Di dalam kamar hotel, Vanya sedang menikmati hidangan enak saat Hero datang menemuinya.
Seperti karakternya yang tidak suka dianggap lemah, wanita itu kembali berpura-pura menjadi manusia bahagia yang sedang menikmati indahnya hidup dikurung dalam balutan kemewahan.
"Cepat selesaikan urusanmu! Habis ini aku mau luluran. Pelayan sudah datang, tuh!" Vanya berkata ketus. Membuat Hero ikut geram seperti Marco yang marah-marah saat menelponnya di kantor tadi. Baru melangkah masuk saja langsung diusir. Pantas saja Marco sampai frutrasi menghadapi wanita galak yang satu ini.
"Saya ke sini mau mengantar berkas-berkas pengurusan surat cerai Anda, Nona." Hero melangkah pelan, kemudian menarik kursi dan ikut duduk di hadapan Vanya yang tengah melahap santapannya. "Ada beberapa berkas yang harus Anda tanda tangangani, silahkan Nona ...." Hero mendorong berkas yang harus Vanya tandatangi, lengkap dengan pulpen di atasnya.
"Aku tidak mau!" Wanita itu semakin ketus. Di mana Marco nyaris kehilangan akal mendapati sikap tak menyenangkan dari Vanya. Pria itu mendesah sekilas, kemudian berkata lagi dengan wajah yang sudah dibuat serius dan setengah mengancam.
"Tuan Marco akan murka jika Anda tidak mau menandatanganinya."
"Bodo amat!" ujar Vanya sambil mengedikkan bahunya cuek.
"Nona ... mengertilah! Jangan suka membuat semuanya menjadi susah. Sekarang Anda adalah milik Tuan Marco, ingat itu!" Hero sampai mengatakan kalimat sedikit kasar agar Vanya mau mengerti.
Vanya melirik sedikit. Seolah tidak peduli dengan kekesalan Hero, ia lanjut makan kembali dan pura-pura menikmati salad buah yang baru saja diraihnya.
Ugh, kenapa aku harus berurusan dengan wanita menyebakkan seperti dia, sih?
"Nona!" panggilan cukup keras keluar dari bibir Hero.
Vanya mendongak bersamaan dengan garpu yang ia gebrakkan ke atas meja. "Apa kau tidak lihat aku sedang makan? Tidak bisakah kau menungguku sebentar?"
Hero menghela, pelan. "Tadi Nona bilang tidak mau, makannya saya memanggil lagi untuk memastikan."
Tangan Hero mengepal kencang di bawah meja. Ia meninju udara saking kesalnya. Lalu, pria itu bekatar lagi dengan nada agak membentak, "Sebenarnya Anda ingin tanda tangan atau tidak?" tanya pria itu memastikan.
"Tidak!" jawab Vanya cuek. Lalu memasukkan potongan buah semangka dan mengunyahnya perlahan. Ada senyum yang tersunggih tipis di bibir Vanya saat melihat pria itu menatapnya murka seraya bersungut-sungut.
Tak mau kalah dengan wanita, Hero membalas penolakkan Vanya dengan cara terbaiknya. "Ya sudah kalau tidak mau, saya akan membicarakan ini dengan tuan Marco. Biarlah dia yang datang ke sini menemui Nona. Mandi dan berdandanlah yang cantik. Mungkin saja tuan Marco akan memakan nona habis-habisan kali ini."
Mendengar itu Vanya langsung menelan salivanya, panik. "Jangan! Aku tidak ingin bertemu dengan si manusia gila itu."
"Kalau begitu Nona harus tanda tangan," kata Hero disertai senyum kemenangan. Vanya tetap menggeleng. Membuat harapan Hero luntur saat itu juga.
"Jadi Anda mau bagaimana?" tanya pria itu. "Saya adalah orang sibuk, tolong jangan memutar-mutar pembicaraan tidak penting seperti ini. Waktu saya sangat berharga."
Vanya menjawab lantang. "Aku mau menandatangani perjanjian itu. Tapi dengan dua syarat ...."
