Tak disangka, Marco benar-benar menuruti syarat pertama yang Vanya ajukan pada Hero tadi siang. Selang beberapa jam setelahnya, Adit datang sambil membawa berkas perceraian yang harus Vanya tanda tangani. Tentunya beserta Hero si sekretaris sialan yang kurang disukai oleh Vanya semenjak pertama kali mereka bertemu.
Adit masuk diikuti oleh Hero di belakangnya. Mereka melangkah menuju Vanya yang tengah duduk di ruang tamu.
Adit mengedarkan pandangannya sekilas, memperhatikan interior kamar hotel mewah yang Vanya tinggali, dan kemudian memusatkan pandangannya pada wanita itu kembali.
"Hai, Van!" Adit menyapa kikuk. Ada Hero yang terus mengawasi dan setia menguping di belakang pria itu.
"Euhg." Vanya terkesiap melihat penampilan suaminya yang tampak kurus dan tak terurus, padahal mereka baru saja berpisah sekitar satu minggu, tapi Adit terlihat lusuh dan kurang tidur. Aku pikir kamu sedang bersenang-senang, Mas, batin Vanya miris.
Tak mau dianggap wanita bodoh yang mudah terenyuh, Vanya buru-buru memalingkan wajah agar hatinya tidak tersentuh dan kembali menaruh iba pada pria itu.
"Aku ingin bicara berdua saja dengan Adit. Bolehkah Tuan Hero yang berharga pergi saja," tegur Vanya dengan bahasa mengusir tanpa melihat lawan bicaranya sama sekali. Tangan wanita itu bersidekap di depan dada, menambah aura juteknya makin kentara.
"Baiklah." Hero menunduk paham disertai langkah berbalik yang semakin pergi menjauh. Sambil berjalan keluar, pria itu pun berkata tanpa menoleh ke belakang.
"Waktu kalian bicara tidak lebih dari lima belas menit. Pergunakanlah waktu kalian dengan baik," ujar Hero sambil menutup pintunya kembali. Tanpa izin Marco, pria itu membiarkan Vanya berbicara empat mata dengan calon mantan suaminya.
Selepas Hero pergi, Adit langsung menghambur dan memeluk Vanya penuh rasa rindu. Wanita itu hanya diam, reaksinya tidak membalas ataupun menolak.
"Maafkan aku, Van!" Adit mengusap rambut Vanya dengan sayang. Mengecup pipinya sekilas tanpa memperdulikan sikap Vanya yang dingin kepadanya.
Pria itu beralih menatap wajah Vanya sambil merangkum kedua sisi pipinya. Pandangan mereka saling bertemu. Di mana Vanya hanya membalas tatapan Adit dengan air muka dingin.
Adit mengusap pipi Vanya. Ada luka bekas lemparan garpu Marco waktu itu. "Kenapa tubuhmu banyak yang membiru seperti ini? Apa kamu disiksa oleh pria itu?"
Vanya masih diam seperti patung mendapat pertanyaan seperti itu. Bagi wanita itu tidak ada gunanya lagi mengeluh atau memberi tahu pada Adit. Vanya menganggap apa yang terjadi padanya adalah atas dasar kemauan Adit sendiri. Pria itulah yang membuka ruang untuk Marco berbuat jauh kepadanya.
"Maafkan aku ya, Van." Lirih Adit berkata. Ia mengelus lengan Vanya yang terdapat bekas luka cambukkan. Kemudian beralih ke pipi kembali dan mengusap-usap cukup lama sisa goresan dari garpu yang Marco lempar waktu itu. Hati Adit begitu sakit melihat keadaan istrinya yang tampak menyedihkan, dan kemudian ... matanya tak sengaja menangkap bekas luka jahitan di tangan Vanya.
"Apa yang ini perbuatannya juga!" tanya Adit setengah murka, namun tetap tak bisa berbuat apa-apa.
Kali ini Vanya menggeleng. "Yang ini perbuatanku sendiri."
"Kamu mencoba bunuh diri?" tanya Adit terkejut.
"Ya, aku memang menginginkan kematian," ucap wanita dengan lantangnya.
Adit terkesiap. Sesaat otaknya terasa linglung dan tak mampu berkata-kata lagi. Apa yang telah aku lakukan terhadap istriku ya, Tuhan? Aku benar-benar manusia jahat yang tak pantas jadi suaminya.
Ia langsung merosot dan mencium kaki Vanya. Wanita itu tersentak dan mendorong tubuh Adit begitu saja.
"Apa yang kamu lakukan Adit?" teriak Vanya terkejut bukan main. Luluh sudah hati batunya melihat keadaan Adit saat ini.
"Aku menyesal Van, aku menyesal!" raung Adit dengan air yang sudah banjir ke mana-mana. Vanya yang melihatnya pun mencoba menarik Adit agar kembali duduk. Wanita itu masih tidak percaya melihat Adit menangis di depannya. Pasalnya semelow apa pun seorang Adit, ia belum pernah menangis seperti ini di depan Vanya. Sorot penyesalan yang terpancar di mata Adit membuat Vanya dilanda gunda gulana.
Apa kamu benar-benar menyesal dengan perbuatanmu, Mas?
Batin Vanya mulai bertanya-tanya di dalam sana. Hati itu perlahan luluh dan terenyuh melihat ketulusan dari air mata yang Adit keluarkan. Rasa bencinya terhadap Adit memang sangat besar. Namun, tak dipungkiri bahwa cinta yang belum pudar sukses mengalahkan semua rasa itu.
Kata orang, lelaki bukanlah mahluk lemah yang mudah mengeluarkan tangisan. Tak jarang air mata mereka dianggap tulus oleh sebagian orang yang yakin.
Adit mengeluh kembali. "Seminggu ini aku tidak bisa hidup dengan baik Van. Setiap saat aku selalu memikirkan keadaanmu. Aku merasa bersalah, aku merasa berdosa, aku sungguh menyesal telah melakukan hal senista ini padamu."
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 172 Episodes
Comments
Diana diana
sudah terlambaaaaaaat . .
2024-01-26
0
liberty
telat...nyesel gak guna...harusnya tolak pas Marco kasih penawaran...tapi kalo gak gitu gak jalan alurnya awoowoo/Facepalm/
2023-11-28
1
Nanda Lelo
nasi dah jadi lontong,, tinggal bikin sayur ny aja lagi 🤣
2023-02-03
0