Gedung pencakar langit yang baru saja Vanya masuki bersama Marco membuat wanita itu berdecak kagum. Megah dan luasnya berkali-kali lipat dari perusahaan Adit yang tidak seberapa itu.
Ternyata Marco adalah manusia murni keturunan sultan. Bisa-bisanya Vanya sampai tidak tahu bahwa pria itu terlahir dari keluarga sesukses ini. Dulu Marco sangat sederhana, beda jauh dengan sekarang yang tampak keren ketika dilihat dari sudut pandang mana pun.
Vanya melangkan bersebelahan dengan Marco, ia mengenakan pakaian seksi yang membuat beberapa pasang mata memandangangnya dengan tatapan aneh. Tak ada satu pun yang berani angkat bicara, namun tatapan itu sangat mengintimidasi dan membuat Vanya tidak nyaman. Mungkin mereka sedang berpikir bahwa Vanya adalah wanita penggoda murahan yang tak pantas bersanding dengan seorang Marco.
Marco sialan, kenapa dia memilihkanku pakain terbuka seperti ini? Batin wanita itu kesal lantaran tak nyaman dengan mata lapar pria yang diam-diam meliriknya.
Mereka berdua masuk ke dalam lift yang langsung sampai ke ruangan Marco di lantai 12. Akhirnya Vanya bisa bernapas dengan lega karena terhindar dari mata jahat para karyawan Marco.
"Kenapa kau!" Marco meninggikan satu alisnya saat melihat Vanya sedang curi-curi pandang ke arahnya. "Buang jauh-jauh pikiran kotormu!"
"Apaan sih?" Vanya berdecak kesal.
"Kau sedang mengagumi ketampananku bukan?" tanya pria itu dengan percaya dirinya.
Gila ya, bisa-bisanya aku berdampingan dengan manusia yang sok kepedaan kaya kamu! Iya ... iya kamu tampan, tapi bagiku menyebalkan. Camkan!
Meski kesal luar biasa, Vanya memilih memasang senyum cerah demi ketenangan hidupnya. "Dari dulu saja kau sudah tampan. Wanita mana yang tidak terpana melihat ketampananmu. Apalagi sekarang kau sudah jauh lebih mapan," goda wanita itu dengan kedipan mata genit.
"Cih!" Marco berdecak mendengar pujian yang lebih mengarah pada ledekan itu. Bahkan ia tidak senang sama sekali mendengarnya.
Dasar pria gila. Dipuji salah, dihina apalagi.
Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka dan langsung mengarah pada ruangan kantor mewah di mana ada Hero yang sedang duduk di sana. Marco berjalan maju diikutu langkah anggun Vanya dari belakang.
"Pagi Her!"
"Pagi Tu—" Hero langsung tercekat begitu melihat perempuan menyebalkan itu muncul dari balik punggung Marco. Biasa selalu saja ada hal yang menyusahkan kalau sudah mencangkup urusan Vanya. Di mana Hero pasti akan ikut terseret ke dalam jurang repot yang diciptakan Marco seenak jidatnya.
"Tuan, bukankah hari ini kita ada rapat penting. Kenapa malah membawa nona muda ke kantor?"
"Dia akan menjadi asistenku sehari! Segera susun tugas untuk Vanya agar dia bisa langsung mempraktekkannya sekarang," ujar pria itu lalu masuk ke ruangannya diikuti oleh Vanya dari belakang.
Hero menahan geraman. Sudut matanya mengekori dua mahluk yang baru saja masuk ke ruang sebelah.
Ugh sialan! Pagi-pagi begini sudah mendapat pekerjaan yang menyebalkan. Bagaimana caranya Hero menyusun tugas untuk Vanya coba? Sedangkan ia saja tidak tahu seberapa besar skill wanita itu di bidang perkantoran.
Namun yang namanya bawahan tetap saja wajib memenuhi permintaan bossnya. Hero menyusun daftar pekerjaan yang harus Vanya kerjakan selama satu hari ini. Setelah selesai ia langsung masuk ke ruangan Marco. Kemudian memberikan daftar tugas itu pada Vanya.
Vanya yang tengah duduk di sofa mengernyit tak paham dengan semua tugas yang Hero berikan. Semua itu tampak asing di mata Vanya yang notabene tidak mengerti urusan kantor sama sekali. "Maaf, sepertinya aku tidak bisa mengerjakan semua tugas-tugas ini. Terlalu rumit dan susah," ujarnya.
Vanya juga menyingkirkan laporan keungan perusahan yang Hero berikan hingga pria itu mengepal geram. "Apalagi ini, aku mana bisa memeriksa data seperti itu."
Jadi pekerjaan apa yang Anda bisa Nona? Semua itu sudah kupilihkan yang termudah, batin Hero kesal.
Dari sudut lain, Marco menghentikan pekerjaannya saat melihat Vanya tengah kepusingan dengan tugas yang Hero berikan. "Berilah daftar pekerjaan dalam bentuk fisik saja Her. Kenapa kau repot-repot menyusun tugas untuk seorang asisten sungguhan? Masa yang seperti itu saja kau tidak tahu," tandas Marco dari meja kerjanya. Lantas melengos ke arah lain sambil memasang wajah kesal.
Maksudnya apa sih?
Lagi-lagi Hero dibuat bingung dengan ucapan Marco yang sangat ambigu. Pria ini memang suka setengah-setengah kalau memberi perintah. Kadang Hero sampai merasa bodoh sendiri lantaran pikiran mereka yang tak sejalan.
"Maaf Tuan. Pekerjaan fisik seperti apa yang Anda Maksud? Saya tidak mengerti." Marco menoleh pelan. Mempertontonkan wajah bingung yang tampak menggemaskan dari berbagai sudut pandang.
"Jadi kau memintaku untuk menjelaskannya, Her? Sebenarnya kau anak TK yang sedang reinkarnasi atau apa? Bodoh sekali otakmu."
"Maaf Tuan, saya benar-benar tidak tahu!" Hero tertunduk dalam. Ujung tangannya bergerak-gerak untuk meredam kegugupan. Hero sampai memaksa otaknya untuk berpikir sekeras mungkin, namun tak ditemukannya jawab yang di maksud oleh Marco.
Marco menghela pelan. Tampak sudut bibirnya yang tertutup setengah layar monitor tengah menyeringai dan dapat terlihat oleh Hero. "Pekerjaan fisik itu ..."
Bicaranya sedikit ditahan agar Hero dan Vanya semakin penasaran. Meskipun hanya diam, Marco tahu bahwa Vanya juga tengah penasaran dan menunggu perintah Marco.
"Mencangkup semua hal yang dibutuhkan dan disukai oleh pria. Bercinta denganku misalnya ...."
Sontak Hero dan Vanya mendelik secara bersamaan. Ada jeda sesaat di mana mereka saling pandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kau gila ya! Jadi ini yang dimaksud menjadi asistenmu selama sehari?"
Muka Vanya berapi-api saat mengatakannya. Ia tidak menyangka bahwa hadirnya di kantor Marco hanya untuk ajang pelecehan lagi.
Tidakkan ia memiliki rasa iba sebentar saja?
Dasar otak binatang. Pergilah kau ke kandang B*bi Marco sialan!
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Diana diana
Marco . . Marco . .
2024-01-26
0
Heni Suhaeni
🤣🤣🤣 Marko marko
2023-10-17
0
Nanda Lelo
sudah kuduga 🤣🤣🤣
2023-02-03
0