"Syarat?" ulang Hero sambil mengerutkan keningnya. Kemudian menatap Vanya dengan muka tidak bersahabat.
"Iya syarat!" jawab Vanya serius.
"Apa syaratnya?" Hero menarik kembali berkas-berkas itu dan menutup mapnya. Sepertinya usaha satu kali tidak akan berhasil. Apalagi sekarang ada syarat segala.
Sambil tersenyum tanpa dosa, Vanya menjelaskan kemauannya. Ia meletakkan garpu, dan mulai serius menatap wajah kaku Hero. "Pertama aku ingin Adit yang langsung datang ke sini untuk meminta tanda tanganku langsung. Bagaimanapun juga kami menikah secara baik-baik, jadi pisah pun harus dengan itikad baik dari kedua belah pihak."
Hero mengangguk. Menganggap syarat yang Vanya ucapkan ada benarnya juga. "Saya akan bicarakan ini pada tuan Marco. Lalu apa syarat keduanya?"
"Katakan pada Marco! Jika dia ingin menyentuhku dengan bebas, maka nikahilah aku secara sah, karena aku tidak suka perzinaan."
Sontak kalimat itu membuat Hero terkesiap. "Nona ... yang kedua saya tidak berani. Tuan Marco sedang sensitif belakangan ini, saya bisa didamprat jika mengatakan hal segila itu, " ujar pria itu sedikit takut. Ia tahu betul bahwa Marco membelinya hanya untuk balas dendam dan bersenang-senang. Selebihnya Marco tidak pernah mengatakan ingin menikahi wanita itu sama sekali.
Sambil melemparkan guratan kecewa, Vanya berkata lagi, "Yah, sayang sekali! Bagaimana jika kamu saja yang menikah denganku. Jujur aku tidak suka menjanda, sekretaris Hero!"
Vanya menyentuh dagu Hero dengan gaya genit sampai laki-laki itu memundurkan kursinya.
"Apaan Nona?" pekik Hero yang masih setengah tidak percaya.
Vanya bangkit dan memutar tubuhnya menuju tempat di mana Hero sedang duduk. Kemudian memeluk pria itu dari belakang. Lihai, mulutnya mulai berbisik, "Aku tertarik padamu!"
"Jangan Gila Nona. Aku tahu Anda sedang bercanda!" Sentuhan Vanya membuat tubuh Hero memanas dan on fire. Ia adalah lelaki normal seratus persen. Siapa yang bisa tahan disuguhi wanita secantik dan seseksi ini?
Tahan Her, dia adalah wanita bossmu. Ingat itu.
Vanya tergelak. "Aku tidak bercanda Sayang. Bermalamlah di sini jika tidak percaya. Akan kuberikan semuanya untukmu."
Sialan! Apa dia sudah tahu kalau ruangan ini penuh dengan kamera pengintai? Dan dia sengaja ingin mengadu dombaku dengan tuan Marco.
Hero merasa tercekik, aura di sekelilingnya mendadak panas tanpa sebab dan akibat. Pria itu lantas berdiri sambil mengelap bekas sentuhan Vanya di dagunya. "Saya akan bicarakan semua ini pada tuan Marco. Permisi ...."
Layaknya orang kesetanan, Hero segera kabur meninggalkan wanita gila itu. Sepanjang turun di dalam lift, Hero tak hentinya memegangi jantungnya yang berdetak ngeri. Pikirannya kalut, merasa takut jika tuannya sampai melihat aksi genit Vanya terhadap dirinya tadi.
Apa yang sedang dipikirkan wanita horor itu, si? Otaknya benar-benar mengerikan. Kalau sampai tuan Marco melihat kejadian tadi aku bisa digantung.
Belum selesai Hero mengumpat dalam hati, ponsel yang Hero pegang berdering sadis. Menampil nama kontak pria yang sedang ia pikirkan barusan.
Mati, dia pasti melihat kejadian tadi, kan?
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Diana diana
hayoloooh
2024-01-26
0
liberty
habislah kau/Facepalm/
2023-11-28
0
liberty
mati kamu Hero...bosmu masih mantau lwt cctv 🤣🤣
2023-11-28
0