonchap3 Sylvia kenapa?
96 Bonchap4 Anggota Baru (Final End)
97 PENGUMUMAN SEASON 2
98 Terjerat Gairah Musuh by Itta Haruka
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Prolog
2
Boleh Minta Nomermu?
3
Mengantar Pulang
4
Kriteria Calon Suami
5
Agar Tak Berbohong
6
Mencari Rumput
7
Meminta Restu
8
Jawabannya
9
Kamu Kerja Disini?
10
Cincin Nikah
11
Aku Akan Menikah
12
Mas Elvan Ganteng
13
Dia Papaku
14
Latihan Peluk
15
Bertemu kembali dengan masa lalu
16
Hari Yang Dinanti
17
Kunci Mobil
18
Pertama Kali
19
Alergi
20
Apa kurang Romantis?
21
Honeymoon 1
22
Honeymoon 2
23
Rumah Siapa?
24
Visual / Bukan bab cerita
25
Demi Tas Cantik
26
Jangan Khawatir
27
Hari Patah Hati
28
Beri Aku Semangat
29
Berkunjung Ke Rumah Besar
30
Berguna Untuk Perusahaan
31
Usaha dan Do'a
32
Putra Kedua
33
Sakit
34
Hamil
35
Kehilangan
36
Kesedihan Calon Orang Tua
37
Kembali Bekerja
38
Keputusan Elvan
39
Sekretarisku
40
Pertunangan
41
Tes Kehamilan
42
Merahasiakan Kehamilan
43
Rencana Jahat Anita
44
Kecelakaan
45
Tertangkap Basah
46
Hilang Ingatan
47
Ancaman
48
Setelah Aku Meninggalkanmu
49
Menuju Lahiran
50
Melahirkan
51
Penculikan Zayn
52
Beberapa Tahun Setelahnya
53
Zayn dan Zea
54
Zayn Rindu Mama
55
Janji Zayn
56
Panggil Papa Saja
57
Tanggal Ulang Tahun Yang Sama
58
Aku Telah Kembali
59
Tanyakan Pada Cintamu
60
Mengungkap Fakta
61
Zea Yang Usil
62
Masih Suami Istri
63
Dipecat
64
Siapa Wanita Itu?
65
Malam Bahagia Untuk Elvan
66
Aku Nggak Suka
67
Apa lagi?
68
Jangan Ganggu Keluargaku
69
Selalu dan Selamanya Mencintaimu
70
Tentang Zayn
71
Pertemuan dengan Sylvia
72
Tega Banget Sih
73
Jangan Menangis Sayang
74
Kebun Binatang
75
Jangan Percaya Dia
76
Jangan Sakiti Mamaku
77
Seluruh Saham Kalian
78
Kakek Darma yang Licik
79
Maafkan Kakek
80
Rencana Ulang Tahun
81
Jangan Merusak Hidupmu
82
Kapan Punya Adik?
83
Usaha Yuk
84
Siapa yang Sakit
85
Kesetiaan Elvan
86
Berhentilah Menyakiti
87
Maafkan Mama
88
Happy Birthday My Twins
89
Kejutan Untuk Istri
90
Malam Kita
91
Aku Beruntung (Ending)
92
Pengumuman Novel Baru Menikahi Anak Sopir
93
Bonchap1 Kamar Hotel
94
Bonchap2 Wanita Pembohong
95
Bonchap3 Sylvia kenapa?
96
Bonchap4 Anggota Baru (Final End)
97
PENGUMUMAN SEASON 2
98
Terjerat Gairah Musuh by Itta Haruka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!