Sepeninggalan Adit dari restauran bintang lima tadi, Hero sekretaris Marco juga mengusir semua pengunjung yang telah selesai makan hingga kini hanya tersisa mereka bertiga dan beberapa pengikut dipihak Marco. Hotel dan juga restaurant itu bekerja sama dengan I-Mush Grup, jadi Marco bisa mengajukan pengundurkan jam tutup restaurannya kapan saja jika ia mau.
Makan malam berjalan hening di mana Vanya hanya duduk diam tanpa memotong sedikit pun daging mewah di depannya. Ia tidak berselara apalagi lapar. Sampai akhirnya Marco bersikap sok manis dan menyodorkan potongan steak miliknya ke dalam mulut wanita itu.
"Makanlah, kau butuh tenaga ekstra untuk mengikuti petualanganku nanti."
Kalimat yang Macro ucapkan jelas mengandung makna sedalam palung Mariana. Di mana tubuh mulus Vanya-lah yang akan menjadi target utamanyan nanti.
"Aku tidak lapar!" Vanya menjawab ketus. Dia masih sama seperti Vanya yang dulu. Selalu cuek dan berusaha menutupi apa pun perasaannya dengan sikap jutek.
"Makan ini!" Marco masih mencoba sabar menghadapi segala tingkah polah wanita yang ia anggap layaknya seonggok sampah.
Bukannya membuka mulut, Vanya malah memalingkan wajahnya ke samping dan membuat Marco jadi emosi. Mata wanita itu mengedar pada kursi-kursi mewah yang kini sudah tidak diduduki para pengunjung. Pura-pura asik dengan lamunannya sendiri.
Bentakkan murka pun dilontarkan Marco. "Cepat makan! Jangan membuat kesabaranku habis. Setidaknya sayangi nyawamu walau sudah tidak ada harganya! Bagaimanapun juga aku harus menikmati barang dagangan yang sudah aku beli mahal-mahal dari suamimu."
Ejekkan dan seringai mengerikan yang tercetak jelas di bibir Marco membuat Vanya melotot tajam ke arahnya. "Lebih baik aku mati daripada melayani orang seperti, Marco!" tukas Vanya dingin.
"Jangan coba memancing amarahku, Vanya! Aku tidak butuh persetujuanmu dulu atas apa yang akan aku lakukan kepadamu!" Pria itu melemparkan garpu yang ia pegang ke wajah Vanya sampai wanita itu tersentak.
"Cih! Apa kau sedang berpikir aku membelimu karena ingin bernostalgi? Tidak Van!" Marco menatap Vanya murka. Ia bahkan tidak peduli saat darah segar keluar dari pipi Vanya yang tergores garpu tersebut. Setiap melihat wajah Vanya, Marco selalu teringat sakitnya penghianatan di masa itu.
Vanya menunduk. Mencoba menahan tangisnya agar tidak tumpah lagi. Tangannya sudah gemetar ketakutan, namun wanita itu mencoba menyembunyikan kelemahannya demi harga diri. Agar tidak semakin diinjak oleh Marco yang sedari tadi hobi sekali merendahkannya.
"Apa kau ingin balas dendam padaku karena dulu aku memutuskanmu secara sepihak?" Bibir Vanya menyungging tipis. "Sayang sekali, walaupun kau bisa mendapatkanku lagi, aku sudah bukan wanita tersegel. Kau hanya memungut barang bekas or—"
Plakk!
Tamparan itu membungkam mulut Vanya secepat kilat. Memar merah itu juga menghiasi pipi mulus Vanya. Air mata wanita itu tumpah seketika. Adit sialan, tega-teganya kau menjualku pada manusia seperti ini.
"Jangan harap kamu bisa bertemu dengan Marco yang bodoh seperti dulu Van! Dia sudah mati, kau tidak akan bisa mendapatkan perhatian apalagi cinta tulusnya."
"Aku juga tidak butuh!" pekik Vanya tanpa peduli dengan linangan air matanya. Ia terus membantah dan membuat Marco semakin kesal.
"Tunggu waktunya tiba, aku akan segera membungkam mulutmu sampai kau tak bisa berkutat lagi!" Suara Marco menggelegar bagaikan petir yang menyambar tubuh Vanya. Seketika wanita itu meremang takut.
Setelah mengatakan itu, Marco bangkit dari kursi dan berjalan ke arah pintu lobi. Wajahnya tampak marah, seolah ada sesuatu yang ia ingin lampiaskan pada wanita lemah itu secepat mungkin.
"Bawa si Jal*ng itu ke kamarku!" Berbicara pada Hero tanpa menolehkan pandangannya sedikit pun.
"Baik Tuan." Hero segera bangkit dan berjalan ke tempat Vanya yang masih duduk tertunduk. Ia sangat iba melihat keadaan kacau Vanya saat ini. Diambilnya sehelai tisu untuk menyeka air mata bercampur darah di pipi kiri wanita itu.
"Nona, tolong menurutlah demi keselamatan Anda. Saya tahu kalian sudah saling mengenal satu sama lain di masa lalu, tapi tuan Marco yang sekarang bukanlah pria yang dapat Anda perlakukan seenaknya seperti dulu. Jadi berhati-hatilah ... dan jaga sikap Nona saat bersamanya."
Vanya bergeming.
Ia tidak peduli lagi dengan nasihat Hero yang membuat kepalanya semakin berdenyut ngilu. Tanpa Hero jelaskan, Vanya juga sudah bisa menebak segila apa Marco yang sekarang. Untuk apa pria menyebalkan itu repot-repot menjelaskan?
"Mari ikut saya Nona." Hero berbalik dan melangkah pergi meinggalkan tempat itu terlebih dahulu, bermaksud mengajak Vanya ke kamar hotel di mana Marco mungkin sudah menunggu wanita itu di ranjang terindahnya. Namun, sebuah kejadian tak terduga membuat mata Hero terbelalak dan nyaris tidak percaya.
Brugh!
Hero reflek menoleh ke belakang saat mendengar suaru tubuh yang jatuh ke lantai begitu saja. "Astaga Nona!" Pria itu berlari secepat mungkin. Ia segera menggendong Vanya diikuti oleh bodyguard yang juga berlari ke arah mereka.
Vanya tersenyum bangga bersamaan dengan darah yang mengalir deras dari pergelangan tangannya. Ia baru saja menusukkan dan menyayat nadinya dengan pisau steak.
Selamat tinggal semua penghianat!
Perlahan, Vanya menutup mata dan mulai hilang kesadaran.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Nanda Lelo
pasti gak jadi mati tuh,,
2023-02-02
0
Roroazzahra
mungkin sakitnya gak tertahankan diputusin dan dihianati membuat dendam Marko melebihi levelnya
soklah Marko tak tunggu sepak terjangmu😂😂
2022-12-13
1
❁︎⃞⃟ʂ𝕬𝖋⃟⃟⃟⃟🌺 ᴀᷟmdani🎯™
bunuh diri, tetapi sayang tidak mati
2022-11-26
0