Marco merebahkan setengah tubuh polosnya di samping Vanya. Ia tidak jadi menyentuh wanita itu lantaran takut dirasuki kegilaan yang dapat menyakiti fisik Vanya.
Vanya melirik ke samping. Mengamati Marco yang sedang mengatur napasnya dengan amat detail. "Kau sangat membenciku, tapi tak dipungkiri bahwa tubuhku sangat menggiurkan di matamu. Benar begitu, bukan?"
"Cih!" Marco berdecak sinis. Menahan amarah sekaligus memalingkan wajah yang sudah merah layaknya udang rebus.
Ucapan Vanya menjadi pukulan mematikan bagi Marco. Namun benar adanya bahwa Marco memiliki hasrat lebih pada wanita itu. Lebih tepatnya nafsu dan benci yang sama-sama berjalan seimbang juga seirama.
"Pakai kembali bajumu, aku sudah tidak berminat menyentuhmu lagi."
Marco memilih bangkit dari atas ranjang. Kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk menetralkan pikirannya yang kalang kabut.
Keran sower mulai dinyalakan. Ia terus mengacak-acak rambutnya di bawah kucuran air hangat sambil mengumpati perasaanya yang mudah lemah dan nyaris terluluhkan. "Ingat tujuan awalmu Marco, jangan sampai kau luluh dengan mulut berbisa wanita iblis itu."
Marco melanjutkan mandinya. Selama berada di kamar mandi, ia terus mensugesti hatinya agar jangan memiliki belas kasihan sedikit pun pada wanita itu. Pokoknya semua harus berjalan sesuai apa yang ia rencanakan dari awal tujuannya membalas dendam pada Vanya. Dalam satu setengah tahun ini, Vanya harus hidup tersiksa dan menderita di tangannya.
Setelah setengah jam merenung tak jelas, Marco keluar dengan tubuh yang terbalut bathrobe berwarna abu-abu kegelapan. Ia tampak maskulin dan wangi. Hingga aroma tubuhnya menggelitik dan sedikit mengganggu indra penciuman Vanya.
Marco Melirik Vanya yang tengah duduk menunggunya di bibir tempat tidur. Wanita itu menelan salivanya gugup saat tak sengaja matanya saling bersitatap dengan Marco. "Hapus ilermu," ejek Marco.
"Siapa juga yang tergiur dengan tubuhmu." Vanya memalingkan wajah. Kemudian segera memasang wajah tegas seperti sedia kala.
"Aku ingin bicara serius denganmu," tegas Vanya sambil mengikuti kemana pun langkah kaki Marco berjalan. Tentunya dengan wajah yang dipaksakan jutek agar gugupnya tidak terlalu kelihatan.
Pria itu membuka lemari pakaian, lalu mengambil baju santai yang sudah disediakan pelayan dari satu minggu lalu. "Bicara apa?" tanya Marco tanpa menoleh sedikit pun pada Vanya. Seolah wanita itu terlalu menjijikan di matanya.
Vanya menghela sejenak. Mengatur napasnya agar jangan terbawa emosi dengan sikap cuek Marco. Ia melangkan menuju tempat Marco berdiri setelah pria itu selesai mengenakan bajunya. "Menghadaplah ke arahku!"
Marco menyipitkan setengah matanya, kemudian memutar tubuhnya menghadap Vanya. "Ada apa?" tanya pria itu dengan malas.
"Apa kau sudah merasa sedikit puas setelah memisahkan aku dengan orang yang kucintai? Jujur aku sangat penasaran akan hal itu, " tanyaVanya dengan mata yang terus memandang Marco lekat-lekat.
Marco tersenyum sinis mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja belum. Apa yang aku lakukan ini hanya permulaan, kedepannya kau akan lebih tersiksa lagi dengan pemainanku. Tunggu saja tanggal mainnya. Pokonya semua yang kau lakukan di masa lalu akan terbalas berkali-kali lipat!"
Seringai tawa jahat muncul di bibir Marco.
"Ah, kalau begitu aku akan sabar menunggu. Sepertinya aku sudah bosan dengan permainanmu yang terlalu standar dan tidak ada tantangannya." Bibir Vanya begitu santai dan lantang saat berujar. Ia berjalan dan kembali duduk ke tempat semula. Marco sampai menahan gondok melihat tingkah Vanya yang so dan menjengkelkan.
"Kau akan lebih tersiksa lagi Vanya, camkan itu!"
Vanya terus memancing kekesalan Marco agar semakin meradang. "Entahlah, aku takut bukannya tersiksa, justru aku malah semakin menikmatinya!" paparnya.
Keangkuhan wanita itu semakin jadi. Membuat Marco geram dengan gayanya yang sangat arogan dan sok jadi wanita kuat. Pria itu sudah mengepalkan kedua tangannya. Menatap murka si wanita angkuh yang baru saja menyingkir dari hadapannya. "Aku pastikan bahwa aku akan menyiksa dan mempermainknmu sesuka hati. Tubuhmu akan kunikmati, dan tentunya tidak akan pernah kunikahi seperti keinginan yang kau ajukan pada Hero tadi siang."
Sontak Vanya melolot mendengar pernyataan itu. "Dasar bedebah sialan!" tandas Vanya murka.
"Agar kau tahu seperti apa rasanya dipermainkan tanpa kepastian. Dulu aku juga merasakan hal yang sama, " tandas Marco lantang.
Ia teringat bahwa Vanya menginginkan pernikahan untuk menghindari perzinaan. Namun Marco sengaja tidak mengiyakan keinginan Vanya lantaran ingin melihat reaksi kesal wanit itu. Terlepas dari niat dan rencana menikahi Vanya untuk kedepannya, tentunya hanya Marco yang tahu apa alasan pria itu melakukannya.
Yang jelas sekarang Marco ingin menyembunyikan rencana pernikahan itu.
Dasar pria kejam!
Vanya memalingkan wajahnya. Ia sungguh tidak kuat jika harus menjalani hubungan tanpa ikatan yang tidak sah seperti ini. Vanya bukan tipe wanita gampangan yang bisa dengan leluasa menyerahkan tubuh. Mungkin dia akan segera menjadi gila jika Marco benar-benar menikmati tubuhnya tanpa ikatan.
Di balik keangkuhannya, hati wanita itu kini teriris ngilu oleh pernyataan Marco yang mencengangkan. Dulu Vanya memang pernah berselingkungkuh, namun ia tidak sekejam Marco yang ingin menikmati persetubuhan tanpa adanya status ikatan pernikahan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
❁︎⃞⃟ʂ𝕬𝖋⃟⃟⃟⃟🌺 ᴀᷟmdani🎯™
ada cinta yang sangat besar dari marco untuk vanya seorang
2022-11-26
0
Dirmayanti Maryam
di otak.y marco yg ads cuma dendam dan dendam tdk ada manis².y🙂
2022-09-30
0
Erny Manangkari
sabar vaniya sebenarnya didalam lubuk hatinya Marco mseih mencintaimu
2022-09-30
0